Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Beberapa Kejutan Di Hari Yang Sama


__ADS_3

Sepuluh jari tampak menari dengan lincah di atas papan keyboard. Bunyi ketukan jari itu terdengar begitu cepat seiring dengan manik mata Aurora yang bergerak dari kiri ke kanan menatap layar laptopnya. Bibir merah di bawah tahi lalat itu bergerak tanpa suara, membaca deretan kalimat demi kalimat yang ia buat saat ini.


“Selesai!” serunya di balik layar bercahaya putih tersebut. Diambilnya beberapa lembar kertas putih yang baru saja dimuntahkan oleh mesin printer-nya. Disusunnya hingga menjadi sebuah dokumen yang akan ia serahkan kepada atasannya.


Curtiz—CEO Perusahaan Mandellion itu menengadahkan wajahnya begitu ia mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar. Dari tempat duduknya, pria berperawakan kurus itu mempersilakan tamunya untuk masuk. Ia pun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya ketika dilihatnya Aurora membawa sebuah dokumen untuknya.


“Ini surat perjanjian untuk Perusahaan Falea, Tuan.” Aurora meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja.


“Kau sudah membuatnya sesuai dengan perintahku?” tanya Curtiz sambil membaca bagian inti surat itu.


“Sudah, Tuan. Tapi, bagaimana kalau nanti sore Tuan Ferit berhasil mengirim barangnya ke sini?” tanya Aurora yang memposisikan dirinya di depan Curtiz.


Pria berambut coklat itu menganggukkan kepalanya tanda dirinya telah membaca dan menyetujui apa yang telah dibuat oleh manajernya. Diambilnya sebuah pena berwarna hitam dan di tanda tangani surat perjanjian tersebut.


“Kita tunggu saja. Jika sampai pukul enam, kiriman dari Perusahaan Kozan tidak datang, segera kirim surat perjanjian ini ke Perusahaan Falea!”


“Baik, Tuan.” Aurora mengambil kembali berkas yang sudah ditandatangani dan segera keluar dari ruangan Curtiz.


......................


 Di Istanbul, Turki


Sepasang manik mata biru milik Cansu bergerak memandang Mehmet yang duduk di atas ranjangnya. Putri Sophia itu masih berada di rumah sakit menunggu ijin dokter untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia terdiam dan menundukkan wajahnya setelah mendengar pertanyaan Mehmet yang memintanya untuk meneruskan pernikahan mereka.


“Kenapa kau diam? Apa kau tidak ingin melanjutkan pernikahan kita?” tanya Mehmet. Kali ini pria itu meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Cansu.


“Bukan seperti itu.” Cansu menggelengkan kepalanya dengan sepasang awan mendung yang menggantung di pelupuk matanya.


“Lalu apa?” Mehmet mencondongkan dirinya. Wajah bulat itu memandang kekasihnya dengan penuh harapan.


Putri Sophia itu menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ia memalingkan wajahnya menatap dinding yang ada di dekat ranjangnya Telapak tangannya mengusap manik mata dan hidungnya mulai sudah memerah.


“Sebenarnya aku sangat bahagia kau masih menginginkan pernikahan ini. Tapi…, apa kau bisa menerimaku? Bagaimana… kalau setelah kejadian itu….”


Cairan kristal bening itu sedikit demi sedikit membasahi wajah Cansu yang polos tanpa riasan. Ia mulai mengatur napasnya kembali, sementara Mehmet masih menunggu perkataan selanjutnya.


“Mehmet…, bagaimana kalau… kalau aku… hamil? Apa kau akan sanggup menerima anak ini?”


Pria berkulit gelap itu perlahan-lahan melepaskan tangannya dari tangan Cansu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Pandangannya kini terarah pada garis-garis lantai keramik ruangan. Tak pernah terlintas dalam pikirannya, bahwa masih ada masalah lain yang akan muncul setelah kejadian itu. Selama ini dirinya hanya fokus ingin memberi pelajaran kepada laki-laki yang telah menghancurkan hidup Cansu.


“Itu belum terjadi dan aku harap tidak pernah terjadi! Karena… karena aku juga tidak sanggup menerima anak ini,” imbuh Cansu dengan isak tangisnya.


Wanita muda itu menegakkan tubuhnya sedikit menjauhi Mehmet. Ia tidak berharap kekasihnya itu menerimanya karena belas kasihan, karena itu Cansu mengutarakan kemungkian terburuk yang akan terjadi apabila mereka melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius. Pria mana yang bisa menerima anak haram dari laki-laki lain. Hatinya telah siap, jika Mehmet memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.


“Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, Mehmet.” Perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir merah nan tebal, seiring dengan tangannya yang menyentuh pundak pria itu.


Tak ada suara yang keluar untuk menanggapi perkataan Cansu. Pria itu tidak mengiyakan juga tidak menolak. Kepala gundul itu juga tidak memandang ke arahnya, membuat Cansu melepaskan tangannya dari pundak kekasihnya. Suasana ruangan yang semula sunyi itu mendadak berubah, ketika seorang perawat memasuki kamar Cansu.


“Nona Cansu Eleanor, dokter sudah mengizinkan nona untuk keluar hari ini.” Perawat itu mendekati Cansu dan membantunya melepas jarum infus yang ada di punggung tangannya.


“Aku akan mengurus biaya administrasinya.” Mehmet keluar tanpa melihat wajah polos yang terus menatap punggungnya.


Sebuah senyum tipis itu terlukis dari wajah Cansu yang berbentuk persegi ketika perawat itu juga berpamitan kepadanya. Ia memasukkan pakaian lamanya ke dalam sebuah tas kecil pemberian rumah sakit. Sembari menunggu kedatangan Mehmet, ia membuka ponselnya dan melihat galeri foto yang tersimpan di sana.


Mulai dari foto dirinya bersama dengan keluarganya yang baru hingga foto dirinya bersama dengan Mehmet. Awal pria itu mengajaknya berkencan di atas Menara Galatta. Mereka mengabadikan setiap tempat yang mereka kunjungi bersama. Mulai dari restoran mewah hingga warung makan. Tanpa sadar, air matanya mulai tumpah membasahi ponsel tersebut.

__ADS_1


Apakah semua ini akan berakhir?


“Jika keadaan itu yang terjadi, aku bersedia menjadi ayahnya. Aku akan memberikan namaku untuknya.”


Suara itu membuat Cansu mengangkat wajahnya. Dilihatnya pemilik suara itu sudah berlutut di depannya dengan sebuah kotak terbuka yang berisi sepasang cincin pernikahan. Manik mata biru itu kembali berkaca-kaca melihat apa yang telah dilakukan pria itu.


“Meh… Mehmet?”


“Apapun yang terjadi, aku akan tetap menerimamu. Menikahlah denganku.” Pria itu tetap bersikeras pada pendiriannya. Meskipun Cansu sudah menjelaskan padanya, bahwa diluar sana ada banyak wanita yang lebih pantas untuknya.


Kini keduanya berlutut dan saling berhadapan. Kedua kening itu saling menempel untuk mempersempit jarak pandang mereka. Keduanya saling menyentuh wajah yang ada di depan mereka. Dengan suaranya yang berbisik, Cansu memberikan jawabannya. Sepasang kekasih itu saling berpelukan dan menangis bersama disaksikan oleh sebuah ranjang besi yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Air mata kesedihan itu akhirnya berubah menjadi air mata bahagia.


Tanpa gaun pengantin, tanpa persiapan, dan tanpa pemberitahuan kepada siapapun, Mehmet dan Cansu datang ke Kantor Perwakilan Kota untuk mengurus pernikahan mereka. Sepasang kekasih itu mendaftarkan diri mereka untuk menikah hari ini. Dari sekian banyak pasangan pengantin, hanya mereka yang tidak mengenakan gaun dan


jas pernikahan. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya giliran mereka pun tiba.


“Apa kalian serius ingin menikah sekarang?” tanya Perwakilan Kota tersebut, pria paruh baya itu sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat pakaian mereka yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans.


“Tentu saja kami serius.” Mehmet menunjukkan sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah kepada pria paruh baya tersebut.


Melihat sepasang cincin pernikahan yang ada di dalam kotak merah tersebut, pria paruh baya itu langsung memanggil beberapa orang staff-nya untuk menjadi saksi bagi kedua mempelai. Di negara Turki, pengantin wanita


tidak memerlukan wali untuk menikah.


“Baiklah, ayo kita mulai. Mehmet Dundar, apa kau bersedia menikah dengan Cansu Eleanor dan menerimanya sebagai istrimu?”


“Ya, saya bersedia,” jawab Mehmet.


“Cansu Eleanor, apa kau bersedia menikah dengan Mehmet Dundar dan menerimanya sebagai suamimu?”


Perwakilan Kota itu langsung mengesahkan pernikahan mereka sesuai dengan Hukum Negara Turki. Keduanya pun menandatangani buku pernikahan mereka kemudian saling menyematkan cincin pernikahan itu ke jari manis pasangannya. Suara tepuk tangan yang berasal dari lima orang yang hadir, mengiringi Mehmet untuk mendaratkan kecupannya di kening dan bibir Cansu.


“Kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri. Selamat untuk kalian,” ucap Perwakilan Kota kepada mereka. Ucapan selamat itu juga meluncur dari orang-orang yang ada di dalam kantor itu.


Kini keduanya pun keluar dari tempat itu saling bergandengan tangan dan berfoto dengan mesra sambil memperlihatkan buku nikah mereka. Petugas fotografer itu tertawa melihat sepasang pengantin itu menikah dengan pakaian kasual dan sepatu kets yang membungkus kaki mereka.


“Minggu depan datanglah kemari untuk mengambil foto kalian. Lihatlah foto ini, ini foto pernikahan paling lucu yang pernah aku buat.” Sang fotografer itu menunjukkan hasil bidikan kameranya kepada Mehmet dan Cansu.


“Foto ini akan aku pajang di dalam kamar,” ujar Mehmet dengan tawanya yang terkekeh begitu juga dengan Cansu.


Selepas dari acara sakral itu, Mehmet mengajak Cansu ke Apartemen Falea. Hanya Kenan, sahabat sekaligus keluarganya saat ini. Pria itu ingin memberitahu sahabatnya tentang pernikahannya. Sama seperti dirinya, hanya Ivy dan Deniz yang menjadi keluarga istrinya saat ini.


Cahaya sang fajar itu kian redup ketika mereka telah sampai di Apartemen Falea. Cansu sedikit ragu untuk masuk ke dalam lift. Wanita muda itu tak beranjak dari tempatnya berdiri, meskipun Mehmet telah memberikan kode untuk dirinya segera masuk. Ia membasahi bibir merahnya yang tampak gugup untuk bertemu dengan Ivy. Akhirnya pintu lift itu tertutup tanpa mengangkut satu orang pun di dalamnya.


“Apa kau masih menyalahkannya?” Mehmet menghampiri istrinya dan memegang kedua lengan ramping yang ada di depannya.


Hanya penerimaan kepada dirinya sendiri yang bisa mengembalikan kepercayaan diri Cansu. Ia mulai berusaha untuk menerima keadaan dirinya. Namun, untuk memaafkan Ivy, dirinya masih ragu. Perkataan Ferit masih selalu membayanginya.


“Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Ayo kita pulang,” ajak Mehmet yang bersiap menggandeng tangan Cansu.


Telapak tangan lembut itu menahan langkah Mehmet untuk beranjak pergi dari tempat itu. “Aku…. Aku akan menemuinya.”


“Aku tahu kau wanita yang baik. Kau bukan pendendam dan hatimu sangat lembut,” puji Mehmet yang menempelkan bibirnya di puncak kepala Cansu. “Ayo kita naik.”


Suara bunyi bel membuat langkah kaki pendek itu berjalan tergesa-gesa menghampiri pintu kayu yang ada di depan. Ia membetulkan ikatan celemeknya, sebelum tangan gembulnya membuka pegangan pintu.

__ADS_1


“Mehmet? Cansu?” Nur langsung memeluk mereka setelah pintu itu terbuka. “Ayo masuk.”


“Apa Kenan dan Ivy ada di dalam?” tanya Mehmet ketika dirinya sudah memasuki ruang tamu tersebut.


“Ada. Mereka semua ada di dalam. Masuklah. Tidak biasanya kalian bertanya,” ucap Nur yang menutup kembali pintu apartemen tersebut. Biasanya mereka langsung masuk begitu saja, menganggap apartemen ini adalah tempat tinggal mereka sendiri.


Dua sosok manusia yang sedang bertamu itu mencari sosok tuan dan nyonya rumah berada. Langkah kaki mereka pun berhenti ketika melihat Ivy yang keluar dari ruang kerjanya. Begitu juga dengan Ivy yang terkejut melihat Cansu sudah berada di apartemennya. Kedua wanita muda itu pun bergeming bagaikan dua buah patung lilin yang saling berhadapan.


Melihat suasana yang canggung itu, membuat Mehmet membuka suaranya. “Lebih baik kalian bicara di dalam kamar. Aku akan menemui Kenan.”


Mehmet meninggalkan kedua wanita yang masih bergeming di tempat mereka berdiri. Masih terlihat jelas dari raut wajah Cansu yang belum menunjukkan wajah persahabatannya. Putri Victor itu dengan kikuk mengajak saudara tirinya untuk masuk ke dalam kamar. Meskipun hanya menampilkan sikap diamnya, tetapi Cansu tetap berjalan mengikuti langkah Ivy.


Sepatah kata pun belum keluar dari bibir mulut mereka berdua. Pintu kamar itu juga belum tertutup dengan sempurna. Cansu langsung menghampiri Ivy dan memeluk saudara tirinya itu. Selama dua belas tahun mereka tumbuh bersama dalam satu rumah, baru kali ini mereka bertengkar hebat.


“Maafkan aku, Cansu. Maafkan aku,” ucap Ivy.


“Aku yang seharusnya minta maaf padamu, karena aku terus-menerus menyalahkan mu.” Cansu melepaskan pelukannya.


“Waktu itu, aku belum bisa menerima diriku. Maukah kau menjadi saudara ku kembali?” lanjut Cansu.


Ivy menggandeng kedua tangan Cansu dan membawanya duduk di atas tempat tidurnya. “Selamanya kita bersaudara. Aku akan selalu ada untukmu.”


“Terimakasih, Ivy.” Kali ini Cansu memeluk Ivy kembali.


Namun, masih ada satu ganjalan di hati Ivy. Sebuah ganjalan yang entah seberapa besar pengaruhnya bagi saudara tirinya itu. Perasaan dan pikiran Ivy mencoba untuk menimbang-nimbang, memberitahu Cansu tentang kebenaran itu sekarang atau menundanya. Ia pun menghela napasnya dan menatap langit-langit kamarnya.


“Cansu, ada hal lain yang ingin aku katakan.”


“Katakan saja, aku akan mendengarnya,” ucap Cansu yang berkata sambil memunggungi Ivy. Putri Sophia itu sedang melihat kerajinan tangan yang ada di atas meja.


“Ini tentang…. Ibumu.” Batu besar itu seakan hendak keluar dari mulut Ivy.


“Ibuku? Aku tidak melihatnya setelah aku pulang ke rumah waktu itu. Ibuku juga tidak menjengukku di rumah sakit.” Cansu meletakkan kembali kerajinan tangan berbentuk kipas itu di tempatnya semula.


“Sebenarnya Ibumu sekarang…” Ivy terdiam melihat reaksi Cansu yang masih memunggunginya. “Ada di… dalam penjara.”


Kerajinan tangan berbentuk keranjang bunga mungil itu terlepas begitu saja dari tangan Cansu setelah mendengar perkataan Ivy. Benda anyaman itu jatuh ke lantai dan menggelinding di samping kaki Ivy. Dipungutnya hasil buatan tangannya dan ia pun bangkit berdiri mendekati Cansu.


Ivy menceritakan semua kejadian yang terjadi di acara pernikahannya. Tentang Sophia yang ingin menusuk dirinya dengan sebuah gunting dan pelayan kafe yang menjadi korbannya. “Aku benar-benar minta maaf telah memasukkan ibumu ke penjara.”


Langit-langit kamar itu seakan telah terlepas dari dindingnya. Seekor burung telah keluar dari sarang emasnya. Rantai besi yang membelenggunya itu seakan putus satu per satu. Itulah yang kini dirasakan oleh Cansu.


“Aku tidak tahu apakah aku harus sedih atau tertawa melihat Ibuku di penjara. Ibuku telah banyak berbuat jahat padamu dan Deniz. Aku hanya berharap setelah Ibuku bebas, dia benar-benar bertobat dan memperbaiki kesalahannya. Jangan salahkan dirimu,” ucap Cansu.


Hati Ivy terasa lega setelah mendengar perkataan Cansu. Beban berat itu kini tidak menindihnya lagi. Sudah tidak ada lagi hal yang ia sembunyikan dari saudaranya. Begitu juga Cansu yang menunjukkan punggung tangannya kepada Ivy. Manik mata hijau itu langsung membulat tatkala dilihatnya sebuah cincin emas melingkar di jari manis Cansu.


Sementara itu di ruang kerja, Mehmet telah memberitahu Kenan tentang pernikahannya dengan Cansu. Berbeda dengan reaksi Ivy yang menunjukkan ekspresi bahagianya, suaminya itu hanya menaikkan salah satu alisnya dan kembali berkutat di depan layar laptopnya. Tanpa mengucapkan selamat atau kata-kata bahagia lainnya.


“Wohoo….!” teriak Kenan sambil mengangkat kedua lengannya ke atas.


Mehmet yang penasaran, mulai mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang ada di layar laptop tersebut. Dilihatnya sebuah kiriman email yang sepertinya sangat penting.


Bagi Kenan tidak ada kabar yang membuatnya bahagia selain menunggu surat perjanjian dari Perusahaan Mandellion. Setelah mempelajari isinya dan memberikan tandatangan digitalnya, pria itu langsung mengirim ulang surat perjanjian tersebut. Satu tombol ditekannya membuat mesin printer yang ada di belakangnya langsung memuntahkan lembaran demi lembaran kertas perjanjian itu.


Mehmet hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Kenan. "Kurasa aku telah salah datang ke tempat mu hari ini."

__ADS_1


__ADS_2