Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kenan VS Ferit


__ADS_3

Lonceng pun berbunyi. Pertandingan itu di mulai!


Kedua pria yang saling merebutkan Ivy itu mulai saling mendekati di aats ring tinju. Tinggi badan mereka hampir sama, sekitar 185 sentimeter ke atas. Bentuk badan mereka juga sama-sama berotot di daerah lengan dan perut. Jika saat ini Kenna telah berpengalaman dalam pertandingan dan telah lolos dari maut untuk yang kesekian kalinya. Entah apakah kali ini ia berhasil meloloskan dirinya dari serangan Ferit yang masih belum berpengalaman.


Ferit hanya mengandalkan pengalaman latihan bertinjunya tanpa pernah mengikuti suatu pertandingan. Mereka  mulai saling menyerang, memukul dan menendang. Hentakan tulang dan gesekan kulit itu menimbulkan jejak kebiruan di sekujur tubuh mereka. Wajah keduanya terlihat sangat garang dan sangat buas, seakan malam ini salah satu dari mereka harus terlempar masuk ke dalam neraka. Manik mata mereka seperti sebuah pedang samurai yang siap menghunus ulu hati dan mengambil jantung mereka.


Ivy terus mengamati pertandingan itu tanpa berkedip. Bibir merahnya tampak komat-komit membacakan doa untuk keselamatan Kenan. Giginya mulai terasa ngilu melihat sarung tangan Ferit mulai menyentuh wajah Kenan.


"Kenan!" seru Ivy dari tempat duduknya ketika Ferit berhasil melayangkan tinjunya dan membuat putra Harun itu terhuyung dan jatuh menyentuh bibir ring.


Kenan membalas pukulan Ferit dan menendang wajah pria berkuncir itu, hingga beberapa tetes cairan itu keluar dari rongga mulut Ferit. Pria itu melototot ke arah Kenan, kemudian membalasnya dengan pukulan yang mengenai pelipis lawannya. Darah segar mengalir dari pelipis kanan Kenan yang sobek.


Kenan hanya mengusap darah dan peluh yang membasahi wajahnya. Ia mulai maju mendekati Ferit, memukul perut pria itu dan melayangkan pukulannya dari bawah mengenai rahang lawannya. Pukulan Kenan membuat Ferit terjungkal ke belakang.


Wasit mulai menghitung waktu kekalahan Ferit, tetapi salah seorang penonton yang duduk di barisan tengah berteriak di dalam ruangan.


"Anak pembunuh! Kenan Fallay anak pembunuh! Turun kau!" teriak salah satu penonton yang berdiri di atas kursinya. "Dia anak Harun Fallay si pembunuh berdarah dingin!"


Teriakan satu orang penonton itu diikuti oleh suara teriakan penonton lain. "Ya, pria itu anak pembunuh! Aku ingat kasus ayahnya setahun yang lalu!"

__ADS_1


"Dia pasti sama seperti ayahnya. Pembunuh! Darah pembunuh!"


Perkataan penonton itu membuat konsentrasi Kenan pecah. Putra Harun itu tampak seperti orang linglung. Ia melihat raut wajah Ivy yang tampak terkejut mendengar perkataan orang-orang itu.


Kini kau telah tahu siapa diriku, Ivy. Masa lalu ku yang ingin aku lupakan dan ingin ku hindari. Aku tidak ingin kau menganggapku seperti mereka....


Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ferit. Pria itu tertawa mendengar hasutan suara penonton yang menguntungkan dirinya. Ia bangkit berdiri dan mulai berjalan mendekati Kenan yang tampak kebingungan mendengar suara-suara tuduhan itu. Calon suami Ivy itu menghajar Kenan dengan brutal, lawannya itu sekarang bagaikan seonggok daging yang siap untuk di cincang dan masuk ke dalam sebuah oven pemanggang. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi itu mengenai wajah dan tubuh Kenan. Ferit tidak memberinya kesempatan sedikitpun kepada Kenan untuk memberikan perlawanannya.


"Hentikan! Jangan pukul Kenan lagi!" teriak Ivy dengan suaranya yang nyaring. Ia mulai berusaha melepaskan ikatan tangannya. Deraian air matanya mulai membasahi wajah cantiknya.


Kenan terjatuh di depan Ivy. Ia melihat sorot mata hijau itu tertuju kepadanya. Ivy mencurahkan air matanya untuk dirinya. Wanita itu tidak terpengaruh dengan teriakan orang-orang yang mencoba menjatuhkannya. Ia melihat putri Victor itu masih mengaharapkan kemenangannya.


"Diam, kau!" teriak Ferit kepada Ivy. "Hasan tutup mulut wanita itu!" Hasan langsung menutup mulut Ivy dengan selembar kain.


Mendengar teriakan Ivy, membuat semangat Kenan berkobar kembali. Ia mulai bangkit berdiri dan perlahan-lahan menegakkan tubuhnya. Langkah kakinya mulai mengintimidasi Ferit. Manik mata abu-abu gelap itu mulai berubah menjadi mata seekor serigala yang buas dan haus akan darah.


"Aku adalah anak Harun Fallay, si pembunuh itu! Malam ini aku akan mengirimmu menemui ajalmu!" teriak Kenan yang langsung melayangkan tinjunya ke wajah Ferit.


Sosok Harun Fallay itu muncul di dalam diri Kenan. Putra Harun itu mulai menghajar Ferit dengan brutal, tanpa ampun dan tanpa belas kasihan. Membuat hidung pria berambut panjang itu mengucurkan banyak darah. Terakhir Kenan menendang wajah Ferit, membuat pria itu jatuh tersungkur dengan wajahnya terbenam ke dasar ring tinju.

__ADS_1


Disaat Kenan akan melayangkan pukulan terakhirnya ke punggung Ferit, calon suami Ivy itu memberikan kode kepada Hasan. Kenan pun melompat dan menghantamkan sikunya ke punggung Ferit, membuat pria itu mengeluarkan darah dari mulutnya.


Wasit mulai menghitung waktu kekalahan Ferit. Hitungan dimulai dari angka satu hingga sepuluh. Saat hitungan kelima, terdengar suara sirine polisi meraung-raung dari luar.


"Polisi! Cepat lari!" teriak para penonton yang langsung berhamburan keluar untuk melarikan diri dari tangkapan petugas.


Kenan segera melepas sarung tangannya dan mencari Ivy diantara para penonton. Dari atas ring, ia melihat wanita berbaju hitam itu tampak berdiri kebingungan saat melihat Hasan dan anak buah Ferit bertarung melawan beberapa orang. Putra Harun itu segera berlari ke arah Ivy. Ia segera menarik tangan Ivy untuk keluar menjauhi kerumunan orang-orang itu.


"Ikuti aku!" seru Mehmet kepada Kenan dan Ivy. Mereka bertiga pun keluar melalui pintu belakang gedung. Sementara polisi sudah berhasil masuk dan menangkap beberapa orang yang masih tersisa di dalam ruang pertandingan.


"Bawa ini! Larilah sejauh mungkin! Aku akan menangani polisi-polisi itu!" Mehmet memberikan sebuah pistol kepada Kenan ketika mereka sudah berada di halaman belakang. Ia membantu melepas ikatan di tangan Ivy dan kain yang menutup mulut wanita itu.


"Bagaimana denganmu?" tanya Kenan yang tampak ragu meninggalkan Mehmet.


"Kau tenang saja! Tidak ada yang bisa menangkap pria berkulit gelap seperti diriku. Pergilah!" Mehmet segera masuk kembali ke dalam. Kenan segera menggandeng tangan Ivy untuk mencari mobilnya.


"Hei berhenti!" teriak salah seorang petugas polisi kepada Kenan dan Ivy, petugas itu melayangkan tembakannya ke udara saat mereka akan masuk ke dalam mobil. "Tangkap mereka semua!"


* BERSAMBUNG *

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih


__ADS_2