
“Kalian tak apa?” tanya Mehmet setelah ia berhasil mengusir Ferit dari dalam kamar. Ia melihat kedua wanita itu diam mematung berdiri di samping ranjang.
Deniz langsung meletakkan kertas gambar dan pensilnya. Bocah itu langsung duduk di atas ranjangnya dan mengeluarkan ibu jarinya kepada Mehmet. “Wow, kau benar-benar hebat! Kau seperti kakak tua ku!”
“Kakak tua?” tanya ketiga orang dewasa itu secara bersamaan. Ketiga kening itu mulai mengeluarkan garis halusnya.
“Dia pria yang selalu bersama Ivy. Kurasa usianya jauh lebih tua daripada kakakku,” celoteh Deniz. Mendengar celotehan bocah berusia sepuluh tahun itu sontak membuat mereka tertawa. Mereka pikir kakak tua yang dimaksud Deniz adalah seekor burung kakatua, tetapi dia adalah Kenan.
Cansu berjalan mendekati Mehmet dan dia membisikkan sesuatu di telinga pria gundul tersebut. “Sebenarnya apa yang terjadi? Ferit menjadi hidup kembali, Kenan meninggal dan dimana Ivy?”
Mehmet berjalan menuju ambang pintu, ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Ferit benar-benar sudah pergi dari tempat ini. Ia menutup pintu kamar dan menguncinya. Digandengnya tangan Cansu untuk menjauhi pintu, kini mereka berempat berkumpul di atas ranjang Deniz.
Pria gundul itu menceritakan semua peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu, mulai dari pertarungan tinju hingga Kenan yang berhasil di selamatkan.
“Dua pria itu tidak ada yang meninggal dan sekarang Ivy bersama Kenan. Mungkin mereka sudah keluar dari rumah sakit. Tolong rahasiakan bahwa Kenan masih hidup.”
Ketiga orang itu menganggukkan kepalanya, mereka meyakimi pasti ada alasan kenapa Mehmet menyuruh mereka untuk diam. Suara ketukan pintu tiba-tiba mengejutkan semua orang yang ada di dalam kamar
“Tunggu! Biar aku yang buka. Jangan-jangan si keparat itu kembali lagi!” seru Mehmet. Langkah kakinya membawanya menuju ke daun pintu.
“Ivy?” Semua orang terkejut melihat wanita muda itu telah berdiri di depan.
Putri Victor itu menatap satu persatu orang yang ada di dalam kamar itu. Ia kemudian menghampiri Cansu dan memeluk saudara tirinya itu. Kedua wanita itu tampak berlinangan air mata.
“Bagaimana kabarmu, Cansu? Aku sangat merindukanmu.”
“Kabarku baik. Aku juga sangat merindukanmu, Ivy.”
"Terimakasih kau masih memperdulikan Deniz.” Ivy melepaskan pelukannya dan memegang lengan saudara tirinya.
“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku peduli. Dia adik juga!” seru Cansu yang membelalakkan matanya kemudian ia melemparkan senyumannya kepada semua orang.
Dalam hati kecilnya Mehmet mengagumi senyum manis Cansu.
__ADS_1
Ivy berjalan menghampiri Deniz dan Nur. Wanita itu mendudukkan dirinya diatas ranjang dan mengusap puncak kepala adiknya. Ia kemudian memeluk adiknya itu dengan erat. Cairan bening itu mengalir dari pelupuk matanya, sebuah mujizat melihat saudara kandungnya ini telah sembuh dan bisa menjalani kehidupan normalnya kembali.
Sekilas dilihatnya sebuah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum pendeknya sudah berada di angka dua belas, hari sudah semakin siang. Ia mengusap sudut matanya yang telah basah dan melepakan pelukannya dari tubuh adiknya. Mata hijau itu mengitari setiap sudut kamar, dilihatnya hanya ada dua buah tas ukuran sedang yang ada di atas meja.
Saat semua orang sedang bercengkerama satu dengan yang lain, Ivy menurunkan tubuhnya dari ranjang dan mengambil semua barang-barang milik Deniz dan memasukkannya ke dalam tas.
“Ivy, apa yang kau lakukan? Kenapa kau memasukkan semua barang-barang Deniz?” tanya Nur yang melihat meja ruangan itu kini telah bersih.
Manik mata hijau itu memandang wajah mereka satu persatu, ia terdiam untuk beberapa detik sambil menggigit bibir bawahnya.
“Dokter Husein sudah mengijinkan Deniz untuk pulang hari ini. Aku akan membawanya tinggal bersamaku dan Kenan. Kami telah menyewa sebuah apartemen di dekat apartemen Mehmet.”
Nur hanya menundukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Ivy.
Putri Victor itu berjalan mendekati wanita yang telah mengasuhnya setelah ibu kandungnya meninggal. Ia menggenggam telapak tangan yang gembul itu kemudian berkata, “Maafkan aku, Nur. Aku tidak memberitahumu. Aku dan Kenan akan mulai membangun kehidupan kami yang baru. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal bersama dengan kami. Jika kau ingin menjalani hidupmu sendiri, tak apa.”
“Aku tak punya saudara ataupun anak. Kau, Cansu dan Deniz sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Bolehkah wanita tua ini berharap, untuk selalu bersamamu?” Wanita gembul itu tidak berani menatap wajah Ivy.
“Nur….” Ivy menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk wanita gembul itu. Ia juga tidak ingin meninggalkan mantan pelayannya ini hidup sebatang kara, meskipun wanita itu punya kebebasan untuk memilih.
“Aku telah membawa sebagian pakaian milik kita,” ucap Ivy kepada Nur setelah mereka tiba di depan lobi apartemen.
Deniz mengarahkan pandangannya menatap bangunan bertingkat tujuh yang menjulang tinggi dengan atap dan jendelanya yang berbentuk bidang geometri. Ia melihat bangunan dengan arsitekturnya yang minimalis modern itu dengan wajahnya yang berseri.
Apa tempat ini akan menjadi tempat tinggalku?
Tak berapa lama kemudian, mereka bertemu dengan Mehmet dan Cansu yang sudah menunggu di dalam lobi.
Ivy mengajak mereka untuk masuk ke dalam lift, setelah pintu aluminium itu terbuka lebar. Dinding kaca yang menyelimuti ruangan bergerak itu membuat Nur dan Deniz dapat melihat kolam air mancur yang ada di bawah kaki mereka. Suara lonceng terdengar saat alat angkut itu berhenti di lantai lima.
Keempat orang itu hanya mengikuti langkah Ivy, tetapi tatapan mata mereka menatap sekelilingnya. Kini mereka berajalan di dalam lorong dengan lantai dan dinding kaca yang berada di kanan kiri mereka. Nur bergidik ngeri saat ia melihat ke bawah, pemandangan lalu lintas kota Istanbul ada di bawah kakinya. Ia merasakan bahwa dirinya akan jatuh di atas atap mobil yang sedang berjalan.
Namun Cansu menuntunnya untuk tetap melangkah. Ia meminta wanita paruh baya itu untuk menutup kedua matanya. Sampailah mereka di depan sebuah pintu kayu yang bertuliskan FALLEA.
__ADS_1
“Siapa itu Fallea?” tanya Mehmet yang menatap Ivy dengan penuh tanda tanya. Berita apa yang tidak diketahuinya saat ini. Bukan hanya Mehmet tetapi Cansu, Nur dan Deniz juga bertanya-tanya.
“Kalian akan tahu setelah pintu ini terbuka.” Ivy menekan tombol bel yang ada diatas kepalanya.
Beberapa detik kemudian pintu kayu itu terbuka dari dalam, muncullah sosok Kenan dengan pakaian kasualnya berdiri di depan mereka. Deniz langsung berlari menghampiri kekasih kakaknya itu dan menempelkan genggaman tangannya ke tangan pria berambut hitam itu. Ia meniru salam khas pria dewasa.
Semua orang masuk ke dalam ruang apartemen tersebut. Ruangan yang didominasi dengan warna putih dan perabotannya yang bersih dari ukiran.
Tatapan mata mereka tertuju pada sebuah rangkaian balon huruf berwarna emas, hitam dan putih yang tertempel di salah satu dinding ruang tamu. Rangakaian balon udara itu membentuk sebuah kalimat yang berbunyi “SELAMAT DATANG DI FALLEA”
“Dari tadi aku penasaran, siapa itu Fallea? Kau juga’kan Cansu?” tanya Mehmet yang mengarahkan pandangannya ke arah Kenan dan Cansu secara bergantian.
Kenan memeluk pinggang Ivy sambil tertawa kecil. “Kau ingin tahu apa itu Fallea?”
Pria gundul itu hanya bergumam. Ia bolak-balik menghadap balon udara itu dan juga Kenan. Sekarang ia mendekati Cansu dan bertanya pada wanita itu, tetapi rupanya putri Sophia itu hanya menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua bahunya.
Kenan memberikan kepada mereka masing-masing segelas wiski dingin.
“Mulai hari ini aku dan Ivy akan membangun perusahaan yang bernama Fallea. Singkatan dari nama keluarga kami Fallay dan Eleanor. Ini adalah impian kami sejak dulu, sebelum kami bertemu.”
Putra Harun itu mengangkat gelas wiski yang ada di tangannya, diikuti oleh semua orang kecuali Deniz. Mereka pun saling bersulang untuk merayakan berdirinya perusaan baru itu.
Setelah bersulang Kenan mencium bibir Ivy di depan semua orang. Ia ingin memberitahu semua orang bahwa mereka telah menjadi sepasang kekasih.
“Perlukah kalian menunjukkan kemesraan kalian di sini? Ada anak kecil.” Mehmet mengusap dagunya sambil tertawa, dalam hatinya ia juga ingin mengungkapkan perasaannya kepada Cansu.
“Aku bersulang khusus untukmu,” ucap Mehmet yang mengisi kembali gelasnya yang kosong dengan wiski yang baru dan menempelkannya di gelas Kenan. “Semoga kau sukses membangun pekerjaanmu dan kehidupan cintamu.”
“Kau juga,” balas Kenan yang menepuk pundak pria gundul itu.
“Cepat dapatkan wanitamu, sebelum ia dijodohkan oleh ibunya yang galak itu,” ejek Kenan dengan tawanya.
Mehmet tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Kenan. “Sudah kukatakan dari dulu kau sungguh beruntung, kau tidak harus berhadapan dengan calon ibu mertuamu. Kau lihat bagaimana Nyonya Sophia memandangiku.”
__ADS_1
"Tanpa kau ceritakan, aku sudah melihat perlakuan wanita itu kepada Ivy dan Deniz," balas Kenan.
* BERSAMBUNG *