
“Ayo kita keluar dari sini!” perintah Hasan dengan mengayunkan salah satu tangannya kepada dua orang anak buahnya.
Untuk beberapa detik, pria berhidung bengkok itu melihat kekacauan yang telah ia perbuat. Dengan senyumannya yang memperlihatkan deretan giginya dan langkah kakinya yang mundur teratur, Hasan dan anak buahnya meninggalkan apartemen tersebut.
“Bos, bagaimana dengan wanita itu?” tanya salah satu anak buah Hasan ketika mereka bertiga telah berada di dalam lift.
Pria yang bernama Hasan itu mengusap hidungnya dan menghembuskan napasnya di depan salah satu dinding lift.
“Kita akan kembali lagi ke tempat ini! Sebelum pernikahan, kita harus mendapatkan wanita itu!”
Tiga pasang sepatu kets itu berjalan beriringan. Alas sepatu itu berderit ketika benda itu bersentuhan dengan lantai granit dengan berpola geometrinya. Perpaduan tiga warna coklat dengan susunan gradasi warna muda, sedang, hingga coklat tua mengantar perjalanan mereka menuju pintu kaca yang terbuka otomatis.
“Bos, kenapa kau tidak menghubungi Tuan Ferit dan mengatakan bahwa wanita itu tidak ada di sini?” Pria bertubuh pendek itu bertanya kepada Hasan saat kaki mereka menuruni beberapa anak tangga yang akan membawanya menuju halaman depan.
"Kau ingin cari mati, hah! Sudah cukup dia menghajar ku waktu itu! Aku akan menghubunginya, jika wanita itu sudah
berada di tanganku!” Hasan menunjukkan kepalan tangannya kepada anak buahnya tersebut. Ia sudah punya rencana sendiri untuk Ferit dan Ivy.
Saat sang surya beranjak tinggi meninggalkan peraduannya, beberapa kumpulan awan berwarna monokrom saling berkumpul menyelimuti sang surya. Dedaunan berwarna hijau kekuningan dan kelopak bunga beraneka warna itu menjerit tatkala hembusan angin yang entah datangnya dari antah berantah mana berusaha merampas kehidupan mereka. Tak dapat dipungkiri aliran udara itu membuat mereka saling berguguran bak seorang pejuang di medan peperangan.
Keadaan itu berbeda dengan lalu lintas yang ada di sekitar jalan raya apartemen. Puluhan kendaraan roda empat bergerak bagaikan seekor kucing betina yang akan beranak. Dari arah jalur sebelah kanan, terlihat sebuah mobil Jeep berwarna hijau tentara lambat-lambat melewati gedung apartemen kantor Falea. Sepintas manik mata hitam itu melihat Hasan keluar dari halaman gedung menuju tempat parkir mobilnya.
“Apa aku tak salah lihat? Bukankah itu Hasan? Si hidung bengkok itu?” gumam Mehmet yang berusaha melihat kembali Hasan dari pantulan kaca spionnya. Ia tidak dapat menghentikan atau menepikan mobilnya, karena pengendara lain yang ada di belakangnya telah membunyikan klaksonnya.
“Apa yang dia lakukan di sana?” gumamnya lagi.
Mehmet segera merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Kenan. Dengan salah satu tangannya memegang setir kemudi, pria gundul itu menunggu panggilan ponselnya tersambung.
......................
Sementara itu, di daerah Eminonu daerah dermaga Kota Istanbul. Kenan masih tidak beranjak dari tempatnya semula. Suara dering ponselnya terdengar samar-samar, terhalang oleh suara klakson kapal dan keramaian yang ada di sekitar dermaga. Namun ketika telapak tangannya menyentuh saku celananya, ada suatu getaran yang ia rasakan. Dilihatnya sebuah nama yang tidak asing muncul pada layar ponselnya.
“Ada apa kau menghubungiku? Apa terjadi sesuatu dengan Nur dan Deniz?” tanya Kenan setelah ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
__ADS_1
“Mereka aman di apartemenku. Kau ada dimana? Apa kau bersama Ivy?”
“Tidak. Ivy di apartemen. Aku ada di Eminonu.” Manik mata abu-abu gelap itu memandang langit berwarna monokrom dengan beberapa ekor burung camar yang terbang ke sana kemari.
“Cepat kau pulang sekarang! Aku baru saja melihat Hasan keluar dari apartemen mu!”
“Apa yang kau katakan barusan? Hasan? Bagaimana dengan Ivy? Apa kau melihat Ivy bersamanya?” Kedua kelopak mata itu langsung terbelalak begitu mendengar perkataan Mehmet.
“Aku kurang begitu jelas, aku sedang ada di jalan.”
“Aku akan pulang sekarang!” Kenan langsung menutup ponselnya. Pria berambut hitam itu langsung berlari menuju mobilnya.
Putra Harun itu langsung menaikkan kecepatan mobilnya dan berusaha mencari jalur bebas hambatan untuk mencapai apartemennya. Beberapa menit kemudian, mobil jenis SUV itu sudah memasuki halaman depan apartemen. Pria itu meninggalkan begitu saja mobilnya dan dengan tergesa-gesa menuju pintu lift.
Kesabarannya telah habis, tatkala pintu lift itu tak kunjung membuka dirinya. Ia mengayunkan langkahnya untuk menapaki satu per satu anak tangga darurat yang membawanya ke lantai lima. Dua hingga tiga anak tangga langsung di lahapnya, pandangannya langsung terarah begitu dirinya telah sampai di lantai lima.
Dari kejauhan, Kenan melihat pintu apartemennya yang ada di pojok koridor telah terbuka. Pria itu langsung berlari dan mendapati pintu kayu itu telah rusak. Manik matanya melihat keadaan apartemennya tampak kacau balau. Penuh dengan serpihan kaca dan benda-benda besar dan kecil saling berserakan. Hampir semua perabot terguling dan tidak berdiri pada tempatnya.
Dua buah kursi kerja telah jungkir balik tak karuan, dua buah patung manekin yang berbalut gaun pengantin saling merebahkan dirinya di atas lantai, lemari kaca dengan tingginya sekitar dua meter habis tak bersisa menyisakan kerangka besinya. Laptop dan peralatan lainnya berserakan di setiap penjuru ruangan.
“Hasan!” teriak Kenan dengan kegeraman dan kepalan tangannya.
Ia membuka ruang penyimpanannya dan melihat gulungan-gulungan kain itu jatuh bergulingan dan saling menindih di atas lantai. Beberapa diantaranya telah menjadi sobekan kain perca.
Dibukanya kamarnya dan kamar Ivy, keadaan ruangan itu tak jauh berbeda dengan dua ruangan yang lain. Mereka menggulingkan kasur dan menyobek bantal yang ada di sana.
Membuat bulu-bulu angsa itu bertaburan dimana-mana bagaikan sebuah kandang ayam. Hanya tersisa lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati yang masih berdiri kokoh, setelah benda mati itu menyaksikan semua kekacauan yang terjadi di sekitarnya.
Manik matanya mulai memerah, ditariknya semua rambut hitamnya ke belakang ketika ia tidak berhasil menemukan Ivy di manapun.
Saat Kenan akan mendudukkan dirinya di atas kasur yang telah terguling dan keluar dari kerangka kayunya, dilihatnya selembar kain hitam terjepit pada sebuah pintu lemari.
Pria itu mendekati pintu lemari dengan daun pintu kembarnya yang tertutup, sambil berjongkok disentuhnya ujung kain hitam tersebut.
__ADS_1
“Kain ini, seperti baju… yang di pakai Ivy.” Manik mata abu-abu itu menatap nanar kain hitam dan daun pintu lemari yang tertutup rapat.
Suara hatinya saling bersahutan mengatakan Ivy ada di dalam dan suara yang lain mengatakan Ivy tidak ada di sana.
Kenan berusaha menarik kenop lemari, namun pintu itu ternyata terkunci. Ia bangkit berdiri dan di putarnya anak kunci yang melekat di dalam rumahnya. Ketika pintu coklat itu berhasil terbuka, tampak kengerian menjalar di sekujur wajah dan tubuhnya yang berotot.
“Ivy….” Suara kesedihan itu meluncur keluar dari bibirnya.
Lemari kayu jati itu seakan jatuh menimpa dirinya ketika ia melihat tubuh Ivy yang tertekuk tak berdaya ada di dalam. Kelopak mata itu telah menutupi manik mata hijau kesukaannya. Ketakutan dan penyesalan bercampur jadi satu merasuki jiwanya.
Putra Harun itu langsung mengeluarkan Ivy dari dalam lemari. Diletakkannya kepala Ivy di atas pangkuannya. Disentuhnya wajah oval yang tampak diam tak bergerak itu, wajah itu masih terasa hangat. Tanpa ia sadari, setetes air matanya jatuh mengenai hidung Ivy.
“Ivy..., kumohon jangan pergi… jangan tinggalkan aku….” Kenan menyeka cairan bening yang mengalir dari manik matanya yang telah memerah.
“Bangun, Sayang. Bangunlah…. Buka matamu…. Bangunlah.”
“I…ini aku. Kenan mu telah datang. Kumohon bangunlah..., jangan membuatku takut.”
“Jangan membuatku kehilangan lagi…. Cukup dua kali aku kehilangan wanita yang berarti di hidupku. Kali ini, jangan buat dia meninggalkanku….”
“Aku janji…, aku… aku... tidak akan memarahimu. Aku tidak... akan menyembuyikan apa…apapun darimu. Aku… aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi, Sayang. Aku janji padamu… aku janji... tapi kumohon bangunlah….”
Sambil merutuki dirinya sendiri, ia mendekap tubuh ramping itu di dalam rengkuhannya dan menempelkan wajahnya dengan wajah Ivy. Berapa banyak kata penyesalan dan maaf yang keluar dari bibirnya tak mampu membuat manik mata hijau itu bersinar kembali.
“Ivy…!” jerit Kenan dengan suaranya yang nelangsa.
Senyum Ivy perlahan-lahan pudar dari dalam pikirannya. Impiannya untuk hidup bersama dengan wanita itu seakan telah sirna. Ia masih berharap keajaiban itu masih ada dan menghampirinya saat ini. Diambilnya tangan Ivy yang telah terkulai di pangkuannya, ia mengusap air matanya dengan telapak tangan wanita itu.
Apakah masih ada harapan untuknya saat ini? Dapatkah Kenan merajut kembali impiannya bersama dengan Ivy?
Tidak ada penyesalan yang datangnya di awal....
...****************...
__ADS_1