
Seberkas cahaya mentari menyinari seluruh penjuru Kota Istanbul. Kehidupan setiap orang baru saja dimulai. Begitu juga dengan penghuni kamar nomor 703 di Hotel Dinasty.
Tampak seorang wanita berbaring seorang diri di atas ranjang berselimutkan selembar kain yang menutupi tubuh polosnya. Kain panjang itu tersingkap memperlihatkan sebagian kaki jenjangnya hingga di atas lutut.
Tangan ramping itu mulai bergerak. Kelopak matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka. Manik mata biru itu mulai muncul ke permukaan kemudian bergerak mengelilingi seluruh ruangan seiring dengan jarum jam. Ia pun terbangun seketika itu juga.
“Dimana ini? Ini bukan kamarku,” gumamnya pelan.
Pandangannya langsung berhenti pada lembaran kain berwarna putih dan celana jeans yang tercecer begitu saja di lantai. Jantungnya seakan melompat keluar tatkala ia memperhatikan kain putih yang sudah sobek di setiap sisinya. Kain putih itu adalah pakaian yang ia kenakan semalam.
Seketika itu juga bayangan kejadian beberapa jam yang lalu menelisik masuk ke dalam memorinya. Ia pun teringat ada seseorang yang membekapnya di halaman parkir Istanbul Mall. Cairan bening itu semakin mengalir bagaikan anak sungai yang meluap ke permukaan, ketika ia mendapati tubuh polosnya tersembunyi di balik selimut.
“Ibu…!” teriak Cansu dengan linangan air matanya. Ia merasakan sebuah batu besar menekan dadanya membuatnya susah untuk bernapas.
“Ibu…!” Teriakan dan tangisannya semakin pecah ketika ia menarik selimutnya, dilihatnya noda merah menghiasi kain seprei di bawah tubuhnya. Kedua tangannya memegang kepalanya dan menatap nanar cairan merah tersebut.
Tanpa perlu dijelaskan oleh siapapun, ia sudah mengerti apa yang telah terjadi. Kelopak bunga yang mekar itu mendadak layu dalam semalam. Seekor kumbang liar telah merusak putik dan benang sari miliknya. Ia mengutuk pria yang telah mengambil kehormatannya di saat hari pernikahannya akan berlangsung.
“Arrggghhh….!” Suara pilu dengan sayatan hati yang tercabik-cabik itu mewakili rasa sakit yang ada di bagian bawah tubuhnya.
Teriakannya mendadak berhenti ketika kenop pintu kamar mandi diputar oleh seseorang yang ada di dalam. Cansu mulai menyadari bahwa saat ini ia tidak sendirian.
Apa pria itu yang ada di dalam kamar mandi? Apa Mehmet yang melakukan semua ini?
Suara langkah kaki itu terdengar, Cansu langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Rasa takut menjalarinya, membayangkan bahwa manusia hina itu akan melakukannnya kembali. Dengan tangisannya yang masih sesenggukan ia memundurkan tubuhnya hingga menempel pada dipan ranjang berwarna coklat tua.
Mendadak wajahnya pucat pasi begitu ia melihat Ferit yang muncul bukan calon suaminya, Mehmet. Seketika itu juga ia langsung turun dari ranjangnya dan melayangkan tamparannya ke wajah pria itu. Pria berambut panjang itu hanya terdiam menerima pukulan dari putri Sophia.
“Manusia biadab kau!” teriak Cansu dengan napasnya yang memburu. Wajah dan manik matanya memerah.
Satu tangannya memegang selimutnya dan satu tangannya mendorong tubuh Ferit. “Terkutuk kau, pria keparat! Kau lebih menjijikkan dari seekor binatang!”
“Cukup!” teriak Ferit yang langsung menangkap tangan Cansu, begitu wanita itu akan menamparnya kembali.
Tatapan matanya mulai menyudutkan Cansu, seolah dirinya yang menjadi korban bukan wanita itu.
“Jangan pernah menyalahkanku! Tapi salahkan ibumu dan nasib sial mu!” Ferit mendorong Cansu hingga wanita muda itu kembali jatuh di atas ranjang.
“I…Ibuku?” Cansu memundurkan langkahnya hingga tubuhnya menyentuh tepi ranjang.
“Apa hubungannya… dengan ibuku? Kau yang berbuat… dan kau menyalahkan orang lain?”
Ferit mendorong Cansu hingga wanita itu jatuh terduduk di atas ranjang. Tubuh ramping itu berusaha menjauhi Ferit ketika pria itu akan mendekat kepadanya. Jari tangan pria itu berhasil menjepit kedua pipinya dan mengangkatnya ke atas. Giginya saling gemeletuk ketika Ferit menatapnya kembali dengan tajam.
“Ibumu yang mata duitan itu telah menjual kedua putrinya. Pertama dia memberikanku informasi tentang jadwal pernikahan Ivy dengan imbalan saham perusahaanku. Kedua ibumu juga memberikan informasi tentang pertemuanmu dengan Ivy di Istanbul Mall dengan imbalan uang,” jelas Ferit dengan nada suaranya yang mengintimidasi dan tangannya yang masih menjepit kedua pipi Cansu.
Penjelasan Ferit membuat Cansu syok. Ia tak menyangka ibunya akan tega melakukan hal itu.
“Dan…, karena si bodoh Hasan dan anak buahnya! Mereka malah menculikmu dan memberikanku obat! Jika malam itu aku sadar, apa kau pikir aku mau melakukannya denganmu?” Ferit langsung membuang wajah Cansu ke samping.
“Yang aku inginkan adalah IVY, bukan KAU! Kenapa justru kau yang ada di sini?” Ferit bertanya dengan penekanan suaranya.
__ADS_1
Putri Sophia itu hanya bisa meremat kain selimutnya begitu mendengar perkataan Ferit. Ia merasa takdir benar-benar berbuat jahat kepadanya. Ia menjadi korban kebiadaban pria ini dan keserakahan ibunya. Ia menjadi tumbal pengganti saudara tirinya.
Kesalahan apa yang telah aku perbuat, hingga aku mengalami hal seperti ini?
“Pakai ini untuk menutupi tubuhmu!” Ferit melempar handuk kimono berwarna putih milik hotel ke wajah Cansu.
Handuk bermodel baju itu jatuh tepat di depan Cansu. Dengan keraguan ia memungut dan mengenakannya ketika Ferit berdiri memunggunginya. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu di balik meja. Ia hanya bisa melihat tangan pria itu bergerak-gerak.
“Ambil ini dan anggap tidak pernah terjadi sesuatu di antara kita!” seru Ferit yang melempar selembar cek kepada Cansu.
Selembar kertas berharga itu jatuh tepat di depan ujung jari kakinya. Putri Sophia itu mengambil kertas tersebut dan melihat nominal angkanya.
Ia pun tertawa sambil menangis bersamaan, melihat seorang pria seperti Ferit ternyata hanyalah seorang pengecut, yang berani berbuat dan tidak berani bertanggung jawab.
“Setelah apa yang kau lakukan padaku dan kau hanya memberiku ini? Kau pikir aku sedang menjual diriku, hah? Aku tidak butuh uang darimu!” pekik Cansu dengan sengit.
Dilemparkannya cek itu ke wajah Ferit. Ia tak peduli pria itu akan melampiaskan nafsu binatangnya kembali atau bahkan membunuhnya. Mungkin baginya lebih baik mati daripada menanggung malu seumur hidupnya.
Ferit langsung memegang tangan Cansu begitu putri Sophia itu akan melangkah. “Lebih baik kau menerima pemberianku, karena aku tidak akan pernah menikahimu!”
Hati Cansu benar-benar tercabik setelah mendengar perkataannya. Ia merasa dirinya kini hanyalah selembar kertas lusuh yang di remat kemudian dibuang di sembarang tempat dan diinjak oleh berbagai macam alas kaki. Ia pun tertawa kembali dengan linangan air matanya.
“Kau pikir aku akan mengemis untuk memintamu menikah denganku? Aku juga tidak sudi menikah denganmu! Seandainya saja mulutku ini bisa mengeluarkan api, maka saat ini juga akan membakarmu hidup-hidup!” teriak Cansu dengan amarahnya.
Ia langsung menghentakkan tangannya membuat pegangan tangan Ferit pun terlepas dan membuka pintu kamar hotel.
Dengan hatinya yang hancur dan menahan rasa perih yang ia rasakan di bagian bawah tubuhnya, putri Sophia itu berlari menuju rumahnya. Tanpa alas kaki dan ujung kimononya yang melambai-lambai ia terus berlari.
Rambut panjangnya tergerai acak tak karuan. Wajahnya terlihat sembab. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya saat ini. Ia merasa jijik dengan dirinya.
Kini pohon-pohon itu berubah menjadi wajah Ferit, Hasan dan ibunya. Ketiga orang itu seakan mengejek dan menertawakannya. Suara-suara sumbang yang mengatakan bahwa dirinya adalah wanita kotor dan hina. Sentuhan tangan Ferit dan cumbuan laki-laki itu kembali terasa menyentuh kulitnya.
“Tidak...! Pergi kau!” jeritnya dengan histeris.
“Jangan sentuh aku! Jauhi aku...!"
Ia menjerit kembali sambil membungkuk dan memegangi perutnya. Seluruh tubuhnya bergetar karena perasaannya yang bercampur aduk tak karuan. Tidak ada seorang pun yang berani menolongnya atau mendekatinya.
Langkah kakinya gontai memasuki halaman rumahnya. Dengan melipat kedua tangannya di depan dada ia masuk ke dalam rumah. Dilihatnya perlengkapan acara semalam masih tertata rapi di atas meja. Gaun merahnya, perlengkapan Henna, dan beberapa kotak hadiah pemberian Mehmet. Hatinya semakin hancur.
Bagaimana aku bisa menghadapimu, Mehmet? Kau yang selalu menjagaku, tapi aku yang tidak bisa menjaga diriku sendiri….
“Darimana kau?” tanya Sophia. Wanita paruh baya itu baru saja turun dari lantai atas begitu mendengar suara pintu dibuka.
Suara dan tarikan tangan Sophia mengejutkan Cansu membuat tubuh ramping itu berbalik menghadap ibunya. Wanita muda itu tidak dapat berkata apa-apa. Bibir merahnya hanya bergetar tanpa suara.
Sophia menatap putrinya yang pulang dalam keadaan awut-awutan dan berbajukan kimono hotel. Ia mengernyitkan keningnya kemudian berkata, “Dimana pakaian mu?”
Cansu tidak menjawab pertanyaan ibunya, karena ia juga takut dan bingung untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
“Ahh sudahlah, cepat kau mandi! Perias dan Mehmet akan segera datang!” seru Sophia yang mengangkat tangannya menunjuk kamar Cansu yang ada di lantai atas.
__ADS_1
“Tidak ada pernikahan, Ibu!” teriak Cansu dengan matanya berkaca-kaca. Ia mengusap cairan bening itu yang sudah menggantung di pelupuk matanya.
Wajah Sophia mendadak kaku dan mencengkeram kedua lengan putrinya dengan sangat kuat.
“Kenapa tidak ada pernikahan? Bukankah kau sendiri yang bersikeras ingin menikah dengan si gundul itu?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Cansu. Penjelasan Ferit tentang Sophia membuatnya muak.
“Jawab Ibu, Cansu!” teriak Sophia dengan suaranya yang keras.
Wanita muda itu langsung menepis kedua tangan ibunya dengan kasar. “Ini’kan yang Ibu mau? Menghancurkan masa depan Ivy dengan menyerahkan dia kepada Ferit?”
“A… apa maksudmu? Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak. Ayo cepat kau naik ke kamarmu!” Sophia berusaha menyentuh tangan putrinya.
“Apa masih kurang saham pemberian Mehmet dan semua hadiah yang pria itu berikan pada Ibu? Hingga Ibu juga menginginkan saham Perusahaan Kozan dan uang dari Hasan?” tanya Cansu dengan kemarahan. Ia benar-benar tidak tahan menghadapi kelakuan ibunya.
“I… Itu tidak benar, Sayang. Siapa yang telah memfitnah Ibu?” Sophia berusaha mengejar Cansu yang akan naik ke kamarnya.
Cansu kembali tertawa dan menangis di depan Ibunya. Melihat ekspresi wajah Ibunya yang datar, tanda tak bersalah.
“Aku malu pada diriku sendiri, tapi aku lebih malu mempunyai ibu sepertimu!”
Sebuah tamparan melayang di pipi Cansu, menimbulkan bekas merah dan rasa panas di kulit wajahnya.
“Jaga ucapanmu, Cansu! Aku ini ibumu!”
“Ibu macam apa yang mengumpankan anaknya sendiri kepada binatang buas?" balas Cansu sengit.
"Cansu!" teriak Sophia sambil mengangkat telapak tangannya hendak menampar putrinya untuk kedua kalinya.
"Tampar aku, Bu! Tampar aku lagi!” teriak Cansu sambil memegangi pipinya. “Sekalian saja Ibu membunuhku! Karena kau telah menghancurkan masa depan putrimu sendiri! Mereka telah mengambil kehormatanku!”
Cansu langsung mendorong Sophia agar menjauhinya. Ia pun bergegas naik ke dalam kamarnya. Wajah wanita paruh baya itu menjadi seperti bongkahan es batu di ruang makan setelah mendengar perkataan putrinya.
“Ti… tidak mungkin mereka melakukan ini pada Cansu,” gumamnya dengan penuh keraguan.
“Seharusnya mereka melakukan hal itu kepada Ivy!”
“Semua ini gara-gara Ivy! Aku harus melihat sendiri di Istanbul Café!” serunya sambil mengambil sebuah gunting yang tergeletak di atas meja makan kemudian pergi meninggalkan rumah.
Di dalam kamarnya, Cansu memandangi bingkai foto Mehmet dan baju pengantinya. Ia menangis tersedu-sedu sambil mengusap wajah kekasihnya. Bingkai foto itu bak sebuah wadah yang menampung air matanya.
Apa yang harus aku katakan padamu? Kau pasti sangat kecewa padaku. Kau pasti menyalahkanku dan menganggapku wanita kotor dan hina. Aku memang tidak pantas mendampingimu, Mehmet….
Ia membawa bingkai foto kekasihnya dan mengambil slayer putih yang akan digunakan untuk menutupi wajahnya saat menikah. Sapuan kain tile putih itu membuat mahkota mutiaranya jatuh. Untaian mutiara itu terlepas dan tercecer di lantai. Dibawanya kedua benda itu menuju kamar mandi.
Saat ia akan melepas handuk kimomonya, dilihatnya bekas gigitan Ferit di bagian leher dan sekujur tubuhnya melalui pantulan cermin. Ia membayangkan bagaimana pria itu melahapnya dalam semalam.
“Tidak….! Jangan menyentuhku!” teriak Cansu dengan histeris.
Guyuran air shower dan sabun tidak dapat menghilangkan bekas yang ditinggalkan Ferit di kulitnya. Berulangkali ia berusaha menggosok kulitnya hingga memerah, namun bekas itu masih terlihat.
__ADS_1
Di tengah keputusasaannya, ia mengambil sebuah kursi dan meletakkannya tepat di bawah teralis besi yang ada di langit-langit kamar mandinya. Dinaikinya kursi kayu itu dan dikalungkannya kain putih tersebut pada teralis besi yang kini berada di atas kepalanya. Ia membentuk kain itu menjadi sebuah lingkaran yang cukup untuk memasukkan kepalanya.
...****************...