
"Sudah kukatakan padamu jika kau mengalami kesulitan, kau bisa minta tolong padaku! Kenapa kau sangat keras kepala?" Kenan menatap wajah Ivy dengan dingin.
Ivy hanya membalas perkataan Kenan dengan senyuman manisnya. Tapi itu hanya sesaat, senyuman itu segera memudar karena melihat wajah dingin Kenan.
"Buang wajah dinginmu itu!"
Kenan mengernyitkan keningnya. Kali ini bukan hanya wajahnya yang dingin tapi tatapan matanya juga sedingin bongkahan es.
"Kau mau tahu alasannya kenapa aku tidak minta tolong padamu?" Ivy memiringkan kepalanya agar Kenan menebak pertanyaannya. Manik mata hijaunya membulat menunjukkan ekspresi seorang anak kecil yang menginginkan permen lollipop.
"Aku tidak ingin alasan!" seru Kenan yang segera bangkit berdiri dan keluar meninggalkan Ivy. Putri Victor itu tidak bisa menutup mulutnya yang terbuka lebar membentuk huruf O.
Diremasnya kain sepreinya yang berwarna biru muda. Bibir tipis itu mulai mengoceh tak karuan. Hidung mancung itu mulai kembang kempis seakan asap rokok telah keluar dari sana.
"Dasar pria tua! Itu sebabnya sampai sekarang kau belum menikah, karena tidak ada wanita yang tahan dengan sikapmu! Padahal aku hanya ingin mengajakmu bercanda," gumam Ivy di dalam kamarnya sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Kenan sedang berdiri di halaman rumah Nur. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat Deniz yang sedang duduk di kursi rotan. Bocah itu sedang melihat anak-anak sebayanya bermain sepak bola di jalan. Teriakan dan suara tawa dari anak-anak tetangga tidak membuat Deniz beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa kau tidak bermain dengan mereka?" tanya Kenan yang menghampiri Deniz. Pria itu mendudukkan dirinya di kursi rotan yang lain.
"Aku tidak mengenal mereka. Apa nanti mereka akan menyukai ku jika mereka tahu aku adalah anak lemah?" Manik mata mungil itu menatap nanar bocah-bocah yang sedang menggiring bola kesana-kemari.
Anak lemah, itulah perkataan yang selalu dilontarkan almarhum ayahnya kepada Kenan. Sejak awal Kenan bertemu dengan Deniz, anak itu mengingatkannya akan masa lalunya.
"Siapa yang mengatakan bahwa kau anak lemah?"
"Teman-teman di sekolahku dulu. Ketika mereka tahu, bahwa aku terkena kanker. Mereka menjauhiku, sejak itu aku tidak ingin bersekolah. Teman-temanku hanyalah mereka yang ada di rumah sakit. Kami sama."
Kenan menatap puncak kepala bocah kecil itu kemudahan mengusap rambut tipis yang ada di sampingnya.
"Kau mau berteman dengan ku? Aku juga tidak mempunyai teman sama seperti mu." Dua pasang manik mata itu bertemu dalam satu garis lurus. Sebuah senyuman terukir dari bibir mereka berdua.
"Oke. Kita berteman." Deniz menunjukkan genggaman tangannya ke wajah Kenan, pria itu menempelkan genggaman tangannya ke tangan mungil itu.
"Kau mau bermain puzzle bersamaku?" tanya Deniz dengan wajahnya yang menggemaskan.
__ADS_1
"Oke. Kau pasti kalah melawan ku!" seru Kenan dengan tawanya. Mereka berdua bangkit berdiri dan masuk ke dalam.
"Otak tuamu itu pasti tidak mampu mengalahkan ku!" seru Deniz dengan cekikikan.
"What? Otak tua katanya? Bocah itu sama seperti kakaknya," gumam Kenan pelan ketika dilihatnya Deniz telah menghilang ke kamar untuk mengambil mainannya.
Deniz keluar sambil membawa kotak puzzle nya ke ruang tamu. Ia mulai menuang semua potongan-potongan puzzle yang berjumlah seribu biji itu ke lantai. Di letakkannya papan puzzle di antara dirinya dan Kenan. Kedua orang itu mulai menyusun satu persatu kepingan puzzle hingga membentuk suatu gambar.
"Aku rasa bukan yang itu. Kau salah!" seru Deniz yang segera mengambil potongan puzzle dari tangan Kenan.
Deniz mengambil potongan kertas itu yang ada di dekat kaki Kenan. "Ini yang betul!"
Kenan hanya menganggukkan kepalanya melihat puzzle yang baru selesai sekitar dua puluh persen. Ia mengakui bocah itu sangat pintar.
"Kau kalah lagi! Sudah kukatakan jangan gunakan otak tuamu!" seru Deniz dengan tawanya.
Glek...!
Kenan menelan salivanya mendengar ocehan Deniz. Bocah itu seakan sedang mem-bully-nya. Lambat laun pria itu sudah terbiasa dengan ocehan adik laki-laki Ivy.
"Kali ini kau yang kalah! Otak tuaku ini masih bekerja dengan sempurna!" balas Kenan dengan tawa lepasnya.
Kedua tawa laki-laki itu mengundang perhatian Ivy untuk bergabung bersama dengan mereka. Wanita itu duduk di sisi puzzle yang lain, tepatnya di samping Kenan dan Deniz.
"Boleh aku ikut bermain?" tanya Ivy menatap kedua orang itu secara bergantian.
"Bagaimana menurutmu jagoan kecil?" Kenan menaikkan salah satu alisnya kepada Deniz.
Deniz menyeringai memperhatikan wajah Kenan dan Ivy. "Kau boleh ikut main. Tapi akan ada hukuman bagi yang kalah. Bagaimana?"
"Hukuman?" tanya Ivy yang merasa perasaannya sedikit tidak enak.
"Hukumannya hanya truth or dare. Tapi malam ini kita hanya akan bermain truth nya saja. Kalian setuju?" Kedua alis Deniz terangkat menatap wajah Ivy dan Kenan.
"Oke aku setuju," kata Ivy dan Kenan bersamaan.
__ADS_1
Permainan dimulai, giliran pertama jatuh ke tangan Deniz. Bocah itu meletakkan potongan yang tepat di papan puzzle. Begitu juga dengan Kenan dan Ivy. Putaran kedua hingga ketiga mereka berhasil melewatinya tanpa sebuah kesalahan.
Putaran keempat Ivy membuat kesalahan. Kedua pasang mata itu tampak bersinar memandangi Ivy, seakan mereka ingin berebut memberikan sebuah pertanyaan kepada Ivy. Deniz memberikan kesempatan Kenan untuk memberikan pertanyannya.
"Apa ada seseorang yang kau cintai saat ini?" tanya Kenan yang tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk mengetahui perasaan Ivy yang sebenarnya.
"Ayo kak, jawab pertanyaannya. Kau harus menjawabnya dengan jujur," ujar Deniz dengan semangat. Bocah itu juga sama penasarannya seperti Kenan.
"Ada." Jawaban singkat dari bibir tipis itu. Manik mata hijau itu menatap papan puzzle yang ada di depannya.
"Oh...," desis Kenan yang menekuk wajahnya. Pria itu berpikir jika Ivy menyukainya, pasti wanita itu akan menatap wajahnya.
Mungkin kekasihnya ada di Paris?
Suasana mendadak hening membuat Deniz memperhatikan sikap kedua orang dewasa yang ada di depannya yang mulai terlihat canggung. Bocah itu menggaruk-garuk kepalanya.
Deniz memulai lagi permainannya, putaran ketujuh giliran Kenan yang membuat kesalahan. Kali ini Deniz meminta kakaknya untuk menanyai Kenan.
"Apa ada seorang wanita yang spesial di hatimu?" tanya Ivy sambil menatap wajah tampan pria yang ada di sampingnya.
Dengan cepat Kenan segera menjawab, "Ya. Ada."
Ivy segera menundukkan kepalanya, ia tidak melihat Kenan yang sedang tersenyum kepadanya. Putri Victor itu mengira bukan dirinya yang ada di hati Kenan tetapi wanita lain. Wanita yang ia kira bernama Hazal.
Bocah laki-laki itu mulai sedikit mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua orang itu. Ia mulai memainkan kembali permainannya. Putaran kedelapan hingga kedua belas, ketiga orang itu tidak melakukan kesalahan. Tepat di putaran ketiga belas, Kenan dan Ivy melakukan kesalahan secara bersama-sama.
Deniz tersenyum dengan menaikkan sudut bibirnya ke atas. Rasa keingintahuannya mulai menyelimuti hatinya.
"Sekarang giliran ku yang memberikan pertanyaan kepada kalian!" seru bocah itu dengan bersemangat.
"Kalian memilih pertemanan atau saling mencintai?" tanya Deniz yang langsung memberikan pertanyaannya kepada kedua orang itu.
Ivy dan Kenan saling menundukkan kepalanya untuk beberapa detik. Mereka tidak ingin melakukan kesalahan untuk menjawab pertanyaan Deniz.
"Teman!" seru Kenan dan Ivy secara bersamaan. Mereka pun saling menatap dengan tatapan nanar.
__ADS_1
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih