Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Siapa Yang Harus Bertanggungjawab


__ADS_3

Sebuah mobil sedan dengan logo singa ikonik memasuki pintu gerbang hotel bintang lima di kawasan Selat Bosphorus. Hamparan bunga tulip warna-warni dan rumput hijau membentang luas membentuk sebuah pola yang berulang. Barisan pagar besi setinggi lutut orang dewasa membentang mengelilingi taman itu. Beberapa anak kecil dengan raut wajah khas Asia berusaha menerobos barisan berwarna hitam yang berdiri tegak setinggi kepalanya, mereka dibuat penasaran dengan kupu-kupu cantik yang terbang dan hinggap di kelopak bunga tulip.


Cahaya kuning memancar dari setiap jendela bertingkat empat itu. Sebuah gulungan kain besar berwarna merah dengan gambar bulan sabit dan bintang menggantung di atas gedung. Kain itu berkibar mengikuti gerakan angin yang berhembus kepadanya.


Mobil sedan berwarna biru metalik itu berhenti di depan pintu masuk. Seorang wanita muda dengan gaunnya yang berwarna hijau tosca dan sepatunya yang tertutup rapat berwarna hitam keluar dari mobil tersebut. Ia membuka pintu bagasi yang ada di belakang. Ia meminta bantuan petugas hotel untuk membawakan dua buah kardus besar miliknya ke lantai tiga.


"Khan, aku sudah mengeluarkan semua barang-barang ku," ucap Ivy di depan jendela kemudi.


Seorang pria dengan rambutnya yang klimis melambaikan tangannya, ketika Ivy memundurkan langkahnya. "Kita bertemu di lantai tiga."


Mobil berwarna biru metalik itu menuruni paving blok yang meluncur ke area parkir bawah tanah.


Ivy segera melangkah masuk ke dalam lobi hotel. Sebuah tabung lift membawanya ke lantai tiga. Belum begitu banyak orang berada di dalam ruangan ini, karena acara belum dimulai. Wanita itu membuka pintu ruangan dengan angka nomor satu yang menempel di daun pintu.


"Hai," sapa Ivy kepada dua orang model dari agensi modeling.


Kedua orang wanita dengan postur tubuh tinggi semampai adalah model yang akan memperagakan gaun rancangan Ivy.


"Hai juga, Ivy. Apa acaranya belum dimulai?" tanya seorang model dengan warna rambutnya yang pirang.


Ivy melihat jam tangannya, masih menunjukkan pukul enam sore. "Kurang satu jam lagi. Kalian coba pakai gaun ini, aku ingin melihatnya sekali lagi."


Kedua model itu menerima gaun pemberian Ivy dan mengganti pakaiannya. Tanpa adanya suara ketukan yang terdengar, pintu itu terbuka.


"Hampir saja!" seru salah satu model dengan rambutnya yang ikal. Wanita itu memelototi Khan yang tiba-tiba masuk tanpa permisi.


"Maaf ladies... aku tidak tahu kalau kalian sedang ganti baju. Tapi aku tidak melihat apapun," ucap Khan sambil terkekeh. Ia mengayunkan kipas kertas ke wajahnya yang bulat tanpa sehelai kumis maupun cambang.


"Khan, bagaimana menurutmu?" tanya Ivy yang meminta kedua model itu berputar di hadapan managernya.

__ADS_1


Pria yang mengenakan tuksedo hitam itu memandang setiap detail gaun yang dikenakan oleh kedua model tersebut. Gaun itu membalut tubuh mereka dengan sempurna. Khan hanya menatap wajah Ivy tanpa ekspresi, hal itu malah semakin menambah beban di hati Ivy.


"Aku akan menunggu di kursi depan. Kuharap kau tidak mengecewakanku dan Sarte!" seru Khan yang langsung memutar tumitnya ke arah yang berbeda.


Senja telah berlalu begitu saja, kini sang rembulan mulai tersenyum cantik di atas perairan Selat Bosphorus. Dua orang model itu pergi meninggalkan Ivy untuk mulai merias diri mereka. Pintu ruang ganti itu terbuka, membuat suara keramaian yang berasal dari luar menerobos masuk ke dalam telinga Ivy.


"Halo, Ivy. Apa aku mengganggu?" tanya Kara yang sudah berdiri di belakangnya.


"Tentu saja tidak, Kara," jawab Ivy yang sibuk menggantung gaun rancangannya dan merapikan barang-barangnya. Ia tidak sempat menoleh ke arah Kara.


"Kau pasti sangat sibuk hari ini?" Kara memindahkan posisinya ke samping Ivy.


"Ya. Kau lihat sendiri. Ini pertama kalinya aku melakukan pertunjukan fashion atas nama perusahaan. Pundakku terasa penuh dengan puluhan batu timbangan," celoteh Ivy yang sesekali memandang Kara.


Wanita bertubuh seksi itu tertawa kecil mendengar perkataan Ivy. "Lama-lama kau pasti terbiasa."


"Ya. Ketika di Paris aku lebih terbiasa melakukan pertunjukan atas namaku sendiri. Itu lebih mengurangi bebanku." Ivy menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.


"Aku tadi bersama Khan. Dia sudah ada di ruang pertunjukan. Kara, apa kau bisa menjaga ruangan ini dulu? Aku mau ke toilet sebentar."


"Pergilah. Aku akan menjaganya." Kara membuka pintu ruang ganti itu untuk Ivy. Ia memandang punggung Ivy yang sudah menghilang di tengah kerumunan.


Kara menatap satu persatu gaun-gaun cantik yang tergantung di sebuah tiang besi. Jari-jarinya menyentuh setiap permukaan gaun itu. Ia kemudian mengambil ponselnya dan terlihat sedang menghubungi seseorang.


Sementara itu, seorang wanita berambut merah dengan gaun pestanya masuk ke dalam toilet. Wanita itu sedang membetulkan riasan wajahnya di depan sebuah cermin. Melalui pantulan cermin itu, ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.


"Sophia?" Ivy terkejut begitu melihat punggung ibu tirinya yang membelakangi dirinya.


"Kau terkejut aku bisa datang ke tempat ini?" Sophia membalikkan badannya menatap wajah anak tirinya. Telinganya cukup panas, ketika ia mendengar Ivy tidak lagi memanggilnya dengan sebutan ibu.

__ADS_1


"Ini tempat umum, siapapun bisa datang kesini." Ivy mencoba menenangkan dirinya dengan melipat kedua tangannya ke depan dada.


Sophia menjatuhkan pandangannya ke sepatu tertutup berbahan kain bludru kemudian beralih ke gaun berwarna hijau tosca dan berjalan ke wajah Ivy.


"Ya kau benar. Aku hanya terkejut saja, bagaimana perusahaan besar seperti Sarte bisa mempercayakan acara sebesar ini pada seorang desainer amatiran seperti dirimu?" sindir Sophia yang berdiri di samping Ivy dan menarik dagu anak tirinya menghadap cermin.


Ivy hanya mendengus kesal mendengar sindiran Sophia. Ia memilih untuk pergi meninggalkan ibu tirinya yang masih menatap kepergian dirinya dengan tajam.


Jangan pernah menentangku, Ivy! Bersikaplah hormat pada orang yang lebih tua!


Di tengah keramaian orang-orang itu, Ivy ingin melihat suasana di dalam ruangan. Ia melihat di depannya ada sebuah panggung besar berbentuk huruf T yang berada di tengah ruangan. Dinding panggung itu di dominasi warna hitam dengan tulisan putih yang membentuk huruf-huruf nama perusahaan yang terlibat.


Salah seorang panitia pelaksana memanggilnya untuk mengambil nomor urut pertunjukan. Ivy memasukkan tangannya di sebuah mangkuk bola dengan butiran-butiran gabus berwarna putih. Ia mengambil sedotan plastik dan mengeluarkan kertas di dalamnya.


"Ivy Eleanor dari Sarte... giliranmu nomor sembilan," kata seorang gadis dengan seragam panitianya.


Ivy berjalan ke ruang gantinya. Di tengah jalan ia melihat Sophia berdiri di depan pintu ruangannya. Ia membalikkan badannya agar Sophia tidak melihatnya, tetapi manik matanya menangkap kehadiran pria tinggi dengan kuncir rambutnya.


Ferit? Untuk apa dia ada di sini? Oh my God....


Dilihatnya sekali lagi, ternyata Ferit tidak melihatnya. Pria itu sedang berbicara dengan pria lain. Ia mengarahkan pandangannya ke arah pintu ruangannya. Napasnya sedikit lega, karena Sophia sudah tidak ada di sana. Dengan cepat ia masuk ke ruang gantinya.


Ivy membelalakkan matanya ketika ia melihat gaun rancangannya yang sudah sobek di beberapa bagian. Ada bekas sobekan yang teratur dan yang tidak teratur seperti bekas tarikan sebuah tangan. Ia melihat sebuah gunting terinjak di bawah sepatunya.


"A...apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?" tanya Ivy pada dirinya sendiri ketika ia memegang gaun yang sudah tidak berbentuk itu.


Manik matanya yang berkaca-kaca itu mencari sosok seseorang yang harus bertanggung jawab atas semua ini. " Dimana Kara?"


* BERSAMBUNG *

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2