
“Besok lusa aku akan kembali ke Istanbul,” kata Ferit yang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Ia memasukkan salah satu tangan ke dalam saku celananya dan tangan yang lain memegang alat telekomunikasi tersebut.
Panggilan itu pun terputus, tepat saat Ivy bangkit berdiri dan lari keluar meninggalkan kafe. Pria berambut panjang itu membalikkan badannya dan sekelebat melihat wanita berbaju merah yang lari keluar dari kafe. Ia mulai membandingkan pakaian wanita itu dengan pakaian Ivy yang ia lihat di dalam ruang rapat.
Siapa wanita itu? Dia mirip sekali dengan Ivy.
Untuk meyakinkan dirinya, Ferit menanyakan tentang wanita berbaju merah itu kepada barista kafe dan pasangan suami istri Perancis yang duduk di sofa tempat Ivy bersembunyi.
“Can you speak English?” tanya Ferit yang dijawab dengan gelengan kepala oleh mereka.
Pria dengan tubuh 183 sentimeter itu menggaruk ujung alisnya. Ia teringat pada foto Ivy yang pernah ia dapatkan dari almarhum Victor.
Ditunjukkannya foto calon istrinya itu kepada ketiga orang tersebut. Sekali lagi mereka menjawab Ferit dengan gestur tubuh mereka. Gelengan kepala, kedua pundak yang terangkat serta gelengan telapak tangan.
“Mereka tidak melihat Ivy ada di sini. Berarti wanita berbaju merah itu bukan Ivy. Tapi kenapa dia lari ketika aku membalikkan badan?” gumam Ferit seraya mengambil tablet dan ponselnya kemudian keluar dari kafe tersebut.
Pria Istanbul itu masuk ke dalam mobil sewaannya dan mengelilingi kota Paris yang mulai gelap. Matahari baru saja terbenam tepat di pukul 19.10. Guyuran air hujan dan butiran salju seakan beristirahat tidak mengganggu perjalanannya. Suasana indah Kota Paris dengan kilauan cahayanya yang berbeda dengan Kota Istanbul, membuat Ferit melupakan soal kejadian tentang wanita berbaju merah itu.
Sementara itu di tempat lain di Kota Paris, Ivy terus berlari dengan kencang. Belasan hingga puluhan pohon rindang telah ia lewati. Berbagai tiang lampu jalan seolah menemani pelariannya saat ini. Sayup-sayup ia mendengar suara kendaran berlalu lalang dan obrolan berbagai macam orang dengan berbagai bahasa yang kadang tidak masuk ke dalam pikirannya.
Tanpa terasa sepasang sepatu bot hitam setinggi lutut itu membawa Ivy berhenti di suatu tempat. Napasnya mulai terasa ngos-ngosan.
Ia menyandarkan dirinya pada sebuah pohon dan mulai menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Wanita itu mulai menyadari sesuatu.
Ini bukan jalan menuju hotel. Sejak tadi aku terus berlari tanpa melihat petunjuk jalan. Tempat ini….
Dilihatnya sekelilingnya yang dipenuhi dengan kemilau cahaya yang berasal dari tiang lampu jalan yang temaram. Ia melihat tubuh Menara Eiffel yang terlihat suram tanpa kehidupan.
Beberapa pasang insan manusia saling memadu kasih di tempat romantis ini. Mereka saling bergandengan tangan, berpelukan dan bercumbu dengan mesra di setiap sudut bahkan di tengah pelataran. Semua jenis manusia baik turis asing maupun warga lokal tampak tumpah ruah memenuhi tempat wisata tersebut.
Kenan, aku ingin melihat Menara Eiffel bersamamu…. Lihatlah, begitu banyak pasangan ada di sini. Jika malam ini adalah keberuntunganku, bisakah kita melihatnya bersama saat lampu menara itu menyala?
Di tempat yang berbeda, Kenan mencari Ivy ke sana kemari. Puluhan orang telah ia datangi dan beberapa kilometer telah ia tempuh hanya untuk mencari kekasihnya yang hilang di Kota Paris. Namun tak kunjung dirinya menemukan wanita berambut coklat gelap dan bermata hijau itu.
Hari sudah semakin gelap. Dari tempatnya berdiri, putra Harun itu bisa melihat puncak Menara Eiffel yang belum mengeluarkan cahayanya. Ia menengadahkan wajahnya menatap langit yang tampak suram seperti hatinya saat ini.
Tuhan, dapatkah aku bertemu dengannya kembali? Jika Kau ijinkan..., pertemukan kami di tempat ini. Aku ingin bersamanya untuk malam ini dan selamanya.
__ADS_1
Rasa sakit menjalar di pergelangan kaki Ivy, karena sejak tadi ia berlari dengan menggunakan sepatu bot berhak tinggi. Dengan berjalan sedikit tertatih-tatih, ia mendekati sebuah trotoar yang tidak jauh dari tempatnya. Ia mendudukkan dirinya di atas lantai batu dengan teksturnya yang kasar sambil meluruskan kedua kakinya ke depan.
Kenan terus berjalan lurus mendekati lokasi Menara Eiffel. Sepatu pantofelnya menyibak genangan air saat ia melangkah, menimbulkan bercak di bagian bawah celana panjangnya.
Entah kenapa pria itu tidak mencari Ivy di tempat lain, padahal tempat wisata di Kota Paris sangatlah banyak. Ia juga tidak bisa menghubungi ponsel Ivy, karena mereka belum mengganti nomor mereka menjadi nomor Paris.
Suara hatinya mengatakan bahwa Ivy pasti ada di tempat ini. Memori di pikirannya juga mendukungnya, mengingatkannya pada permintaan Ivy yang ingin melihat Menara Eiffel bersama dirinya saat mereka baru saja tiba di Bandara Charles de Gaulle, Paris.
Setelah mencoba berjalan beberapa meter, hati Kenan semakin yakin bahwa Ivy ada di tempat wisata ini. Sejauh matanya memandang, pria itu melihat seorang wanita dengan mantelnya yang berwarna merah sedang duduk di trotoar. Ia berusaha melewati barisan beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar tempat itu.
Hatinya mulai sedikit resah, ketika ia melihat wanita dengan mantel merahnya berdiri dan berjalan menjauhi trotoar. Ia semakin mempercepat langkahnya.
Namun semakin lama kerumunan orang semakin banyak memadati halaman Menara Eiffel. Manik matanya bergerak mengelilingi area itu, mencari sosok Ivy yang telah membaur dengan orang banyak.
“Ivy!” teriak Kenan dengan suaranya yang cukup keras.
Suara pria itu sontak membuat beberapa orang yang ada di dekatnya langsung menoleh kepadanya.
“Kenan.” Ivy terkejut mendengar suara pria itu.
Di tengah keramaian, Ivy melihat sosok pria yang dicintainya telah berdiri di hadapannya. Begitu juga dengan Kenan yang melihat wanita yang dicarinya berada tidak jauh darinya. Hampir satu menit mereka hanya berdiri di tempat masing-masing, bagaikan sebuah patung yang menghiasi ruang museum.
Mereka berdua saling mempersempit jarak di antara mereka, hingga tersisa hanya satu langkah. Pandangan mereka saling beradu. Manik mata mereka tampak berkaca-kaca. Secepat inikah Tuhan mengabulkan permintaan mereka?
Hati mereka saling berdegup kencang tak karuan dan lidah mereka terasa kelu karena sepatah kata pun tak sanggup mereka ucapkan. Hanya beberapa bulir cairan bening yang bisa menjelaskan perasaan mereka saat ini.
“Maafkan aku…,” ucap Ivy dengan suaranya yang nyaris tidak terdengar.
Tak tahan menahan rasa rindunya yang sangat dalam, Kenan langsung membungkam bibir tipis Ivy dengan ciumannya. Kumis tipis dengan bulu-bulunya yang pendek menggelitik bibir wanita itu. Memberikan wanita itu dorongan untuk masuk semakin dalam dan menikmati organ tak bertulang milik Kenan.
Permainan lidah yang lembut itu bagaikan sebuah irama musik gesek yang mengeluarkan nada-nada klasik yang naik turun di setiap oktafnya. Kedua bibir mereka saling bertautan, bagaikan isapan permen loli yang mengenyal dan berasa manis di setiap bagiannya.
Cairan saliva saling membaur menjadi satu bagaikan sebuah dahaga yang mengisi kerongkongan mereka yang telah mengering. Memuaskan setiap dahaga kerinduan mereka.
Napas kedua insan itu pun menderu diiringi dengan detak irama jantung yang berdegup kencang kemudian turun menjadi normal dan kembali menegang. Membuat mereka saling menempel, hingga tidak ada satupun celah kecil di antara mereka. Aroma mint dan vanilla saling menyapu di tengah semilir angin musim dingin.
Menara Eiffel yang berdiri kokoh dengan tubuhnya yang masih bersembunyi di dalam gelap seolah-olah menjadi saksi bisu di antara mereka. Bukan hanya mereka, tetapi menara itu telah menyaksikan ratusan juta hingga milyaran pasangan yang memadu kasih mereka di pelataran rumahnya.
__ADS_1
Kenan telah memberikan jawaban tersiratnya melalui sebuah ciuman, bahwa dirinya tidak menyalahkan Ivy atau marah kepada wanita itu atas kekalahan pertama yang dialami Falea.
Ciuman itu terlepas tatkala tubuh Menara Eiffle itu menyala perlahan-lahan mulai dari kaki menara hingga ke bagian kepalanya. Sang Pencipta mengabulkan permintaan dua hati yang ingin melihat menara itu bersama-sama. Dua puluh ribu bola lampu itu menyinari wajah mereka dan ratusan orang yang ada di sana.
Pria berambut hitam itu memeluk dari belakang pinggang Ivy. Dibenamkannya wajah tampan berkumisnya itu ke dalam tengkuk leher kekasihnya. Rasa rindunya tidak akan pernah habis untuk wanita ini. Ia menggesekkan hidung mancung dan sedikit bulu kumisnya di belakang leher Ivy, membuat wanita itu sedikit menggeliat.
“Di dunia manapun, asal ada kau di sampingku… itu sudah cukup bagiku,” bisik Kenan tepat di cuping telinga Ivy.
“Kenan….,” desah Ivy dengan hati dan air matanya yang meleleh.
Di tengah cahaya kuning yang masih menyala, Kenan tak ingin menyia-nyiakan momen romantis ini.
Lampu Menara Eiffel hanya menyala sepuluh menit di setiap jamnya. Putra Harun itu tidak ingin menunggu pada jam berikutnya. Ia menghembuskan napasnya dalam-dalam dan mengumpulkan keberaniannya untuk membicarakan hubungannya dengan Ivy ke tahap selanjutnya. Dibalikkannya tubuh Ivy sehingga membuat mereka saling berhadapan muka dengan muka.
Sejak di Istanbul, Kenan telah menyiapkan sebuah hadiah untuk Ivy. Pria dengan tinggi 185 sentimeter itu berlutut di depan Ivy dengan latar belakang menara yang menyaksikan adegan tersebut.
“Kenan, apa yang kau lakukan?” Ivy menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat tatapan orang banyak yang tertuju kepada mereka berdua. “Bangunlah.”
Namun pria itu tidak mau bangkit berdiri. Kenan mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam saku celananya dan membukanya di hadapan Ivy. Wanita muda itu melihat sebuah cincin emas dengan batu permatanya yang kecil yang terlihat polos dan sederhana.
“Ivy Eleanor, maukah kau menikah denganku?”
Bibir tipis berwarna merah itu langsung terbuka lebar setelah ia mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Kenan. Ivy tak menyangka kekasihnya itu akan mengajaknya menikah tepat di bawah kaki Menara Eiffel. Melihat menara ini bersama dengan Kenan sudah cukup membuatnya bahagia, terlebih ia mendengar lamaran pria itu.
Riuh gemuruh suara orang-orang memberikan dukungannya kepada pasangan muda itu dengan bahasa mereka masing-masing. Seolah-olah tanpa dibayar, orang-orang itu serempak mendukung Kenan. Mereka meminta Ivy untuk memberikan jawaban “YA” kepada kekasihnya yang sudah berlutut dihadapan mereka semua
“Ya. Aku mau."
Jawaban yang penuh dengan keyakinan dan senyuman itu keluar dari bibir Ivy, membuat semua orang bertepuk tangan dan mengeluarkan siulan mereka.
Wajah Kenan terlihat sumringah, setelah lamarannya diterima oleh Ivy. Putra Harun itu langsung menyematkan cincinnya ke jari manis Ivy. Ia langsung bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Ivy tinggi-tinggi melebihi kepalanya dan memutar tubuh kekasihnya itu. Mereka berdua berteriak mengungkapkan rasa bahagia mereka.
Suara dentuman terdengar di angkasa, Kenan langsung menurunkan tubuh Ivy. Sepasang kekasih itu langsung menengadahkan wajah mereka ke langit. Melihat pendaran cahaya warna-warni yang berasal dari letupan kembang api. Entah siapa yang menyalakan kembang api tersebut. Sepasang calon pengantin itu saling berpelukan di bawah langit dengan taburan cahayanya yang berkilau.
...****************...
Jangan lupa kasih dukungannya lewat like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian. Terimakasih
__ADS_1