
Gerakan mulut tanpa suara yang keluar dari sebuah bibir yang mulai keriput. Ivy dan Kenan saling berpandangan untuk mencari tahu apa yang di baca oleh Dokter Husein.
"Bagaimana Dokter? Apa aku bisa mendonorkan sumsum tulang belakang ku?" tanya Kenan dengan antusias.
Dokter senior itu meletakkan kertas putih dan kacamata bacanya di atas meja. Tangannya mengusap dan memijat pangkal hidungnya. Matanya terpejam untuk beberapa saat, kemudian terbuka dengan tatapan nanar memandang dua orang muda yang duduk di hadapannya.
"Kau tidak bisa mendonorkan sumsum tulang belakangmu. Kecocokan kalian sangat rendah," jawab Dokter Husein dengan lirih.
Kenan hanya bisa membuka kedua mulutnya dengan lebar, manik mata abu-abu gelap itu seakan ingin tenggelam di perairan yang paling dalam. Dirinya dan Ivy sama-sama tidak bisa menjadi donor untuk Deniz.
Ia melihat Ivy yang sedang menatapnya dengan lelehan air matanya.
"Apa kau kecewa?" bisik Kenan dengan pelan. Justru raut wajahnya saat ini yang tampak kecewa karena tidak bisa menolong wanita itu.
Kepala berambut cokelat gelap itu hanya menggelengkan kepalanya sesaat, "Aku tahu... ini pasti akan terjadi."
Malam masih jauh dari pelupuk mata, tapi di dalam ruang praktek ini seakan tidak ada kehidupan. Ketiga orang itu terdiam larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Dokter, berapa lama Deniz akan bertahan hidup? Aku akan mencari pendonor lain." Tiba-tiba suara Kenan memecah segala kesunyian yang ada di sana.
"Tidak bisa dipastikan, semakin cepat kita menemukan pendonornya, kesempatan hidup Deniz semakin besar. Ivy, sebaiknya Deniz di rawat di rumah sakit, agar kondisinya bisa terpantau," jelas sang dokter.
Dengan terpaksa, Ivy menyetujui permintaan dokter. Kedua anak muda itu mengumpulkan uang yang mereka miliki saat ini untuk membayar uang deposit rumah sakit.
"Seharusnya waktu itu, aku tidak memaksanya untuk pergi ke sekolah. Seharusnya waktu itu aku tidak mengeluarkannya dari rumah sakit. Seharusnya aku selalu menjaganya," sesal Ivy dengan lirih. Ia menyandarkan dirinya di depan dinding kamar Deniz.
__ADS_1
"Ini bukan salahmu. Waktu itu kau tak punya pilihan selain membawanya pulang. Jangan salahkan dirimu," bisik Kenan. Pria itu memegang kedua lengannya.
Ivy segera mengalungkan kedua lengannya ke leher Kenan. Ia menangis dalam pelukan putra Harun. Dada bidang itu terasa hangat menyentuh kulit wajahnya. Pundak tegap itu telah basah karena air matanya. Sepasang tangan kekar yang melingkar di belakang tubuhnya, bagaikan sebuah sarang untuk tempat dia berlindung. Kenan mengusap lembut rambut panjang yang tergerai di depan wajahnya.
Suara tepukan tangan sontak terdengar dari ujung lorong. Beberapa langkah kaki itu bergerak hingga berada di tempat Ivy dan Kenan saling berpelukan. Kedua anak manusia itu tidak memperdulikan siapa yang sedang bertepuk tangan di tempat seperti ini.
"Lepaskan calon istriku, bodoh!" umpat Ferit yang langsung menarik tangan Ivy dari pelukan Kenan.
Kedua anak manusia itu terkejut melihat kedatangan Ferit Kozan. Pria dengan ikat rambutnya yang berwarna hitam itu menggenggam tangan Ivy sambil menatap tajam manik mata abu-abu gelap yang ada di depannya.
Putri Victor itu mengguncang tangan Ferit dengan sekuat tenaganya. Ia berusaha membuka genggaman tangan pria itu dengan tangannya yang lain.
Napas kedua pejantan itu makin lama makin memburu seiring berjalannya jarum jam. Kedua pria itu saling mengepalkan tangannya dan mengatupkan rahangnya. Wajah mereka mulai terbakar amarah dan api kecemburuan.
"Beraninya seorang montir memerintahku, hah! Hasan, kau urus montir sialan ini!" pekik Ferit yang memiringkan kepalanya, menaikkan dagunya dan menatap Kenan dengan tatapan seekor singa yang akan menyerang dengan taringnya yang tajam.
"Kenan...." Suara Ivy tercekat ketika Ferit menariknya dengan paksa untuk berjalan bersama pria itu. Putri Victor itu hanya bisa mengulurkan tangannya dan menatap wajah Kenan.
"Ivy....!" Kenan hendak mengejar Ferit dan Ivy yang telah sampai di ujung lorong kemudian menghilang di tikungan.
Hasan dan dua orang anak buahnya menghalangi Kenan. Putra Harun itu tidak peduli, dia sedang berada di rumah sakit. Pria itu menghajar ketiga orang itu dengan kalap. Merasa terpojok, Hasan segera menarik tangan Nur yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.
"Aku akan menghabisi wanita gembul dan bocah ini, jika kau mengejar Tuan Ferit!" ancam Hasan kepada Kenan.
Hasan mengalungkan sebuah pisau kecil di leher Nur, sementara dua orang lainnya menodongkan pistolnya ke arah Deniz. Bocah itu menangis sambil menutupi kedua telinganya.
__ADS_1
"Kakak...."
"Diam kau, anak kecil!" bentak anak buah Hasan yang membuat tubuh Deniz menggigil ketakutan. Bocah laki-laki itu menenggelamkan wajahnya di atas lutut yang ia tekuk.
"Beraninya kau membentak anak itu!" teriak Kenan dengan geram.
Putra Harun itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar dan menendang pria berjaket coklat yang tadi membentak Deniz. Tubuh pria itu sekonyong-konyong mundur ke belakang menabrak meja dorong. Meja yang terbuat dari stainless steel itu menggelinding menabrak dinding kamar. Piring bekas makan siang Deniz yang ada di atas meja itu jatuh dan pecah. Serpihan-serpihan beling berserakan di atas lantai.
Seiring dengan jatuhnya pria berjaket coklat itu, membuat pistol yang ada di genggaman tangannya terlepas dan jatuh di bawah ranjang Deniz. Sementara anak buah Hasan yang lain, tampak kebingungan dengan gerakan cepat Kenan. Tangannya tampak gemetar.
Hasan melempar Nur ke lantai, pria itu mencoba mengambil pistol yang ada di bawah ranjang. Terlambat! Kenan mengambil pistol itu lebih dulu. Ia menodongkan senjata api itu ke Hasan dan anak buahnya.
"Keluar kau! Atau aku akan memecahkan kepalanya!" ancam Kenan yang menarik anak buah Hasan yang tadi terjatuh karena tendangannya. Ia meletakkan senapannya di pelipis pria itu.
"Kurasa permainan kita cukup sampai di sini," ucap Hasan dengan tenang. Ia menaikkan salah satu alisnya kepada anak buahnya agar mereka keluar dari kamar Deniz. Kenan membebaskan pria yang menjadi sanderanya.
"Hei, tunggu! Katakan di mana Ferit membawa Ivy?" cegah Kenan yang berdiri di belakang ketiga orang itu.
Hasan membalikkan badannya ke arah Kenan kemudian ia berkata, "Tidak ada permainan tidak ada jawaban."
Hasan tertawa kecil. Ia merentangkan kedua tangannya ke samping saat berjalan mundur, kemudian pria itu membalikkan badannya kembali dan berlari pergi meninggalkan Kenan yang masih diliputi dengan tanda tanya.
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima atau vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1