
Kenan terkejut melihat kedua kakak beradik Eleanor itu berada di tempat pemakaman dengan kondisi Deniz yang tak sadarkan diri. Kedua anak manusia itu saling berpandangan dengan pertemuan yang tidak disengaja itu.
"Ken...."
Sebelum Ivy meneruskan perkataannya, Kenan segera mengangkat tubuh Deniz dari dekapan Ivy dan membawanya ke dalam mobil.
"Masuklah ke dalam! Kau bukan satpam!" seru Kenan setelah ia meletakkan tubuh Deniz di kursi belakang. Ia mengitari mobil jenis SUV nya dan membuka kursi kemudinya tanpa menoleh kearah Ivy.
Dengan ragu-ragu Ivy mendudukkan dirinya di kursi belakang dan menopang kepala adiknya di pangkuannya. Mobil itu melaju dengan kencang menuju ke rumah sakit.
Perjalanan yang sangat sepi dibandingkan dengan suasana di luar, di jalan raya yang di penuhi dengan kendaraan yang saling membunyikan klakson hanya untuk mendapatkan jalan.
Lampu lalu lintas yang berwarna merah selalu menjadi kesempatan untuk Kenan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Ivy.
Dia menjadi pendiam, tidak seperti biasanya. Kali ini mulutnya tidak berkicau seperti burung.
Pria itu melihat Ivy yang menundukkan kepalanya sambil membersihkan darah yang mengalir dari hidung Deniz. Sesekali wanita itu mengusap kelopak matanya tanpa mengeluarkan suara isak tangisnya. Dari sudut matanya, ia melihat Ivy menggenggam tangan Deniz.
Suara klakson dari mobil belakang mengagetkan Kenan. Ia segera memasukkan persneling mobilnya dan melanjutkan kembali perjalanannya.
Raungan bunyi sirine dari mobil ambulans dan beberapa perawat menyambut kedatangan mereka di Rumah Sakit Istanbul. Kenan segera memindahkan tubuh kecil itu dan meletakkannya di atas brankar. Petugas medis segera membawa Deniz ke dalam ruang Unit Gawat Darurat.
"Kalian tunggu di luar! Kami akan menangani pasien," kata salah satu perawat yang terlihat lebih tua dari kedua temannya. Kelambu berwarna hijau pupus itu memisahkan Ivy dan Deniz.
Dengan langkah kakinya yang gontai, Ivy mendaratkan tubuhnya ke atas kursi panjang di ruang tunggu. Bekas noda darah itu masih menimpa tangannya, tapi ia tidak peduli. Ia mencoba menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya.
Suara televisi memecah keheningan yang terjadi di antara dua anak manusia yang sedang tidak tahu harus berbicara apa. Kenan yang sejak tadi menyandarkan dirinya di dinding, sekarang ia beralih ke kursi Ivy.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Deniz? Kenapa kalian ada di tempat pemakaman?" tanya Kenan tiba-tiba. Ia memang penasaran dengan kedua kakak beradik itu. Tapi ego nya seolah-seolah menutupi rasa kepeduliannya.
Ivy membuka kedua telapak tangannya yang sejak tadi menutupi wajahnya. Manik mata hijau itu menatap langit-langit yang di penuhi dengan berbagai brosur warna-warni yang digantung dengan seutas tali.
"Dia terkena kanker leukemia. Aku mengeluarkannya dari rumah sakit, karena aku tidak bisa membayar uang jaminan untuk perawatan Deniz selanjutnya." Ivy menghentikan suaranya dan menarik pandangannya ke arah depan.
__ADS_1
"Hari ini dia memintaku untuk membawanya ke makam orang tua kami. Setelah aku menceritakan tentang meninggalnya ayah, tiba-tiba dia pingsan." Ivy menghela napasnya dalam-dalam kemudian memalingkan wajahnya ke arah Kenan.
"Tunggu! Darimana kau tahu nama adikku adalah Deniz?" Ekspresi wajah Ivy mendadak berubah menjadi penuh selidik.
Manik mata abu-abu gelap itu membulat melihat ekspresi wajah Ivy.
"Kami pernah bertemu."
"Dimana?" desak Ivy yang mengernyitkan alisnya. Ia belum pernah mendengar Deniz menceritakan tentang pria ini.
"Dimana lagi, kalau bukan di rumah sakit." Kenan sedikit menaikkan intonasi suaranya dan memiringkan kepalanya.
Sebelum Ivy melanjutkan perkataannya kembali, Dokter Husein berjalan mendekati mereka.
"Ivy, bisa kita bicara di ruangan ku? Ini tentang Deniz," kata Dokter Husein setelah ia berada di depan Ivy.
Beribu-ribu pertanyaan terlintas di dalam pikiran Ivy. Ia menampik semua pikiran buruk yang menghantuinya saat ini.
Sampailah mereka di depan ruang kerja dokter spesialis kanker darah tersebut. Dokter mempersilahkan mereka berdua untuk masuk dan duduk.
"Ivy, sebelumnya Deniz tidak pernah mengalami hal seperti ini. Apa ada sesuatu yang menyebabkan dia terguncang?" Dokter Husein menautkan jari-jari tangannya di atas meja.
Sebuah palu besar seakan menimpa kepala Ivy ketika dokter menanyakan hal yang membuat kondisi Deniz menurun. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Dia baru saja mengetahui kalau ayah telah meninggal dunia." Terlihat rasa penyesalan di wajah wanita itu.
"Sekarang sel kankernya kembali bekerja lebih cepat."
"Apa? Secepat itukah?" Cairan bening itu akhirnya tumpah keluar membasahi wajah Ivy, setelah ia mencoba berusaha menahannya.
"Katakan dokter, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya agar Deniz bisa sembuh?" Ivy menopang keningnya dengan tangannya dan mengusap air matanya.
"Deniz harus menjalani kemoterapi lanjutan. Lebih cepat dari jadwalnya." Perkataan Dokter Husein seperti sebuah belati tajam yang menusuk ulu hati Ivy.
__ADS_1
"Berapa biayanya, Dok?" Ivy tahu biaya pengobatan Deniz tidaklah murah. Ia langsung memejamkan kedua matanya dengan erat, membuat air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
Dokter Husein menyebutkan beberapa nominal angka yang membuat kedua mata Ivy terbelalak.
"Kapan batas pembayarannya?" Kenan yang sejak tadi hanya memperhatikan perbincangan dua arah itu mendadak masuk.
"Lebih cepat itu lebih baik," ucap Dokter Husein menatap Kenan. Manik mata abu-abu gelap itu malah membalas tajam tatapan dokter paruh baya itu.
"Baiklah, dok. Aku akan mengusahakannya." Ivy dan Kenan segera keluar dari ruangan dokter.
Putri Victor berjalan lunglai, dan menyandarkan dirinya di dinding sebelah pintu ruang dokter. Ia menatap Kenan yang berdiri di depannya.
"Terimakasih, karena kau sudah mengantar Deniz ke rumah sakit. Pergilah," kata Ivy pelan.
"Bagaimana dengan biaya pengobatan Deniz?" tanya Kenan sambil mengernyitkan dahinya. Ia ingin berusaha membantu, tapi sepertinya Ivy berusaha menjaga jarak dengannya.
"Itu bukan masalahmu. Bukankah kau pernah mengatakan tidak akan ikut campur masalahku? Pergilah!" Perkataan Ivy itu mampu menjewer telinga Kenan. Membuat pria itu sedikit tersenyum mengingat kejadian waktu itu.
"Baiklah, jika itu mau mu." Kenan menghela napasnya sambil menatap manik mata hijau itu dalam-dalam. "Aku memang tidak suka ikut campur masalah orang lain!"
Putra Harun itu segera membalikkan badannya menjauhi Ivy. Berjalan menyusuri lorong dan lantai rumah sakit.
Wanita itu benar-benar keras kepala! Dia bisa langsung mengatakan, Kenan tolong bantu aku. Setidaknya itu lebih baik, daripada mengusirku!
Ivy yang mengira Kenan telah pergi, segera menghubungi Nur dan mengatakan kalau Deniz berada di rumah sakit. Setelah pesan singkatnya terkirim, Ivy segera keluar menuju jalan raya.
Mungkin ini satu-satunya cara untuk bisa membayar pengobatan Deniz.
Ivy memanggil taksi yang melintas di depannya. Ia mengatakan sebuah alamat kepada pengemudi taksi itu.
* Bersambung *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1