Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Sebuah Pilihan


__ADS_3

Malam itu juga beberapa anggota polisi memaksa Kenan dan Mehmet untuk masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca jendela mobil patroli itu, Kenan masih bisa melihat Ivy yang terus memanggil namanya. Perlahan-lahan suara dan sosok wanita itu hilang ditengahnya kelamnya malam.


Ivy... bertahanlah…demi anak kita.


Petugas medis mulai berdatangan ke lokasi kejadian. Mereka memasukkan tubuh tak bernyawa itu ke dalam kantong plastik . Di tempat itu hanya Kenan, Mehmet dan Ivy yang selamat. Kapten Polisi dan beberapa anak buahnya memeriksa gudang itu dan mengamankan semua senjata api dan senjata tajam yang mereka temukan.


“Serahkan semuanya padaku. Katakan kepada polisi bahwa dirimu tidak terlibat,” ucap Mehmet kepada Kenan setelah mereka berdua berada di dalam sel yang sama.


“Apa maksudmu? Menyerahkan semua kesalahan ini padamu?” Kenan mengernyitkan keningnya, namun yang terlihat hanyalah selembar perban yang menutupi luka di tempat itu.


“Istrimu sedang hamil. Bagaimana kalau hakim menjatuhi hukuman seumur hidup atau hukuman mati? Apa kau tak ingin melihat anakmu tumbuh?” Dengan kedua tangannya yang memegang jeruji besi, Mehmet berusaha meyakinkan Kenan tentang idenya tersebut.


Kenan terdiam untuk beberapa saat. Ia menempelkan keningnya di balik jeruji besinya, merasakan benda logam yang dingin itu menembus kulitnya yang sedang terluka. “Apa yang kau katakan memang benar, tapi aku tidak bisa membiarkanmu menanggung semua ini sendiri. Bagaimana aku bisa hidup di luar sana, sementara kau menaruh beban yang begitu besar di pundak ku!”


“Pikirkan sekali lagi,” bujuk Mehmet. Ia tidak bisa membuat kedua kakinya berpijak di lantai, karena dokter polisi telah mengobati luka tusukan pada pahanya.


Kenan hanya memejamkan kedua kelopak matanya dan menunjukkan punggung tangannya kepada Mehmet, seakan ia meminta agar sahabatnya itu berhenti berbicara. “Aku tidak bisa! Jika kau dihukum, aku juga harus dihukum. Jika aku bebas, maka kau juga harus ikut keluar bersamaku!”


“Jika kau di penjara atau dihukum mati, bagaimana dengan Cansu? Apa kau juga tidak memikirkannya?” Kenan menatap tajam wajah bulat Mehmet.


Mereka pun terdiam. Tak ada satu pun yang ingin melanjutkan pembicaraan tadi atau memulai pembicaraan baru. Dua buah kasur lipat tanpa kerangka kayu menjadi teman tidur mereka saat ini. Malam atau siang tak ada bedanya di dalam ruangan itu, semuanya tetap sama.


......................


Hari pun berganti. Lembaran dan waktu kehidupan seluruh manusia baru saja dimulai. Cahaya kuning menembus kelambu berwarna hijau muda dan menerangi ruangan yang hanya berukuran 3x4 meter. Ruangan yang hanya dihuni oleh seorang wanita yang sedang berbaring di atas ranjang besi. Dua buah kursi kosong berwarna merah menjadi pemanis ruangan yang serba putih itu.


Tangan ramping yang terpasang jarum infus itu bergerak mengusap keningnya. Kelopak mata itu perlahan-lahan terbuka memunculkan sebuah pupil mata berwarna hijau. Setelah malam kejadian yang mengerikan itu, Ivy jatuh pingsan saat ia menahan rasa sakit yang ada di perutnya. Beberapa petugas polisi langsung membawanya ke rumah sakit.


Manik mata bak akuarium itu bergerak perlahan mengamati isi ruangan yang bukan kamarnya, sesaat ia mulai menyadari bahwa dirinya berada di dalam rumah sakit. Diusapnya perutnya yang rata, bibir tipisnya bergetar menahan tangisannya.


Secepat inikah kau meninggalkanku, Malaikat kecil?

__ADS_1


“Selamat pagi, Nyonya,” sapa seorang perawat yang baru saja masuk ke dalam kamar Ivy. Di depannya ada sebuah kereta dorong yang berisi alat pengukur tekanan darah, beberapa kantung infus dan sebuah catatan medis milik Ivy.


“Pagi, Suster,” balas Ivy setelah ia mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Menyapa perawat itu dengan wajahnya yang datar.


Perawat memeriksa tekanan darah Ivy kemudian mencatatnya di catatan medisnya. Ketika perawat tersebut akan membuka tempat penyimpanan obatnya, rasa mual itu mulai mengaduk-aduk perut Ivy.


“Suster?” Ivy langsung menegakkan tubuhnya dan menutup mulutnya dengan satu telapak tangan. Manik mata hijau itu menatap wanita berseragam putih yang ada di samping  ranjangnya dengan penuh tanda tanya.


“Ada apa, Nyonya? Apa Anda perlu sesuatu?” Suster itu semakin mendekat dan membuat perut Ivy semakin mual.


“Aku sangat mual. Bisakah Suster menutup kotak obat itu?” Dengan satu tangannya Ivy menunjuk kereta dorong yang ada di belakang perawat tersebut. Sedangkan tangannya yang lain, ia  gunakan untuk menutup mulutnya.


Setelah menutup kotak obatnya, perawat itu kembali tersenyum kepada Ivy. “Oh, itu sudah biasa dialami oleh ibu hamil yang memasuki trimester pertamanya.”


“I…ibu hamil?” Ivy menatap perawat itu dengan sebuah kerutan di dahinya.


Ia langsung menyambar map berwarna kuning yang ada di tangan sang perawat. Kerutan itu mendadak lenyap setelah ia melihat catatan medisnya. Ia tidak mengerti semua isinya, akan tetapi ada satu kalimat yang membuat harapannya kembali tumbuh.


Pandangannya mulai berkaca-kaca menatap wajah perawat tersebut. “Ja…jadi janin…janinku selamat?”


“Itu benar, Nyonya Ivy. Anda tidak keguguran. Kandungan Anda kuat dan janin di dalamnya tumbuh dengan sehat,” tiba-tiba muncul seorang dokter yang menyela percakapan Ivy dengan perawat tersebut, “kemarin Anda hanya mengalami kontraksi dan flek."


Ivy langsung mengembalikan catatan medisnya kepada sang perawatan kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menjadi tempat bagi terbentuknya sebuah kehidupan kecil.


“Sebaiknya Anda jangan terlalu lelah dan jangan terlalu banyak berpikir, itu akan mempengaruhi janin Anda. Jangan lupa untuk selalu minum vitamin penguat kandungan Anda, Nyonya,” jelas sang dokter kepada Ivy.


“Baik, Dokter. Kapan saya boleh keluar dari rumah sakit?”


“Saya sangat menganjurkan Anda untuk bedrest beberapa hari lagi, Nyonya. Ini demi kehamilan Anda."


“Bisakah aku keluar hari ini, Dokter? Aku ingin bertemu dengan suamiku,” mohon Ivy dengan wajahnya yang memelas. Ia memang ingin mengetahui keadaan Kenan, setelah suaminya itu ditangkap oleh polisi.

__ADS_1


Sebelum dokter memberikan jawabannya, terdengar suara ketukan yang berasal dari luar membuat semua orang yang berada di dalam kamar menoleh ke arah pintu. Dua pasang langkah kaki memasuki ruangan tersebut. Dua orang pria berambut cepak dengan jaket kulitnya yang berwarna hitam.


“Selamat pagi,” sapa salah satu dari kedua pria itu dengan suara bas-nya.


“Ya, selamat pagi,” balas Ivy dan dua orang petugas medis bersamaan.


Kedua pria itu menunjukkan tanda pengenal mereka. “Kami adalah anggota Kepolisian Istanbul. Perkenalkan nama ku Kapten Cenk dan dia rekanku Sersan Rifat. Kami ingin meminta keterangan dari pasien tentang pembunuhan yang terjadi di gudang tua semalam. Apa pasien dalam keadaan sehat, Dokter?”


“Ya, Kapten. Tapi mohon jangan beri penekanan pada pasien,” jawab dokter yang kemudian meninggalkan Ivy dan dua orang anggota polisi tersebut.


Pada awalnya Kapten Polisi menanyakan nama Ivy dan hubungan wanita muda itu dengan Kenan dan Mehmet. Kemudian mereka bertanya tentang kejadian yang sebenarnya kepada Ivy, wanita muda itu menceritakan semua hal yang telah terjadi.


“Mereka tidak bersalah! Mereka hanya ingin membebaskanku dari tindakan biadab Ferit!” seru Ivy, “Kapten, kumohon bebaskan mereka.”


“Ada dua belas orang yang meninggal di dalam gudang itu, Nyonya. Saran kami, siapkan saja pengacara untuk mereka. Terimakasih atas keterangan yang Anda berikan. Kami permisi,” ucap sang Kapten kepada Ivy. Pria berperawakan tinggi tegap itu memasukkan kembali buku kecilnya ke dalam saku.


“Pe… pengacara?” Bibir Ivy terasa kelu begitu dirinya mengatakan salah satu nama perangkat hukum.


“Itu benar, Nyonya Fallay,” jawab Sersan Rifat yang menegaskan perkataan atasannya.


“Tunggu, Kapten!” Dua orang anggota polisi itu membalikkan badannya ketika Ivy memanggilnya. “Bolehkah aku menjenguk suamiku?”


“Silahkan, Nyonya. Tuan Kenan Fallay masih berada di kantor polisi, kami akan melimpahkan perkaranya ke Kejaksaan.” Setelah menjawab semua pertanyaan Ivy, keduanya pun pergi meninggalkan kamarnya.


Pengacara... jaksa... hakim… penjara


Kepala Ivy mendadak terasa pening dan cairan bening kembali membasahi wajah ovalnya. Ivy membayangkan Kenan berada di balik jeruji dalam jangka waktu yang lama.


Ia pun mengusap perutnya dan berkata, “Apa kalian bisa bertemu dan saling mengenal?”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2