Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Aku Mencintaimu - Versi Mehmet dan Cansu


__ADS_3

Raut wajah Ivy mendadak berubah, saat Kenan mengatakan bahwa pihak kepolisian tidak bisa memproses laporannya tentang kejahatan Ferit yang telah menenggelamkan dirinya.


“Aku tak percaya ini! Apa alasan mereka?” tanya Ivy saat ia menata meja makannya. Ia meletakkan empat buah piring, sepasang sendok garpu dan empat gelas air mineral.


“Tidak ada bukti dan tidak ada saksi yang melihat kejadian itu.” Kenan menarik salah satu kursi makan, tetapi ia masih berdiri di belakang kursinya, menghadap Ivy.


Wanita itu membuang wajahnya ke arah lemari dapur yang tergantung di salah satu sudut ruangan. Ia menarik rambut depannya ke belakang dan menahan kedua tangannya di belakang leher.


“Kau bisa jadi saksi, kau korbannya!” serunya.


“Malam itu… ada pengemudi kapal motor yang melihatmu tercebur ke dalam air. Ada juga seorang nelayan yang ikut membantu kami. Kedua pria itu bisa menjadi saksi." Ivy melanjutkan perkataannya sambil berjalan mondar-mandir di depan meja makan. Ia menghela napasnya dalam-dalam.


“Aku dan Mehmet tidak berhasil menemukan kedua orang itu. Orang-orang di sekitar dermaga tidak ada yang mengenal mereka. Mungkin mereka memilih untuk tidak terlibat.” Kini Kenan mendudukkan dirinya di atas bantalan kursi. Menopang dagunya dengan kedua tangan dan menatap tubuh ramping yang ada di depannya.


Mendengar penjelasan Kenan, Putri Victor itu hanya bisa memegang keningnya dan menggigit bibir bawahnya, seakan kejahatan Ferit lenyap begitu saja di sapu ombak Selat Bosphorus.


Kenan mendorong kursinya ke belakang, kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati Ivy. Ia memegang kedua lengan wanita itu untuk membuatnya tenang. Dilihatnya ada suatu ketakutan terpancar dari dalam manik mata hijau tersebut. Cairan bening itu sudah mengintip di pelupuk matanya.


“Kau tak perlu cemas, aku dan Mehmet yang akan mengurusnya. Ada kalanya polisi tidak bisa membantumu, itu lebih baik. Hal ini semakin membuat si keparat itu mengira bahwa dirinya telah berhasil membunuhku.”


Ia mengambil kedua telapak tangan Ivy kemudian diletakkannya tangan halus itu di depan dadanya yang bidang. “Aku akan memberi pelajaran pada si keparat itu dengan caraku sendiri. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Kau percaya padaku’kan?”


Ivy mengganggukkan kepalanya, “Aku percaya padamu.”


Pria itu segera memeluk Ivy dengan erat dan mencium puncak rambut wanita itu. Dihirupnya aroma tubuh kekasihnya itu dari lekukan leher jenjang tersebut hingga bibirnya mencapai benda kenyal yang diinginkannya, bibir tipis berwarna merah muda yang selalu membuat hatinya bergetar.


Aku akan menjadi hantu gentayangan bagi si keparat itu! Hingga dia tidak bisa membedakan antara hidup di alam nyata atau di neraka!


Ciuman itu terlepas ketika mereka mendengar suara Nur memanggil Deniz, untuk mengajak bocah itu menikmati makan malam. Sepasang kekasih itu langsung mengambil kursi mereka dan bersikap seolah-olah sedang menunggu kedatangan angota keluarganya yang lain.


Manik mata Deniz membulat melihat makanan kesukannya ada di atas meja makan. Ia langsung melompat di atas kursinya dan mengambil seporsi Hummus yang ada dihadapannya. Ia menyendok bubur yang di beri tambahan selai gurih yang dibuat dari kacang Arab, minyak zaitun, perasan jeruk lemon dan bumbu-bumbu lainnya.


Setelah beberapa purnama ia tidak menyantap makanan favoritnya, lidahnya seakan ingin menghabiskan semua makanan yang ada di depannya. Bukan hanya Hummus yang menggoda hatinya, tetapi Baklava buatan Nur membuatnya ingin menambah porsi makannya.


“Aku sangat suka tempat ini!” seru Deniz setelah ia menghabiskan dua piring makanannya.


Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi makannya dan mengusap perutnya, tetapi pandangannya menatap jendela yang ada di belakang Ivy. “Oh…, ternyata kita bisa melihat langit senja dari sini. Wow… ini luar biasa.”


“Kau sama seperti Kenan. Dia memilih tempat ini, karena ia sangat menyukai langit,” ucap Ivy yang meletakkan salah satu tangannya di leher kekasihnya.


“Kau juga bisa melihat langit malam di kamarmu.” Kenan menimpali perkataan kedua kakak beradik itu. “Kita akan tidur bersama, jagoan kecil.”

__ADS_1


“Benarkah?” Manik mata kecil itu membulat. Dalam hatinya ia sangat mengagumi kekasih kakaknya itu, pria itu seakan bukan hanya menjadi kakak tuanya, tetapi juga teman dan seorang ayah baginya.


Kenan segera mengajak Deniz menuju salah satu kamar yang terletak di sayap kanan. Di bagian kanan itu terdapat dua buah kamar, yang akan mereka gunakan untuk kamar pria dan kamar wanita. Sementara di sayap kiri juga terdapat dua buah kamar yang akan mereka gunakan untuk tempat mereka bekerja.


“Kau lihat.” Kenan menunjukkan cahaya sinar matahari yang makin lama makin meredup di telan oleh cakrawala. Kedua pria itu kini berdiri di depan jendela kamar yang lebar.


Pemandangan senja di langit Kota Istanbul terlihat sangat luar biasa. Dari jendela apartemen, mereka bisa melihat Masjid Biru yang berdiri kokoh. Seakan hamparan langit di depan mereka telah menjadi sebuah permadani yang mempunyai lima susunan warna. Merah, oranye, kuning, ungu muda dan ungu tua.


Beberapa menit berlalu, permadani itu berubah. Kini mereka melihat bangunan indah itu tampak seperti bayangan yang menghitam, makin lama bayangan hitam itu berganti dengan kerlipan lampu yang menerangi bangunan megah tersebut.


Keindahan senja itu bukan hanya milik Deniz dan Kenan, tetapi milik seorang pria gundul dan seorang wanita berambut hitam. Mehmet mengajak Cansu memasuki sebuah restoran mewah yang berada di jantung kota Istanbul. Sebuah restoran yang menyajikan menu khas kerajaan Ottoman.


Mehmet menarik salah satu kursi hitam yang ada di tengah ruangan dan meminta Cansu untuk duduk di sana, kemudian pria itu mengambil posisi duduknya di depan wanita tersebut.


Mereka melihat sekelilingnya, malam ini restoran ini tidak terlalu ramai. Masih terlihat meja kosong di kanan dan kiri mereka. Seorang pelayan datang mendekati meja mereka dan memberikan sebuah buku menu besar dengan sampulnya yang berwarna hitam.


“Aku minta Sultan Delight dan kopi Turki.” Mehmet menyebutkan pesananannya kepada sang pelayan.


“Berikan aku seporsi Borek dan Cay,” ujar Cansu.


Sebelum pelayan itu pergi meninggalkan mereka, Mehmet membisikkan sesuatu kepada pekerja wanita tersebut.


“Apa yang kau katakan?” Cansu mengernyitkan keningnya. Ia hanya mendengar suara pria itu seperti tiupan angin yang berhembus.


Beberapa menit telah berlalu, pelayan yang sama meletakkan sepiring Sultan Delight yang merupakan sebuah bubur dengan irisan daging sapi diatasnya, dua potong pastri panggang yang berisi keju, daging dan sayuran yang merupakan pesanan Cansu. Secangkir kopi Turki dan secangkir Cay, nama lain dari teh Turki. Minuman itu di letakkan di dalam gelas berbentuk bunga tulip.


“Kurasa masih ada yang lupa.” Cansu menatap hidangan yang sudah ada di meja.


Kini ganti Mehmet yang mengernyitkan keningnya, pria itu melupakan perkataan yang baru saja ia ucapkan beberapa menit yang lalu kepada Cansu.


“Piring kosong.” Cansu mengulangi perkataan pria itu. Ia merasa teman prianya sungguh aneh hari ini, serasa usianya sudah mencapai kepala tujuh dengan memori pikirannya yang mulai berjalan lambat.


“Ah ya… ya… aku lupa,” canda Mehmet dengan tawanya dan mengusap kepalanya yang gundul. Tingkah lakunya membuat Cansu gemas melihatnya. Ia sangat menyukai bentuk kepala pria itu yang menyerupai bakso.


Cansu mengajak Mehmet untuk menikmati makanannya. Kedua orang muda itu tak henti-hentinya mengunyah makanan, mengobrol dan tertawa bersama. Hingga makanan mereka pun habis tak bersisa.


Mehmet mengedipkan salah satu matanya kepada pelayan wanita yang tadi melayani mereka, hal itu membuat Cansu sedikit cemburu. Putri Sophia itu segera meminum teh Turkinya sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin pelayan wanita itu datang menghampiri mejanya.


Namun pelayan wanita itu datang  dengan membawa sebuah piring yang tertutup dan meletakkannya di atas meja. Manik mata Cansu menatap ujung tudung saji yang berbentuk mahkota kerajaan dengan ukuran yang sangat kecil, mirip seperti sebuah replika.


“Ini piring kosong yang kupesan, bukalah.” Mehmet menaikkan salah satu sudut alisnya.

__ADS_1


Putri Sophia itu tampak ragu untuk mengulurkan tangannya, tetapi karena rasa penasarannya membuatnya berubah pikiran. Perlahan-lahan ia membuka tudung saji berbentuk setengah lingkaran. Dilihatnya sebuah kotak berwarna merah dengan bentuknya yang persegi ada di atas piring kosong tersebut.


Mehmet membuka telapak tangannya menghadap ke atas seakan ia ingin Cansu membuka kotak yang ada di depannya.


Saudara tiri Ivy itu lantas mengambil kotak berbahan kain satin itu dan membukanya, ia melihat sebuah cincin dengan batu permata kecil yang sangat indah.


“Cincin yang bagus. Ini untuk siapa?” tanya Cansu yang melihat batu permata itu berkilauan terkena cahaya lampu yang ada di atas kepalanya.


Mehmet menggenggam kedua telapak tangan Cansu. Pupil hitamnya menatap mata biru itu dengan lembut kemudian ia berkata, “Maukah kau melanjutkan hubungan kita menjadi sebagai sepasang kekasih?”


Manik mata biru itu tampak membulat setelah mendengar perkataan Mehmet, wajahnya tampak berseri-seri dengan rona kemerahan. Ia menganggukkan kepalanya kemudian berkata, “Ya, aku mau.”


Mehmet segera beranjak dari tempat duduknya dan berlutut di samping Cansu dan memasukkan cincin tersebut ke jari manis wanita itu. Sebuah senyuman manis terukir dari bibir mereka.


“Aku mencintaimu, Cansu,” ucap Mehmet sambil mencium punggung tangan putri Sophia.


“Aku juga mencintaimu, Mehmet,” balas Cansu dengan manik matanya yang berkaca-kaca. Ia tak menyangka pria humoris itu akan menyatakan perasaannya malam ini.


Ia mengajak Mehmet untuk bangkit berdiri dan memeluk pria gundul yang kini telah menjadi kekasihnya. Pria yang mampu membuatnya tersenyum dan selalu mengisi setiap harinya.


Mehmet mencium bibir Cansu di depan semua pengunjung restoran. Terdengar suara tepuk tangan dari belasan pasang tangan yang menyaksikan adegan romantis malam ini.


Setelah melepaskan ciumannya, Mehmet bersiul. Seorang pelayan pria mendekati meja mereka sambil membawa bunga mawar merah. Mehmet memberikan buket bunga yang berisi seribu tangkai bunga mawar kepada Cansu.


Suara tepuk tangan dari pengunjung kian riuh melihat keromantisan sang pria. Cansu menerima buket bunga tersebut dan mendaratkan bibirnya ke pipi Mehmet.


Sementara itu di sebuah rumah mewah di kawasan Istanbul Barat, terlihat pecahan gelas berserakan di lantai ruang kerja Ferit. Hatinya penuh dengan amarah seakan ia ingin menghancurkan isi ruangannya.


Setelah malam pertarungannya dengan Kenan, ia telah kehilangan Ivy sampai dengan hari ini. Bukan hanya kehilangan calon istrinya tetapi juga uangnya. Uang taruhan sebesar USD 500.000.


“Bagaimana dengan Deniz Eleanor? Bocah itu masih berada di rumah sakit?”


“Bocah itu sudah keluar dari Rumah Sakit Istanbul dua hari yang lalu,” jawab Hasan yang berdiri di belakang tuannya.


“Dua hari yang lalu… dua hari yang lalu,” gumam Ferit yang mencondongkan tubuhnya di atas tepi sofa. “Hari itu aku masih melihat Deniz ada di dalam kamarnya!”


“Menurut informasi dari seorang perawat rumah sakit, siang itu Deniz Eleanor telah dibawa pulang oleh kakaknya, Tuan.” Pria berkuncir itu langsung membalikkan badannya menghadap Hasan.


“Lalu dimana Ivy ku sekarang?” Wajah Ferit mulai meradang kemudian ia mencengkeram kerah kemeja orang kepercayaannya itu.


Pria berhidung melengkung itu hanya mengatupkan rahangnya, ia tidak bisa memberikan jawaban kepada Ferit. Membuat tuannya itu semakin naik pitam dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa.

__ADS_1


“Pergi dan cari Ivy Eleanor! Jangan kembali sebelum kau membawa wanita itu ke hadapanku!” teriak Ferit dengan matanya yang melotot. Ia merasa yakin bisa menemukan Ivy.


Kini montir sialan itu sudah mati! Kau takkan bisa lari jauh dariku, Ivy.


__ADS_2