
Pintu lift terbuka, Ivy segera masuk ke dalam. Jari telunjuknya menekan huruf LG (Low Ground). Dari kejauhan ia melihat Ferit berlari ke arahnya.
"Ivy!" teriak Ferit yang melihat pintu besi itu tertutup di depan matanya. Pria itu menekan tombol tanda panah ke bawah. Ia melonggarkan ikatan dasinya dan berkacak pinggang di depan dinding kayu marble yang menjadi pembatas antara pintu lift satu dengan pintu lift yang lain.
Beberapa detik kemudian, langkah sepasang sepatu kets berwarna hitam itu berhenti. Kenan menyaksikan Ferit sedang menekan tombol lift berulangkali. Lampu lift itu bergerak ke lantai dasar. Putra Harun itu segera berlari mencari pintu tangga darurat yang ada di lantai tiga.
Perasaan Ivy saat ini meluncur seirama dengan tabung tertutup yang menurunkan dirinya ke bawah. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di pintu stainless steel yang ada di depannya. Ia segera menghapus air matanya sendiri.
Untuk apa aku menangis? Kenan bukanlah kekasihku. Kenan memeluk atau bahkan mencium wanita lain, itu adalah haknya.
Suara pintu lift membuat Ivy berhenti meratapi dirinya sendiri. Di saat ia melanjutkan langkahnya, ia melihat sebuah kendaraan roda empat dengan kaca jendela mobilnya yang gelap menunggunya di depan.
"Ivy!" panggil Ferit yang baru saja keluar dari pintu lift.
Pria itu segera mengejar Ivy yang telah berlari melewati pintu kaca yang berputar di porosnya. Ia mengikuti langkah Ivy untuk masuk ke dalam pintu kaca tersebut, karena hanya pintu itulah akses keluar masuk tamu hotel.
Poros pintu itu mendadak berhenti, membuat Ferit terjebak di tengah-tengah sayap pintu tersebut. Ia tidak bisa keluar atau pun masuk kembali ke dalam.
"Ivy!" teriak Ferit yang melihat putri Victor itu telah masuk ke dalam mobil sedan. Ia berusaha mendorong sayap pintu tersebut dengan tangannya yang kekar, tetapi semua usahanya sia-sia.
Kenan segera menghampiri Ferit. Ia melihat pria itu bagaikan seekor serangga yang terjebak di dalam sebuah toples kaca. Ia mengetuk dinding kaca berbentuk tabung yang menjadi pemisah antara dirinya dan Ferit.
Pria berambut coklat itu menatap wajah Kenan dengan garang. Putra Harun itu segera mengetuk jari telunjuknya ke keningnya berulang kali, kemudian ia menempelkan ibu jarinya di kaca dan memutarnya ke arah bawah. Ia membalas penghinaan Ferit yang mengatainya beberapa saat yang lalu.
"YOU ARE STUPID MAN!" Ferit dapat membaca gerakan bibir Kenan yang berbicara kepadanya. Kenan menaikkan salah satu alisnya, ketika dilihatnya kedua tangan Ferit mengepal. Ia segera meninggalkan serangga yang malang itu terkapar sendirian.
"Brengsek!" seru Ferit sambil menendang pelat besi yang membingkai sayap pintu. Ia berteriak memanggil petugas hotel, agar mengeluarkannya dari pintu sialan itu.
Mobil sedan itu membawa Ivy ke daerah Fener. Melewati beberapa kafe dan bistro Eropa-Turki yang ada di pinggir jalan. Bangunan modern itu harus bersanding dengan deretan rumah kayu tua yang sudah berdiri cukup lama di sana.
"Ivy, sebaiknya kau tinggalkan barang-barangmu di mobilku. Besok aku akan membawanya ke kantor," kata Khan setelah ia membelokkan mobilnya ke arah kanan.
"Baiklah. Mungkin itu lebih baik," Ivy menghela napasnya dalam-dalam dan menatap rumah yang paling sudut. Rumah Nur masih berjarak sekitar tiga rumah lagi.
Mobil sedan itu berhenti tepat di depan pagar besi berwarna hitam. Ivy segera turun dari mobil dan mengucapkan selamat malam kepada Khan.
__ADS_1
Setelah kepergian Khan, Ivy segera masuk ke dalam rumah. Kini rumah sederhana ini sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Setelah melepaskan sepatu yang membuat tumitnya lelah, ia mengayunkan langkahnya menuju ke kamar.
Ia melihat Deniz berbaring di atas ranjangnya, tapi bocah itu belum memejamkan matanya.
"Kau belum tidur? Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Ivy yang membuka lemari pakaiannya dan berdiri membelakangi Deniz. Ia menarik salah satu pakaian tidurnya kemudian mendudukkan dirinya di atas ranjang untuk mendengarkan cerita Deniz.
"Aku belum mengantuk. Teman-temanku banyak yang meminjamkan buku catatannya kepada ku. Kami tadi bermain sepak bola dan bola basket di lapangan sekolah," cerita Deniz dengan posisi telentangnya.
"Kau sudah makan malam?" tanya Ivy yang mendekati Deniz.
"Ya. Tadi Nur sudah membuatkan pasta yang lezat," celoteh Deniz yang memperlihatkan manik matanya yang bulat dan bersinar. Seakan ia ingin memberitahu Ivy bahwa masakan Nur sangat lezat, kau pasti rugi tidak bisa menikmatinya.
Ivy tertawa kecil dan senyumnya mulai mengembang melihat ekspresi wajah Deniz. Ia mengambil selimut berwarna biru yang ada di tepi ranjang dan menariknya hingga ke batas leher bocah itu.
"Tidurlah. Besok kau harus sekolah," ucap Ivy yang mengusap puncak rambut Deniz yang berwarna coklat. Beberapa helai rambut pendek itu tertinggal di telapak tangan Ivy.
Oh...! Rambutnya sudah mulai rontok.
Ivy segera membuang rambut Deniz ke lantai sebelum bocah itu melihatnya. Ia mengambil handuknya yang tergantung di belakang pintu. Ia meninggalkan Deniz yang sudah mulai memejamkan matanya. Suara dengkuran Nur menemani langkahnya menuju kamar mandi.
Nur pasti sangat lelah bekerja mengurus rumah, menjaga Deniz dan menjual kue di sekolah.
Telapak kakinya yang basah memberikan jejak kasat mata pada lantai. Dari dalam rumah, Ivy mendengar suara mobil yang berhenti di depan. Bayangan mobil SUV itu terlihat dari balik tirai jendela tipis berwarna coklat yang ada di jendela depan.
Ivy membuka sedikit tirai tersebut, sosok laki-laki itu sudah berdiri di depan pagar. Ia memutar tumitnya untuk mengambil posisi membelakangi jendela, menggigit bibir bawahnya dan mengaitkan kesepuluh jarinya.
"Auw!" seru Ivy. Bunyi suara ponselnya membuat ia menggigit bibir bawahnya terlalu dalam. Ia segera masuk ke dalam kamar dan membuka tasnya.
Sebuah nama yang tidak ingin dia temui saat ini sedang menghubunginya. Ponsel itu terus berbunyi, membuat Nur terbangun dari tidurnya.
"Ivy." Kenan mulai membuka pembicaraannya, ketika ia tidak mendengar suara Ivy.
"Aku tahu kau ada di dalam. Aku ingin bicara denganmu," lanjut Kenan yang menyandarkan dirinya di pagar besi.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan. Pulanglah. Ini sudah larut malam." Ivy berusaha berbicara setenang mungkin, seolah-olah kejadian Kenan dan Kara itu tidak merisaukan hatinya.
__ADS_1
"Ivy...."
"Deniz!" pekik Ivy yang melihat darah segar mengalir dari hidung adiknya. Ia segera melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Nur!" teriak Ivy.
Wanita gemuk itu segera mendatangi Ivy di kamarnya. "Ada apa?"
"Bangun, Deniz. Darah... Deniz berdarah," ucap Ivy yang mengusap darah segar itu dengan selembar tisu. Ia meletakkan tumpukan bantal di punggung Deniz, agar cairan merah itu berhenti mengalir. Ia menepuk-nepuk pipi Deniz agar adiknya itu membuka matanya. Nur segera ke dapur mengambil baskom yang berisi air.
"Bangun Deniz... kumohon buka matamu."
"Ivy...apa yang terjadi?" Melalui ponselnya ia mendengar suara Ivy yang sedang panik. Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya.
Kenan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku, ia nekad memanjat pagar dan melompat masuk ke dalam rumah.
"Ivy! Nur!" panggil Kenan sambil mengetuk pintu depan. Papan kayu terkunci dari dalam. Jika ini adalah rumahnya, ia akan langsung mendobrak daun pintu yang ada di depannya.
"Ivy!" panggil Kenan lebih keras. Tanpa diminta oleh Ivy, Nur berjalan keluar dan membuka pintu rumahnya.
Kenan segera menyerbu masuk ke dalam dan melihat Deniz yang terbaring di pangkuan Ivy. Wanita itu sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Kau tak perlu menghubungi Ferit! Aku akan membawa Deniz ke rumah sakit sekarang!" seru Kenan yang mengambil ponsel Ivy.
Wanita itu meletakkan kepala Deniz di atas ranjang, ia segera bangkit berdiri dan membalikkan badannya menghadap Kenan. Manik mata hijau itu meleleh bagaikan air aquarium yang meluber membanjiri seluruh ruangan.
"Aku tidak menghubungi Ferit! Berikan ponselku, aku ingin menghubungi Dokter Husein."
"Kenan!" seru Ivy yang melihat pria itu tidak juga memberikan ponselnya.
Dengan perlahan Kenan memberikan ponsel berwarna hitam itu kepada Ivy. Tangan langsing itu menerima pemberian Kenan. Kejadian di hotel beberapa jam yang lalu, seakan sudah terbang melayang dari pikiran Ivy.
"Sudah-sudah! Ayo cepat bawa Deniz ke rumah sakit!" Nur menengahi perdebatan kedua anak muda itu.
Kenan segera mengangkat tubuh Deniz ke dalam mobil. Ia mengusap wajahnya dengan keras, setelah tuduhan dan bentakan yang ia berikan kepada Ivy. Ia menundukkan wajahnya di depan pintu mobil sambil menunggu kedua wanita itu keluar dari rumah.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏