
Naya melihat bi Dijah keluar dari kamar kekek Handoko lengkap dengan nampan berisi segelas air putih yang kalau diperhatikan sieh belum disentuh sama sekali, dan tabung kecil yang berisi obat. Naya menghampiri bi Dijah dan bertanya.
"Bi, itu obatnya kakek."
Bi Dijah mengangguk, wajahnya tampak murung, "Tuan besar seharusnya rutin minum obat tiap pagi, siang dan malam, tapi tuan besar akhir-akhir ini ngeyel, gak mau lagi kalau disuruh minum obat." curhat bi Dijah.
"Kenapa bi, bukannya kakek harus minum obat ya supaya jantungnya cepat sembuh."
"Yah gitu non, kata tuan besar, obat-obatan yang dikonsumsi tidak bisa menyelamatkannya dari kematian, obat-obatan itu hanya membuat umurnya bertahan sementara."
"Sini bi, Naya yang bujuk kakek, siapa tahu kakek mau."
"Oh, ini non." bi Dijah menyerahkan nampan yang dibawanya pada Naya penuh antusias, "Tolong ya non Naya, bujuk tuan besar."
Naya mengangguk, "Saya usahakan bi." Naya tersenyum optimis.
Naya mengepalkan telapak tangannya yang difungsikan untuk mengetuk pintu kamar kakek Handoko.
Tok
Tok
Tok
"Sayakan sudah bilang, saya tidak mau minum obat Dijah, kenapa kamu memaksa, mau saya pecat kamu." terdengar sahutan dari kekek Handoko didalam.
"Ini Naya kek."
"Oh, cucuku."
"Apa Naya boleh masuk."
"Kalau kamu ingin menemui kakek hanya untuk memaksa kakek minum obat pahit itu, kakek tidak mengizinkan." padahal udah bangkotan gitu, tapi sifatnya kayak anak usia tiga tahun.
Naya jelas sudah ditolak, namun yang dia lakukan malah mendorong tuas pintu, memberikan senyum terbaiknya pada kakek Handoko yang duduk selonjoran ditempat tidurnya, tangannya tampak memegang sebuah buku tebal, kelihatan banget kakek Handoko adalah tipe kutu buku, sudah uzur juga masih saja doyan membaca, berbeda sekali dengan Naya, buku catatan saja malas dia baca apalagi baca buku setebal batako itu.
"Malam kakek." sapa Naya ramah dan mendekati tempat tidur kakek Handoko.
"Kan kakek sudah bilang, jangan masuk."
"Salah kakek donk, kenapa pintu kamar kakek tidak dikunci, jadinya tangan jail Naya gak tahan untuk mendorong pintu kamar kakek."
"Kamu disuruh Dijah untuk membujuk kakek ya."
__ADS_1
"Jangan suudzon gitu kek, dosa lho."
"Kalau bukan dia, terus siapa yang nyuruh kamu, Lio."
"Bukan siapa-siapa, ini inisiatif Naya sendiri kek." ujarnya jujur, "Jadi kakek, kakek harus minum obat ya sekarang."
Kakek Handoko mendengus, "Kakek gak mau minum obat." ngototnya persis kayak anak kecil.
"Tapi baca buku kakek mau."
"Karna buku banyak manfaatnya, jendela dunia."
"Tapi gak bisa bikin kakek sehatkan, obat yang Naya bawa bisa bikin kakek sehat lho kalau kakek rutin mengkonsumsinya."
Ada saja balasan Naya sehingga membuat kekek Handoko tidak bisa berkutik, "Ayok kekekku yang tampan, taruh bukunya setengah menit saja, minum obat, baru deh baca buku lagi." Naya membujuk.
Dengan ogah-ogahan kakek Handoko melakukan perintah Naya, menutup buku tebal tersebut, mengambil butir pil yang disodorkan Naya dan memasukkannya kemulutnya, dan selanjutnya barulah dia meneguk air putih untuk memperlancar proses masuknya sik obat.
"Nah, itu baru pinter." Naya seperti memuji anak kecil saja.
Naya iseng-iseng membaca judul buku yang dibaca oleh kakek Handoko, ternyata buku tersebut berbahasa inggris, jangankan membaca, melihatnya saja kepala Naya jadi pusing.
"Sudahkan, gak ada lagikan obat yang harus saya minum." tanya kakek Handoko.
"Besok dan seterusnya, jangan pernah lagi paksa kakek minum obat."
"Gak bisa donk kek, Naya atau siapapun dirumah ini harus paksa kakek minum obat, bila perlu kakek diiket kalau gak mau." canda Naya.
"Sadis."
"Lebih sadis mana coba, maksa kakek minum obat untuk kesembuhan kakek, atau diam saja gitu merelakan kakek cepat pulang kerahmatullah."
"Astagfirullahhaajim."
"Nah, kalau gak mau cepat-cepat dipanggil malaikat maut, maka dari itu kakek harus rajin minum obat dan yang pasti harus rajin ibadah."
"Lho, kenapa kamu jadi menceramahi saya segala."
"Bukannya menceramahi kakek, tapi Naya cuma mengingatkan." ujar Naya, " Ya sudah kakek, kakek sekarang lebih baik istirahat biar besok badannya seger."
Kakek Handoko nurut, dia membaringkan tubuhnya, Naya membantu kakek Handoko menaikkan selimut sampai batas leher, "Selamat tidur kakek." lisan Naya sebelum keluar dari kamar kakek Handoko."
****
__ADS_1
Naya memasuki kamar Lio, ralat, maksudnya kamar mereka, kan mereka berstatus sebagai suami istri sekarang, jadi kamar Lio milik mereka berdua. Naya membawa nampan yang diatasnya gelas berisi susu.
Sebelum Naya buka suara, Lio yang tengah sibuk dengan leptopnya mendahului, "Gue gak suka susu, emang gue anak kecil apa sebelum tidur minum susu." bohongnya.
"Maaf mas, ini susu buat saya sendiri, bukan buat mas." tandas Naya bohong, padahal memang Naya membuat susu itu untuk Lio, karna bi Dijah bilang, sebelum tidur biasanya Lio suka minum susu hangat, tapi berhubung Lio menolak mentah-mentah, terpaksa deh Naya memutar balikkan fakta.
Lio jadi malu sendiri, "Kamprett nieh cewek, gue fikir tuh susu dibuatin untuk gue."
Naya duduk disamping Lio dan meneguk susu yang dibawanya sampai tandas, Lio melirik kearah Naya dan mengomentari gaya berpakaian Naya, "Gak ada ya baju lo yang layak pakai dikit, kain pel gitu masih aja dipakai." tuh bibir gak bisa apa disortir apa main nyablak aja.
Naya memperhatikan penampilannya, menurutnya baju yang dipakai masih layak banget kok, "Ini masih bagus kok mas, masih layak, mata masnya kali yang bermasalah." Naya berani membalas ucapan pedas Lio.
"Jadi menurut lo, mata gue rabun gitu."
"Yahh, mungkin, makanya mas, periksa mata."
"Heh, gue bilangin ke elo ya, mata gue sehat wal'afiat, jadi lo gak perlu suruh-suruh gue periksa mata." kok jadi berdebat masalah mata nieh pasutri.
"Biasa aja kali mas gak usah ngegas."
"Yeee, gue biasa aja kali, elo aja yang baperan."
"Ihh, mas pergi sana, Naya mau tidur." usir Naya kesal.
"Lo ngusir gue, ini sofa gue ya, elo yang harusnya pergi."
"Ya udah." Naya berdiri dan beranjak menuju tempat tidur dan membanting tubuhnya ditempat tidur empuk tersebut.
Lio yang melihat kelakuan Naya menghampiri Naya, "Apa-apaan lo, bangun."
"Gak."
"Bangun gak."
"Gak."
Lio menarik tangan Naya untuk membuat Naya pergi dari tempat tidurnya, namun Naya berusaha bertahan, sumpah, Naya bener-bener kesal dengan Lio, disaat adegan tersebut tengah berlangsung, tanpa diduga Lio kehilangan keseimbangan tubuhnya, sehingga dia jatuh menindih tubuh Naya, dan seperti adegan disinetron-sinetron, mata mereka bertemu, sesaat mereka saling tatap, sebelum kembali mendapatkan kesadaran mereka, mereka jadi salting satu sama lain dengan kejadian barusan.
"Baiklah, elo aja yang tidur dikasur untuk malam ini." Lio akhirnya mengalah, dia kembali ke sofa.
Sedangkan Naya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, wajahnya memanas, untuk meredakan jantungnya yang disko gila-gilaan, Naya kembali berbaring dan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
****
__ADS_1