Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MAMA RENATA


__ADS_3

"Wahhh, makanannya banyak sekali bunda." komentar Bulan memandang hidangan makan malam yang beragam yang terhidang dimeja.


Gadis kecil itu menelan liurnya melihat berbagai makanan lezat didepan matanya, ya merupakan sesuatu hal yang wajar mengingat di panti bisa dibilang dia sangat jarang makan enak.


"Kamu sudah lapar sayang."


"Iya bunda."


"Tapi tunggu kakek buyut, sama ayah dulu ya sayang, biar kita makannya sama-sama." Naya memberi pengertian.


"Iya bunda."


Disaat seperti itu mama Renata yang baru pulang dari acara kumpul-kumpul dengan teman sosialitanya berjalan memasuki ruang makan, berhenti sesaat karna melihat gadis kecil asing berada disana.


"Malam ma, mama sudah pulang." sapa Naya begitu melihat sang mama mertua memasuki ruang makan dan kini tengah memperhatikan anak angkatnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Naya, mama Renata malah bertanya balik, "Siapa anak itu."


"Ohh, sini sayang, bunda kenalin sama nenek Renata." Naya meraih tangan Bulan dan menggandengnya menuju mama Renata.


"Ma, kenalin ini Bulan, anak yang Naya dan mas Lio adopsi dari panti asuhan cinta kasih."


"Dan Bulan, ini nenek Renata, mamanya ayah."


"Selamat malam nenek Renata." gadis kecil yang sudah didik dengan sopan santun sejak masih kecil itu meraih tangan mama Renata untuk salaman, namun dengan kasarnya tangan mungil itu ditepis oleh mama Renata.


Tidak hanya sikapnya saja yang kasar, kata-kata mama Renata juga tidak kalah kasarnya, "Jangan sentuh saya dengan tangan kotormu bocah kecil, kamu sama saja dengan gadis yang mengadopsi kamu, sama-sama parasit dikeluarga Rasyad."


Bulan yang masih kecil tentu saja tidak membalas, bocah itu terlihat ketakutan melihat mama Renata yang terlihat jelas tidak menyukainya.


Siapa sieh yang tinggal diem jika diperlakukan dengan kasar ditambah dengan makian, disini Naya sebagai ibu angkat tidak terima Bulan dihina seperti itu, tentu saja dia akan membalas ucapan mama mertuanya, saat disudah membuka bibirnya, Lio dan kakek Handoko memasuki ruang makan, hal itu membuat Naya mengurungkan niatnya karna tidak mau membuat masalah.


"Lho, kenapa pada berdiri." tanya kakek Handoko karna melihat anak, cucu menantu dan cicit angkatnya berdiri, laki-laki tua itu tidak menyadari ketegangan yang terjadi diantara anak dan cucu menantunya.


"Ehh gak apa-apa kek." dusta Naya, "Ayok Bulan kita duduk." Naya menarik tangan Bulan dan membantunya duduk di kursi.


"Kapan kamu pulang Rena." kakek Handoko bertanya sama putrinya.


"Baru saja pa."


Lio memandang mamanya dan Naya dan Bulan bergantian, felingnya mengatakan antara Naya dan mamanya tengah bersitegang, hal tersebut tergambar jelas dari raut wajah masing-masing, apalagi dilihatnya wajah putri angkatnya terlihat ketakutan.


"Apa yang terjadi, apa mama dan Naya bertengkar." terkanya dalam hati.


"Lio, kenapa kamu hanya berdiri saja, ayok duduk." tegur kakek Handoko melihat cucu laki-lakinya tersebut masih berdiri sekaligus praduga Lio.

__ADS_1


Lio kemudian mengambil tempat duduk disamping Bulan.


****


Naya membantu mbak Wati dan bi Darmi membereskan meja makan dan mengantarkan Bulan ke kamarnya.


"Bunda."


Panggilan tersebut membuat Naya yang bersiap pergi menghentikan langkahnya, dia kembali berbalik menghadap Bulan.


"Iya sayang, apa ada yang kamu butuhkan."


Bulan menggeleng.


"Terus kenapa manggil bunda sayang." mengelus rambut hitam Bulan.


"Bunda, nenek Renata tidak suka ya sama Bulan." tanyanya, raut wajah gadis kecil itu terlihat murung.


Naya tersenyum tipis dan berkata untuk menenangkan, "Tidak sayang, nenek Renata itu suka kok sama Bulan." bohong Naya.


"Terus, kenapa tangan Bulan ditepis saat mau salam sama nenek Renata, dan nenek Renata juga bilang Bulan dan bunda seperti parasit, nenek Renata juga tidak suka ya sama Bunda." Bulan gadis yang cerdas, meskipun masih kecil, anak itu tahu orang yang menyukainya atau tidak.


Iya, memang Naya tidak pernah disukai oleh mama mertuanya sejak awal kedatangannta, dan mama Renata juga terlihat jelas tidak menyukai Bulan, namun Naya tidak mau menanamkan kebencian sama putri angkatnya, dia mau Bulan selalu berfikir positif sama siapapun tanpa terkecuali termasuk sama mama Renata, "Kan mama sudah bilang, nanek Renata itu suka sama Bulan, dan suka juga sama Bunda, tapi nenek Renata lagi capek, butuh istrihat, makanya nenek itu kelihatannya seperti orang yang marah."


"Ohhh." gumam Bulan membulatkan bibirnya, "Jadi nenek suka sama Bulan dan juga mama." simpulnya.


"Oke bunda."


"Gadis pintar." Naya mengecup kening Bulan, "Selamat tidur sayang." pamitnya.


"Selamat tidur bunda." balas Bulan yang membuat Naya tersenyum.


Dan setelah dari kamar Bulan, Naya melangkahkan kakinya menuju kamar mama mertuanya.


Naya mengetuk pintu kamar mama Renata, dan gak lama pintu terbuka dari dalam yang memampangkan mama Renata yang mengenakan gaun tidur berbahan sutra.


"Mau apa kamu." tanya mama Renata ketus melihat menantu yang tidak pernah dia harapkan berdiri di depan pintu kamarnya.


"Naya mau bicara sama mama."


Mama Renata memandang Naya tidak suka, "Mau bicara apa kamu."


"Naya tidak suka mama berbicara kasar dengan Bulan." tembak Naya langsung pada intinya, "Kalau mama tidak suka sama Naya, Naya bisa terima ma, tapi jangan kasari Bulan dengan sikap dan kata-kata mama, dia masih kecil ma, tidak seharusnya mamanya memperlakukannya seperti itu, tidak bisakah mama menganggapnya sebagai cucu mama."


Mama Renata menyilangkan tangannya di dada dan mendengus, "Kamu fikir mama sudi menganggap anak yang kamu pungut dari panti asuhan itu sebagai cucu mama, anak yang tidak jelas asal-usulnya, hanya sebagai parasit dikeluarga Rasyad, sama seperti kamu, gadis kampung dan tidak berpendidikan." hina mama Renata tanpa perasaan dengan pandangan merendahkan.

__ADS_1


"Ma, jaga omongan mama, jangan mama fikir karna mama lahir dari keluarga kaya dan berpendidikan tinggi terus mama merasa lebih baik dari Naya dan Bulan, buat apa berpendidikan tinggi tapi omongan mama seperti orang yang tidak berpendidikan."


Plakk


Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat dipipi Naya membuat pipi Naya memerah seketika.


Dengan wajah merah padam mama Renata menunjuk wajah Naya, "Jangan berani-beraninya kamu mengata-ngatai mama, dasar gadis kampung." dan setelah mengatakan hal tersebut, mama Renata membanting pintu dengan kasar dihadapan Naya.


Naya memegang pipinya yang terasa panas, dan tanpa bisa ditahan bulir kristal merembas dari kelopak matanya.


****


Naya menunduk saat memasuki kamar, dia tidak ingin Lio melihat matanya yang memerah karna habis menangis.


"Dari mana." tanya Lio saat Naya memasuki kamar tanpa menoleh karna tengah sibuk mengerjakan sesuatu di leptopnya.


"Nganterin Bulan ke kamarnya." balas Naya dan berjalan ke kamar mandi hanya sekedar untuk cuci muka.


Tok


Tok


Saat Naya bersiap tidur, terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar yang kemudian disusul dengan panggilan.


"Ayah, bunda." ternyata itu adalah Bulan.


Naya dan Lio memandang ke arah pintu saat mendengar panggilan dari anak angkat mereka.


Naya turun dari tempat tidur dan bergegas ke arah pintu untuk mengetahui penyebab anak angkatnya tersebut mendatanginya saat jam tidur begini.


Begitu pintu terbuka, gadis kecil dengan mata polosnya dengan tangan memeluk boneka tedy berdiri didepan pintu, begitu kecil dan menggemaskan dengan baju tidur bergambar lumba-lumba, Naya berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bulan.


"Kenapa sayang." tanya Naya lembut.


"Bunda, boleh tidak Bulan tidur sama ayah dan bunda, Bulan takut tidur sendirian."


"Tidur." ulang Naya, "Tidur disini bersama ayah dan bunda." bukannya Naya tidak mengizinkan, hanya saja dia dan Liokan tidak seranjang lagi setelah perjanjian itu, dengan keinginan Bulan yang ingin tidur bersama, otomatis mau tidak mau dia harus berbagi ranjang dengan Lio lagi.


Bulan mengangguk, "Bolehkan bunda, Bulan takut ada hantu boneka seperti difilm-film kalau tidur sendirian, di panti soalnya kami tidurnya rame-rame."


Namun Naya tidak kehabisan akal, dia berusaha bernegosiasi, "Hmmm, bagaimana kalau begini saja sayang, biar bunda saja ya yang tidur dikamar kamu." yah Naya fikir itu adalah hal yang tepat, dengan tidur dikamar Bulan dia tidak perlu tidur dengan Lio.


"Sama ayah jugakan bunda."


"Kita berdua saja sayang, biar ayah tidur disini saja, soalnya ayah tidak bisa tidur rame-rame." alibinya.

__ADS_1


***


__ADS_2