Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PANTI ASUHAN


__ADS_3

"Asslamualaikum adik-adik." sapa Naya ramah pada anak-anak panti yang tengah pada bermain dihalaman panti.


Anak-anak mulai dari umur 3 tahun sampai dengan 12 tahun menoleh ke arah Naya dan Lio yang baru datang.


"Walaikumussalam kakak." jawab mereka serempak memandang Naya dan Lio dengan rasa ingin tahu sebelum mata anak-anak imut dan polos itu berbinar saat melihat plastik yang berisi aneka makanan yang dibawa oleh Naya dan Lio.


"Akhh iya, ini memang kakak bawa untuk kalian." seru Naya mengetahui arah pandang anak-anak itu, "Nanti kakak bagi ya, tapi tolong ya panggilkan penanggung jawab di panti ini dulu." pinta Naya.


"Tunggu sebentar ya kak." anak yang paling besar menjawab, dan setelah mengatakan hal tersebut anak itu berlari memasuki panti untuk memanggil pengelola panti.


"Lihat mas anak-anak itu, lucu-lucu ya, pasti kakek akan senang kalau kita mengadopsi salah satu dari mereka." Naya terlihat bersemangat melihat anak-anak kecil tersebut.


"Hmmm." gumam Lio karna dia bisa dibilang tidak terlalu menyukai anak kecil, dia disinikan terpaksa atas keinginan kakeknya.


"Tatak, Tatak bawa pelmen." seorang bocah laki-laki berumur kurang lebih tiga tahun menarik perhatian Naya, anak laki-laki itu tersenyum yang memamerkan giginya ompongnya, bocah kecil itu menarik-narik rok Naya.


Naya duduk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan bocah menggemaskan tersebut, "Aduhhh lucuna." saking gemesnya Naya mencubit pipi bocah ompong tersebut, "Siapa namamu sayang."


"Nama atu Andi tatak."


"Andi, nama yang bagus."


"Tatak namaya siapa." anak laki-laki itu balik bertanya pada Naya.


"Kalau kakak namanya kak Naya, nahh, kalau kakak yang itu namanya kak Lio." Naya menunjuk Lio yang masih berdiri.


"Tatak itu pacalnya tatak Naya." tanya bocah polos itu seakan ngerti makna pacaran.


Naya terkekeh dan menjawab keingintahuan anak kecil tersebut, "Bukan sayang, kakak itu bukan pacarnya kakak, tapi suaminya kak Naya, ngertikan."


"Ohhhh." sik bocah membulatkan bibirnya seolah mengerti dengan penjesalan Naya.


Naya kembali mencubit pipi gembil anak laki-laki tersebut saking gemesnya melihat ekpresinya, "Aduhhh kenapa kamu begitu menggemaskan sekali sieh, ingin kakak masukin ke kardus dan bawa pulang."


"Tatak Naya, tatak bawa pelmenkan." tanya Andi mengulangi pertanyaannya sambil matanya menatap plastik ditangan Naya.


"Bawa donk sayang."


"Banyak tak."


"Iya buuaaannnyakkk sayang."


"Holeee, tak Naya bawa pelmen banyak, tatak Naya baik." seru anak tersebut gembira dan di ikuti oleh teman-temannya yang lain, anak-anak itu terlihat begitu bersemangat dan melonjak-lonjak gembira saking senengnya karna akan mendapat permen.

__ADS_1


Yahh begitulah anak kecil, kebahagian mereka sederhana, cukup hanya dengan permen saja sudah membuat mereka bahagia.


"Ya Allah, senengnya melihat mereka begitu bahagia, dan terimakasih karna telah memberikan hamba kesempatan untuk berbagi sama-sama anak yang sudah tidak memiliki orang tua ini." lirih Naya dalam hati karna merasa haru bisa berbagi dengan anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua ini.


Naya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut, dan matanya berhenti pada bangku semen yang ada didekat pohon mangga, "Mas, duduk disana yuk." tunjuk Naya.


Karna merasa pegel berdiri, apalagi kedua tangannya membawa beban berat, Lio mengangguk menyetujui usul Naya.


"Nahh semuanya, ayok ikuti kakak kesana ya, kita bagi-bagi kue, permen, coklatnya disana." beritahu Naya yang disambut dengan teriakan antusias dari anak-anak tersebut.


"Horeee."


"Asyikkkkk dapat pelmenn."


"Dapat kue, coklattt."


Anak-anak itu terlihat begitu bahagia hanya karna akan mendapatkan permen, kue dan coklat, dan itu membuat Naya dan Lio terharu, mata Naya bahkan sampai berkaca-kaca melihat anak-anak yatim piatu itu pada semangat karna dirinya akan membagi-bagikan makanan, Naya merasa sangat beruntung karna memiliki keluarga utuh meskipun sederhana, karna meskipun begitu segala kebutahannya tercukupi dan tidak pernah kekurangan apapun, dan sekarang ditambah keluarga barunya kaya raya membuat hidup Naya bisa dibilang enak, berbeda dengan anak-anak panti yang harus menunggu uluran tangan orang lain terlebih dahulu untuk membantu menyokong kehidupan mereka. Dalam hati Naya berjanji akan lebih sering berkunjung ke panti tersebut jika memilik rizki, karna menurut Naya, kebahagian yang sesungguhnya adalah saat seseorang bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan.


Sedangkan disisi Lio, dia merasa menjadi orang yang sangat jahat karna menutup mata dengan keadaan sekitarnya, dia kaya raya, hidup bergelimangan harta, tapi tidak pernah terbersit difikirannya untuk berbagi pada anak-anak panti seperti ini, sampai Naya membuka matanya dan melihat bagaimana gadis itu mengajarkannya secara tidak langsung pentingnya berbagi pada sesama.


"Ayok adik-adik ikutin kakak." perintah Naya, "Mass, ayokk, malah bengong." tegur Naya karna suaminya itu terlihat melamun.


"Akhhh iya, ayok."


"Terimakasih kakak cantik dan om ganteng." ujar setiap anak setelah mendapat jatah.


Lio yang tadinya merasa terharu kini terlihat jengkel, bagaimana tidak, anak-anak itu memanggilnya om, diakan tidak setua itu.


Naya terkekeh melihat ekpresi suaminya, "Tidak usah tersinggung begitu mas, maskan memang sudah om-om." ledek Naya.


"Kamu juga jangan ikut-ikutan donk Nay, akukan tidak setua itu."


"Jangan menolak tua mas, meskipun om-om, mas masih ganteng kok."


Diluar kemauannya, Lio tersenyum tipis mendengar pujian Naya.


Seorang perempuan memakai kerudung coklat muda bersama anak yang tadi menawarkan diri memanggil pengelola panti terlihat berjalan mendekat ke arah mereka.


"Asslamuaikum mas, mbak, selamat datang di panti kami yang sederhana ini." sapa wanita itu ramah dengan senyum tulus, "Saya ibu Wahidah, pengelola pantai asuhan cinta kasih ini." perempuan tersebut memperkenalkan dirinya.


"Walaikumussalam bu, terimakasih karna kami diterima disini, saya Naya dan ini suami saya, namanya mas Lio." Naya balik memperkenalkan diri pada wanita tersebut yang ternyata merupakan pengelola panti asuhan cinta kasih.


Dua wanita itu kemudian berjabat tangan, sedangkan bu Wahidah dan Lio sama-sama mengatupkan tangannya didepan dada.

__ADS_1


"Terimakasih ya mas, mbak, karna telah membawa oleh-oleh untuk anak panti, itu sangat berarti bagi mereka."


"Sama-sama bu, kebetulan kami ada rezeki." jawab Naya merendah.


"Oh ya mas, mbak, ayok kita ke ruangan saya saja biar lebih leluasa ngobrolnya disana."


Naya mengangguk, "Baik bu."


"Rina." teriak bu Wahidah.


Seorang anak kira-kira berumur 15 tahun mendekat, "Iya bu."


"Tolong awasi adik-adikmu ya, ibu menerima tamu dulu."


"Baik ibu."


"Ayok mbak, mas."


"Iya bu."


Mereka bertiga berjalan secara beriringan menuju ruangan bu Wahidah.


****


Saat diruangan bu Wahidah, Naya menceritakan maksud kedatangannya, kadang Lio juga menyahut mendukung argumen istrinya. Bu Wahidah mangut-mangut sebagai tanggapan.


"Jadi, mbak Naya dan mas Lio mau mengadopsi anak ya."


"Iya, begitulah bu."


"Akhh saya senang sekali mendengarnya, akhirnya salah satu dari anak-anak tersebut akan memiliki keluarga yang utuh." bu Wahidah terharu, selalu begitu yang dirasakan oleh wanita setengah baya itu saat ada yang berniat mengadopsi anak dari pantai asuhan yang dikelolanya.


"Kami berjanji akan menyayangi anak yang nantinya akan kami adopsi dan menganggapnya seperti anak sendiri, iyakan mas."


"Iya." jawab Lio seadanya.


"Iya, saya yakin kalian adalah orang-orang yang baik dan bertanggung jawab." sahut ibu panti.


"Tadi itu hanya sebagian anak panti yang mbak dan mas temui, sisanya ada diruang seni dan ruang musik, mereka-mereka itu lebih suka menghabiskan waktu mereka dengan hal-hal yang bermanfaat daripada harus bermain." ibu Wahidah menjelaskan.


"Kalau begitu, bolehkah kami bertemu dengan anak-anak yang lainnya bu." pinta Naya.


"Ohhh tentu saja boleh mbak." ibu Wahidah dengan senang hati mengajak Naya dan Lio untuk bertemu anak-anak panti yang lainnya, "Kalau begitu, ayok mbak Naya dan mas Lio saya ajak menemui anak-anak, mbak dan mas bisa memilih anak yang mbak dan mas sukai untuk di adopsi." bu Wahidah berdiri yang diikuti oleh Naya dan Lio.

__ADS_1


****


__ADS_2