Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MABUK


__ADS_3

Entahlah, sudah berapa gelas minuman beralkohol yang masuk kelambung Lio, yang jelas saat ini dia dalam keadaan setengah sadar, bicaranyapun ngelantur, untungnya Rafa yang saat ini bersamanya masih sadar karna dia hanya minum satu gelas saja.


Ketika dia tengah bersantai dengan keluarganya dirumah, karna kebetulan malam ini dia berniat menginap dirumah orang tuanya, tiba-tiba Lio menelponnya dan mengajaknya pergi ke bar, bar menjadi sesuatu hal yang tidak asing buat dua orang tersebut mengingat mereka sering berkunjung ke bar setiap akhir pekan. Setau Rafa Lio selalu bisa mengontrol dirinya, tidak berlebihan dalam menegangak minuman memabukkan tersebut, tidak pernah sampai kebablasan begini, kecuali kalau Lio punya masalah berat, fikir Rafa, itulah yang mungkin dialami oleh Lio saat ini, tapi apa masalah berat yang dihadapi Lio, Rafa tidak tahu karna Lio sama sekali tidak mau bicara. Ketika Lio kembali mengarahkan gelas berisi cairan keemasan itu ke bibirnya, Rafa buru-buru menahan Lio, "Cukup Lio." Rafa mengambil alih gelas tersebut dari tangan Rafa.


Lio menggapai, "Kembalikan minuman gue, gue butuh itu."


Tanpa mengindahkan Lio, Rafa berkata, "Mending kita balik saja sebelum lo tewas oleh minuman itu." Rafa melingkarkan lengannya dibahu Lio untuk memapah Lio.


Namun Lio menepisnya, "Lepasin gue, gue masih mau disini."


"Anjirrr, lo bikin susah hidup aja."


Dengan tenaga penuh, Rafa menarik Lio dan kembali memapahnya, kali ini Lio tidak berontak lagi.


"Apa sieh yang terjadi dengannya, apa mungkin dia diputusin sama Cleo." Rafa bertanya-tanya dalam hati, "Iya itu yang paling masuk akal." fikirnya.


"Huh." Rafa menghembuskan nafas begitu berhasil mendudukkan Lio di mobilnya, tenaganya terkuras habis memapah Lio.


"Kalau bos sepuh tahu cucu kesayangan teler begini dia pasti bakalan marah besar." gumam Rafa melihat kondisi Lio yang sudah tidak sadarkan diri, "Apa gue bawa ke apartemen gue aja kali ya." Rafa mempertimbangkan, "Tapi pasti Naya khawatir, mending gue telpon dia saja." Rafa melihat jam digital diponselnya yang menunjukkan angka 12.30, "Jam segini pasti Naya sudah tidur, mana enak ganggu dia, tapi gak ada salahnya kan mencoba."


Dengan pemikiran tersebut Rafa mendial nomer Naya dan pada deringan pertama, panggilannya langsung terjawab, "Mas Rafa, apa mas Lio saat ini lagi bersama mas Rafa, Naya khawatir, soalnya nomer mas Lio gak aktif Naya hubungin." Naya langsung membrondong Rafa dengan pertanyaan.


Bukannya menjawab pertanyaan Naya, Lio malah balik nanya, "Nay, kamu belum tidur."


"Gimana Naya bisa tidur mas kalau suami Naya belum pulang."


"Naya bener-bener istri yang baik, rugi banget kalau Lio menyia-nyiakan Naya." batin Rafa.


"Mas Rafa, mas Lio sama mas kan."


"Iya Nay, jangan khawatir, saat ini suami kamu tengah bersamaku."


"Syukurlah, apa kalian baik-baik saja."


"Iya."

__ADS_1


"Terus kenapa kalian belum pulang tanpa pemberitahuan, bikin orang rumah khawatir saja."


"Iya, ini juga sudah mau pulang kok."


"Mas Lionya mana mas."


"Dia, dia..." gak enak rasanya Rafa memberitahu Naya kalau saat ini Lio tengah tak sadarkan diri karna dalam kondisi mabuk berat, "Nay, bolehkan Lio nginep malam ini diapartemenku."


"Nginep, emang mas Lio bilang mau nginep disana."


"Gak sieh, aduh gimana ya ngomongnya."


"Mas, apa yang terjadi dengan mas Lio, jangan bikin Naya khawatir."


"Jangan kaget ya Nay kalau aku kasih tahu."


"Emang apa yang terjadi." Naya mendesak.


"Lio.." Rafa terdiam.


"Gak gak, bukan seperti itu Nay."


"Syukurlah, terus apa yang terjadi dengan mas Lio."


"Lio mabuk berat Nay."


"Mabuk."


"Iya, makanya aku ingin membawanya keapartmenku, kalau dibawa pulang, bisa-bisa bos sepuh ngamuk kalau lihat cucunya mabuk begini."


"Kakek dan mama sudah tidur mas, Naya pastikan kalau mas membawa pulang mas Lio tidak ada yang tahu."


"Baiklah kalau begitu, aku akan membawa Lio pulang."


****

__ADS_1


Naya menunggu kedatangan Rafa didepan, ketika dilihatnya pendar lampu mobil menerobos gerbang, Naya berlari untuk membukakan gerbang. Rafa turun dari mobil.


"Mas Lio mana mas."


"Tuh." Rafa mengedikkan dagunya kedalam mobil.


Rafa berjalan kearah pintu mobil untuk memapah Lio, "Mas Lio, astaga, kenapa bisa mabuk begini sieh."


"Sorry ya Nay, aku gak bisa mencegah Lio."


"Bukan salah mas, biar Naya saja yang membawa mas Lio kedalam."


"Emang kamu bisa."


"Bisa mas." Naya mengambil alih memapah Lio, sebelum masuk dia berkata, "Makasih mas karna telah membawa mas Lio pulang."


"Santai aja Nay."


"Mas hati-hati dijalan."


"Oke, dan Nay, pastikan tidak ada yang tahu kalau Lio mabuk berat."


Naya mengangguk, dia berjalan pelan sambil memapah Lio memasuki rumah, agak susah mengingat Lio sangat berat, dan setelah perjuangan yang menguras tenaga dan energi akhirnya dia berhasil membawa Lio ketempat tidur.


Naya melepas sepatu Lio dan melepas jas yang masih melekat ditubuh Lio, kemudian dasinya supaya Lio bisa tidur dengan nyaman, disaat Naya tengah sibuk melepas dasi tersebut Lio membuka matanya perlahan, dia tersenyum sambil menepuk mengelus pipi Naya, dia bergumam, "Kamu cantik sekali Cleo, jangan pernah tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu."


Sempat melambung karna berfikir Lio memujinya, Naya terhempas mendengar nama gadis lain keluar dari bibir suaminya, Naya sakit hati mengetahui suaminya ternyata mencintai wanita lain, Naya beranjak dari tempat tidur, namun sebelum dia sempat menjauh, Lio menariknya dan mencium Naya dengan paksa, Naya berontak, tapi kekuatannya tentu saja tidak ada apa-apanya dibanding Lio, perlahan ciuman Lio berubah lembut dan itu berhasil membuat Naya luluh dan melupakan sakit hatinya, ini merupakan hal pertama bagi Naya sehingga dia masih kaku, Lio kemudian merubah posisinya sehingga Naya kini berada dibawah.


Naya takut, tapi dia harus melakukannya karna itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri, dia hanya berharap kalau Lio melakukannya dengan pelan, "Mungkin ini saatnya." Naya memantapkan hatinya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Mas, aku takut." lirihnya.


"Ssttt." Lio meletakkan jari telunjuknya dibibir Naya dan kembali mencium Naya.


Dan Naya kembali terbuai dengan belaian Lio, dan terjadilah yang seharusnya terjadi, malam itu mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri.

__ADS_1


****


__ADS_2