
Saat itu Lio baru keluar dari ruang meting, dia meraih saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang dinonaktifkan selama meting, dan begitu benda pipih itu menyala, sebuah pesan masuk diponselnya, senyum terukir dibibirnya begitu tahu kalau pesan itu dikirim oleh sang istri, namun senyumnya langsung lenyap begitu membaca bunyi pesan tersebut.
"Astgaaa, bisa-bisanya Naya keluar sendiri, diakan tidak tahu seluk beluk kota Jakarta, kalau terjadi apa-apa sama dia gimana, mana dia lagi hamil lagi." kepanikan jelas terpancar dari raut wajahnya.
Tanpa perlu berfikir, Lio langsung menghubungi ponsel Naya, dia begitu lega begitu panggilannya langsung diangkat, namun saat bibirnya sudah digerakkan untuk menanyakan dimana keberadaan Naya, sambungan itu langsung terputus.
Lio kembali mencoba menghubungi nomer Naya, tapi ponselnya Naya malah tidak aktif, "Apa-apaan ini, kenapa sekarang jadi tidak aktif begini." rasa khawatir langsung menguasai fikiran Lio saat mengetahui nomer Naya tidak aktif, Lio kembali mencoba menelpon, tapi sayangnya, suara operator perempuan yang kembali didengarnya.
Kekhawatiran Lio semakin menjadi-jadi, dia takut terjadi apa-apa sama Naya diluaran sana, apalagi sekarang tingkat kejahatan terhadap perempuan sering terjadi tanpa mengenal tempat.
"Sialan." umpatnya saat dia tidak kunjung berhasil menghubungi nomer Naya.
Rafa yang keluar paling akhir dari ruang meting bingung begitu melihat sahabatnya itu uring-uringan didepan ruang meting, Rafa menghampiri dan ingin menanyakan penyebab Lio jadi uring-uringan begitu, karna seingat Rafa, selama rapat, mood Lio baik-baik saja, tidak ada suatu hal apapun yang membuat Lio marah ataupun kesal selama meeting berlangsung.
"Lio." Rafa menepuk pundak Lio, "Lo kenapa, kok kelihatan panik begitu."
"Naya Raf."
"Naya, kenapa Naya, apa yang terjadi dengan Naya, dia baik-baik sajakan." Rafa jadi ikutan panik padahalkan Lio hanya menyebut nama Naya doank belum menceritakan kejadian lengkapnya.
"Nomer Naya tidak aktif."
"Nomer Naya tidak aktif." Rafa mengulangi kata-kata Lio, rasa khawatir yang tadi menyerangnya langsung sirna begitu mendengar penjelasan Lio, "Dan hanya karna gara-gara itu lho uring-uringan begini, ohh ya Tuhan Lio, lo itu bukan anak ABG labil yang harus drama begini hanya gara-gara ponsel bini lo gak aktif, siapa tahu saat ini bateri ponsel Naya habis dan dia lagi menchargernya, atau siapa tahu dia lagi tidur siang karna tidak mau diganggu hingga dia sampai mematikan ponselnya."
"Gue gak mungkin panik kalau beneran Naya melakukan apa yang lo katakan barusan." ketus Lio, "Saat ini Naya ada diluar Raf, sendirian." pada kata sendirian, Lio bener-bener menekan ucapannya, "Dan lo tahu sendiri, Naya itu tidak tahu seluk beluk kota Jakarta, gimana gue gak panik coba."
"Dari mana lo tahu kalau Na...."
Rafa belum menuntaskan pertanyaannya karna Lio langsung menghadapkan layar ponselnya yang berisi pesan Naya didepan wajah sahabatnya itu.
"Beneran sendirian dia." respon Rafa begitu selesai membaca pesan yang dikirim Naya pada Lio.
"Kalau dia ditemani pak Ridwan atau mbak Wati gue gak akan sepanik ini."
"Lo tenang Lio, jangan panik begitu oke." Rafa berusaha untuk menenangkan, "Pesan itu mungkin dikirim beberapa jam yang lalu, dan siapa tahu sekarang Naya sudah pulang, coba deh lo telpon orang rumah tanyakan apakah Naya sudah ada dirumah atau tidak." saran Rafa.
Lio membenarkan apa yang dikatakan oleh Rafa, saking paniknya sampai membuat Lio tidak bisa berfikir jernih, "Lo benar juga."
Lio mencari nomer pak Ridwan dan menghubunginya.
"Pak Ridwan, Naya ada dirumahkan." tanya Lio tanpa basa-basi saat panggilannya dijawab oleh pak Ridwan.
"Nona muda bukannya dikamar tuan, lagi istrihat." pak Ridwan menjawab begitu mengingat satupun penghuni rumah tidak ada yang tahu kalau Naya pergi.
Lio tidak langsung percaya begitu saja mendengar jawaban sopir keluarganya itu, "Pak Ridwan yakin kalau Naya ada dikamar."
"Setahu saya begitu tuan, karna nona lebih sering menghabiskan waktunya dikamar, memang ada apa tuan, suara tuan terdengar khawatir begitu."
Karna tidak mau menjelaskan, Lio memerintahkan, "Pak Ridwan, tolong suruh mbak Wati memeriksa apakah Naya dikamar atau tidak."
"Mohon maaf tuan, kenapa tuan tidak menghubungi nomer nona."
"Kalau nomer istrinya saya aktif, tidak mungkin saya menghubungi pak Ridwan." nada suara Lio agak meninggi, sejak tadi dia berusaha menahan emosninya supaya tidak meledak-ledak.
"Ohh baiklah kalau begitu tuan, saya akan meminta Wati untuk memeriksa kamar nona muda."
Tanpa banyak bertanya pak Ridwan langsung melakukan perintah tuan mudanya, dia dengan tergesa-gesa menghampiri mbak Wati yang kini tengah menyiapkan makan siang didapur.
"Wati, kamu coba periksa, apa nona ada dikamarnya atau tidak."
"Ada apa sieh pak, datang-datang nyuruh saya ke kamarnya nona, saya gak enaklah, lagian juga mungkin saat ini nona muda lagi istirahat." jawab mbak Wati enggan, dia tidak tahu kalau perintah itu dari tuan mudanya.
"Ini perintah dari tuan muda Wati, katanya nomer nona tidak aktif sejak tadi."
"Ohh baiklah, saya akan melihat nona ke kamarnya kalau gitu." mendengar inforamasi tersebut, mbak Wati langsung ngacir menuju lantai dua dimana kamar Naya dan Lio berada.
Mbak Wati mengetuk pintu, "Nona, apa nona didalam."
Mbak Wati tidak mendengar sahutan, sehingga dia kembali mengetuk, "Nona Naya, apa nona lagi istrirahat, tuan Lio khawatir sama nona, katanya nomer nona tidak aktif." tetap mbak Wati tidak mendengar jawaban dari Naya, ya jelaslah tidak ada yang menjawab, Nayakan saat ini tidak tahu entah dimana keberadaannya.
"Nona kok gak nyahut-nyahut, apa tidurnya nyenyak banget kali ya sampai gak denger begini." mbak Wati bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
Karna tidak tidak mendapat jawaban, mbak Wati membuka pintu dengan perlahan hanya untuk memastikan dugaannya, kepalanya melongok untuk melihat apa sang nona muda tengah tidur atau tidak, tapi matanya hanya menemukan tempat tidur yang kosong melompong.
Mbak Wati langsung menerobos masuk dan melangkah dengan cepat menuju pintu kamar mandi dan membukanya tanpa bertanya apakah ada orang atau tidak, dan kamar mandi juga terlihat kosong.
"Ya Tuhan, nona Naya kemana."
Mbak Wati langsung berlari memberi laporan sama pak Ridwan yang menunggunya dibawah tangga.
"Pak, nona Naya tidak ada dikamarnya."
Saat ini pak Ridwan masih terhubung dengan Lio, dan saat mendengar teriakan ARTnya itu dia langsung merespon, "Apa,? Naya tidak ada dikamar."
Karna pak Ridwan mengaktifkan pembesar suara membuat suara Lio yang terdengar emosi bergaung.
Dengan takut-takut mbak Wati membenarkan, "Iya tuan, nona tidak ada dikamar, saya juga sudah memeriksa kamar mandi, tapi nona juga tidak ada disana."
"Berarti Naya belum kembali sampai sekarang."
"Memangnya nona kemana tuan." mbak Wati bertanya begitu mendengar kalimat Lio.
"Ya mana saya tahu, kalau saya tahu saya tidak akan menelpon begini untuk menanyakan apakah Naya ada dirumah atau tidak." Lio meledak-ledak.
"Kok bisa kalian tidak ada yang tahu saat Naya pergi, apa saja yang kalian lakukan dirumah hah."
"Kami benar-benar tidak tahu nona pergi tuan, mungkin nona pergi saat saya mengantarkan tuan besar chek up rutin, dan saat itu juga Wati pergi ke pasar, ada bi Darmi dirumah, tapi beliau lagi sakit dan tidak keluar kamar." pak Ridwan menjelaskan supaya tuan mudanya itu tidak melimpahkan kesalahan kepada mereka.
Kakek Handoko yang mendengar suara ribut-ribur dari dalam kamarnya berjalan tertatih-tatih menuju sumber keributan, di bawah tangga dia melihat dua pekerjanya tengah berdiri dengan wajah tegang, kakek Handoko berjalan menghampiri kedua orang itu untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ini, saya denger dari kamar ada suara ribut-ribut, memang apa yang terjadi sampai ribut-ribut begini."
"Tuan besar." ujar pak Ridwan dan mbak Wati bersamaan dan menundukkan pandangan, dalam hati masing-masing kedua ART itu memiliki pemikiran yang sama yaitu, "Kalau tuan besar tahu nona Naya saat ini tidak ada dirumah, dia pasti akan marah besar seperti tuan Lio." begitulah kira-kira yang mereka fikirkan.
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa kalian ditanya malah diam." bentak kakek Handoko karna pertanyaannya belum kunjung dijawab.
"Anu....itu tuan." suara mbak Wati terbata-bata.
"Naya gak ada dirumah kakek." itu suara Lio yang menyahut dari sambungan ponsel.
"Naya keluar rumah sejak beberapa jam yang lalu, dan sampai sekarang dia belum kembali."
"Naya keluar rumah, kapan, kok kakek tidak tahu, biasanya anak itu selalu izin sama kakek kalau mau pergi kemanapun."
"Anu tuan." pak Ridwan menyela, "Mungkin nona muda pergi saat semua orang tidak ada dirumah, dan sampai sekarang nona belum kembali."
"Sini ponselmu Ridwan."
"Ini tuan." pak Ridwan menyerahkan ponsel milikinya yang masih terhubung dengan Lio.
"Apa kamu sudah menghubungi Naya Lio." tanya kakek Handoko saat ponsel milik sopirnya itu berpindah tangan.
"Kalau Naya bisa dihubungi, Lio tidak mungkin nelpon ke rumah dan sepanik ini kakek."
"Oke baiklah kamu tenang dulu."
"Bagaimana Lio bisa tenang kakek, saat ini Naya ada diluar, hamil lagi, sedangkan kakek tahu Naya itu tidak tahu seluk beluk kota Jakarta, bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padanya, dia itu gadis yang lugu dan polos, dia sangat gampang untuk diperdaya."
"Lio." bentak sang kakek mematahkah fikiran negatif cucunya itu, "Jangan bilang begitu, Naya pasti baik-baik saja, kamu fikir Naya itu anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang harus kamu lakukan adalah, gunakan kekuasaanmu untuk mencari Naya, suruh beberapa orang untuk mencari tahu dimana keberadaan Naya."
"Akan Lio lakukan kek, dan Lio juga akan turun tangan sendiri untuk mencari Naya."
"Baiklah Lio, temukan Naya secepatnya, kakek hanya ingin mendengar berita baik darimu."
"Baik kakek."
Lio mengakhiri panggilan.
"Raf, hubungi Dimas, suruh dia menyebar orang-orangnya untuk mencari Naya, dan kirimkan foto Naya kepadanya untuk memudahkan anak buahnya untuk menemukan Naya."
"Baik Lio." begitu mendapatkan perintah, Rafa langsung menghubungi orang yang diminta oleh sang bos.
Sedangkan Lio setelah memberi perintah langsung tancap gas, tujuannya apa lagi kalau bukan mencari Naya, meskipun dia sudah meminta Rafa untuk menyuruh orang-orang suruhan Dimas untuk mencari keberadaan Naya, namun jelas saja Lio tidak mau berpangku tangan, dia tidak tenang kalau tidak secara langsung terjun mencari Naya.
__ADS_1
Bayangan wajah Naya yang polos menguasai fikirannya, "Dimana kamu Naya, kenapa kamu membuat khawatir aku begini."
Setelah selesai melakukan apa yang diperintahkan oleh Lio, Rafa yang melihat Lio pergi langsung menyusul, "Lio, gue ikut lo mencari Naya."
Begitulah Rafa, selalu ada disaat suka dan duka, selalu ada untuk membantu sahabatnya itu.
****
"Sakit apa sieh sebenarnya aku ini, kenapa aku tidak berhenti muntah-muntah sejak tadi."
Saat ini Cleo terbaring lemah ditempat tidurnya, dia yang tadinya berniat ke rumah sakit mengurungkan niatnya, gimana mau kerumah sakit, kalau dia saja tidak sanggup untuk berjalan, untuk itu dia menghubungi salah satu sahabatnya yaitu Andin untuk meminta bantuan dengan mengirim pesan.
Cleo : Ndin, lo dimana.
Andin : Kasih tahu gak ya
Cleo : Gue serius sialan
Andin : Etdah, santai neng, emang ada apaan sieh, tumben banget nanyain, lo kesepian ya karna dicuekin sama om-om lo itu ya makanya lo nyari gue.
Mengabaikan sindiran Andin, Cleo memberitahu Andin tujuannya menghubunginya.
Cleo : Gue sakit nieh, dan gue lagi butuh bantuan.
Andin : Tuhkan, saat sakit begini baru deh ingat sahabat, pas lagi happy aja ingetnya sama sik om
Cleo : Ya udah deh kalau lo ga mau bantu.
Cleo jadi ngambek.
Andin : Dihh ngambek, oke oke, lo mau gue bantuin apa tuan putri.
Cleo : Tolong bawain gue obat donk Ndin ke apartmen gue.
Andin : Emang lo gak ada persiapan obat dikotak P3K lo.
Cleo : Ada, cuma itu obat penurun panas dan sakit kepala, saat ini gue muntah-muntah hebat sejak tadi, dan gue gak punya obat untuk orang muntah-muntah.
Andin : Muntah-muntah, lo hamil kali.
Andin gak berniat apa-apa sieh, cuma iseng doank, tapi kata-kata Andin tersebut membuat Cleo seperti tersambar petir disiang bolong yang cerah.
Cleo menggeleng, "Gak mungkin, gak mungkin gue hamilkan." Cleo berusaha menyangkal praduganya tanpa suara.
Andin : Cle, oooo Cle, kok lo diem sieh, bercanda gue itu, masak iya lo hamil, lokan belum punya suami, iyakan.
Cleo : Ndin, udah dulu ya
Andin : Jadi gue bawain obat muntah-muntahnya gak.
Cleo : Gak usah terimakasih, kayaknya sekarang gue udah sehat.
Andin : Lo itu ya Cleo, labil amet jadi cewek, satu menit yang lalu katanya sakit, muntah-muntah terus, sekarang udah langsung sehat aja, ganggu gue aja lo.
Tanpa membalas omelan sahabatnya itu Cleo langsung mematikan telpon, dia yang tadinya merasa lemah tidak mampu melakukan aktifitas apa-apa kini seperti punya tenaga kembali, dia langsung meraih kalender kecil yang ada dinakas samping tempat tidurnya, dia melihat siklus mentruasinya, Cleo melotot saat melihat tanggal yang tertera dikalender, "Gue telat, astaga, kok bisa." paniknya, namun dia berusaha untuk menenangkan diri, "Jangan panik Cleo, jangan panik." dia menarik nafas dan menghembuskannya, hal itu dilakukan beberapakali untuk membuat dirinya tenang, "Aku akan sudah biasa telat datang bulan, jadi seharusnya ini bukanlah sebuah masalah, hanya telat dua minggu bukan berarti aku hamilkan." itu adalah kata-kata yang dilafalkan untuk menghibur dirinya, "Iya, aku gak mungkin hamil, gak mungkin."
Tapi meskipun berulangkali mengucapkan kalimat tersebut, Cleo masih belum tenang kalau tidak membuktikannya, sehingga tanpa menunggu lama, dia bergegas turun dari ranjang, keluar dari apartmennya dengan tujuan ke supermarket didepan gedung apartmen untuk membeli alat tes kehamilan alias tespeck.
Dan kini Cleo sudah berada didalam kamar mandi didalam apartmennya, untuk membuktikan apakah dia benaran hamil atau tidak. Lima tespeck dengan merk berbeda telah dia celupkan di air seninya, dan dia hanya tinggal menunggu hasilnya, dan beberapa menit penantiannya, dia memandang kelima tespeck yang kini berada ditangannya dengan mata melebar, tangannya gemetar, shock tentu saja dia rasakan begitu melihat kelima tespeck yang dia belinya menampilkan dua garis berwarna merah terang.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin, aku tidak hamilkan, ini pasti salah."
Tespeck tersebut berjatuhan dari tangan Cleo, "Aku gak mungkin hamil, aku gak mungkin hamil." sekuat apapun dia menyangkal, toh tidak akan merubah hasil nyata yang diberikan oleh tespeck-tespeck tersebut.
"Kenapa aku bisa seceroboh ini sieh, kenapa, ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang, apa dia mau bertanggung jawab."
"Aku tidak mau bayi ini lahir tanpa bapak, tidak mau."
Cleo menjambak rambutnya, dia tampak frustasi, "Akhhhhh." teriaknya membating benda-benda yang ada disekitarnya.
"Aku tidak mungkin hamil, tidak mungkin." setelah lelah berteriak, Cleo memilih duduk meringkuk dikamar mandi dibawah guyuran air shower yang dingin, berfikir kalau dinginnya air mampu menjernihkan fikirannya yang tengah kalut saat ini.
__ADS_1
****