Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BOY PATAH HATI


__ADS_3

"Apa sieh maksud kamu Ta, kamu menyumpahi kakak mati." 


"Iya Leta bukannya menyumpahi kakak mati sieh, tapi sepertinya kakak beneran akan mati ditangan mama."


"Bicara yang jelas kamu Leta."


"Kak, kakak ingat tidak anak teman mama yang akan dikenalkan sama kakak, malam inikan kakak rencananya akan makan malam sama anak mama itu."


"Astagaa." Rafa menepuk keningnya, "Gue lupa lagi dengan acara makan malam itu, pasti mama akan ngamuk sama gue." desahnya membayangkan amukan sang mama yang lebih mengerikan daripada amukan Hulk.


"Nahhh tuh cewek mengadu sama mama karna kakak katanya gak datang, dari tadi gue denger mama marah-marah tuh dibawah." lapor Leta.


"Pantesan saja mama nelpon gue berkali-kali." tadi memang mamanya nelpon saat dia berada dirumah Lio, namun karna suara deringan ponselnya disilent, makanya dia tidak tahu kalau mamanya menelpon.


"Siap-siap ya kak bakalan kena amuk mama, lagian kakak kenapa bisa lupa sieh acara makan malam dengan calonnya kakak, bener-bener kakak ini."


"Kakak tadi habis ke rumah Lio, jengukin Naya yang tengah hamil."


"Hahhh, mbak Naya hamil kak." tanya Leta antusias mendengar berita itu dari kakaknya.


"Iya."


"Astagaa, aku seneng banget dengernya, akhirnya mbak Leta hamil juga, besok-besok aku kerumahnya deh untuk lihat mbak Naya."


"Oh ya kak, hampir lupa aku, katanya besok sepulang kerja kakak disuruh pulang ke rumah sama mama, kakak pasti bakalan disidang oleh mama."


"Sudahlah Ta, kakak mau tidur ini, jangan gangguin kakak lagi." tandas Rafa mematikan sambungan secara sepihak.


Rafa lebih memilih tidur untuk saat ini, masalah mamanya, besok dia fikirkan.


****


"Lio." tegur Rafa.


Mungkin karna sahabatnya, meskipun Lio adalah atasannya dikantor, Rafa main nyelonong saja memasuki ruangan Lio sang presdir.


Lio mendengus, entah kenapa dia masih kesel sama sahabatnya itu gara-gara menurutnya Rafa terlalu berlebihan memperhatikan Naya, Rafa pakai mengatakan kalau Naya adik kandungnya sendiri lagi.


"Apa." ketusnya saat melihat wajah sahabatnya itu.


Rafa yang seolah-olah tidak mempedulikan nada ketus itu memberitahu niatnya nyamperin sahabat sekaligus bosnya itu diruangannya, "Lo sudah denger gak kabar kalau istrinya sik Marko melahirkan."


"Hmmm, gue sudah tahu, anak-anak pada heboh tuh digrup chat."


"Gue dan anak-anak, bukan anak-anak seih, sebenarnya cuma gue, Choki dan Rio sieh, kami rencananya mau jengukin istrinya Marko setelah jam kantor, lo mau ikut gak, gue sudah meminta Rani untuk memesankan buah tangan untuk dibawa untuk menjenguk istri dan anaknya Marko dirumah sakit."


"Gue ikut deh."


"Gila ya sik marko, gak gue sangka plaboy cap kadal itu akhirnya menikah dan punya anak juga." takjub Rafa mengingat sahabat mereka semasa SMA itu sering berpindah ke lain hati.


"Ohhh, iya, lokan juga calon bapak Lio." seru Rafa mengingat laki-laki yang ada dihadapannya saat ini juga sebentar lagi akan punya bayi.


Lio yang saat ini tidak mau membahas hal yang tidak penting dengan segera mengusir Rafa, "Raf, kalau urusan lo sudah selesai, lebih baik lo keluar deh, gue masih banyak kerjaan."


"Oke bos." 


Rafa melangkah menuju pintu meninggalkan Lio yang kembali berkutat dengan kesibukannya.


****


"Naya kok susah banget ya didekatin, dia jarang banget ngerespon saat gue chat, telpon gue jarang diangkat." desah Boy yang terlihat melamun dengan menyangga dagu dengan tangannya.

__ADS_1


"Heyy bro." Aldo menyenggol lengannya, "Ngelamun saja, sampai Leta manggil gak didenger.


Senggolan itu membuat Boy kembali ke dunia nyata, dan melihat Leta yang berjalan ke arahnya dengan senyum lebar.


Saat Leta muncul dikelasnya, mata-mata temannya yang cowok tidak berkedip memandang indahnya ciptaan Tuhan yang terdampar dikelas mereka.


"Leta makin bening ya, yakin nieh lo gak suka." bisik Aldo.


"Guekan sudah bilang ya Al, Leta teman gue, dan akan selalu jadi teman gue."


"Duhhh, rugi banget kalau hanya dijadiin teman doank, gue heran sama lo, kenapa gak tertarik sieh sama Leta, lo lihat tuh, anak-anak saja sampai ileran karna melihat kecantikan Leta yang bak bidadari yang baru turun dari kahyangan, bahkan Alvin sudah gerak cepat untuk mendekati Leta."


"Bisa gak sieh lo tutup mulut lo, lo itu cowok, tapi kata-kata yang lo keluarkan lebay deh kayak cewek saja." 


"Oke oke sorry, seharusnya gue tahu lo udah menyukai cewek lain."


"Hai Boy, hai Aldo." sapa Leta saat berada didekat Boy dan Aldo.


"Hai Leta." balas Boy dan Aldo barengan.


"Duduk Ta." Aldo berdiri dan merelakan tempat duduknya untuk Leta.


"Makasih Al, baik banget sieh lo." 


"Sama-sama cantik." balas Aldo yang membuat Leta tersenyum malu.


"Sorry ya Boy kalau gue sampai nyamperin lo ke kelas." 


"Memang ada apa Ta, lo ada perlu sama gue."


"Gue mau ngajakin lo ketemu sama mbak Naya."


"Pucuk ditiba ulampun tiba." senengnya dalam hati mendengar tawaran itu, tanpa berfikir panjang dia mengiyakan ajakan Leta, "Oke, kita berangkat sekarang."


"Iya."


"Iya sudah kalau gitu ayok kita cabut sekarang."


"Woeee, gue cabut dulu." teriak Bara pamit sama Aldo.


"Mau kemana lo."


"Mau tahu aja lo."


*****


Saat mereka tiba dirumah besar, mbak Watilah yang menyambut kedatangan mereka.


"Ehhh non Leta, cari non Naya."


"Iya mbak, mbak Nayanya adakan."


"Ada non, ayok silahkan masuk dulu, nanti saya panggilkan mbak Naya."


"Iya mbak."


"Laki-laki tampan ini pacarnya mbak Leta ya." tanya mbak Wati melihat Leta datang bersama laki-laki.


"Inginnya sieh begitu." jawaban Leta dalam hati, lisannya berkata, "Bukan mbak, ini mas Boy, temannya Leta."


"Iya mbak, kami hanya teman." Boy menegaskan.

__ADS_1


"Ohhh teman toh, tak fikir pacar, habisnya cocok siih." Leta jadi malu-malu dibilang cocok sama mbak Wati.


Berbanding terbalik dengan Boy yang hanya memasang ekpresi datar.


"Ahh, mbak Wati bisa saja." 


"Ehh iya jadi lupa, ayok dulu nona, mas, saya panggilkan nona Naya dulu." mbak Wati mempersilahkan.


"Terimakasih mbak."


Beberapa menit kemudian, Naya datang menghampiri, dia begitu senang melihat kedatangan Leta, satu-satunya teman perempuan yang dia miliki di Jakarta, "Mbak Leta." tegurnya.


Baik Leta dan Boy langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Mbak Naya." gumam Leta bangun menyambut kedatangan Naya.


Dan seperti tradisi wanita-wanita Jakarta pada umumnya, mereka berpelukan dan cupika-cupiki.


Boy tidak berkedip memandang Naya, wanita yang selalu dia impiakan selama beberapa hari, "Kok Naya makin cantik ya." pujinya dalam hati.


"Ada mas Boy juga ternyata." sapanya.


"Iya Nay, Leta ngajakin aku ikut, tidak apa-apakan."


"Tidak apa-apa donk mas."


Begitu mereka duduk kembali, Leta langsung memegang perut Naya, "Bagaimana keadaan mbak Naya dan dedek bayi yang ada didalam perut."


Seperti disiram oleh air es, itulah yang dirasakan oleh Boy saat mendengar ucapan Leta, "Apa maksudnya Leta memegang perut Naya dan mengatakan dedek bayi."


Boy tidak perlu bertanya maksud dari kalimat Leta barusan, karna jawaban Naya memperjelas semuanya.


"Alhamdulillah kami berdua sehat mbak, mbak pasti dikasih tahu sama mas Rafa ya."


"Iya, kak Rafa yang ngasih tahu."


"Kamu hamil Nay." Boy memaksakan diri untuk bertanya, meskipun dia sudah mendengar secara langsung, tapi dia hanya ingin sekedar memastikan.


Leta yang menjawab, "Iya mas, mbak Naya hamil."


"Kapan kamu nikahnya, kok tiba-tiba hamil." dia sepertinya masih belum mempercayai pendengarannya.


Naya terkekeh, "Apa-apaan sieh mas Boy ini, Nayakan tidak tiba-tiba hamil mas, Naya sudah lumayan lama menikah, jadi wajar saja sekarang Naya hamil."


"Kok gak ada yang ngasih tahu aku ya." 


"Emang mbak Leta gak ngasih tahu mas ya kalau Naya sudah menikah."


Boy menggeleng. 


"Ahhh masak sieh, perasaan aku sudah ngasih tahu deh." sahut Leta.


"Lo tidak pernah ngasih tahu gue Leta, kalau lo kasih tahu sejak awal, tidak mungkin gue jatuh cinta begini sama istri orang." ucapan yang hanya diungkapkan dalam hati.


"Ya sudahlah, hal itukan tidak perlu dipermasalahkan, yang pentingkan mas Boy sudah tahu."


"Hmmm." wajah Boy berubah murung.


"Suami kamu siapa Nay."


"Mas Lio."

__ADS_1


"Apa, laki-laki kasar itu ternyata suaminya Naya, astagaa, kenapa Naya mau sama laki-laki seperti itu." sumpah Boy patah hati mendengar hal ini, niatnya ingin bertemu Naya untuk melepas rasa rindu, kini malah berujung jadi sakit hati.


*****


__ADS_2