Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BERJAUHAN


__ADS_3

Lio keluar dari kamar mandi setelah bersih-bersih, Naya yang beranggapan kalau suaminya itu akan tidur menyerahkan piyama untuk suaminya, namun Lio menolak.


"Maafkan aku Nay, aku harus kembali lagi ke rumah sakit."


Bahu Naya langsung merosot mendengar kata-kata suaminya, wajahnya terlihat sedih.


Lio meletakkan kedua tangannya dibahu Naya, "Percayalah, aku tidak ingin melakukannya, tapi Cleo sendirian, dia tidak punya keluarga yang menemaninya disana, sedangkan mama, mama paling tidak suka suasana rumah sakit sehingga dia memintaku untuk menemani Cleo disana."


Naya hanya diam tidak merespon, dalam hati dia berusaha mati-matian menguatkan dirinya, "Yang kuat Nay, jangan jadi wanita egois begini, Cleo itu lagi sakit dan dia hampir saja kehilangan bayinya, memang sudah seharusnya mas Lio menemaninya disaat-saat seperti ini."


"Meskipun aku berdekatan dengannya." Lio kemudian meraih tangan Naya dan meletakkannya didadanya, "Tapi percayalah, cinta dan hatiku hanya untukmu, meskipun nanti aku menikahinya, itu karna bayi yang saat ini tengah dikandungnya."


Setelah memberi penguatan pada dirinya sendiri, dan terlebih lagi mendengar ucapan suaminya, Naya berusaha untuk tersenyum, dia benar-benar berusaha untuk ikhlas meskipun itu sangat sulit untuk dilakukan, "Iya, aku percaya padamu mas, temanilah dia, saat ini memang Cleo membutuhkanmu."


Lio tersenyum, istrinya memang gadis baik yang memiliki hati yang tulus, dia menarik tubuh Naya ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala Naya, "Maafkan aku sayang, maafkan aku yang tidak henti-hentinya menyakitimu."


Dalam pelukan Lio, Naya berusaha menahan tangisnya, batinnya benar-benar diuji saat ini.


Untuk beberapa saat mereka berpelukan sebelum Naya menarik tubuhnya menjauh, "Pergilah mas, kasihan Cleo sendirian."


Lio mengangguk, dia berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaiannya.


Naya mengambil jaket tebal dan menyampirkannya dipunggung Lio, "Diluar dingin mas, pakai jaketnya, aku gak mau kamu sampai sakit"


Lio berbalik dan sekali lagi memeluk Naya, "Aku pasti akan merindukanmu." mencium pipi Naya.


"Aku juga mas."


"Sekarang, pergilah, jangan biarkan Cleo menunggu."


Setelah mencium pipi Naya untuk terakhir kalinya, Lio akhirnya pergi dengan langkah berat.


****


Sepanjang malam itu Naya tidak bisa tidur nyenyak, fikirannya selalu terarah pada sang suami yang kini tengah bersama wanita lain, wanita lain yang sebentar lagi akan menjadi madunya.


"Ya Tuhan, semoga hambamu ini kuat menjalani cobaan ini, hamba yakin, pasti ada hikmah dibalik ini semua." kalimat itu sudah lebih dari puluhan kali dilafalkan oleh Naya.


"Mas Lio, kamu lagi apa disana, apa saat ini kamu tengah memeluk Cleo yang kedinginan seperti yang sering kamu lakukan padaku, aku disini sendiri mas, aku juga butuh dipeluk." Naya menyilangkan tangannya didada untuk memeluk dirinya sendiri karna laki-laki yang biasa memeluknya saat ini tidak ada disampingnya.


Naya sesenggukan membayangkan Lio yang saat ini mungkin tengah memeluk Cleo, padahal apa yang dibayangkan sangat jauh dari kenyataan, mungkin saja saat ini Lio juga tidak bisa tidur karna tengah memikirkan sang istri yang tidur sendirian.


Ditengah suasana hati yang gelisah galau merana seperti itu, dibalik gelapnya kamar tidurnya, suara berisik dari ponselnya bergaung ditengah keheningan malam, Naya menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir begitu kepergian Lio, Naya meraba-raba untuk mencari ponsel yang dia letakkan sembarangan sambil menerka-nerka siapa gerangan yang menelponnya ditengah malam buta begini, dan begitu melihat nama suaminya dilayar, bibirnya seketika melengkung sempurna.


"Mas Lio." gumamnya senang sembari menggeser layar ponselnya untuk menjawab panggilan tersebut.


"Naya, apa kamu sudah tidur sayang, apa aku mengganggumu." terdengar suara penuh kerinduan dari seberang.


Mengabaikan pertanyaan Lio, Naya malah balik nanya, "Kenapa mas Lio menelponku."


"Emang gak boleh ya aku menelpon istriku sendiri."


"Hmmm, bukan begitu, tapikan saat ini mas Lio tengah bersama Cleo, nanti dia marah lagi kalau mas menelponku."


"Apa haknya memarahiku, diakan bukan siapa-siapaku."


"Diakan calon istrimu mas, calon dari ibu anakmu juga."


"Nayy, bisa tidak kita tidak membahas hal tersebut." suara Lio terdengar kesal saat Naya membahas tentang Cleo, padahalkan dia menelpon Naya untuk kangen-kangenan karna berjauhan begini.


"Hmmm baiklah."


"Aku kangen Nay, aku ingin memeluk kamu, dingin-dingin begini tuh enaknya tidur bareng istri."


"Bukannya disana ada Cleo yang mas bisa peluk." mulai lagi deh sik Naya.


"Dia orang lain Nay, bukan istriku." Lio jadi gemes sendiri karna Naya terus saja menyebut-nyebut nama Cleo dalam percakapan mereka.


"Tapikan sebentar lagi...."


"Stop Nay, aku tidak ingin lagi kamu membahas dia lagi." tegas Lio tidak bisa dibantah.


"Iya, maafkan Naya mas."


Hening, untuk beberapa saat tidak ada yang buka suara meskipun sambungan masih terhubung, sampai akhirnya Lio mengalah dan kembali membuka pembicaraan,


"Nay."


"Hmmm."

__ADS_1


"Saat aku nelpon, apa kamu belum tidur atau kamu sudah tidur dan terbangun karna suara deringan ponselmu." Lio mengulangi pertanyaan pertamanya yang belum mendapatkan jawaban.


"Naya tidak bisa tidur mas." jawab Naya jujur.


"Kangen aku ya." goda Lio.


"Ihhh geer amet, ya gaklah." bohongnya, padahalkan memang benar apa yang dikatakan oleh Lio.


"Jujur aja kenapa sieh sayang, ngapain pakai bohong segala."


"Beneran kok Naya gak kangen." lain dibibir lain dihati.


"Hmmm, yahhh aku kecewa, akunya kali yang kegeeran, padahal aku ingin denger kamu mengatakan kalau kamu kangen sama aku."


"Mmm, sebenarnya iya mas, Naya kangen kok sama mas Lio." Naya akhirnya mengakui juga meskipun malu-malu, "Tidak ada yang meluk Naya soalnya."


"Kamu yang sabar ya sayang, aku janji, besok pagi-pagi sekali aku akan langsung pulang."


"Iya mas, Naya rasanya tidak sabar menunggu waktu pagi supaya bisa cepat bertemu dengan mas Lio."


Mereka seperti ABG yang baru pacaran saja, padahal dua jam yang lalu mereka berpisah, sekarang sudah kangen-kangenan segala.


Lio terkekeh, "Aku juga begitu sayang, tidak sabar menunggu datangnya pagi."


"Ohh ya mas, Cleo apa gak marah mas nelpon Naya begini."


"Mau dia marah atau gak, aku gak peduli, lagian yang paling pentingkan aku sudah dirumah sakit jagain dia, dan dia tidak punya hak marah-marah saat aku nelpon istriku."


"Hmmm." gumam Naya menanggapi.


"Sudah larut Nay, kamu sebaiknya tidur, tidak baik kalau kamu begadang."


"Iya mas, mas juga tidur ya."


"Rasanya aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini Nay karna kamu tidak disampingku."


"Akhhh mas Lio lebay banget, kayak ABG saja."


"Aku gak lebay sayang, itu benar-benar ungkapan isi hatiku yang paling dalam."


"Sudahlah mas, Naya mau tidur sekarang, sebaiknya mas tidur juga ya , selamat malam mas Lio." saat Naya akan mengakhiri sambungan, Lio menahannya.


"Apalagi sieh mas."


"Supaya aku bisa tidur dengan nyenyak, kasih ciuman selamat tinggal plisss."


"Malu mas, kayak ABG alay saja pakai ciuman selamat tinggal segala."


"Ya sudah kalau begitu, aku gak mau matiin telpon."


"Mas Lio ini kok manja sekali sieh."


"Ya biarin saja, toh aku manja sama istri sendiri, gak dosakan, makanya ayok cepatan kasih ciuman selamat tinggalnya, biar aku tenang dan bisa tidur nyenyak." Lio nyolot.


Akhirnya dengan terpaksa Naya menuruti keinginan suaminya, "Mmmmmuuuahhhh."dengan suara kecil.


"Astaga sayang, kenapa suara kamu seperti dengungan nyamuk sieh, gak jelas, ayok ulangi."


"Mmmmuuuahhhh." dengan suara besar.


"Muuuuahhhhh." balasnya semangat, "Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak, Love you sayang, mimpiin aku ya dalam tidurmu."


"Love you to mas."


Dengan ucapan cinta dalam bahasa inggris mereka mengakhiri panggilan.


Setelah mendengar suara suaminya, sekarang Naya bisa tertidur nyenyak.


****


Lio juga merasakan hal yang sama, hatinya damai dan tenang setelah mendengar suara istrinya, tadi dia pamitnya ke Cleo mau ke toilet, dan sekarang mungkin lebih 30 menit semenjak dia pamit, Lio yakin Cleo pasti marah padanya karna pergi terlalu lama,


dan kalaupun seandainya Cleo benar-benar marah padanya, Lio tidak peduli.


Dan benar saja dugaan Lio, wajah Cleo begitu masam saat dirinya memasuki ruang perawatan yang ditempati oleh Cleo, bibirnya sampai maju dua senti.


"Ngapain saja di toilet sampai 30 menit, kamu bertelur disana." ujarnya dengan suara ketus.


Namun Lio mengabaikan, dia terus berjalan menuju sofa, fikir Lio, Cleo tidak punya hak sedikitpun untuk marah kepadanya.

__ADS_1


"Lio, ihhh kamu itu, malah ngacuhin aku lagi."


"Cleo, jangan gunain bibir kamu merepet terus deh, lebih baik kamu tidur, istirahat agar kamu cepat sembuh, aku juga mau istirahat, capek." tukasnya dan langsung membaringkan tubuh jangkungnya disofa, saking jangkungnya, sofa itu tidak muat menampung seluruh tubuhnya.


"Dasar menyebalkan banget sik Lio, dia disini nungguin aku tapi malah dicuekin, awas saja ya kamu Lio, aku akan buat kamu bertekuk lutut." Cleo hanya bisa menahan kedongkolannya karna diabaikan oleh Lio.


****


Pagi menjelang, Naya berdiri diteras, tujuannya apalagi kalau bukan menunggu kedatangan suaminya karna semalam Lio telah berjanji akan pulang pagi-pagi, namun Naya harus menelan kekecewaan karna suaminya itu belum juga kunjung terlihat batang hidungnya.


Naya mendesah berat, kekecewaan jelas tergambar pada raut wajahnya, dengan menunduk dia kembali masuk ke rumah besar.


Langkahnya membawanya ke meja makan, disana Bulan sudah duduk dengan manis lengkap dengan seragam TKnya dengan rambut dikuncir dua, gadis kecil itu benar-benar terlihat imut dan menggemaskan, siapapun yang melihatnya ingin mencubit pipi chabinya.


"Pagi bunda." sapanya saat melihat ibu angkatnya memasuki ruang makan.


Naya berusaha untuk tersenyum didepan Bulan, "Pagi sayang." mengelus puncak kepala Bulan.


"Ayah mana bunda."


"Ayah semalam pergi sayang."


"Ayah pergi semalam, kemana bunda."


"Ayahmu ada kerjaan sayang, sebentar lagi juga pulang." Naya berbohong.


Bulan mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda kalau dia mengerti, dia kembali menyantap sarapannya.


Gak lama kemudian, mama Renata memasuki ruang makan, wanita setengah baya itu seperti biasa terlihat anggun dan berkelas dengan fashion dari merk-merk ternama yang membalut tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, maklumlah wanita sosialita, banyak uangnya, jadi dia suka menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang dari merk ternama hanya untuk sebuah gengsi, setiap melakukan pertemuan, biasanya ibu-ibu sosialita termasuk mama Renata gemar saling pamer barang-barang mewah.


Setiap kali melihat nenek angkatnya, maka setiap itu pula Bulan akan terlihat ketakutan, begitu mama Renata datang, gadis kecil itu langsung bungkam dan menunduk.


"Pagi ma." sapa Naya, biarpun mama mertuanya itu tidak menyukainya, tapi tetapkan dia harus bersikap sopan dan menghormatinya.


"Hmmm." gumamnya sambil duduk.


"Lio belum pulang." tanyanya tanpa melihat Naya.


"Belum ma."


"Baguslah, memang seharusnya dia saat ini harus tetap berada disamping Cleo, gadis itu benar-benar butuh perhatian saat ini." ujarnya santai tanpa mempedulikan perasaan Naya.


"Kamu gak marahkan Naya kalau Lio tetap berada disamping Cleo."


"Gak ma." jawabnya dibibir, hatinya tetap tidak terima kalau suaminya harus menghabiskan waktu dua puluh empat jam bersama Cleo, biar bagaimanapun, Nayakan juga butuh perhatian juga meskipun dalam kondisi sehat wal'afiat.


"Baguslah kalau kamu gak marah." mama Renata mengambil roti dan selai coklat untuk sarapan.


Dan untuk beberapa menit, suasana sarapan dipagi hari itu berjalan dengan khidmat, tidak ada obrolan sama sekali, sampai ketika mama Renata kembali buka suara.


"Lio akan menikahi Cleo dalam bulan-bulan ini, Cleo hidup sendiri di apartmen, dan mama tidak mau apa yang menimpa Cleo kemarin terulang kembali, mama tidak ingin cucu mama kenapa-napa." beritahu mama Renata dengan santai, seolah-olah dirinya tengah membicarakan tentang betapa cerahnya cuaca hari ini, dia tidak peduli ada hatinya yang hancur saat mendengar berita tersebut.


Ukhuk


Ukhuk


Naya langsung terbatuk-batuk hebat saat mendengar mama Renata mengatakan hal tersebut.


Naya memang meminta Lio menikahi Cleo, tapi rasanya tetap sakit saat mendengar hal itu diungkapkan oleh orang lain, apalagi mereka akan menikah dalam waktu dekat, padahal dari segi mental Naya belum kuat sepenuhnya untuk berbagi suami dengan wanita lain dalam waktu sedekat ini.


"Bunda, minum dulu." Bulan langsung menyodorkan air putih untuk Naya.


Tenggorokan Naya sedikit lebih baik setelah air putih itu mengalirinya, "Terimakasih sayang."


"Iya bunda."


Dan dengan tanpa dosa, mama Renata kembali bertanya, "Jadi, bagaimana tanggapanmu tentang hal itu Naya."


Naya tidak langsung menjawab, tangannya bergetar hebat, dia mengepalkan tangannya untuk menghentikan getaran pada tangannya, "Itu....mmm." tenggorakan Naya seperti dijejali pasir, dia rasanya susah untuk berbicara, "Menurut Naya..." Naya kembali terdiam, dia berusaha untuk mengontrol kata perkata yang akan dia keluarkan, "Yahh, mas Lio dan Cleo memang harus menikah, lebih cepat lebih baik." akhirnya dia bisa mengucapkan kalimat tersebut tanpa tersendat, dalam hati dia meminta sama Tuhan supaya dia dikuatkan dengan semua ini.


"Baguslah kalau begitu." ucap mama Renata puas, "Begitu Cleo keluar dari rumah sakit, Lio harus segera menikahi Cleo."


Naya terdiam tidak merespon, saat ini dia sibuk menguatkan hatinya.


"Dan kamu tidak keberatan kan Naya kalau setelah menikah Cleo juga akan tinggal disini." pertanyaan ini hanya sebuah formalitas semata, mengingat Naya setuju atau tidak, toh mama Renata tidak akan peduli.


"Iya ma, tentu saja Cleo bisa tinggal disini setelah dia menikah dengan mas Lio."


Mama Renata tersenyum puas, "Oke semuanya beres, mama tinggal bilang sama Lio untuk mempersiapkan segala sesuatunya."

__ADS_1


***


__ADS_2