
"Akhirnya, dalam hitungan detik, aku akan resmi jadi nyonya Rasyad juga." batin Cleo bersorak bahagia.
Hari ini adalah hari paling bahagia untuk Cleo, hari yang sudah dia tunggu-tunggu sejak lama, sejak tadi pagi, bibirnya terus menyunggingkan senyum lebar,
Selain Cleo dan mama Renata, semua penghuni rumah besar, mbak Wati, mbak Dijah, pak Ridwan tentu saja tidak mengharapkan pernikahan yang menyakiti hati nona mereka yaitu Naya, dan terutama Lio, sejak kemarin dia terus memasang wajah mendung, gimana tidak, dia harus menikahi gadis yang tidak dia cintai dan terpaksa menyakiti hati istrinya.
Lio sangat ingin menyusul Naya ke desa dan mengajaknya kembali ke Jakarta, sayangnya tidak bisa dia lakukan karna sang mama, mamanya baru mengizinkan Lio menjemput Naya begitu pernikahannya dengan Cleo sudah usai, dan hal itu benar-benar membuat Lio frustasi sampai tidak bisa membuatnya tidur semalaman, alhasil, wajahnya yang seharusnya fress dihari pernikahan kini kelihatan kuyu dengan lingkar hitam dibawah matanya, Lio sudah persis kayak panda.
Dan kini, pasangan calon pengantin itu sudah duduk didepan penghulu, Lio sudah mengggenggam tangan wali hakim yang menikahkannya dengan Cleo karna memang Cleo sudah tidak memiliki ayah ataupun keluarga lainnya. tenggrokan Lio rasanya tercekat, rasanya sangat susah untuk bersuara.
"Saya terima....."
Dan seperti disinetron-sinetron yang sering ditayangkan di stasiun TV nasional, bertepatan dengan itu, Rafa muncul bersama dengan seorang perempuan untuk membatalkan pernikahan tersebut.
"Hentikan Lio." suara Rafa menggema ditengah keheningan.
Semua mata menoleh ke belakang melihat si empunya suara.
"Kak Rafa, akhirnya dia datang juga." Leta begitu lega melihat kedatangan kakaknya yang tepat waktu.
"Apa-apaan sik Rafa itu." desah Cleo jengkel karna menghentikan Lio yang akan mengucapkan kalimat sakral yang akan menjadikannya nyonya Rasyad yang sah.
Flasback on
"Kak, kakak dimana, kenapa kakak gak pernah menjawab panggilan Leta sieh dua hari belakangan ini." omel Leta pagi-pagi buta mengganggu tidur nyenyak kakaknya lewat saluran telpon, gimana gak ngomel, dia sejak kemarin nelpon kakaknya tidak pernah dijawab, chatnya juga tidak dibalas.
Rafa sengaja, karna dia memang mau menikmati liburannya dengan tenang sebelum kembali ke Jakarta, makanya dia tidak mau menjawab panggilan atau chat dari Leta yang sudah pasti menggrecokinya dan meminta oleh-oleh kalau adiknya itu tahu kalau saat ini dirinya ada di Malang.
"Uhhh, kamu bisa gak sieh Ta nelponnya agak siangan dikit, ini masih gelap astaga, mengganggu saja." desisnya kesal.
Tadinya Rafa tidak mau menjawab panggilan dari sang adik, dan dia sudah berniat untuk mematikan ponselnya, namun tiba-tiba saja mendadak perasaannya tidak enak, fikirnya mungkin ada sesuatu hal yang penting yang ingin disampaikan oleh adiknya sampai harus menelponnya pagi-pagi buta begini.
Mengabaikan omelan sang kakak, Leta berkata, "Kak, kakak pasti tahukan kalau hari ini adalah hari pernikahan sik brengsek itu."
__ADS_1
"Sik brengsek si..." Rafa yang nyawanya belum kembali seutuhnya langsung on seketika, dia langsung terduduk dari posisi berbaringnya, "Lio maksud kamu."
"Siapa lagi." jawab Leta, dan mendengar suara kakaknya yang terdengar kaget, Leta yakin kakaknya tidak tahu menahu akan hal ini, "Jangan bilang kakak tidak tahu kalau sik brengsek itu akan menikah, kakak memangnya dimana sieh."
"Kakak lagi diluar kota tepatnya dimalang, sumpah kakak benar-benar tidak tahu kalau hari ini Lio akan menikah."
"Kakakkan sahabatnya sik brengsek itu, masak kakak tidak dikasih tahu sieh."
"Kakak tidak dikasih tahu sama sekali sama Lio, makanya kakak kaget."
"Aku juga kaget kak saat kemarin ada yang nganterin undangan ke rumah, makanya aku menghubungi kakak sejak kemarin, tapi kakak tidak menjawab sama sekali."
"Sik brengsek itu tega banget, bagaimana perasaannya mbak Naya, pasti sakit dan hancur, aku sudah berusaha untuk menghubungi mbak Naya untuk sekedar untuk menghiburnya, tapi nomernya tidak aktif."
Tidak ada respon dari Rafa.
"Kak, kakak denger gak sieh, atau kakak kembali tidur." ujarnya karna tidak ada sahutan dari seberang.
Pertama-tama yang Rafa lakukan adalah menghubungi Lio untuk memberitahu hasil penyelidikan yang didapatkan oleh Gunawan, sayangnya, disaat genting seperti ini nomer Lio tidak bisa dihubungi, Rafa memang tahu kebenarannya kemarin dari bukti-bukti yang didapatkan Gunawan dan dikirim kepadanya, Rafa tidak langsung memberitahu Lio lewat telpon karna dia ingin memberitahu Lio secara langsung saat dia kembali nanti ke Jakarta, dan siapa sangka dia dapat kejutan kalau hari ini adalah hari pernikahan Lio sehingga rencananya terpakasa harus dirubah.
Karna nomer Lio tidak kunjung aktif, Rafa menghubungi Gunawan, mungkin karna saat ini Gunawan tengah tertidur nyenyak saat Rafa menelponnya sehingga dia menjawab didetik terakhir.
"Gue ingin lo membawa istri Dani untuk bertemu gue, gue akan tiba di Jakarta dalam waktu 2 jam." dan tanpa memberi kesempatan Gunawan untuk menjawab, Rafa mematikan sambungan.
Tanpa menunggu lama, Rafa memesan tiket pesawat dengan penerbangan pagi, dia jelas tidak ingin sahabatnya bertanggung atas apa yang tidak dia lakukan.
Flasback off
Rafa berjalan ke depan untuk mendekat ke arah dimana berlangsungnya ijab kabul, dimana Lio dan Cleo duduk berdampingan, Rafa diikuti oleh wanita yang dibawanya bersamanya yang tidak lain adalah Febi istrinya Dani.
"Raf, kok lo disini, bukannya lo di Malang ngurus kerjaan." tanya Lio saat sahabatnya itu sudah berada didekatnya.
"Masalah kerjaan sudah gue bereskan, lo tidak perlu mengkhawtirkan masalah itu." jawabnya membalas pertanyaan Lio, "Gue datang kemari untuk menghentikan pernikahan elo dengan ular ini."
__ADS_1
Rafa mengatakan kata-kata itu dengan terang dan jelas, dan semua tamu undangan bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Rafa, tapi masalahnya adalah, tidak ada satupun orang yang mengerti makna dibalik kata-kata Rafa barusan, sehingga para tamu saling berbisik satu sama lain, bahkan penghulu menatap Rafa seolah-olah Rafa adalah orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa.
"Rafa, apa maksudmu, jangan main-main ya kamu." bentak mama Renata yang duduk dibarisan depan kursi yang telah disediakan.
"Tenang tan, tante jangan marah-marah dulu, tante pasti akan sangat berterimakasih pada Rafa karna datang tepat waktu untuk menggagalkan pernikahan yang memang tidak seharusnya terjadi."
Cleo meradang, "Aku tahu kamu tidak suka sama aku Raf, tapi kamu bukan siapa-siapakan, bukan bagian dari anggota keluarga Rasyadkan, jadi kamu tidak memiliki hak sama sekali menghentikan pernikahanku dengan Lio." wajah Cleo merah padam saking marahnya karna tahu Rafa datang untuk menggagalkan pernikahan yang sudah dia tunggu-tunggu.
Sedangkan Lio hanya mengerutkan kening, dia sama seperti yang lainnya, tidak mengerti dengan apa yang menyebabkan sahabatnya itu ingin membuat pernikahannya gagal, dan sekaligus juga, dalam hati Lio sangat berharap kalau sahabatnya itu benar-benar berhasil membuat pernikahannya gagal dengan Cleo.
"Memang aku tidak memiliki hak untuk menghentikan pernikahan ini, tapi ini bisa." Rafa menunjukkan map coklat yang dikirim oleh Gunawan padanya, map yang berisi bukti-bukti perselingkuhan Cleo dan Dani selama ini.
Meskipun Cleo tidak tahu isi map yang ada ditangan Rafa, tapi dia yakin itu bukan sesuatu yang bagus dan itu berhasil membuatnya kena serangan panik.
"Itu apa Raf." tanya Lio sadar dari ketercengangannya.
Rafa menyodorkan map tersebut pada Lio, "Lo lihat saja sendiri."
Setelah map itu berpindah ke tangannya dan tanpa basa-basi, Lio langsung merobek bagian atas map tersebut dengan tidak sabaran, mengeluarkan isinya dari dalam, dan beberapa foto pertama yang diraih oleh tangannya langsung berhasil membuat matanya yang sejak tadi sayu melotot lebar, foto-foto mesra Cleo dengan seorang laki-laki yang terlihat begitu mesra.
Melihat wajah Lio yang berubah warna, Cleo yakin dugaannya benar, dia lebih mendekatkan tubuhnya ke Lio dan melongok melihat apa yang saat ini tengah dilihat oleh Lio, dan Cleo tidak kalah terkejut saat melihat dirinya tengah dipangku disebuah club malam oleh Dani.
"Ya Tuhan, itukan...itu fotoku bersama Dani, kok bisa Rafa mendapatkannya."
Karna tidak ingin Lio menggagagalkan pernikahan mereka yang sudah didepan mata, Cleo berusaha untuk memberi penjelasan bohong, "Hhmm, Lio, kamu jangan marah ya, aku bisa menjelaskan semuanya." Cleo menjelaskan dengan suara terbata-bata saking gugupnya mendapat tatapan membunuh dari Lio, sorot mata yang jarang ditampakkan oleh Lio kecuali kalau benar-benar dalam keadaan sangat marah.
"Itu...maksud aku, laki-laki difoto itu adalah temanku." Cleo terdiam sesaat untuk mengambil jeda, "Iya benaran itu adalah temanku Lio, kamu harus percaya padaku." Cleo berusaha untuk meyakinkan Lio.
"Bohong." tandas Febi menatap Cleo dengan tatapan amarah yang membuncah, sejak tadi dia tidak lepas memperhatikan penampilan Cleo, "Dia dan suamiku berselingkuh, bahkan sudah lama, kalau foto itu tidak cukup sebagai bukti, saya bawa bukti lainnya, bukti berupa pengiriman uang yang berkali-kali ditransfer oleh suami saya ke rekening gadis murahan itu." tunjuk Febi tepat diwajah Cleo.
Febi memandang pelakor yang kini ada dihadapannya dengan tatapan benci, dia benar-benar ingin membjek-bjek gadis yang telah merenggut kebahahagiannya itu.
****
__ADS_1