Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MINTA MAAF


__ADS_3

"Pagi bos." sapa Rafa begitu Lio tiba dikantor.


"Hmmm." jawab Lio.


Rafa mengikuti Lio memasuki ruangannya.


Tidak seperti biasanya, pagi itu wajah Lio terlihat bete, hal tersebut mendorong Rafa untuk bertanya, "Kenapa wajah lo kelihatan bete gitu bos, ada masalah sama Cleo."


Lio memijit keningnya, "Bukan dengan Cleo, tapi dengan Naya."


"Naya masih marah."


"Ya begitulah, tadi pagi gue dicuekin habis-habisan sama dia, gak nyiapin baju kerja gue, gak masangin sepatu gue." curhat Lio.


"Lo udah mencoba minta maaf sama dia."


"Ngapain gue mesti minta maaf, gue gak salah."


Rafa menghembuskan nafas berat, "Dasar tolol, masih saja bilang lo gak bersalah, jelas-jelas kelakuan lo membuat Naya marah, dan lo masih belum minta maaf, sesuatu hal yang wajar kalau Naya nyuekin elo." crocos Rafa.


Coba, hanya Rafa yang berani ngata-ngatain bosnya tolol.


"Tapi kok lo peduli sieh kalau Naya marah, atau jangan-jangan lo mulai suka ya sama Naya."


"Jangan sembrangan kalau ngomong, seperti yang gue bilang semalam, gak enak didiemin sama orang apalagi orang yang berbagi kamar dengan gue, gak nyaman aja gitu."


"Ya udah sieh, kalau lo merasa gak nyaman dengan kemarahan Naya, lo tinggal minta maaf aja apa susahnya sieh."


Lio akan buka suara, namun Rafa mendahului, "Jangan bilang kalau lo gak salah, jelas banget lo salah disini."


"Oke deh, bakalan gue coba." putus Lio.


"Jangan minta maaf dengan tangan kosong."


Lio mengerutkan kening tidak mengerti.


Dan Rafa bisa membaca kerutan dikening Lio, makanya dia menjelaskan, namun sebelum menjelaskan maksudnya, terlebih dahulu Rafa berkata, "Bener-bener tolol lo bos."


"Katain gue tolol sekali lagi gue depak lo dari perusahaan gue."


"Oke oke sorry, habisnya gue gemes banget sama ketololan elo."


"Setan lo ya, bener-bener minta didepak ternyata."


Bukannya takut, Rafa malah terkekeh, sambil mulai menjelaskan maksudnya, "Gini lho bos, ketika lo minta maaf lo bawa bunga supaya Naya luluh."


"Bunga."


"Iya bunga, bunga mawar kek, bunga melati kek, anggrek kek, bunga bangkai kek terserah."

__ADS_1


"Memang bisa tuh dibujuk dengan hanya membawa bunga saja."


"Gue yakin bisa, pasalnya gue yakin Naya tidak seperti Cleo yang suka sama bunga bank."


Karna Rafa sudah sangat tahu, Lio bisa dibilang hampir tidak pernah membujuk Cleo dengan bunga asli ketika Cleo marah.


"Baiklah kalau begitu."


****


Sore harinya ketika pulang kantor, Lio menyuruh pak Amir sopirnya untuk berhenti ditoko bunga, hanya beberapa menit dan Lio sudah kembali ke mobil dengan membawa buket bunga ditangannya. Dan setengah jam kemudian mobil memasuki pekarangan rumah besar milik keluarga Rasyad.


"Selamat datang tuan." sapa Wati sopan menundukkan wajahnya.


"Naya mana." tanya Lio.


"Nona tengah dibelakang tuan, disuruh tuan besar memberi makan burung-burung kesayangannya." lapor Wati.


"Naya ngasih makan burung kakek, kenapa gak kamu Wati, kenapa Naya yang disuruh."


"Eh itu karna tuan besar sendiri yang minta, katanya tidak boleh sembarang orang yang kasih makan burung kesayangannya."


"Ada ada saja."


Lio melangkahkan kakinya ketaman belakang untuk mencari Naya.


"Ayok makan burung-burung cantik, biar kalian sehat dan gemuk." oceh Naya memasukkan makanan burung lewat celah sangkar.


Naya otomatis berbalik dan menemukan Lio berdiri tidak jauh darinya, Naya masih enggan beramah tamah dengan Lio, makanya begitu tahu siapa yang berdehem dia kembali fokus memperhatikan burung-burung milik kakek Handoko.


"Anjirrr, dia masih saja nyuekin gue." batin Lio.


Lio berjalan mendekati Naya, dan langsung menyodorkan bunga yang barusan dibelinya pada Naya.


"Apa nieh."


"Bunga."


"Maksud Naya, ini bunga buat apa."


"Sebagai permintaan maaf gue karna kemarin gue ngebantak elo." jelas Lio.


Naya berkata, "Kayak disinetron."


"Maksud lo."


"Naya sering lihat disinetron kalau sik ceweknya marah biasanya cowok akan ngasih bunga sama ceweknya, mas kok gak kreatif sieh minta maafnya, bisanya cuma jiplak donk."


"Gue gak pernah nonton sinetron dan pastinya gue gak pernah jiplak, intinya yang gue mau tahu, lo maafin gue kagak."

__ADS_1


"Meskipun mas menyebalkan, tapi ya udah deh Naya maafin, dosa lama-lama nyuekin suami." Naya mengambil bunga pemberian Lio.


"Berapa harga bunga ini mas." Naya memperhatikan bunga ditangannya itu dengan seksama.


"Emang penting berapa harganya."


"Naya cuma ingin tahu."


"Dua ratus limapuluh ribu."


"Dua ratus duapuluh lima ribu hanya untuk bunga doank." keget Naya.


"Kenapa sieh, duit segitu gak ada artinya buat gue."


"Uang segitu dikampung bisa menghidupi kami selama satu minggu, kenapa mas gak beliin beras dua puluh lima kilo saja pakai uang itu, daripada beli bunga kayak gini, udah gak bisa dimakan, beberapa jam lagi pasti bakalan layu, bener-bener mubazir."


"Susah memang ngomong sama orang kampung." desis Lio, "Udah gak usah mikirin harga tuh bunga."


Namun Naya masih menatap bunga itu dengan nelangsa, meskipun sekarang dia hidup berkecukupan, bukan berarti harus menggamburkan uang hanya untuk membeli bunga.


"Udah gue bilang gak usah difikirin." guma Lio, "Gue mau keatas dulu, gue capek mau istirahat."


****


"Wah, bunganya cantik sekali non." puji Wati begitu melihat bunga yang ada ditangan Naya, "Mbak Wati tebak, pasti bunga itu pemberian tuan muda."


"Memang cantik sieh mbak, tapi buang-buang uang saja, beberapa jam lagi pasti nieh bunga bakalan layu."


"Taruh dipas yang sudah diisi air saja non agar gak cepat layu, pasti bunganya bisa bertahan lama." Wati menyarankan.


"Gitu ya."


"Iya non."


"Mbak bisa carikan vas bunga gak buat Naya."


"Sebentar non, kayaknya ada didapur."


Wati pergi kedapur untuk mencari apa yang diminta oleh Naya, gak lama dia kembali dengan membawa pas bunga yang sudah diisi dengan air.


"Ini non, bunganya ditaruh disini biar gak cepat layu."


Naya mengikuti saran Wati, dan setelah itu dia membawa vas berisi bunga tersebut kekamarnya.


Ketika Naya masuk, Lio menoleh sebentar sebelum kembali sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dia lakukan, mungkin chating, atau main game.


"Kata mbak Wati, bunganya ditaruh dipas yang sudah dikasih air agar gak cepat layu." ujarnya memberitahu Lio yang tidak bertanya.


"Orang begok juga tahu." balas Lio.

__ADS_1


Naya mendengus.


****


__ADS_2