Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
NW


__ADS_3

Sementara itu disebuah kamar yang luas, seonggok tubuh mulai menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengumpulkan nyawanya, laki laki yang tidak lain adalah Boy itu memegang kepalanya yang berdentum hebat karna pengaruh alkohol yang dikonsumsinya semalam.


"Kepala gue." keluhnya.


Dia berusaha untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur, Boy kemudian melirik jam weker yang ada dinakas, dia ingat kalau pagi ini dia ada kuliah.


"Ahhh, telat gue." desahnya melihat jarum jam yang menunjukkan angka 10.20.


Ponselnya yang tergeletak dinakas berbunyi, dengan malas dia meraihnya.


Begitu sambungan terhubung, terdengar suara lega Renald dari seberang, "Syukurlah lo masih hidup, gue fikir lo udah mati."


"Apa sieh maksud lo." dengus Boy mendengar kalimat sahabatnya itu.


"Gue nelpon lo berkali-kali tadi, tapi gak lo angkat, makanya gue khawatir, gue fikir lo udah mati, saking khawatirnya, gue rencananya mau nyamperin elo nieh ke apartmen."


Boy adalah anak orang kaya, dia memilih tinggal sendiri di apartmen yang dibelikan oleh orang tuanya.


"Gue gak denger lo nelpon karna gue baru bangun." jawabnya sambil memijit-mijit kepalanya, "Kalau lo mau ke apartmen gue, bawain sarapan untuk gue ya, gue malas keluar, kepala gue rasanya mau pecah."


"Makanya tuan muda, jangan minum sampai overdosis begitu, sakitkan tuh kepala lo, untungnya lo tinggal sendiri, kalau bokap dan nyokap lo melihat lo teler kayak semalam, bisa marah besar mereka sama lo."


"Bawel lu ah kayak emak-emak." tandas Boy, "Mending lo cepetan deh datang ke apartmen gue." setelah mengatakan hal tersebut, Boy langsung mematikan sambungan tanpa membiarkan Renald membalas.


Boy kembali membanting tubuhnya dikasur, matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, wajah Naya tiba-tiba tergambar jelas disana, dan rasa sakit itu kini kembali terasa nyeri di ulu hatinya, "Sial, gue patah hati sebelum menyatakan perasaan gue." umpatnya meninju bantalnya.


"Apa yang harus gue lakukan sekarang, gue tidak akan bisa semudah itu melupakan Naya, tapi gue juga tidak mungkin bisa bersama dengan Naya, Naya sudah punya suami dan dia saat ini tengah hamil." Boy jadi dilema sendiri dengan perasaannya, dia kalau jatuh cinta memang begitu, susah untuk melupakan.


"Akhhhh." teriaknya frustasi, "Kenapa harus seperti ini Tuhan, kenapa gue harus jatuh cinta sama perempuan yang sudah memiliki suami." keluhnya.

__ADS_1


****


Semuanya terasa indah untuk Naya saat ini, rumah besar yang awalnya terasa hampa, kini begitu bagaikan surga untuknya, hatinya yang dulunya kosong, kini dipenuhi oleh taman bunga yang bermekaran indah, ini semua adalah karna Lio, suaminya yang mencintainya dan meminta Naya untuk menemaninya sepanjang sisa hidupnya, cinta yang diharapkan oleh Naya.


Kini Naya menyambut pagi dengan senyum ceria karna bisa melihat wajah teduh suaminya saat bangun tidur disampingnya, melihat wajah suaminya dipagi hari merupakan saat-saat yang selalu ditunggu oleh Naya karna dia bisa memandang wajah suaminya sepuasnya.


Seperti pagi ini, Naya masih betah menatap wajah tampan Lio yang masih tertutup rapat, "Suamiku, kenapa kamu begitu tampan." gumamnya senyum-senyum sendiri.


Naya mengarahkan jari telunjuknya untuk menggambar setiap lekuk wajah suaminya, "Masyallah, begitu sempurna ciptaanmu ya Allah, aku berharap, semoga bayiku seperti ayahnya, memiliki wajah yang rupawan dan pintar." harapnya.


"Kamu sudah puas bermain-main dengan wajahku sayang." berbarengan dengan itu Lio membuka matanya.


Naya langsung menarik jari tangannya dari wajah Lio, "Ehh mas sudah bangun."


"Sudah sejak tadi, aku sengaja membiarkan kamu mengagumi wajah tampanku." Lio tersenyum jail.


"Dihhh narsis." desis Naya.


"Hmmm, iya deh, mas memang tampan." aku Naya pada akhirnya.


"Sini." Lio merentangkan tangannya.


Naya mendekat dan memeluk tubuh hangat suaminya dari samping, Lio melingkarkan tangannya dipinggang Naya, mereka berpelukan sambil berbaring, posisi yang sangat disukai oleh Naya, posisi mereka akan tetap seperti itu untuk beberapa saat dan biasanya pasutri itu akan bercerita tentang berbagai hal sebelum mereka benar-benar bangun.


"Morning kiss." seru Lio.


Masih dengan malu-malu Naya mendekatkan bibirnya untuk mencium Lio, dan Lio membalas dengan mengecup kening Naya.


Disaat posisi mereka sedekat itu, mata Lio tanpa sengaja terarah pada leher Naya, tangannya kemudian meraih bandul kalung perak yang berinisial NW, "NW, itu kepanjangan dari apa." tanyanya ingin tahu.

__ADS_1


Lio memang sudah sejak lama melihat Naya memakai kalung tersebut, tapi entah kenapa kali ini dia tergerak untuk menanyakannya inisial dari bandul kalung yang dipakai oleh Naya.


"Ohh, ini kalung pemberian mas Wahyu, mas Wahyu memberikannya saat akan berangkat ke Jakarta, katanya itu sebagai hadiah perpisahan, dan NW itu kepanjangan dari Naya dan Wahyu." dengan polosnya Naya memberitahukan fakta itu.


Wajah Lio langsung berubah masam begitu mendengar kalau kalung itu adalah hadiah dari mantan terindah sang istri, jelas saja Lio tidak suka melihat istrinya menyimpan barang pemberian sang mantan.


"Ohhh, kalung itu pemberian Wahyu mantan terindah kamu itu." sindirnya ketus, "Sayang banget kamu ya sama kalung itu sampai aku tidak pernah melihat kamu melepasnya, ohh ya aku tahu, jelas saja kamu sayang sama kalung itu, itukan pemberian mantan terindah kamu."


Naya menyadari nada bicara Lio yang ketus, dengan agak ragu dia bertanya, "Mmm, mas Lio tidak suka ya aku mengenakan kalung pemberian mas Wahyu."


"Siapa yang tidak suka, aku biasa saja kok." ucapnya dilisan, dihati dia berkata, "Sialan, kok gue gak suka ya melihat kalung pemberian mantan Naya dilehernya, mana kalung itu inisial nama mereka berdua lagi."


"Kalau mas tidak suka, aku bisa melepasnya kok."


"Tidak perlu dilepas Nay, pakai saja, itukan kenang-kenangan dari mantan terindah kamu." saat mengatakan mantan terindah, Lio benar-benar menekan kalimatnya, dan saat bilang tidak perlu dilepas, itu artinya wajib untuk dilepas, orangkan selalu begitu, antara lisan dan hati suka tidak sinkron.


Untungnya Naya peka dan mengerti, "Naya lepas saja mas." Naya mencoba melepas kalung itu dari lehernya, kalung yang merupakan kenang-kenangan dari Wahyu sang mantan terindahnya.


"Gak perlu dilepas Nay, aku tidak apa-apa kok, pakai saja, lagian cuma sekedar kalung doank." saat mengatakan kalimat tersebut, dibaliknya mengandung makna, cepatan lepas, karna aku tidak suka melihat kamu mengenakan pemberian dari mantan.


"Tapi sudah aku lepas mas."


"Ohh ya sudah kalau sudah terlepas."


"Mas Lio." Naya menangkup wajah suaminya, dia tahu suaminya saat ini tengah cemburu karna melihatnya mengenakan kalung pemberian dari wahyu, Naya mengenakannya bukan karna dia masih memiliki perasaan sama Wahyu, dia hanya sekedar menghargai pemberian Wahyu, itu saja tidak lebih, "Aku mencintaimu mas, percayalah padaku, Itu hanya kalung, mas tidak perlu khawatir, mas Wahyu itu adalah masa lalu Naya yang sudah Naya kubur, dan mas Liolah yang akan menjadi masa depanku, kita akan terus bersama-sama, Bulan dan sik dedek yang masih dalam perut."


Mendengar ucapan Naya membuat Lio tersenyum, dia meraih tangan Naya dan mengecupnya, "Terimakasih sayang karna telah mencintaiku, maafkan aku yang dengan bodohnya selama ini selalu mengabaikanmu, terimakasih karna kamu selalu sabar menghadapi tingkahku, aku beruntung memilikimu, dan aku bersyukur karna kakek memilih kamu sebagai istriku, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu."


Naya tersenyum bahagia mendengar janji dari bibir Lio, Naya selalu berharap mereka dan keluarga kecil mereka akan selalu bahagia sekarang dan selamanya.

__ADS_1


****


__ADS_2