
Di parkiran saat akan menuju dimana mobilnya terparkir, Leta tidak sengaja melihat Boy yang tengah berbincang dengan beberapa temannya, salah satunya adalah Alvin, laki-laki yang menyukai Leta, Leta langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Boy.
Rasa suka itu masih ada, tidak semudah itu dihapus begitu saja oleh Leta, meskipun dia telah memaksakan diri untuk membuka hati untuk orang lain termasuk kepada Alvin, tapi sayangnya bayang-bayang Boy tidak bisa hilang dari fikirannya, dan daripada memberikan harapan palsu, makanya Leta berhenti membalas setiap chat yang dikirim oleh Alvin.
Alvin baik dan pengertian, tapi yang namanya tidak ada getar-getar rasa dihatinya mau gimana, dia tidak mungkinkan memaksakan hatinya, sama seperti Boy yang juga tidak pernah melihatnya.
Leta menarik nafas dan membuangnya, dia mencoba untuk menenangkan dirinya, dia tidak mungkinkan nyuekin Boy, Leta sudah bertekad pada diri sendiri kalau dia akan bersikap seperti sebelum-belumnya, meskipun itu agak sulit untuk dilakukan tapi dia akan berusaha melakukannya.
"Oke Leta, kamu pasti bisa." dia menguatkan dirinya sebelum melanjutkan langkahnya dan kebetulan posisi Boy membelakanginya jadi Boy tidak melihat Leta.
"Hai Boy." sapa Leta saat dirinya sudah berada didekat cowok itu.
Leta berusaha untuk tersenyum manis, namun yang keluar bukannya senyum manis, tapi senyum kaku, meski begitu, seenggaknya dia sudah berusahakan, dengan menyapa saja itu merupakan sebuah kemajuan.
Mendengar dirinya disapa otomatis Boy menoleh ke arah sumber suara, tidak hanya Boy sieh, teman-temannya juga menoleh ke arah Leta.
"Ehhh, lo Ta." balas Boy begitu mengetahui kalau yang menyapanya adalah Leta.
"Hai Vin." sapa Leta juga melihat Alvin, sudah beberapa hari ini dia tidak pernah membalas chat Alvin, ya alasannya seperti yang dikatakan diatas, dia tidak mau memberikan harapan palsu, dia tidak mau Alvin berharap dan pada akhirnya akan berujung pada sakit hati.
Alvin tersenyum lebar begitu melihat Leta, gadis itu tiap hari dia lihat makin cantik saja, "Hai Leta."
"Hai semuanya." sapa Leta pada teman-teman Boy.
"Hai Leta." jawab teman-teman Boy serentak.
"Pada diskuisiin apaan nieh diparkiran gini." tanya Leta sok asyik, padahalkan dia ingin buru-buru pergi, tidak kuatlah dirinya lama-lama berada didekat Boy.
Boy menjawab, "Gak ada Ta, cuma ya ngebahas masalah kuliah doank."
"Ohhh."
"Leta sekarang sombong ya, tidak mau balas chatku lagi, ada yang marah ya." rajuk Alvin.
Leta terkekeh, "Mmm, gak kok Vin, hanya saja yah begitu, gue sibuk banyak tugas." alibinya, gak mungkin donk dia dengan terang-terangan menjelaskan kenapa dia tidak membalas pesan-pesan Alvin, dia hanya berharap kalau dia tidak membalas maka Alvin berhenti dengan sendirinya menghubunginya.
"Beneran sibuk karna banyak tugas doank nieh, bukan karna ada yang marahkan."
"Iya benaran sibuk kok gue, hehe."
"Lo mau pulang Ta." sela Boy.
"Mampir ke rumah mbak Naya dulu."
Boy juga tidak pernah lagi menghubungi Naya, ya iyalah, tidak mungkin bangetkan dia menghubungi istri orang, meskipun rasa rindu kadang kerap hadir tapi Boy yakin pasti bisa melupakan Naya, ya meskipun bukan sekarang, tapi mungkin nanti.
"Sampaiin salam gue sama Naya ya Ta, semoga dia selalu dalam kedaan sehat." pesannya.
"Iya nanti gue sampaiin, gue pergi dulu deh kalau gitu." pamit Leta ingin segera pergi jauh-jauh dari Boy, berada didekat Boy lama-lama bisa berpotensi membuatnya tidak bisa melupakan cowok itu.
"Ta, gue anterin ya." tawar Alvin memanfaatkan kesempatan.
"Gak usah Vin, gue bawa mobil kok, oke semuanya gue cabut dulu." Leta langsung kabur dengan langkah lebar.
Alvin mendesah karna dia gagal lagi untuk melakukan pendekatan kepada Leta.
****
"Hai Ran." sapa Rafa berhenti tepat didepan meja kerja Rani sekertarisnya Lio.
"Ehh pak Rafa." Rani mengangguk sopan saat melihat Rafa sudah berada didepan mejanya.
"Ran, bos kamu sudah makan belum." tanya Rafa sembari memperhatikan pintu ruangan Lio, kebetulan dia baru selesai makan siang.
"Sepertinya belum pak, soalnya saya lihat pak Lio sejak kedatangannya tidak keluar-luar, tapi saya kurang tahu juga ya pak, soalnya saya tadi sempat pergi makan siang, siapa tahu saat saya pergi pak Adelio juga keluar, atau mungkin, siapa tahu pak Adelio bawa bekal dari rumah."
Kemungkinan dugaan terakhir yang Rani katakan itu tidak mungkin, Lio tidak mau membawa bekal kalau bukan Naya yang masak, dan saat ini Naya tengah dalam kondisi galau, jadi dalam kondisi hati yang tidak baik begitu tidak memungkinkan untuk Naya memasak apalagi sampai menyiapkan bekal untuk Lio.
"Ran, tolong kamu pesanin makanan ya lewat gojek."
"Buat siapa pak."
__ADS_1
"Buat bos kita itulah, kemungkinan besar dia belum makan siang, takutnya nanti kalau dia tidak makan siang pingsan lagi, kita yang repot harus ngurusin dia."
"Mmm, baiklah pak." jawab Rani ragu, "Tapi pak Rafa yang nganterin ya, soalnya saya takut, pak Adelio sejak datang wajahnya masam begitu, saya takut kena semprot, pak Rafa tahu sendirikan kalau pak Lio dalam kondisi hati yang buruk selalu menyalurkan kemarahannya pada orang disekitarnya."
"Iya kamu tenang saja, saya yang bawain nanti, kamu mending pesenin sekarang deh."
"Baik pak Rafa."
Hanya butuh waktu 20 menit untuk menunggu pesanan makanan yang dipesan Rani tiba, dan seperti yang telah dikatakan, Rafalah yang membawa makanan tersebut memasuki ruangan Lio.
Tidak seperti kebiasaanya yang sebelum-belumnya yang selalu masuk tanpa permisi apalagi tanpa mengetuk, kali ini Lio mengetuk pintu kayu berwarna coklat tua yang ada dihadapannya tersebut.
Rafa mengetuk sampai tiga kali, tapi tidak ada respon.
"Liooo, lo didalamkan."
Tetap tidak ada respon.
Rafa mencoba memanggil sekali lagi.
"Liooo, lo didalamkan, jawab donk."
Masih tidak ada respon sehingga Rafa mendorong kenop pintu, dilihatnya sahabatnya itu menatap layar leptop, bukan memandang dengan fokus atau mengerjakan pekerjaan, Lio hanya menatap layar leptop dengan pandangan kosong, mata boleh menghadap ke arah leptop yang menyala, tapi fikirannya saat ini tengah tidak bersama raganya, Lio terus memikirkan ucapan Naya yang memintanya menikahi Cleo, sesuatu yang tidak pernah sedikitpun terlintas difikirannya.
Rafa maklum saat melihat Lio hanya bengong dan melamun, dia tahu sahabatnya itu kini tengah menghadapi masalah yang cukup berat.
"Pantas saja gak denger, jiwanya tengah mengambara ke dunia lain toh."
Rafa meletakkan bungkus makanan yang dipesan Rani didepan Lio, melihat ada benda yang tiba-tiba ada didepannya, Lio menoleh kearah orang yang meletakkan bungkusan makanan tersebut.
"Makan." ucap Rafa, "Gue tahu lo lagi banyak masalah, tapi jangan gara-gara itu lho jadi lupa makan, ntar kalau lo sakit gue yang jadi repot ngurusin semua kerjaan lo."
"Gue gak lapar." jawab Lio acuh tak acuh.
"Dan lo tenang saja, gue gak akan sakit hanya gara-gara tidak makan, jadi lo jangan khawatir akan gue repotin dengan melimpahkan tanggung jawab gue ke elo."
Menurut Rafa, percuma saja dia membujuk Lio untuk makan, karna dibujuk dengan bujukan bagaimanapun pasti gak akan mempan, oleh karna itu Rafa mengeluarkan jurus terakhirnya, dia menghubungi Naya untuk membantunya membujuk Lio untuk makan.
Mendengar nama istrinya disebut membuat Lio kembali menoleh ke arah Rafa, bingung dia kenapa Rafa menghubungi Naya.
Dan Rafa mengaktifkan pembesar suara sehingga Lio bisa mendengar suara wanita yang dia cintai.
"Ada apa mas Rafa." suara itu terdengar sendu, kelihatan kalau Naya menyimpan kesedihan yang amat pedih, dan itu karna ulah Lio sendiri.
"Suami kamu nieh Nay, dia tidak mau makan, padahal aku sudah pesenin makan lho buat dia, niat akukan baik Nay supaya dia tidak sakit." lapor Rafa.
"Rafa apa-apaan sieh lo." protes Lio dengan suara kecil supaya tidak didengar oleh Naya.
Rafa hanya menahan senyumnya, dia yakin kalau Naya yang menyuruh, Lio tidak akan bisa menolak.
"Kasih Naya ngomong sama mas Lio mas Rafa."
"Dengan senang hati." ujarnya meletakkan ponselnya dimeja Lio.
"Mas Lio." panggil Naya
"Iya Nay." suara Lio lembut.
"Makan mas, jangan masalah ini membuat mas Lio sampai tidak mau makan, ingat mas, kesehatan nomer satu."
Tidak perlu dibujuk rayu pakai kalimat-kalimat manis dan pakai sayang-sayangan segala, hanya kalimat sederhana itu saja mampu membuat Lio nurut.
"Iya, aku akan makan, kamu jangan khawatir Nay."
"Semudah itu kalau Naya yang nyuruh, hanya bilang makan, langsung deh nurut tanpa banyak cincong." fikir Rafa.
"Kamu sudah makan." Lio bertanya balik.
"Sudah mas, Naya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan mas, kasihan juga sama bayinya, kalau Naya terus-terusan sedih itu pasti akan berpengaruh sama bayinya, apalagi sampai Naya tidak makan, pasti sik bayi akan kekurangan nutrisi, dan Naya tidak mau hal itu terjadi, Naya ingin anak Naya tetap sehat." Naya tidak seperti wanita kebanyakan, disaat wanita lain malas makan dan malas melakukan apapun saat tengah dirundung masalah berat, Naya tidak begitu, dia begitu sangat menghargai hidupnya dan kesehatannya, dia tidak mau terpuruk dan menyesali keadaan, apalagi ada bayi yang harus dia fikirkan kesehatannya.
"Terimakasih Nay karna menjaganya dan memastikan kesehatannya."
__ADS_1
"Mas Lio tidak perlu berterimakasih, dia anakku dan sudah tugasku untuk memastikannya baik-baik saja dan selalu sehat."
"Aku tahu, meskipun begitu, aku akan tetap mengucapkan terimakasih karna telah menjadi ibu yang kuat."
Dan setelah mengobrol beberapa saat, pasutri itu mengakhiri panggilan tersebut, setelah mendengar suara Naya dan memintanya untuk makan demi kesehatannya, Lio jadi punya nafsu untuk menyentuh makanan yang dibawakan oleh Rafa.
"Naya hebat ya, padahal dia yang paling tersakiti dalam hal ini, kalau wanita kebanyakan sieh pada fase-fase seperti ini tuh momennya untuk mengurung diri dan menyalahkan keadaan, Naya malah tegar banget kayak batu karang yang tidak goyah diterjang ombak, nah lo, laki-laki, tapi malah cemen." Rafa tidak peduli kalau kata-katanya menyakiti Lio, dia memang harus mengatakan hal itu supaya sahabatnya itu tidak terpuruk terus-terusan menghadapi masalah yang saat ini tengah menimpanya, kalau Naya saja bisa menghadapinya, kenapa Lio tidak bisa fikir Rafa membandingkan Lio dan Naya.
"Dia memang wanita yang hebat, gue bersyukur bisa memilikinya." ucap Lio sepertinya tidak tersinggung dengan ucapan Rafa yang mengatakannya cemen.
Rafa meneguk air putih sambil mendengar ucapan yang keluar dari bibir Rafa.
"Dia juga gadis yang baik, baik banget malah, saking baiknya dia sampai nyuruh gue nikahin Cleo."
Air putih yang saat ini tengah berada dimulut Rafa menyembur sehingga menciptakan hujan lokal, dia begitu terkejut mendengar penuturan Lio, "Naya nyuruh lo nikahin Cleo, yang benar saja, apa karna ucapan ngaur Cleo itu sampai dia nyuruh lo nikahin wanita itu, gue fikir ini cuma kesalahpahaman doank, lo udah jelasinkan ke Naya, kalau apa yang dikatakan oleh Cleo sebuah kebohongan."
Lio menarik nafas, dengan lelah dia berkata, "Anak yang dikandung Cleo memang anak gue."
"Hahhh, apa lo bilang, jangan main-main lo Lio." Rafa terus saja dibuat terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Gue gak main-main, memang kenyataannya begitukan."
"Memang kenyataannya begitu gimana maksud lo, jelasin, gue gak ngerti."
"Cleo wanita yang setia Raf, dia gak pernah selingkuh saat kami pacaran, jadi itu anak siapa lagi kalau bukan anak gue." Lio seolah tidak rela mengatakan hal tersebut, namun dia bisa apa, itu kenyataannyakan.
"Lo yakin sik Cleo itu benar-benar setia saat pacaran sama lo, kok gue gak yakin ya kalau wanita seperti Cleo itu bukan tipe wanita yang setia."
"Itu memang kenyataannya Raf, dia wanita yang setia."
Rafa benar-benar tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Lio, meskipun ini bukan urusannya, tapi Rafa adalah sahabatnya, keluarga Rafa sudah banyak membantu keluarganya, dan selain itu, Rafa juga sudah menganggap Naya sebagai adiknya sendiri, oleh karna itu, Rafa akan membantu Lio untuk mencari kebenaran apakah anak yang dikandung oleh Cleo adalah anaknya Lio atau bukan, karna entah kenapa, Rafa yakin anak itu bukanlah anaknya Lio.
"Terus, rencana lo apa, lo mau ngikutin saran Naya untuk menikahi Cleo."
"Gue gak mau, tapi gue juga gak mau anak itu lahir tanpa seorang ayah." cetusnya, "Gue harus gimana Raf, gue bingung."
Dengan asal Rafa berkata, "Suruh saja Cleo gugurin kandungannya, persoalan bereskan." dengan wajah tanpa dosa.
"Itu anak gue setan, ya kali gue tega nyuruh Cleo menggugurkannya."
"Ya udah kalau gitu, nikahin saja Cleo, gue akan dengan senang hati menjadi saksi dipernikahan kedua lo." Rafa malah meledek Lio.
Lio mendengus kesal, saat serius begini masih saja sahabatnya itu meledeknya.
"Enyahh lo dari hadapan gue." sungutnya mengusir Rafa.
"Habis manis sepah dibuang." Rafa pura-pura menampakkan tampang kecewa.
****
Leta mampir ditoko kue langganan keluarganya, dia ingin membeli kue sebagai buah tangan untuk Naya.
Leta memilih-milih kue dietalase, "Mbak." panggilnya setelah memutuskan kue yang mau dia beli, "Tolong ya mbak kue coklat yang ini satu." Leta menunjuk kue berbentuk persegi dengan ukuran yang lumayan besar.
"Baik mbak, ada lagi."
"Tidak mbak, itu saja."
"Tunggu sebentar ya mbak, kuenya dibungkusin dulu."
Leta duduk dikursi panjang yang menempel didinding menunggu kue pesanannya dibungkus, saat itu seseorang yang pernah dilihatnya melintas didepannya, Leta bisa mendengar percakapan dua orang itu.
"Kamu mau makan yang manis-manis sayang." suara laki-laki yang menggandeng wanita cantik itu bertanya.
"Iya, dua hari belakangan ini aku ingin makan yang manis-manis terus." jawab sik wanita bergayut manja.
"Ehhh itukan." Leta berusaha mengingat gadis cantik itu, "Dia itukan gadis yang mengaku-ngaku dihamili oleh sik brengsek itu." sejak adanya pengakuan Cleo itu, Leta jadi hilang hormat sama Lio, sekarang dia selalu memanggil Lio dengan sebutan sik brengsek.
Leta kurang yakin juga sieh sebenarnya, apalagi dia hanya pernah melihat Cleo sekali, "Ahh tapi tidak mungkin, hanya sekedar mirip saja kali ya, gadis itukan katanya hamil karna sik brengsek itu, tidak mungkin donk dia bersama laki-laki lain."
"Mbak ini kuenya." karyawan toko menghentikan praduganya.
__ADS_1
****