Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
GADIS KECIL DI DEKAT JENDELA


__ADS_3

Naya dan Lio mengikuti ibu Wahidah menuju ruang seni dimana sebagian anak-anak dipanti asuhan cinta kasih menghabiskan waktunya disana.


Sepanjang dalam perjalanan, ibu Wahidah bercerita tentang kondisi panti dan anak-anak yang ada disana, baik Naya dan Lio mendengarkan dan kadang menimpali.


"Yahh begitulah, kami pihak panti berusaha untuk mencari donatur supaya panti ini tetap bertahan demi anak-anak, kasihan anak-anak itu kalau panti sampai ditutup, mau pergi kemana mereka sedangkan saudara saja tidak punya, hanya kami para pengurus panti yang selama ini mereka anggap sebagai keluarga mereka." ibu Wahidah mengakhiri ceritanya, wanita berkerudung dengan wajah lembut itu terlihat sendu, terlihat jelas dia sangat menyayangi anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua tersebut.


Hati Lio tersentuh mendengar cerita ibu Wahidah, sehingga begitu ibu Wahidah menyelsaikan ceritanya, Lio tanpa berfikir berkata, "Bu, kalau boleh, saya ingin menjadi donatur dipanti ini."


Kalimat Lio barusan reflek membuat ibu Wahidah dan Naya berhenti, dua wanita itu memandang Lio dengan tatapan tidak percaya.


"Mas Lio beneran mau jadi donatur di panti kami ini." ulang ibu Wahidah untuk memastikan dia tidak salah denger.


"Iya bu, sebisa mungkin saya akan membantu panti ini, dan kalau Allah mengizinkan, saya akan menjadi donatur tetap." cetus Lio mantap dan penuh keyakinan.


"Alhamdullilah, terimakasih banyak mas Lio, sungguh bantuan dari mas akan sangat berarti bagi anak-anak." mata ibu Wahidah sampai berkaca-kaca saking bersyukurnya.


Lio memandang Naya yang memberikan senyuman tipis, yang kalau diartikan maknanya adalah 'Mas melakukan hal yang tepat dengan menjadi donatur tetap dipanti ini', Liopun membalas senyum Naya.


"Meskipun selama ini mas Lio selalu bersikap seenaknya sama aku, tapi aku tahu sebenarnya mas Lio orangnya baik, dan memiliki rasa peduli yang tinggi sama orang lain." batinnya Naya bangga terhadap suaminya yang mau membantu panti asuhan cinta kasih yang tengah mengalami kesusahan.


"Terimakasih banyak mas Lio, mbak Naya." saking senengnya, ibu Wahidah beberapa kali mengucapkan terimakasih, "Kami tidak akan bisa membalas kebaikan kalian, biarlah Allah yang maha kuasa yang akan membalasnya."


"Ibu tidak perlu berterimakasih begitu, itu sudah menjadi kewajiban saya."


****


Dan kini, ketiga orang tersebut kembali melanjutkan perjalanan, sampai kemudian mereka tiba disebuah ruangan yang pintunya terbuka lebar, ruangan itu cukup rame oleh anak-anak dengan berbagai jenis usia, yang namanya anak-anak, ada saja tingkah dan ulahnya, ada yang saling kejar-kejaran, main silat-silatan, ada yang menjaili temannya, namun ada juga yang tengah serius latihan vokal, latihan nari, dan beberapa kegiatan lainnya yang dilakukan oleh anak-anak panti diruangan yang cukup besar tersebut.


Ketika Naya dan Lio memasuki ruangan tersebut bersama dengan ibu Wahidah, kegaduhan tersebut berhenti untuk sesaat, semua yang ada didalam memandang dengan penuh rasa ingin tahu pada Naya dan Lio.

__ADS_1


Ibu Wahidah kemudian memperkenalkan, "Anak-anak, kenalkan, ini mbak Naya dan mas Lio, ayok sapa dulu mas dan mbaknya."


"Hai kak Naya, hai om Lio." koor anak-anak itu serempak.


Mendengar anak-anak tersebut memanggil Lio dengan panggilan om, sontak Naya langsung melirik ke arah Lio, dan seperti yang terjadi diluar, Naya bisa melihat ekpresi wajah Lio tengah menahan kesal karna dirinya dipanggil om. Naya ingin tertawa melihat ekpresi wajah Lio, tapi ditahannya .


"Akhhh, kenapa anak-anak disini pada hoby manggil gue om, apa gue udah setua itu, kayaknya gue harus beli krim anti aging sepulang dari sini." keluhnya dalam hati.


Kembali terdengar suara ibu Wahidah mengarahkan anak-anak asuhnya, "Anak-anak, mas Lio dan mbak Naya ini akan menjadi donatur tetap di panti kita ini, untuk itu, kita harus bilang apa sama mereka."


"Terimakasih kak Naya, dan om Lio karna telah mau membantu kami, semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan melancarkan rizki kak Naya dan om Lio." seru anak-anak itu kembali serempak, mungkin kalimat seperti itu sudah sering mereka ucapkan pada setiap donatur yang memberikan sumbangan pada panti mereka.


"Aminnn." ucap Naya.


Dan setelah perkenalan singkat itu, anak-anak tersebut kembali pada kegiatan masing-masing.


Lio mendekati Naya yang fokus memperhatikan anak-anak tersebut, Lio berbisik ditelinga Naya, "Katanya mau pilih anak untuk diadopsi, kenapa malah sibuk cengar-cengir."


Memang Naya tengah cengar-cengir karna menyaksikan anak laki-laki yang menjaili teman perempuannya, hal itu mengingatkannya pada masa lalu saat dirinya masih duduk dibangku SD, waktu itu Wahyu sering menjahilinya, dan gara-gara hal itu mereka sering kali bertengkar, dan eh gak tahunya ketika mereka beranjak besar mereka malah pacaran, dan meskipun sekarang tinggal kenangan sieh.


Naya terlihat salah tingkah karna kpergok tengah cengar-cengir, kan dia jadi malu,


"Hayo ngaku, kamu tengah ingat masa lalu ya." tembak Lio tepat sasaran.


Namun Naya berusaha mengelak, "Mas ini ada-ada saja, ya gaklah."


Lio jelas tidak percaya dengan jawaban Naya, tapi dia memilih fokus ke tujuan awalnya datang ke panti, "Ya sudah, sekarang fokus untuk mencari anak untuk kita adopsi." saran Lio.


Lio kembali berbisik, "Nay, kita adopsi anak-anak laki-laki saja ya."

__ADS_1


"Anak perempuan saja mas." tolak Naya tidak setuju dengan usul Lio.


"Anak laki-laki saja Naya, anak laki-laki tidak bikin repot."


"Kata siapa, justru anak laki-laki yang kebanyakan bikin repot dan susah di atur."


Disaat mereka tengah berdebat tentang jenis kelamin anak yang ingin mereka adopsi, mata Naya tidak sengaja menoleh ke arah ke sudut ruangan, disana di paling belakang pojok kanan dekat jendela yang terbuka, seorang anak perempuan yang berusia kira-kira lima tahun tengah duduk dihadapan kanvas, anak perempuan itu menyangga dagunya memandang dengan tatapan kosong ke luar jendela, entah kenapa, begitu melihat anak perempuan berwajah sendu itu, kaki Naya tergerak untuk mendekatinya, tanpa mempedulikan Lio yang masih ngoceh tentang keinginannya mengadopsi anak laki-laki, Naya melangkah untuk mendekati anak perempuan yang telah menarik perhatiannya tersebut.


"Nayyyy, heii." kesal Lio karna dia belum selesai Naya sudah main tinggal saja, "Aku belum selesai bicara."


Protes Lio diabaikan oleh Naya, dia terus berjalan mendekati anak perempuan tersebut, dan sepertinya, anak itu tengah asyik dengan dunianya sendiri sampai tidak menyadari Naya yang sudah berdiri disampingnya, Naya memperhatikan kanvas yang berisi sebuah lukisan yang lumayan menurut Naya untuk ukuran anak kecil berumur lima tahun seperti gadis kecil yang ada disampingnya ini.


"Gambar yang bagus." komen Naya setelah melihat gambar anak tersebut.


Mendengar seseorang mengomentari lukisannya barulah anak perempuan itu menoleh ke samping, mungkin kaget melihat Naya yang tiba-tiba ada disampinganya sehingga membuat mata anak itu melebar, (Sebenarnya bukan tiba-tiba, Naya sudah sejak tadi berdiri didekatnya, namun gadis kecil itu saja yang tidak menyadari karna asyik melamun.)


Gumam Naya dalam hati saat melihat mata lebar nan cantik milik gadis kecil itu adalah, "Masyaallah, cantik sekali anak ini, bener-bener sempurna ciptaanmu ya Allah, tapi kenapa mata indah anak ini penuh dengan kesedihan."


Ketika dilihatnya sik anak terus menatapnya dengan penuh tanda tanya, barulah Naya tersenyum ramah dan memperkenalkan dirinya, "Hai anak cantik, perkenalkan, nama kakak adalah Kanaya Azzahra, panggil saja Naya." Naya mengulurkan tangannya, sesuatu hal yang sudah menjadi tradisi di Indonesia saat berkenalan dengan orang baru.


Tidak menyambut keramahan Naya, gadis kecil itu malah menatap Naya curiga, mungkin dia berfikir Naya orang jahat kali, dan seolah membaca apa yang ada difikiran gadis kecil itu, Naya menambahkan, "Tenang saja sayang, kakak bukan orang jahat kok, kakak cuma mau tahu nama kamu saja." jelas Naya untuk menyakinkan sik anak.


Dengan agak ragu sik gadis kecil menyambut uluran tangan Naya, "Aku Bulan."


"Bulan, nama yang sangat cantik, sama seperti orangnya." puji Naya dan itu berhasil membuat gadis kecil bernama bulan itu tersenyum.


"Dan makin cantik kalau tersenyum begini."


*****

__ADS_1


__ADS_2