
"Guekan cuma ngasih solusi saja sama lo Boy, sebagai sahabat, gue gak tega lihat lo begini terus, fikir gue, dengan lo membuka hati buat cewek lain siapa tahu gitu lo bisa melupakan kesedihan lo, lagian Leta itu baik orangnya, perhatian dan pastinya cantik banget."
Boy tahu sahabatnya itu bermaksud baik, dia tidak ingin melihatnya terpuruk hanya gara-gara cinta, tapi dia juga gak mungkin bisa menerima cinta baru secepat itu, sehingga dia menjelaskan dengan kata-kata yang lebih pelan, "Sorry Re kalau tadi gue ngegas." Boy minta maaf terlebih dahulu karna tadi suaranya meninggi, "Gue tahu maksud lo baik, tapi untuk saat ini, gue tidak mungkin untuk mendekati Leta, itu sama saja seperti menjadikan Leta itu sebagai pelarian, dan gue yakin, itu hanya akan menyakiti Leta, ngertikan lo."
Renald mengangguk paham, "Iya, lo benar juga." dia menepuk punggung Boy.
"Tapi lo juga gak boleh kayak gini terus, lo harus move on."
"Iya gue tahu, ya kali gue terpuruk hanya gara-gara cinta, tapi yah untuk saat ini biarkan gue menikmati manisnya patah hati."
Renald terkekeh mendengar kelakar sahabatnya tersebut, "Jatuh cinta kali yang manis, kalau patah hati mah nyesek namanya."
"Hahaha, iya."
"Bay the way, terimakasih ya Re atas semuanya, lo selalu ada saat gue terpuruk seperti ini, lo benar-benar sahabat terbaik gue."
"Dan misi gue menjadi sahabat terbaik lo belum berakhir, gue harus mengembalikan kecerian sahabat gue ini, dan untuk itu, lo harus ikut gue sekarang."
"Ahhh ogah, gue mau tiduran dikamar saja." tolak Boy.
"Tidak bisa, pokoknya lo harus ikut." Renald memaksa.
"Mau kemana sieh."
"Kita cuci mata."
Dan pada akhirnya mau tidak mau Boy menuruti keinganan sahabatnya itu.
****
Hari minggu pagi itu, Rafa datang ke rumah orang tuanya, tadinya dia tidak mau mengangkat telpon dari mamanya, fikirnya, mamanya menelpon untuk mengomelinya karna dia lupa dengan janji makan malam dengan anak teman mamanya, tapi setelah ketiga kalinya, akhirnya dia menjawab, dan ternyata mamanya menghubunginya untuk memintanya pulang untuk menghibur adiknya, yang menurut informasi dari sik mama, katanya adik perempuannya yaitu Leta saat ini tengah patah hati.
Begitu tiba dirumah keluarganya, Rafa disambut oleh mamanya, kalau biasanya mamanya akan mencecarnya tentang wanita, pacar dan kapan menikah, kini mamanya terlihat gelisah dan berkata, "Syukurlah kamu datang nak." wajah mama Rina terlihat mendung.
"Iya ma, bagaimana Leta."
Mama Rina tidak langsung menjawab pertanyaan putranya, dia terlihat menghembuskan nafas sebelum menjawab, "Adikmu itu tidak dalam keadaan baik-baik saja Rafa, meskipun dia terlihat tersenyum dan ceria didepan mama dan papa, mama tahu, anak itu melakukannya hanya untuk mengelabui mama dan papa, mama tahu dia masih sedih karna yahh, gara-gara laki-laki yang dia sukai tidak menyukainya."
__ADS_1
Rafa hanya mangut-mangut mendengar penjelasan mamanya.
"Kamu hibur dia ya nak, ajak adikmu itu pergi jalan-jalan, siapa tahu itu akan menghiburnya dan dia bisa melupakan kesedihannya."
"Baik ma."
"Ya sudah, sebaiknya kamu temui dia sekarang dikamar."
Rafa berjalan menuju kamar adiknya, dia mengetuk pintu kamar, namun karna tidak ada sahutan dari dalam, Rafa mendorong pintu kamar adiknya, begitu kamar terbuka setengah, dia bisa melihat adiknya tengah duduk termenung dengan menyangga dagu didekat jendela, melihat kondisi adik semata wayangnya itu, Rafa ikut terlihat sedih.
Rafa berjalan pelan mendekati adiknya, dia berniat mengagetkan adiknya seperti yang biasa dia lakukan sebelum-sebelumnya, biasanya cara itu akan mampu membuat Leta kesal dan mengomelinya.
"Doorrr." lengking Rafa didekat telinga Leta, Rafa sudah bersiap menunggu amukan sang adik, namun ternyata Leta hanya menoleh, dan dengan suara lemah berkata, "Kak Rafa, kapan datang." setelah mengatakan hal itu, Leta kembali memandang ke arah luar jendela dengan pandangan kosong.
Rafa mendesah, ternyata adiknya benar-benar sepatah hati itu, sampai dia yang biasanya akan meluapkan kekesalannya dengan keisengan sang kakak hanya merespon dengan biasa saja.
Rafa menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Leta.
"Kamu mau jalan-jalan sama kakak."
"Apapun yang kamu inginkan akan kakak belikan lho tanpa syarat." Rafa masih belum menyerah membujuk adik kesayangannya itu.
"Leta malas keluar kak, mau dirumah saja."
Rafa punya 1001 cara untuk membujuk adiknya, "Ayoklah Ta, temenin kakak ya, kakak suntuk nieh gak ada kegiatan dihari minggu ini, siapa tahu gitu saat jalan-jalan nanti kakak bisa bertemu dengan seorang gadis yang klik dihati kakak dan siapa tahu bisa dibawa ke rumah dan dikenalin ke mama."
Leta menoleh ke arah kakaknya, demi mendengar kakaknya ingin tebar pesona untuk mencari calon pendamping, dia akhirnya mengiyakan ajakan kakaknya, karna umurnya kakaknya sudah lebih dari cukup untuk membangun rumah tangga, dia tidak ingin kakaknya menjadi perjaka tua, "Baiklah."
Rafa tersenyum karna berhasil membujuk adiknya itu, "Nahh kalau gitu Arleta adik kakak yang paling cantik dan manis, lebih baik kamu siap-siap sekarang, kakak tungguin diluar oke."
Leta hanya mengangguk.
****
Bulan begitu antusias saat ayah angkatnya membawanya jalan-jalan ke mall, mata gadis kecil itu berbinar-binar melihat hal-hal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
Lio memilih menggendong Bulan, takut hilang dari pengawasannya karna putri kecilnya begitu lincah dan aktif, sekalian juga mereka membelikan perlengkapan sekolah untuk Bulan karna gadis itu akan masuk TK.
__ADS_1
"Apa kamu capek, laper, atau kamu ingin sesuatu gitu." pertanyaan itu terus ditanyakan oleh Lio pada Naya, dia tidak ingin Naya kelelahan dan pastinya itu akan berpengaruh sama bayi yang dikandung oleh Naya.
Naya hanya menggeleng, dia begitu sangat senang bisa berjalan-jalan dengan keluarga kecilnya sehingga dia tidak merasakan lelah sama sekali.
"Apa sik bayi tidak rewel didalam sana."
"Tidak mas." Naya memegang perutnya, "Dia baik-baik saja didalam sini."
"Anak ayah bener-bener anak yang tangguh."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, saat tengah berjalan-jalan, Lio menghentikan kakinya ditoko yang menjual pernak-pernik dan berbagai perlengkapan bayi.
Melihat suaminya berhenti Naya bertanya, "Mas Lio kenapa berhenti."
"Nay, kita masuk kesana yuk." Lio menunjuk toko yang menjual perlengkapan bayi tersebut, "Kita beli perlengkapan untuk bayi kita."
"Tapi mas, usia kandungan Nayakan masih 3 bulan, apa tidak terlalu dini untuk membeli perlengkapan bayi, kata orang di desa, pamali membeli perlengkapan bayi sebelum umur kandungan belum genap 7 bulan."
"Itu tahayul Nay, kamu kok percaya hal yang begituan sieh, menurutku beli sekarang atau nanti itu sama saja." sanggah Lio yang tidak percaya dengan takhayul.
Naya sebenarnya masih ingin menolak, tapi melihat Lio yang begitu bersemangat membeli perlengkapan untuk sik bayi yang masih dalam kandungannya, Naya jadi tidak tega menolak.
"Baiklah mas."
Lio tersenyum senang begitu mendengar Naya menyetujui idenya.
Keluarga kecil itu memasuki toko dan mata mereka disambut oleh pernak-pernik lucu, mulai dari baju-baju bayi, topi bayi yang lucu-lucu, sepatu bayi yang imut, boks bayi dan segala jenis perlengkapan bayi, Naya yang tadinya menolak kini terlihat antusias melihat hal itu, dia jadi tidak sabar menunggu kehadiran sik bayi didunia.
Begitupun dengan Lio, dia meraih tangan Naya dan menggenggamnya dengan mesra, "Lihat pernak-pernik bayi itu, menggemaskan sekali bukan, pasti bayi kita akan terlihat imut kalau mengenakannya nanti."
"Iya mas, lucu-lucu ya."
"Tahu gak, aku sudah tidak sabar menunggu buah cinta kita lahir ke dunia ini sayang." diakhiri dengan mengelus perut Naya.
Naya yang belum terbiasa dengan perlakuan mesra suaminya itu hanya tersipu, kalau ada orang yang paling bahagia di dunia ini, maka dialah orangnya.
****
__ADS_1