
Sudah lebih dari satu minggu Cleo tinggal dirumah besar, gadis licik itu benar-benar memanfaatkan kebaikan mama Renata dengan sangat baik, dia berlaku seenaknya dirumah besar dan minta dilayani bak seorang ratu, hal tersebut semakin membuat para pekerja dirumah besar terutama mbak Wati dan bi Darmi semakin tidak menyukai gadis itu, karna dengan semena-mena Cleo yang belum resmi menjadi bagian dari keluarga Rasyad menyuruh dua ART itu untuk melayaninya.
Dan sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh mama Renata, begitu Cleo sembuh total, maka Cleo dan Lio akan melangsungkan pernikahan, oleh karna itu, dalam hal ini, mama Renata dan Cleolah yang paling antusias dalam menangani masalah pesta pernikahan yang akan diadakan disebuah hotel, sedangkan Lio, jangan ditanya deh, laki-laki itu benar-benar frustasi, tapi memang dia punya pilihan selain menikahi Cleo yang saat ini tengah mengandung anaknya, jadi yah, mau tidak mau, terpaksa Lio harus menerima pernikahan yang telah dirancang oleh mamanya.
Sementara itu Naya, meskipun dengan sekuat hati dan menguatkan perasaannya untuk berlapang dada dan ikhlas untuk menerima pernikahan suaminya yang sudah didepan mata, namun, tetap saja, sebagai seorang perempuan, rasanya Naya tidak akan sanggup menyaksikan ijab kabul sang suami dengan perempuan lain didepan matanya sendiri, oleh karna itu, Naya berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri dan menata perasaannya.
Karna tidak mau berpamitan secara langsung pada suaminya karna sudah bisa dipastikan Lio tidak akan mengizinkannya pergi, Naya hanya menulis surat untuk berpamitan.
Bunyi surat yang ditulis oleh Naya adalah.
Assalamualaikum mas Lio.
Saat mas membaca surat ini, mungkin Naya sudah berada dalam perjalanan menuju desa orang tuaku mas.
Maafkan Naya mas karna pergi tanpa berpamitan secara langsung sama mas Lio, karna kalau Naya minta izin secara langsung, mas Lio pasti tidak mengizinkan dengan alasan Naya tidak boleh melakukan perjalanan jauh karna tengah hamil, makanya Naya hanya pamit lewat surat, Naya harap mas Lio mengerti dan tidak marah.
Sekali lagi Maafkan Naya ya mas, Naya pergi karna Naya rasanya tidak sanggup menyaksikan acara pernikahan mas Lio.
Mas fokus saja mempersiapkan pernikahan mas Lio dengan Cleo, jangan fikirkan Naya, Naya pasti akan baik-baik saja selama Naya berada ditengah-tengah ayah dan ibu, dan yang paling penting, mas Lio gak perlu nyusulin Naya, Naya nanti akan pulang dengan sendirinya, Naya hanya butuh menenangkan diri sejenak didesa.
Ohh ya mas, Naya hampir lupa, tolong kasih pengertian ya sama Bulan kalau saat ini bundanya untuk beberapa hari kedepan tidak akan ada dirumah, Naya juga tidak sempat pamitan sama dia karna gadis kecil kita itu saat ini masih disekolah.
Mas jangan khawatirin Naya ya, Naya pasti akan baik-baik saja, dan begitu sampai didesa Naya akan langsung menelpon mas Lio.
Hmmm, sudah dulu ya mas, Naya titip Bulan sama mas Lio selama Naya tidak ada dirumah.
Salam sayang dari istrimu yang sangat mencintaimu
KANAYA AZZAHRA
Naya mengakhiri suratnya, Naya kemudian meletakkannya dinakas dibawah pas bunga supaya suaminya bisa menemukannya.
****
Naya merapatkan kardigan longgar yang kini dia pakai sampai menutupi perutnya yang sudah membuncit, Naya meraih tas kecil dan tas jinjing berukuran sedang yang didalamnya berisi pakaian yang dia butuhkan selama berada didesa.
Sebelum benar-benar pergi, Naya mengedarkan pandangannya kesekliling kamar suaminya yang sudah beberapa bulan ini berstatus sebagai kamarnya juga, kamar yang selalu membuatnya nyaman dan betah, terakhir, matanya beralih melihat figura besar berisi foto pernikahannya dan Lio, Naya tersenyum dan pamit, seoalah-olah dirinya pamit sama sang suami, "Aku pergi dulu mas Lio, jaga dirimu dan Bulan, aku hanya pergi sebentar dan pasti akan kembali." setelah mengatakan hal itu Naya menutup pintu kamarnya.
Dan entah karna kebetulan atau memang semesta tengah berpihak padanya karna saat ini rumah besar benar-benar sepi, mama Renata dan Cleo mungkin saat ini tengah berada dibutik atau entahlah Naya tidak tahu, sedangkan bi Darmi pergi ke pasar, mbak Wati dan pak Ridwan saat ini masih berada disekolah menunggu Bulan, sedangkan dipintu gerbang, Naya tidak melihat pak Kosim satpam rumahnya, sepertinya laki-laki itu memang tidak berada diposnya.
Rencananya, Naya mau ke terminal terlebih dahulu untuk naik bus menuju desanya.
Naya menunggu didepan siapa tahu ada ada taksi atau kendaraan umum yang lewat yang bisa membawanya ke terminal.
Sampai kemudian, setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepannya, saat kaca mobil diturunkan oleh sik pengendara mobil, barulah Naya tahu siapa pengendara tersebut.
"Mas Boy." gumamnya tidak menyangka kalau pemilik mobil itu adalah Boy.
Boy membuka pintu mobil dan menghampiri Naya, dia melihat Naya dan agak heran melihat tas yang saat ini tengah dijinjing oleh Naya, tanpa bertanya sekalipun, Boy tahu kalau Naya akan bepergian untuk beberapa hari.
"Mau kemana Naya." tanyanya.
"Naya mau pulang ke kampung mas Boy, ingin melihat keadaan ayah dan ibu, Naya kangen soalnya." jawab Naya jujur sekaligus bohong.
"Ohhh." Boy mengangguk mengerti, "Sendirian Nay pulang kampungnya, gak dianterin suami kamu."
"Iya mas aku sendirian, mas Lionya sibuk gak bisa ninggalin kerjaannya." bohongnya.
"Tega sekali Lio membiarkan istrinya pulang kampung sendirian, apalagi kampungnya Naya jauh, tengah hamil lagi, sesibuk itukah dia sampai tidak meluangkan waktu untuk mengantarkan istrinya." Boy jadi berfikiran negatifkan terhadap Lio karna kebohongan Naya.
"Terus, kamu diantar sopir." Boy kembali bertanya.
"Ahhh enggak mas, Naya pulang sendiri, Naya lagi nunggu ojek atau angkutan umum untuk ke terminal."
"Kamu mau naik bis Nay." Boy terkejut.
Naya menjawab santai tanpa beban, "Iya mas, soalnya gak enak ngerepotin pak Ridwan."
"Astaga, Naya pulang sendirian naik bis, mending kampungnya dekat, ini jauh banget, kalau terjadi apa-apa gimana, kalau Naya dijahatin gimana, sekarangkan banyak kejahatan yang sering terjadi diangkutan umum, benar-benar tega banget Lio membiarkan istrinya pulang sendirian, kalau dia tidak bisa nganter, minta sopirnya kek untuk nganterin, benar-benar laki-laki tidak bertanggung jawab." tuhkan, Boy bertambah berfikir negatifkan tentang Lio gara-gara kebohongan Naya.
"Mas Boy sendiri ngapain, kok tiba-tiba ada disini, apa mas mau bertamu ya ke rumah kami."
"Ohh gak kok Nay, kebetulan aku hanya lewat di daerah sini karna kebetulan teman kuliahku tinggal disekitaran sini, dan ehh tau-taunya aku lihat kamu berdiri dipinggir jalan, makanya aku samperin."
"Ohhh."
Saat itu taksi lewat, Naya langsung mencegatnya dengan melambaikan tangannya, "Taksi."
Taksi tersebut berhenti satu meter didepan mobil Boy.
"Kalau gitu Naya pergi ke terminal dulu ya mas Boy, selamat tinggal." Naya sudah akan melangkah mendekati taksi, namun lengannya ditahan oleh Boy.
"Aku anterin kamu Nay."
"Ehhh, gak usah mas terimakasih, Naya naik taksi saja." tolak Naya.
__ADS_1
"Aku anterin Nay." suara Boy terdengar tegas sehingga Naya tidak membantah.
Boy mendekati taksi dan menunduk untuk mensejajarkan pandangannya dengan pengemudi taksi, "Maaf ya pak, taksinya tidak jadi."
Awalnya sik sopir taksi ingin marah, wajahnya sudah kelihatan tidak enak, namun saat Boy menyodorkan selembar uang dengan nominal 100 ribu, sik sopir jadi tersenyum, mungkin dalam hatinya berkata, "Sering-sering saja begini, dapat rizki nomplok tanpa nganterin pelanggan"
"Sekali lagi maaf ya pak."
"Gak apa-apa mas."
Kalau ada duit saja jadi tidak apa-apa.
Setelah meminta maaf disertai dengan memberikan uang permintaan maaf, Boy kembali pada Naya.
"Ayok Nay aku anterin."
"Mas Boy seharusnya gak perlu repot-repot, Naya jadi gak enak."
"Gak repot kok Nay." Boy mengambil tas jinjing yang dibawa oleh Naya dan meletakkannya dikursi belakang.
"Ayok masuk." Boy lalu membuka pintu penumpang depan.
"Makasih ya mas."
"Kembali kasih."
Saat didalam, Boy baru memperhatikan kalau perut Naya membuncit, terakhir ketemu perut Naya masih rata, "Adek bayinya sudah tumbuh besar ya Nay."
"Iya mas."
"Laki atau perempuan."
"Belum tahu mas, soalnya belum usg."
"Bentar lagi aku akan punya keponakan baru nieh." Boy saat ini benar-benar sudah mengikhlaskan Naya, meskipun belum melupakan perasaannya sepenuhnya.
"Iya mas, doain ya semoga bayinya sehat saat lahir nanti."
"Pasti Nay."
"Kita berangkat sekarang ya."
Naya mengangguk.
Boy melajukan mobilnya ke jalan raya, dalam perjalanan, Boy bertanya, "Jadi Nay, kampung kamu dimana."
"Oke, kita meluncur kesana."
"Maksudnya mas Boy apa." Naya langsung menoleh ke arah Boy.
"Maksud aku jelaskan Nay, aku akan nganterin kamu sampai rumahmu dengan selamat dan utuh tuh tuh tuh."
"Jangan mas, kampung Naya jauh, mas Boy lebih baik anterin Naya ke terminal saja ya biar Naya naik bis ke kampung."
"Aku siap kok Nay nganterin kamu sampai ujung dunia sekalipun, jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak begitu, kitakan sahabat, jadi, sesama sahabatkan harus tolong menolong, benarkan."
"Benar sieh mas, tapi kampung Naya benaran jauh lho, mas Boy nanti capek nyetirnya, belum lagi jalannya jelek, apalagi saat musim hujan begini, jalannya becek dan berlubang, ntar mobil mahal mas Boy kotor lagi."
"Sudah tenang saja, kamu gak perlu khawatirin aku, apalagi khawatirin mobil aku, hanya nyetir sampai kampung kamu saja itu mah kecil, sampai Bali sekaligus aku tidak akan capek nyetirnya, dan masalah mobil aku, toh ini cuma mobil doankkan, kalau kotor ya aku cuci." jawan Boy santai.
"Tapi Naya beneran tidak enak nieh mas."
"Makanya, dibikin enak donk Nay, hehe."
"Ahh mas Boy ini bisa saja bercandanya."
"Lagipula ya Nay, aku ingin lihat kampung kamu, pasti suasana dikampung kamu masih asrikan, sekaliankan aku mau cuci mata mau lihat yang hijau-hijau, atau kalau beruntung aku bisa mendapatkan pacar yang seperti kamu."
Naya terkekeh, dan menggeleng, "Mas mas, ada-ada saja ma Boy ini." ujarnya, "Tapi memang Iya mas, kampung Naya masih asri dan hijau, orang-orangnya juga baik dan ramah-ramah."
"Maka dari itu, izinkan aku mengantar kamu oke."
Naya mendesah pasrah, "Ya sudahlah kalau mas Boy memaksa, tapi mas Boy jangan menyesal ya, apalagi mengeluh saking jauhnya."
"Tenang saja, tidak akan." ujarnya dengan penuh keyakinan.
Sepanjang perjalanan panjang itu mereka habiskan dengan mengobrol, membicarakan tentang banyak hal, salah satunya adalah tentang cinta, Naya yang lebih dulu mengangkat topik itu.
"Mas Boy sudah punya pacar."
Boy menoleh sesaat ke arah Naya dan kembali fokus menyetir dan menghadap depan dan menjawab pertanyaan Naya, "Aku tidak punya pacar Nay."
Naya tidak percaya, "Masak sieh."
"Kamu gak percaya."
__ADS_1
"Hmmm, habisnya siapa yang akan percaya coba, masak cowok seganteng mas Boy tidak punya pacar."
"Beneran gak ada Nay, aku gak bohong, sebenarnya ada sieh gadis yang aku taksir, tapi...."
Boy belum menuntaskan ucapannya, Naya dengan cepat memotong dan menebak, "Mbak Leta ya."
"Hahhh, Leta." bingung Boy karna tiba-tiba Naya menyebut nama Leta.
"Iya, gadis yang mas Boy taksir itu mbak Letakan, sudah aku duga." simpulnya dengan penuh percaya diri karna menduga tebakannya benar.
Boy malah terkekeh menanggapi ucapan Naya.
"Benerkan mas."
"Ya tentu saja gak benar donk."
"Heh, kok bisa, ehh maksud aku, kok gak benar, memang mas Boy gak naksir gitu sama mbak Leta."
"Gadis yang aku taksir itu bukan Leta, Leta hanya temen."
"Ohhh." Naya hanya ber oh ria tanpa bertanya lebih lanjut siapa gerangan gadis yang disukai oleh Boy, fikir Naya pasti teman kuliahnya, kalau teman kuliahnya Boykan sudah pasti dia tidak tahu orangnya.
"Kamu gak penasaran siapa gadis yang aku taksir."
Naya yang niatnya gak tahu dan gak mau tahu siapa gadis yang disukai oleh Boy, tapi karna mendapatkan pertanyaan itu kini dia malah nanya balik, "Emang siapa."
Boy tidak menyebutkan nama, hanya saja ciri-cirinya yang dijelaskan, ya iyalah, gak mungkin bangetkan menyebutkan nama orang yang dia sukai didepan orangnya, mending kalau masih singgle, ini sudah menjadi milik orang.
Boy mulai menjelaskan, "Dia gadis yang baik, polos, penyayang, ramah dan sabar, pokoknya tipe istri idaman aku banget deh."
"Pasti cantik ya." sela Naya.
"Hmmm, yahh menurut aku sieh cantik, manis lagi." Boy mengatakan hal itu karna cantik itu relatif, dan baginya Naya cantik natural.
"Teman kuliah mas Boy." Naya sepertinya kepo, dia tidak tahu saja kalau gadis yang dimaksud adalah dirinya.
"Bukan, dia temannya temanku, dan temankulah yang memperkenalkan kami saat kami tidak sengaja bertemu dimall."
"Terusss."
"Aku tertarik padanya pada pandangan pertama."
Naya jadi senyum-senyum sendiri, menurutnya kisah cinta Boy kayak di ftv ftv di SCTV.
"Dan kamu tahu sendirilah Nay, laki-laki itu kalau tertarik ngapain.".
"Mas meminta nomernya." tebak Naya, gadis polos ini benar-benar tidak nggeh kalau dirinya yang saat ini Boy ceritakan.
Boy mengangguk.
"Dikasih."
"Karna dia baik, dan dengan alasan teman, gadis itu memberikannya."
"Terus terus." makin antusias sik Naya mendengar kisah sik Boy, lebih tepatnya sieh kisah mereka.
"Kami bertukar pesan, gak setiap hari sieh, dan walaupun dia membalas kadang balasnya lama, tapi aku tidak menyerah, aku berusaha mendekatinya dengan berbagai macam cara, tapi kamu tahu gak Nay apa yang terjadi disaat aku tengah gencar-gencarnya mendekatinya."
"Mas ditolak." tebaknya.
Boy menggeleng, "Bahkan aku belum sempat menyatakan perasaanku dan tidak akan pernah bisa menyatakannya."
Naya mengerutkan kening, fikirnya kalau Boy menyukai gadis itu kenapa tidak menyatakan perasaannya, "Belum sempat menyatakannya dan tidak akan pernah menyatakannya." Naya mengulangi ucapan Lio, "Ini maksudnya apa sieh mas."
"Disaat aku tengah gencar-gencarnya mendekatinya, aku harus menerima kenyataan kalau gadis yang selama ini aku taksir ternyata sudah punya suami dan saat ini dia tengah hamil Nay."
Naya agak terkejut mendengar hal tersebut, "Mas Boy mencintai istri orang begitu."
"Yahh karna awalnya aku fikir dia belum menikah Nay."
"Terus, sekarang perasaan mas Boy gimana terhadap cewek itu."
"Masih ada sedikit rasa, memang tidak mudah melupakan orang yang kita cinta, tapi aku akan berusaha keras untuk melupakannya, karna mencintai istri orang itu dosakan Nay." wajahnya terlihat sendu, apalagi gadis yang dia maksud adalah gadis yang saat ini tengah duduk disampingnya, Boy juga gak habis fikir, kenapa ada Wanita sepolos Naya yang benar-benar tidak merasa kalau dirinyalah yang dimaksud, padahal Boy menceritakan kronologi ceritanya dengan lengkap.
Naya menepuk-nepuk punggung Boy untuk menguatkan Boy, "Yang sabar ya mas Boy, perempuan buannnnyakkk diluaran sana, pasti banyak yang ngantri untuk jadi pacarnya mas Boy, jadi mas Boy jangan bersedih ya." Naya mencoba untuk menghibur.
"Iya Nay, aku sudah bisa menerima kok sekarang, aku bahkan sudah bisa tersenyum, bahkan didepannya." saat kalimatnya selesai, Boy tersenyum lebar ke arah Naya.
"Bagus, mas Boy memang harus move on."
"Kalau boleh tahu, nama gadis itu siapa mas."
"Kalau aku tidak mau kasih tahu gak apa-apakan Nay."
"Ohhh, gak apa-apa kok mas, Naya ngerti mas tidak mau mengingatnya lagi."
__ADS_1
****