Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MIMPI YANG JADI NYATA


__ADS_3

"Astaga, ya ampun." Naya beringsut agak menjauh dari tubuh Lio, dia jadi salting, merasa bersalah dan entah apa lagi namanya, "Aku tidak tahu...ehh maksudku, tadi aku cuma, aku tidak sengaja melakukannya, maafkan aku mas." Naya merasakan wajahnya memanas, "Ya Tuhan, apa yang aku lakukan." batinnya menyesali perbuatannya, "Pasti mas Lio marah."


Lio menyalakan lampu dengan menggunakan remote kontrol yang membuat suasana kamar menjadi terang benderang, Lio bisa melihat dengan jelas kegugupan Naya, "Astagaa, istriku kenapa begitu sangat menggemaskan disaat gugup seperti itu."


Melihat Lio yang terus menatapnya membuat Naya semakin merasa bersalah, dia takut Lio marah, "Mas marah ya aku cium, aku tadi itu cuma, eh maksudku, maafkan aku mas, aku tidak akan mengulanginya." sesalnya.


Lio beringsut mendekati Naya, Naya menunduk saat Lio mendekatinya, yang Lio katakan saat berada didekat Naya adalah, "Apa kamu baik-baik saja Nay."


"Ehhh." Naya fikir tadi Lio akan memarahinya, tidak pernah terfikir sedikitpun kalau Lio akan menanyakan keadaannya, "Aku baik-baik saja mas."


"Kamu tidak mual-mualkan Nay didekatku."


"Itu.... tidak mas, Naya tidak mual-mual, perut Naya baik-baik saja."


Itu juga yang sejak tadi Naya herankan, tumben dia tidak mual-mual saat berada didekat suaminya, biasanyakan dia akan muntah-muntah.


Lio tersenyum senang mendengar penuturan Naya, menurut Lio, sik bayi kini sudah menerima kehadirannya.


"Mas Lio kenapa sieh, perasaan bawaanya senyum terus."


"Mas Lio, kenapa mas Lio bisa tidur ditempat tidur, bukankah mas tidurnya disofa."


Lio tersenyum canggung, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Emmm itu, aku ingin tidur bersama dengan kamu Nay, aku ingin didekat dengan sik bayi dan mengelusnya, karna semalam kamu tidak mengizinkan aku untuk tidur bersamamu, makanya begitu kamu terlelap aku naik ke tempat tidur." jelas Lio, dia memandang Naya takut kalau Naya marah karna kelakuannya, "Apa kamu marah Nay."


Naya menggeleng pelan, dia memang tidak marah, tapi heran, heran karna Lio yang selama ini dikenalnya tidak menyukainya dan tidak mengharapkan kehamilannya, kenapa tiba-tiba berubah secepat ini.


Melihat Naya menggeleng membuat Lio lega.


"Naya, boleh aku mengelus perut."


Reflek Naya memegang perutnya, "Perut." ulangnya memandang Lio waspada seolah-olah ingin berbuat jahat sama bayi yang ada didalam perutnya.


Lio mengangguk, "Bolehkan Nay, biar bagaimanapun juga, aku adalah ayahnya." ucap Lio lembut mencoba untuk meyakinkan Naya.


Naya mengangguk ragu, tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Lio, dia kemudian mengarahkan telapak tangannya keperut Naya dibalik pakaian tidurnya, "Hai sayang, ini ayah, maafkan ayah ya sayang karna selama ini ayah tidak pernah memperhatikan kamu."


"Apa artinya ini, apa mas Lio mau menerima bayi ini." Naya bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja diperut bunda, jangan merepotkan bunda ya sayang, jangan buat bunda sakit, jadi anak kuat ya sayang, ayah dan bunda sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kamu." dan tanpa minta izin seperti tadi, Lio menunduk dan mencium perut Naya.


"Mas." desis Naya karna tidak mengerti apa yang terjadi, "Apa yang kamu lakukan."


Lio menatap Naya dan meraih kedua tangan Naya, Lio menatap Naya dengan lembut persis seperti dimimpi Naya, dan hal itu membuat Naya gugup, "Naya, maafkan aku karna selama ini mengabaikan kamu, maafkan aku karna selama ini aku tidak berusaha untuk mencintaimu, maafkan aku karna sikap dan perlakuanku selama ini tidak pernah baik padamu, maafkan aku karna selama ini telah membuat kamu menderita, dan maafkan aku karna awalnya aku tidak mengharapkan kehamilanmu."


"Mas Lio." mata Naya berkacata, dia tidak mampu berkata-kata mendengar setiap rentetan ucapan permintaan maaf suaminya.


Lio terdiam sesaat mengambil jeda sebelum dia kembali melanjutkan, "Naya, maukah kamu memulai semuanya dari awal bersamaku, bersama Bulan dan calon anak kita."


Naya tidak mau mempercayai begitu saja apa yang terjadi, dia seperti orang yang kebingungan, "Mas Lio, apa yang kamu lakukan."


"Maafkan aku Naya yang telat menyadari semuanya, aku menginginkan kamu dan bayi kita, aku ingin kita hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang sesungguhnya." Lio memperjelas maksudnya.


Ini persis seperti yang terjadi dimimpi, Naya menginginkan hal itu terjadi, tapi tidak menyangka terjadinya begitu sangat cepat.


"Kenapa secepat ini mas berubah, apa yang terjadi."


"Bayi ini yang menyadarkanku Nay, mungkin Tuhan menitipkannya dirahimmu sebagai jalan supaya kita bisa bersama."


Melihat Naya menangis, Lio meraih Naya dalam pelukannya, "Maafkan aku Nay, maafkan aku yang selalu menyakitimu, aku berjanji akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan."


Naya mengangguk dibalik isakannya, dia tidak pernah menyangka pada akhirnya Lio akan menerimanya sebagai istri seutuhnya, tapi sebuah kenyataan lain membuat Naya menarik tubuhnya seketika dari pelukan Lio.


"Ada apa Nay." tanya Lio heran saat Naya melepaskan pelukannya.


"Cleo mas....."


"Ahh iya, dia." sesungguhnya Lio tidak mengingat gadis itu sampai Naya menyebut namanya, "Aku akan mengakhiri hubunganku dengannya dan memulainya dari awal bersamamu."


"Tapi mas Lio mencintainya."


Lio menggeleng, "Aku memang mencintainya, tapi itu dulu sebelum aku mengenalmu, saat kamu hadir dihidupku, aku fikir aku masih mencintainya, tapi ternyata aku salah, ketulusan dan kepolosanmu sedikit demi sedikit mengikis rasa cinta itu perlahan, dan aku benar-benar menyadarinya saat aku menggendong anaknya Marko."


"Marko." tanya Naya "Itu siapa mas."


Lio kemudian menceritakan semuanya yang membuat matanya terbuka dan mulai menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Naya mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berulangkali menghapus air matanya, dia begitu sangat bahagia.


"Aku berjanji akan mengakhiri hubunganku dengan Cleo, dan fokus sama kamu, bayi kita dan Bulan."


Naya mengangguk, dia sangat bahagia, sampai dia hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata.


Krukkk


Disaat mengharu biru begitu, suara perut Naya yang kelaparan menjadi pengganggu.


Naya tersenyum malu.


"Kamu lapar."


Naya mengangguk.


"Apa kamu sering kelaparan seperti ini tengah malam."


Naya mengangguk lagi, "Naya biasanya suka bangun tengah malam dan memasak mi instan untuk mengganjal perut mas." lapornya.


Meskipun sekamar, Lio jelas tidak tahu akan hal itu karna kalau sudah tidur dia seperti orang yang mati suri.


"Astagaa, itukan tidak sehat Nay untuk kamu dan sik bayi." omel Lio saat mengetahui kalau istrinya saat tengah malam hanya makan mi instan.


"Habisnya gimana mas, adanya hanya itu, ada sieh bahan masakan lain di kulkas, tapi sejak Naya hamil, Naya jadi malas untuk memasak, meminta mbak Wati atau bi Darmi untuk membuatkan ini itu Naya gak enak kalau sampai mengganggu waktu istirahat mereka."


"Sekarangkan kamu punya suami yang bisa kamu bangunkan kapanpun untuk membuatkan kamu makanan apapun yang kamu inginkan."


"Emang mas Lio mau."


"Mau donk, kan demi sik bayi."


"Ya sudah kalau gitu sekarang, bagaimana kalau kita ke dapur, aku akan memasak sesuatu untuk kamu."


Naya mengangguk antusias, antusias karna Lio akan memasak khusus untuknya.


****

__ADS_1


__ADS_2