Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
CHAT DARI MANTAN


__ADS_3

Naya berdiri didepan teras rumah menunggu kedatangan suaminya dan Rafa, senyumnya merekah begitu melihat mobil Lio memasuki pekarangan.


Lio keluar dari mobil diikuti oleh Rafa, sama seperti Naya, Lio tersenyum begitu mengetahui kalau istri tercintanya tengah menunggunya.


"Mas." ujar Naya meraih tangan Lio dan menciumnya.


Lio kemudian balas mencium kening Naya dengan mesra, Naya dibuat berbunga-bunga oleh perlakuan Lio yang begitu manis.


Lio kemudian mengelus perut Naya, "Sik bayi gimana kabarnya Nay."


"Alhamdulillah dia selalu baik mas, akhir-akhir ini tidak pernah rewel."


"Syukurlah, tinggal berapa bulan lagi dia akan keluar Nay, aku sudah tidak sabar menunggu kehadirannya."


"Masih lama mas, mas yang sabar ya."


"Pasti."


Pasutri itu saling memandang dengan pandangan penuh cinta sampai saat Rafa yang merasa dicuekin menarik perhatian mereka.


"Ekhemm." Rafa sengaja berdehem untuk memberitahu kalau dia juga ada disana, "Ada gue nieh disini, jangan anggap mahluk astral donk."


Naya tersenyum malu, sedangkan Lio membalas, "Apaan sieh lo, ganggu kemesraan orang saja."


"Lagian kalian ini kalau mau mesra-mesraan dikamar kek, ini ditempat terbuka begini."


"Ya terserah gue donk mau dimana, orang kita sudah halal begini mah bebas kalau mau bermesraan dimana saja."


"Aduhhh, kenapa malah kalian ribut begini sieh, lebih baik ayok kita masuk kedalam, kita makan sama-sama, nanti makanannya jadi dingin malah gak enak jadinya" lerai Naya.


"Naya benar juga, cacing-cacing diperut gue sudah meronta-ronta minta dikasih makan."


Sebelum masuk, Lio menyerahkan buket bunga yang dibawanya untuk Naya, "Bunga untuk kamu Nay."


Naya mengambil bunga tersebut dengan perasaan bahagia, meskipun begitu, dia tetap berkata, "Mas jangan beliin Naya bunga terus, sayangkan uangnya."


"Aku beli bunga satu truk setiap hari tidak akan membuat aku bangkrut Nay, jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Iya mas, Naya tahu mas kaya raya dan Naya tidak khawatir, tapi maksud Naya, uangnya itu lebih disumbangkan untuk orang yang lebih membutuhkan, atau tidak, uangnya di gunakan untuk membeli beras yang lebih bermanfaat, kalau mas pakai uangnya hanya untuk beli bunga begini, palingan juga nieh bunga 4 hari juga layu."


"Gini deh kalau punya istri baik, belanjain uang untuk hal yang tidak penting-penting banget pasti diceramahin, padahalkan aku niatnya mau romantis supaya seperti difilm-film."


"Sudah jangan protes, ayok masuk, mas Rafa sudah menunggu tuh." Naya menarik tangan suaminya.


****


"Tuan sepuh dan Bulan mana, kenapa tidak bergabung makan siang bersama." tanya Rafa saat sudah duduk dimeja makan.


"Kakek dan Bulan tadi sudah makan duluan, mereka kini berada dikamar masing-masing." kasih tahu Naya.


"Apa kakek sudah minum obat Nay." Lio bertanya.


"Sudah mas, kakek sekarang jadi rajin minum obat, tidak seperti kemarin-kemarin yang mesti dipaksa-paksa dulu baru mau minum obat."


"Itu karna dia ingin sehat supaya nanti saat cicitnya lahir dia kuat untuk menggendongnya."


"Iya mas, kakek akhir-akhir selalu terlihat bahagia, dan selalu perhatian sama Naya dan sik bayi, dia selalu menekankan supaya Naya harus makan-makanan bergizi dan minum vitamin dan disuruh istirahat yang cukup."


"Kalian ngomong terus, kapan makannya nieh kita." intrupsi Rafa yang sudah kelaparan.


"Astaga, mas Rafa jadi terlupakan deh, ayok mas Rafa kita mulai makan." putus Naya setelah mendengar protes Rafa.


"Masakan kamu benar-benar enak Nay, beruntung banget sik Lio ini mendapatkan gadis baik dan pintar masak kayak kamu." puji Rafa.


"Mas Rafa bisa aja, padahal masakan Naya tidak seenak itu lho." Naya merendah mendengar pujian yang dilontarkan oleh Rafa.


"Besok-besok, aku boleh ikut makan siang disini lagikan."


Pastinya Naya akan menjawab 'Iya' tapi Lio mendahuluinya, "Ngelunjak lo ya."


"Biarin aja, lagiankan yang masak bukan elo."


"Mas Rafa boleh kok kesini kapan saja untuk makan, Naya pasti akan sangat senang."

__ADS_1


"Tuh denger Lio, bini lo mengizinkan gue datang kapan saja untuk menikmati masakannya."


"Tapi gue yang gak seneng, kamu masih ingatkan kata dokterkkan Nay, kalau kamu tidak boleh capek, kamu harus banyak-banyak istrihat."


"Iya mas, Naya inget, hanya sajakan kalau istirahat melulu tanpa melakuka apa-apa tubuh Naya terasa pegal-pegal, lagiankan kalau hanya masak doank tidak bikin Naya capek kok."


"Ya sudahlah selama tidak berpengaruh sama kesehatan kamu dan bayi kita, tidak apa-apa kalau hanya memasak saja." Lio melunak, "Tapi ingat, jangan ngelakuin semuanya sendiri, ajak mbak Wati dan bi Darmi untuk membantu."


"Iya mas."


****


Jam dileptop Lio sudah menunjukkan angka 12.00 malam tepat, namun saat ini Lio masih berkutat dengan lepotopnya menyelsaikan pekerjaanya.


Beberapa kali Lio menoleh ke sampingnya dimana Naya tidur dengan nyenyaknya, setiap kali melihat Naya, setiap itu juga senyum Lio mengembang, dia yang awalnya tidak pernah menyukai Naya kini berubah bucin setengah hidup, dia sangat beruntung memiliki Naya.


"Tidur yang nyenyak istriku." gumamnya mengelus puncak kepala Naya sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


Saat tengah fokus-fokusnya, dia mendengar suara notifikasi singkat dari ponsel Naya yang tergeletak dinakas disampingnya, Lio mengerutkan kening, bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan orang yang mengirim pesan ditengah malam buta begini sama istrinya, Lio jadi kepo, karna penasaran, dia akhirnya meraih ponsel milik Naya untuk melihat siapa gerangan yang mengirim pesan.


Mata Lio melebar begitu melihat nama sik pengirim pesan, "Wahyu." desisnya.


Lio bergiliran memandang Naya dan ponsel yang kini ada ditangannya dengan penuh rasa curiga, "Apa jangan-jangan Naya masih berhubungan dengan mantannya diam-diam dibelakangku." Lio jadi suudzon, "Astagfirullah, gak mungkin , Naya bukan gadis seperti itu, ya Tuhan, kenapa aku jadi mencurugai istriku begini sieh." Lio membantah fikiran negatif yang merasukinya.


Daripada suudzon, Lio memilih untuk membuka pesan yang dikirim oleh Wahyu mantannya Naya.


Bunyi pesan yang dikirim oleh Wahyu adalah.


Assalamulaikum Naya, kamu apa kabarnya, aku berharap kamu selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah, aku denger dari Eli katanya saat ini kamu tengah hamil, selamat ya atas kehamilanmu, aku turut bahagia mendengarnya, gak nyangka ya, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu.


Sampai sini Lio mendengus membaca pesan tersebut, "Huhh sok perhatian." ketusnya sebelum kembali membaca lanjuta pesan yang dikirim Wahyu tersebut.


Nay, Aku berharap kamu selalu bahagia, karna kebahagianmu juga adalah kebahagianku.


"Naya itu sudah punya suami, lo move on donk, kayak gak ada wanita lain saja." agak emosi juga Lio membaca pesan tersebut.


Oh ya Nay, aku ngechat kamu hanya ingin mengatakan, selamat ulang tahun yang ke 20, semoga kamu selalu panjang umur, diberi kesehatan, selalu bahagia dan terwujud segala apa yang kamu inginkan.


"Apa, hari ini Naya berulang tahun." Lio langsung beralih memandang Naya, tentu saja dia merasa kesal sendiri karna sebagai suami, dia tidak tahu kalau istrinya tepat dipergantian tanggal ini adalah ulang tahun istrinya.


"Huhhh, kenapa sieh nieh anak pakai ngungkit-ngungkit masa lalu segala, jadi kesel gue."


Maafkan aku ya Nay, aku tidak bisa mengirimkan hadiah ulang tahun untuk kamu, karna jika aku lakukan, aku takut suami kamu akan salah paham, jadi, aku hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun lewat chat begini.


Nay, aku bahagia bisa mengenalmu, dan terimakasih karna kamu telah menjadi bagian terindah dalam hidupku dan memberikan saat-saat mengesankan dalam hidupku meskipun pada akhirnya kita tidak bisa bersama, meskipun kita tidak bisa bersama, aku berharap kita bisa tetap menjadi teman.


Sudah dulu ya Nay, chat yang aku kirim terlalu panjang, nanti kamu malah bosan lagi membacanya, semoga kamu selalu bahagia Naya, wanita terindah yang pernah mengisi hari-hariku.


Salam hangat dari laki-laki yang pernah kamu sayangi.


Lio berulang kali menarik nafas dan membuangnya begitu selesai membaca pesan yang dikirim oleh Wahyu mantannya Naya, membayangkan masa lalu Naya yang indah dengan Wahyu seperti yang dikatakan oleh Wahyu dalam pesan tersebut tentu saja membuat Lio merasa sakit hati, begitu banyak hal yang dua insan itu lewati bersama dalam jangka waktu yang cukup lama, sedangkan dia, baru mengenal Naya dan bisa dibilang tidak ada hal indah yang diberikannya kepada Naya, dia malah banyak memberikan tekanan bathin untuk Naya.


Lio berusaha menghibur dirinya dengan mengatakan, "Tapi kisah mereka hanya masa lalu, tidak lebih, Naya kini bersamaku, sekarang dan selamanya, dan aku memiliki banyak kesempatan untuk menciptakan kenangan indah yang tidak akan bisa dilupakan oleh Naya." meskipun begitu, hati Lio tetap merasa tidak membaik, rasa sesak itu masih setia bercokol dihatinya.


Lio meletakkan leptop dan HP Naya dinakas, dan setelah itu dia beringsut mendekati istrinya yang kini terlihat damai dalam tidurnya, wajah polos yang membuatnya pada akhirnya jatuh cinta sama Naya, melihat wajah sang istri membuat perasaan Lio menjadi lebih baik, "Meskipun kalian banyak mengukir kenangan indah, toh itu hanya masa lalu, karna masa depanmu kini bersamaku, dan aku akan membahagiakan kamu Nay, aku berjanji." Lio mengelus pipi lembut Naya dan diakhiri dengan sebuah ciuman dikening.


Lio memeluk Naya, "Terimakasih karna kamu bertahan denganku dan memilih untuk melupakan mantan terindahmu." bisiknya ditelinga Naya, "Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu."


****


Besok paginya, Lio sudah bener-bener melupakan kekesalannya karna pesan yang dikirim oleh Wahyu semalam, dan begitu keluar dari kamar mandi, dia berjalan menghampiri Naya yang tengah memilihkan pakain untuknya dilemari, Lio tersenyum dan berjalan menghampiri Naya, dia dengan pelan melingkarkan tangannya dipinggang Naya dari belakang dan meletakkan dagunya dipundak Naya.


"Terimakasih karna telah menjadi istriku dan mau mengandung buah hatiku." ucapnya sambil mengelus perut Naya.


Naya hanya menanggapi ucapan Lio dengan sebuah senyuman, "Aku juga berterimakasih karna mas Lio telah menjadi suami yang baik untukku."


"Nay."


"Iya."


"Kamu suka apa."


"Maksudnya mas."

__ADS_1


"Apa yang kamu sukai Naya, duh istriku ini lemot sekali." gemes Lio.


"Ohhh." Naya terkekeh, Naya terlihat berfikir sesaat sebelum menjawab, "Naya suka kembang api."


Bener-bener jawaban diluar dugaan, karna setahu Lio, kebanyakan wanita yang dia kenal seperti mamanya dan lebih-lebih wanita seperti Cleo menyukai perhiasaan dan barang-barang bermerk, dan istrinya ternyata hanya menyukai kembang api, Lio bener-bener tidak perlu mengeluarkan modal yang banyak hanya untuk menyenangkan hati istrinya.


"Kamu menyukai kembang api."


"Iya, dulu waktu didesa, setiap tahun baru, pemuda-pemuda didesa Naya selalu berkumpul dilapangan desa untuk menyalakan kembang api dan Naya selalu kesana untuk melihatnya, sangat indah dimalam hari."


"Ohh oke." respon Lio terdengar biasa saja, "Terus selain kembang api, apa lagi yang kamu sukai."


"Naya juga suka permen kapas."


"Permen kapas, tiap ulang tahun kamu pasti meminta mantan kamu itu membelikan kamu permen kapas ya." desahnya dalam hati mengingat chat yang dibacanya semalam.


"Rasanya manis dan langsung hilang dimulut."


"Hmmm."


Naya berbalik dan menghadapkan tubuhnya ke arah Lio, "Mas Lio kenapa tiba-tiba bertanya tentang apa yang Naya sukai sieh." curiga Naya.


"Gak ada, cuma ingin bertanya saja." bohongnya, "Jelaslah aku ingin tahu apa yang kamu sukai, mantan kamu itu mengetahui banyak hal tentang kamu, masak aku sebagai suami kamu tidak tahu apa-apa." ujarnya dalam hati.


"Ehh." Naya melirik jam weker, "Sudah jam segini, mas sebaik-baiknya siap-siap ke kantor, nanti mas telat." Naya memperingati.


"Gak apa-apa kalau aku telat Nay, kan aku bosnya."


"Ya gak boleh begitu donk mas, sebagai seorang atasan kamu harus memberikan contoh yang baik untuk bawahan kamu."


"Tapi aku ingin tetap seperti ini Nay, memeluk kamu."


"Astaga, kenapa mas Lio jadi tiba-tiba manja begini seih."


"Ya biarin saja, orang aku manjanya sama istri sendirikan gak dosa."


Disaat tengah mesra-mesraan begitu, pintu kamar terbuka, diluar sana tampak mbak Wati dan Bulan yang terlihat sangat imut dan menggemaskan dengan seragam sekolahnya. Dua orang berbeda usia itu hanya berdiri tertegun saat menyaksikan pasutri itu tengah berpelukan.


Mbak Wati buru-buru meminta maaf karna merasa tidak enak karna telah mengganggu tuan dan nona majikannya, apalagi saat ini Lio tengah menatapnya dengan tatapan bengis, tatapan itu seolah-olah memberi peringatan yang mengatakan, 'Lain kali kalau masuk ketuk dulu jangan main nyelonong saja, dasar tidak punya sopan santun'


"Maafkan saya tuan Lio, nona Naya, saya bener-bener menyesal, saya akan membawa nona kecil ke bawah saja." lirihnya meraih tangan Bulan, "Ayok nona kecil kita turun sarapan."


Tapi Bulan yang tidak mengerti akan situasi menolak, "Tidak mau mbak Wati, kita ke kamar ayah dan bundakan untuk nunjukin seragam baru Bulan."


Hari ini adalah hari pertama Bulan masuk sekolah TK, tidak heran gadis kecil itu begitu antusias untuk menunjukkan kepada orang tua angkatnya seragam yang kini dia kenakan.


"Gak apa-apa kok mbak Wati." Naya mencoba untuk tersenyum untuk menghilangkan kecanggungan ART itu, "Mbak Wati lebih baik turun saja dulu, biar nanti Bulan turunnya sama Naya dan mas Lio."


"Baiklah nona." mbak Wati berbalik dan dengan langlah terburu-buru dia menuruni tangga.


"Sini sayang." panggil Lio merentangkan tangannya.


Bulan berlari ke arah orang tuanya, begitu tiba Bulan langsung diangkat oleh Lio, "Cantik sekali anak ayah, mau sekolah ya."


"Iya ayah, ini hari pertama Bulan masuk sekolah." lapornya.


"Wahhh hebat, gadis kecil ayah sudah mulai masuk sekolah ternyata, nanti ayah antar ya."


"Yeeyyy ayah mau nganter." Bulan bersorak bahagia, "Tapi ayahkan kerja, mana bisa nganterin Bulan."


"Kan sekalian berangkat kerja sayang, jalan ke sekolah kamu dan kantor ayahkan searah."


"Yeyy yey, ayah mau ngantar."


"Nay, kamu dirumah saja ya, biar aku yang nganterin Bulan dan biarkan mbak Wati yang menunggunya selama jam pulang sekolah berakhir."


"Gak mau, Naya mau nganterin Bulan ke sekolah, yang ibunyakan Naya mas bukan mbak Wati." tolak Naya tidak terima.


"Tapi kamu hamil Nay, kamu lebih baik istirahat saja dirumah, Bulan itu lumayan lama pulang sekolahnya, nanti kamu capek lagi"


"Ya Allah mas, jangan mulai lagi deh, hanya nganterin Bulan doank, pakai mobil lagi tidak jalan kaki, dan lagiankan disekolah nanti saat aku nunggu Bulan kelar sekolahnya itu duduk mas, jadi gak mungkin aku capek."


"Meskipun begitu Nay, alangkah baiknya kamu dirumah saja, walaupun nanti disana kamu cuma duduk doank, tapi aku lebih tenang kamu berada dirumah karna banyak yang jagain kamu disini."

__ADS_1


Memang ya yang namanya rumah tangga, tidak lepas dari yang namanya perdebatan, masalah sepele saja jadi di besar-besarin.


***


__ADS_2