
Sepanjang ikut makan siang dengan keluarga kekasihnya, sepanjang itu juga Cleo memendam kekesalannya, bagaimana tidak kesal jika melihat sang kekasih dan keluarga kecilnya terlihat begitu sangat harmonis layaknya keluarga bahagia yang sesungguhnya, sedangkan dirinya dikacangin bagai kambing congek. Bahkan Lio sendiri seolah tidak memperdulikannya, bahkan saat dia mengajak Lio ngobrol, jawaban Laki-laki itu hanya hmm atau atau gak iya, itu donk.
Dan saat ini, daripada menikmati makan siangnya, Cleo lebih tertarik menyaksikan kekasihnya itu menyuapi anak angkatnya yang manja, "Dasar anak kecil manja, dia bisa makan sendiri, kenapa pakai nyuruh Lio segala nyuapin, dasar anak kecil menyebalkan." dengusnya dalam hati.
"Makan yang banyak ya sayang agar cepat tumbuh besar."
"Iya ayah." jawab Bulan patuh, "Masakan bunda kan enak ayah, kalau dimasakan sama bunda tiap hari pasti Bulan akan cepat besar karna makannya banyak."
"Iya, bunda memang pintar memasak." dukung Lio memandang Naya.
Yang dipandang malu-malu karna masakannya dipuji oleh anak angkatnya dan suaminya, suatu hal yang membuat wanita manapun pasti akan merasa senang pakai banget saat masakannya dipuji, apalagi oleh laki-laki berstatus suami, suami yang sayangnya akan menceraikannya.
"Apa-apaan sieh Lio, pakai muji-muji istri kampungannya segala lagi, bikin kesel aja." saking keselnya, Cleo sampai mencengkram sendoknya dengan kenceng dan membejek-bejek makanannya.
Dan kekesalan Cleo berada dipuncaknya saat Bulan dengan suara imutnya meminta ayah angkatnya tersebut untuk menyuapi Naya.
"Ayah ayah, bunda juga disuapin." pintanya.
"Ehhh, itu tidak perlu Bulan, bundakan bisa makan sendiri." tolak Naya cepat.
Tanpa mempedulikan penolakan ibu angkatnya, Bulan memaksa ayah angkatnya untuk menyuapi Naya, "Ayok ayah suapin bunda, biar bunda cepat gede juga."
Lio dan Naya terkekeh mendengar clotehan Bulan, "Bundakan udah gede sayang."
"Bunda memang sudah gede, tapi maksud Bulan, biar Bunda tambah gede lagi, iyakan ayah."
"Iya."
"Ayok ayah suapin bunda."
"Baiklah, kalau anak ayah yang minta, ayah bisa apa."
Lio pada akhirnya menurutui permintaan Bulan, dia mengarahkan sendok makannya ke mulut Naya, "Aaa, ayok donk bunda buka mulutnya, pesawat mau mendarat."
Naya merasa seperti anak kecil saja pakai disuapi, tapi toh dia membuka mulutnya juga untuk menerima makanan yang disodorkan oleh Lio.
"Yeyyyy." Bulan bertepuk tangan melihat hal tersebut.
"Lio, aku mau pulang." ketus Cleo tidak tahan lagi melihat semua hal manis yang dilakukan oleh Lio pada keluarga kecilnya, apalagi melihat Lio menyuapi Naya yang membuat hatinya panas membara.
"Ohh, kamu sudah mau pulang." respon Lio santai tidak bisa membaca gelagat Cleo yang tengah cemburu.
"Tante udah mau pulang, kenapa cepat sekali tante, habiskan dulu makanannya." sahut Bulan polos.
"Dihhh, gak sudi aku berlama-lama disini melihat kamu dan ibu kampunganmu itu bocah sialan." desisnya dalam hati. "Heiii Lio, kenapa kamu diam saja, nawarin anterin aku pulang kek atau bujuk aku kek, kamu gak lihat kalau aku lagi ngambek." harapnya.
"Aku pulang."
"Sorry ya Cle aku tidak bisa nganterin kamu, kamu bisa naik taksikan." malah kalimat itu yang dikatakan oleh Lio, jauh dari apa yang diharapkan oleh Cleo.
Cleo mendengus, dengan kesal dia menghentakkan sepatu hak tingginya, dengan emosi jiwa dia berlalu dari ruangan Lio, saking emosinya sampai membuatnya tersandung kakinya sendiri, hampir saja dia jatuh, namun dia bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Hati-hati Cle, pelan-pelan saja jalannya jangan terburu-buru." peringat Cleo melihat Cleo hampir jatuh.
Tanpa menoleh ke belakang, Cleo kembali berjalan.
__ADS_1
"Sialan sialan sialan." umpatnya dalam hati, wajahnya sampai memerah, "Lio kenapa tidak ngejar aku sieh, padahal dia tahu aku ngambek, dasar menyebalkan." Cleo berjalan sambil menghentak-hentakkan sepatunya, sepatunya yang memang sudah berisik jika beradu dengan ubin bertambah berisik saat dihentak-hentakkan begitu.
"Ibu sudah mau pulang, cepat amet bu." tegur Rani begitu mendengar suara sepatu Cleo.
Cleo menatap Rani tajam, Rani yang mendapat tatapan menyeramkan tersebut otomatis menunduk, takut tuh mata bisa membuatnya menjadi batu.
"Ibu ibu, kamu fikir saya setua itu kamu panggil ibu." bentaknya berjalan melewati meja Rani.
"Wuuu, galak banget sieh." balas Rani dengan suara yang tidak bisa didengar oleh Cleo, "Heran deh, kok pak Lio mau ya sama wanita pemarah seperti itu."
****
Lio mengantar Naya dan Bulan ke parkiran dimana pak Ridwan tengah menunggu disana. Bulan berada dalam gendongan ayah angkatnya.
"Terimakasih ya Nay karna telah repot-repot datang ke kantor membawakanku makan siang."
"Ehh, mas Lio kenapa sieh, tumben banget bilang makasih, biasanya juga dia mencela masakanku." heran Naya melihat tingkah suaminya yang tiba-tiba berubah manis, "Iya mas sama-sama." lisannya.
"Tapi maaf ya, aku gak bisa nganter kamu dan Bulan, aku lagi banyak kerjaan."
"Kenapa lagi dia, pakai minta maaf segala, apa ini karna Bulan ya." bertambah heranlah Naya karna sikap Lio yang bisa dibilang tidak wajar, "Gak apa-apa mas, kan ada pak Ridwan."
"Bulan sayang, kamu dan bunda diantar sama pak Ridwan ya."
"Oke ayah."
"Anak pintar."
"Pak, tolong bawa istri dan anak saya selamat sampai rumah ya." pesannya sama pak Ridwan.
"Terimakasih pak, saya tahu pak Ridwan bisa diandalkan."
Sebelum masuk mobil, Lio mencium kening Bulan, dan seperti tadi pagi, Bulan kembali meminta ayah angkatnya itu juga melakukan hal yang sama pada ibu angkatnya.
"Ayahh, ibu belum dicium."
"Iya, sekarang giliran ibu."
Dan ya, Lio menuruti permintaan anak angkatnya, dia mencium kening Naya yang membuat Naya gugup dan membuat wajahnya memanas.
"Kami pulang dulu mas." pamitnya tidak berani menatap mata Lio.
Lio mengangguk.
Bulan melambai dari kaca mobil yang terbuka, Lio membalas dengan melambaikan tangannya juga.
****
Boy : Hai Naya, kamu lagi apa, apa kamu sudah sehat.
Boy mengirim pesan pada Naya, dia ingin tahu keadaan Naya. Gak lama kemudian pesan balasan dari Naya masuk ke ponselnya.
Naya : Alhamdulillah, aku baik mas, mas sendiri bagaimana.
Boy : Aku baik juga Nay.
__ADS_1
Naya : Syukurlah.
Boy : Kamu lagi apa.
Naya : Gak lagi ngapa-ngapain, cuma lagi nonton tv saja.
Saat Boy lagi khusuk-khusuknya berkirim pesan dengan Naya sambil senyum-senyum gaje, teman-temannya yang melihat hal tersebut protes.
"Busett sik Boy, padahal dia yang ngajakin kumpul, eh malah dia sibuk sendiri chatingan." sindir Robi.
Boy langsung mendongak mendengar protes dari Robi.
"Lo chatingan dengan siapa sieh Boy, pacar lo ya." simpul Raka melihat temannya itu senyum-senyum begitu.
Boy langsung memasukkan ponselnya ke kantong jaketnya, dengan senyum simpul dia membalas, "Mau tahu aja lo."
"Melihat tingkahnya yang menjijikkan begitu sieh gue yakin dia tengah chatingan dengan pacarnya." sahut Galang menerka.
"Heii seriusan lo punya pacar, siapa, kenalin donk." kepo Robi ingin tahu.
"Bukan pacar gue."
"Masih dalam tahap pengejaran ya."
"Yahhh, begitulah."
"Wahh, siapa orangnya, penasaran gue, cantik gak."
"Yang jelas lo gak kenal, ntar deh kalau gue udah dapet gue kenalin."
"Oke deh, kami tunggu berita bahagia dari lo bro."
"Dan pajak jadiannya jangan lupa oke."
"Masalah itu lo gak perlu khawatir."
Dan keempat teman semasa SMA itu kembali ngobrol membicarakan masa-masa saat mereka masih SMA dulu dan sekarang mereka menempuh pendidikan di universitas yang berbeda, karna kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu dan berkumpul kayak gini.
"Busettt, sik Leta makin bening aja." komen Galang sembari memeloti HPnya, saat ini dia tengah membuka aplikasi sosial media instagram dan melihat postingan foto Leta.
Galang kemudian mengedarkan ponselnya supaya teman-temannya melihat foto cantik Leta teman SMA mereka.
"Sejak dulu gue suka sama nieh cewek, tapi apa dayaku yang berwajah pas-pasan ini tidak mungkin bisa bersanding dengan gadis sesempurna ini." Robi memandang foto Leta dengan penuh damba.
"Sejak dulu gue berfikiran kalau Leta menyukai Boy." sela Raka.
"Gue juga berfikiran sama dengan lo bro." sahut Galang membenarkan apa yang dikatakan oleh Raka.
"Lo semua terlalu mengada-ngada, mana mungkin Leta sik primadona sekolah suka sama gue."
"Etdahhh lo itu ya Boy, makanya peka donk lo jadi cowok, masak masalah begini lo gak bisa ngelihat sieh."
"Emang lo gak ada rasa gitu sama Leta."
"Apa sieh lo, gue dan Leta itu murni cuma temanan doank, gak lebih, makanya lo jangan pada berfikiran macam-macam." Boy menandaskan praduga teman-temannya.
__ADS_1
****