Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PERGI BERSAMA LETA


__ADS_3

Sore itu Lio tengah bersantai dibalkon sambil membaca sebuah buku tebal, Naya datang menghampiri Lio dengan membawa nampan berisi teh dan sepiring kue bolu buatannya.


"Gak kakek, gak mas Lio, hobi banget baca buku tebal begitu, mana bahasanya pakai bahasa inggris lagi, gak pusing apa, aku saja yang lihat pusing." lirih Naya.


Naya meletakkan nampan yang dibawanya dimeja dan duduk dikursi satunya, Lio hanya menoleh sebentar dan kembali lagi dengan buku yang dibacanya.


"Mas Lio." tegur Naya.


Gak ada sahutan dari Lio, ternyata buku yang dibacanya jauh lebih menarik ketimbang kehadiran Naya.


"Mas Lio, Eli mau nikah, dan dia ingin kita hadir diacara pernikahannya." Naya memberitahu.


Mendengar hal itu, barulah Lio memberikan perhatiannya kepada Naya.


"Siapa Eli."


"Sahabat aku mas didesa."


"Ya udah datang aja sana." kembali fokus dengan bacaannya.


"Mas juga harus ikut."


"Gak bisa, gue sibuk."


"Perasaan tiap hari sibuk terus."


"Ya memang begitu, bos besar kayak gue banyak kerjaannya, gak kayak lo, yang kerjaannya cuma tidur mulu tiap hari."


"Sok tahu, mas fikir baju dan jas mas yang licin mengkilap itu karna siapa, itu karna Naya yang setrika mas."


"Ngelakuin itu aja bangga, itukan emang udah tugas lo sebagai istri."


"Mas juga begitu, sibuk kerja aja dibangga-banggain, itu kan udah kewajiban mas sebagai suami untuk kerja nafkahin istri." Naya membalikkan kalimat Lio, jadinya Lio gak bisa ngejawab deh tuh.


Hening untuk sesaat, bahkan suara jarum jatuhpun bisa terdengar saking heningnya, sampai ketika Naya kembali berkata, "Jadi gimana mas."


"Kan gue udah bilang, gue gak bisa pergi nemenin lo kenikahan temen lo itu."


"Terus, Naya pergi sendiri gitu, apa kata orang-orang dikampung mas."


"Ya udah gak usah peduliin apa kata orang, yang pentingkan kita gak ngerepotin mereka."


"Tapi gimana dengan ayah dan ibu mas, pasti mereka nanyain mas dan nanyain kenapa mas gak ikut."


"Gitu aja repot, bilang gue sibuk, sibuk banget gitu ngurusin perusahaan."


"Mas kan bosnya, jadi mas bisa donk gak masuk, hanya satu hari ini doank, masak gak bisa diusahain sieh." Naya mulai kesel.


"Emang bisa kalau gue mau, gue gak masuk satu minggu juga gak bakalan ada yang komplein, tapi gue malas aja pergi ke kampung, disanakan jauh dari peradaban, jauh dari internet, jauh dari listrik, gue mana bisa hidup tanpa listrik." nah tuh, Lio akhirnya membeberkan alasan sebenarnya kenapa dia gak mau ikut ke acara pernikahan Eli.


"Sok banget sieh, mentang-mentang orang kota, mas fikir hanya dikota saja ada listrik, asal mas tahu, hampir semua rumah dikampung itu sudah ada TVnya, itu artinya apa, listrik udah masuk desa mas."


"Intinya gue gak mau deh pergi ke desa, lo pergi aja sendiri, minta pak Ridwan nganterin."


Naya mendengus, Naya rasa bagaimanapun dia membujuk Lio untuk menemaninya pasti Lio gak bakalan mau, dia akhirnya memutuskan untuk menyerah, Naya berdiri dan berlalu dari hadapan Lio, baru beberapa langkah, dia kembali, bukan untuk membujuk Lio, tapi dia mengambil kembali nampan yang diletakkannya dimeja.


Lio yang melihat Naya mengambil nampan tersebut bertanya, "Lho, kenapa itu lo bawa, gue belum minum tehnya dan makan kuenya."


"Bodo amet, kalau mas mau teh, bikin aja sendiri." balas Naya melenggang pergi.

__ADS_1


"Gak ikhlas banget sieh."


****


Naya sudah akrab dengan Leta, mereka sering berkirim pesan atau gak telponan, seperti hari ini, Naya dan Leta sudah berjanji bakalan pergi jalan-jalan, Leta rencananya bakalan nunjukin hal-hal menarik yang ada dikota Jakarta pada Naya, karna selama di Jakarta, Naya hanya pernah satu kali pergi keluar bersama dengan Rafa. Dan kebetulan hari ini Leta hanya mengikuti satu mata kuliah, jadinya dia bisa mengajak Naya pergi jalan-jalan.


Sebagai seorang istri yang baik dan berbakti, Naya tentunya minta izin terlebih dahulu donk sama Lio, meskipun Naya kesel banget sama Lio karna Lio menolak ajakannya ke acara nikahan Eli, bentuk nyata kekesalannya terhadap Lio adalah dengan mendiamkan Lio, hanya menjawab seperlunya jika ditanya, tapi meskipun kesel, Naya harus tetap minta izin, karna dia pernah denger ceramah, kalau istri yang keluar rumah tanpa izin suami itu dilaknat oleh malaikat, karna gak mau dilaknat, dengan terpaksa dia mendial nomer ponsel Lio untuk minta izin.


Butuh waktu yang cukup lama untuk Lio menjawab panggilan dari Naya.


"Ada apa." tanya Lio dari seberang.


"Mas, aku mau pergi keluar sama Leta, bolehkan."


"Ngapain."


"Leta bilang mau ngajak aku jalan-jalan."


"Suruh pak Ridwan yang nganterin."


"Leta yang bakalan jemput mas.'"


"Pulangnya jam berapa."


"Gak tahu."


Lio terdiam, tidak menyahut.


"Bolehkan mas, Naya bosan dirumah teruss."


"Bilang sama Leta, pulangnya jangan lama-lama."


"Hmmm."


"Makasih kalau gitu."


Lio berpesan, "Jangan jauh-jauh dari Leta, nanti kamu nyasar lagi, kamukan belum tahu seluk beluk kota Jakarta."


"Iya."


"Emang kalian mau kemana sieh."


"Gak tahu."


"Kenapa gak nanya."


"Nanti saja pas Leta udah jemput."


"Oke kalau gitu, ketika udah sampai tujuan, kabarin gue."


"Insaallah kalau Naya inget."


"Kok gitu."


"Biasanya kalau Naya udah asyik ngobrol sama Leta, Naya suka lupa sama waktu."


"Termasuk lupa sama gue."


"Iya."

__ADS_1


"Gak usah pergi kalau gitu."


"Kok gitu."


" Ntar kalau terjadi apa-apa sama lo, repot nyariin keberadaan lo dimana."


"Ya udah, ntar Naya kabarin deh." janji Naya.


"Hmmm."


"Diizinin kan."


"Iya."


"Leta udah sampai tuh kayaknya, udah dulu mas."


Lio baru mau bilang hati-hati, tapi sambungan sudah lebih dulu ditutup oleh Naya.


****


Setelah pamit kepada kakek Handoko dan penghuni rumah lainnya, Naya kini sudah duduk di dalam mobil Leta, gadis itu terlihat semakin cantik sejak terakhir Naya melihatnya.


"Siap untuk berangkat mbak."


Bukannya menjawab pertanyaan Leta, Naya malah balik Nanya, "Mbak, ngomong-ngomong kita mau kemana ya."


"Mmmm." Leta terlihat berfikir, "Mbak maunya kemana."


"Gak tahu, soalnya Naya cuma pernah satu kali pergi bersama dengan mas Rafa."


"Sama mas Rafa."


"Iya, atas perintah mas Lio sieh, mas Rafa disuruh nemenin Naya buat beli baju, katanya baju Naya tidak layak pakai."


"Mas Lio gak pernah ngajakin mbak pergi jalan sama sekali."


Naya menggeleng.


"Jadi, selama mbak jadi istrinya mas Lio, mbak hanya dijadiin pajangan aja gitu dirumah besarnya."


"Ya begitulah."


"Kasihan banget mbak Naya hanya bisa melihat tembok rumah selama hidup dijakarta, coba kalau aku yang jadi istrinya mas Lio, aku habisin uangnya tiap hari untuk shoping dan senang-senang." ujar Leta, "Tapi tenang mbak, mbak beruntung mengenal Arleta Cantika Maharani, karna apa, karna aku akan membuat mbak bisa memanfaatkan kekayaan mas Lio dengan baik dan benar."


"Maksudnya."


"Maksud aku mbak, mbak sebagai nyonya Rasyad harus bernampilan modis dan cantik, pakai barang-barang mewah gitu lho, agar orang tahu kalau mbak adalah istrinya Adelio Rasyad, pewaris tunggal keluarga Rasyad."


"Tapi gak enaklah Leta, kasihankan mas Lionya, dia capek kerja, masak Naya harus menghambur-hamburkan uang sieh."


"Tenang saja mbak, kekayaan mas Lio gak bakalan habis dimakan sampai 70 turunan meskipun mbak membeli mall sekalipun."


"Ah masak sieh, apa mas Lio sekaya itu."


"Udah ah mbak, mending kita berangkat saja sekarang."


Naya mengangguk.


****

__ADS_1


__ADS_2