
Rafa tersenyum puas melihat dua kantong plastik berisi buah pesanan Naya yang diletakkan di kursi sampingnya, "Naya pasti seneng karna gue berhasil mencari buah yang ingin dia makan." gumamnya dan kemudian menjalankan mobilnya ke arah kediaman keluarga Rasyad.
Dalam perjalanan, Rafa kembali menghentikan mobilnya disebuah minimarket untuk membeli rokok, saat mengambil satu pak rokok, tidak sengaja matanya tertuju pada rak disebelahnya yang memajang susu untuk ibu hamil.
"Naya juga pasti membutuhkan susu hamil selama kehamilannya." tanpa berfikir panjang, Rafa mengambil lima kotak susu hamil dengan beberapa varian rasa dan setelah itu membawanya ke kasir untuk membayar.
Begitu tiba didepan kasir dan meletakkan belanjaanya, sik kasir yang sepertinya mengenalnya menegur, "Ehh sik masnya lagi." sik mbak tersenyum, "Sudah berbuah ya mas ternyata istrinya."
Super market yang dia masuki ternyata adalah super market tempat dia dulu membelikan Naya pembalut dan kiranti, dan ternyata kasir yang dulu masih mengenalinya.
"Apa-apan sieh ini mbak kasir, sok akrab banget." dengus Lio mengabaikan ucapan mbak kasir.
"Dulu masnya datang kesini malam-malam membeli pembalut dan pereda nyeri haid, sekarang sudah berbuah ya ternyata, tokcer banget sik masnya, pasti masnya dan istrinya rajin bekerja keras ya tiap malam." sik kasir menggoda.
Rafa yang digoda begitu tentu saja kesal, "Mbak, lebih baik mbak fokus saja menghitung belanjaan saya, kenapa malah sibuk menggoda saya."
"Ehhh, maaf pak." lisan sik kasir, "Baperan ternyata mas-masnya, tidak bisa diajak bercanda." gumamnya dalam hati.
Meskipun sudah diperingatkan oleh Rafa, mbak kasirnya yang sepertinya memiliki hobi nyerocos itu masih saja mengajak Rafa untuk ngobrol, "Ingat ya mas, kalau mau ngerokok, jangan dilakukan di depan istrinya, asap rokok tidak baik untuk sik cabang bayi." sebuah nasehat yang bermanfaat dari sik mbak kasir.
"Hmmm." gumam Rafa.
Setelah membayar belanjaannya, Rafa buru-buru minggat.
"Masss, jangan lupa ngundang ya kalau istrinya lahiran."
Sayup-sayup Rafa mendengar suara teriakan kasir tadi.
*****
Saat ini, Naya tengah menemani Bulan bermain diruang tengah bersama dengan boneka tedynya dan Bintang sik kucing.
"Bunda, dedek bayinya kapan keluar." tanya gadis kecil itu sambil mengelus perut Naya.
"Masih lama sayang."
"Yahhh, masih lama ya, padahalkan Bulan sudah tidak sabar ingin bermain dengan dedek bayi."
"Kamu yang sabar ya sayang, kan ada tedy dan Bintang yang bisa diajak bermain."
"Iya bunda, nanti kalau dedek bayinya sudah lahir, kita bisa bermain berempat."
"Dedek bayi, sehat-sehat ya dalam perut bunda, jangan nakal-nakal di dalam sana, jangan merepotkan bunda ya dedek." Bulan kemudian mencium perut ibu angkatnya.
"Iya kakak cantik, dedek baik-baik saja disini, dan dedek tidak akan nakal." jawab Naya menirukan suara anak kecil.
"Dedek anak pintar."
"Nanti kalau dedek bayinya lahir namanya siapa ya bunda."
"Belum tahu sayang, kan jenis kelaminnya saja belum diketahui." jelas Naya dengan sabar.
Saat itu, bunyi bel mengalihkan perhatian mereka, "Bunda ada tamu, biar Bulan yang membukakan pintu." gadis kecil itu berlari-lari kecil menuju pintu utama.
Naya mengikuti dibelakang.
Begitu pintu terbuka, senyum hangat Rafa menyambut mata indah gadis kecil tersebut, "Hai Bulan cantik." sapa Rafa begitu melihat Bulan yang membuka pintu untuknya.
"Hai om Rafa."
Rafa duduk berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Bulan, "Bundanya dimana sayang."
"Aku disini mas." jawab Naya yang berjalan menghampiri Rafa.
Naya melihat plastik yang ada ditangan Rafa, "Mas membelikan apa yang Naya pesan." tanyanya penuh harap, dia sampai menelan air liurnya.
"Iya donk, kan aku sudah janji."
Naya tersenyum lebar, akhirnya keinginannya untuk makan yang asam-asam terwujud.
"Om Rafa beliin bunda apa."
"Bunda kamu minta dibeliin buah kedondong dan mangga muda."
"Kedondong dan mangga muda, itukan asam om."
"Iya sayang, karna dedek bayinya ingin makan yang asam-asam." timpal Naya.
__ADS_1
"Ayok mas, sebaiknya duduk diruang tamu."
Rafa mengangguk.
Naya ingin mengambil alih kantong plastik yang ada ditangan Rafa, tapi Rafa berkata, "Berat Nay, biar aku saja yang bawa, kamukan lagi hamil, nanti kalau kamu dan bayinya kenapa-napa gimana." Rafa bener-bener laki-laki super perhatian deh, beruntung banget yang akan jadi istrinya nantinya.
"Sini biar Naya saja yang bawa mas, lagian itu gak berat, jadi aku dan sik bayi tidak mungkin kenapa-napa hanya membawa kantong plastik berisi buah begitu."
"Biar aku saja Nay." kukuh Rafa tetap tidak membiarkan Naya mengambil alih kantong plastik dari tangannya, dan dengan tangan satunya menggandeng tangan mungil Bulan dan dia berjalan lebih dulu ke ruang tamu.
"Mas Rafa terlalu berlebihan, masak hanya kantong plastik begitu katanya berat." ujar Naya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berjalan menyusul Rafa.
Rafa meletakkan bawaannya dimeja ruang tamu.
"Ini apa mas." tanya Naya saat melihat plastik berisi kotak susu.
"Ohhh, itu susu untuk ibu hamil Nay, pas aku mampir disuper market untuk membeli rokok, tidak sengaja aku melihat itu dan membelikannya untuk kamu." jelasnya, "Kamu harus minum susu supaya kamu dan sik bayinya sehat."
Sumpah Naya jadi terharu dengan perhatian Rafa, dia sampai berkaca-kaca, "Makasih ya mas, mas baik banget sama Naya."
"Tidak perlu berterimakasih, itu memang sudah tugasku sebagai seorang kakak." tukasnya, "Pokoknya, apapun yang kamu inginkan, jangan sungkan untuk memberitahu aku oke."
"Iya mas, terimakasih sekali lagi atas kebaikan mas Rafa."
Rafa hanya tersenyum menanggapi ucapan Naya.
Ngeong
Ngeong
Bintang sik kucing tiba-tiba menghampiri ke ruang tamu, Bulan meraih kucingnya dan menggendongnya, "Om Rafa, kenalin, ini Bintang kucing Bulan yang dibelikan oleh bunda."
"Duhhh imut sekali, sama imutnya dengan pemiliknya." Rafa mengelus rambut halus kucing tersebut.
***
"Kenapa kamu tidak pernah ngenalin Cleo ke mama dari dulu sih Lio." cecar mama Renata saat dalam perjalanan pulang setelah terlebih dahulu Lio mengantar Cleo ke apartmennya.
"Yang pentingkan sekarang mama sudah kenal." jawab Lio acuh tak acuh.
Lio malas meladeni ocehan mamanya, kepalanya terasa pening, makanya dia hanya diam tanpa merespon.
"Heh Lio, kenapa kamu diam saja."
"Kepalaku pusing ma, jangan ajak aku ngobrol terus, ntar kalau aku gak fokus nyetir dan nabrak gimana." tabrakan dibawa-bawa supaya sang mama menghentikan ocehannya, dan itu ternyata berhasil, mama Renata bungkam selama sisa perjalanan karna tidak mau mengalami kejadian nahas.
Begitu tiba dirumah, Lio mengernyitkan keningnya saat melihat mobil Rafa terparkir dihalaman rumah.
"Rafa, ngapain dia ke rumah." tanyanya heran.
"Bukannya ini mobil Rafa ya." kata mama Renata yang juga mengenali mobil milik sahabat putranya.
"Hmmm."
"Dia ada janji ketemu sama kamu."
"Gak." jawab Lio singkat dan berjalan memasuki rumah diikuti oleh mamanya.
Dari arah depan dia bisa mendengar suara orang tertawa-tawa dari arah ruang tamu, dan Lio mengenali suara tawa tersebut, suara tawa Naya, Lio dan Bulan, entah cerita lucu apa yang tengah mereka ceritakan sampai mereka tertawa lepas begitu.
Dari jarak beberapa meter, Lio bisa melihat Naya tersenyum lebar dan tertawa mendengar entah apa yang kini tengah diceritakan oleh Rafa, seolah-olah Naya tidak pernah punya masalah, "Dia bisa tersenyum dan tertawa juga ternyata, kenapa pas sama gue dia bawaannya cembrut dan ingin marah melulu."
Melihat Naya tersenyum dan tertawa lepas seperti itu karna laki-laki lain, tiba-tiba saja membuat Lio tidak suka, ada semacam perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup ke hatinya yang membuatnya tidak suka melihat Naya berintraksi dengan laki-laki lain meskipun laki-laki itu adalah Rafa sahabatnya sendiri.
"Kenapa kamu berdiri disini saja, kamu tidak berniat menemui Rafa." tegur mama Renata saat melihat putranya hanya berdiri mematung melihat intraksi antara Naya dan Lio yang terlihat akrab.
"Ini juga aku mau nyamperin." tandasnya berjalan mendekati Naya dan Rafa yang masih belum menyadari kedatangannya.
Bulanlah yang pertama kali melihat ke arah ayahnya, "Ayahhh." teriaknya penuh semangat dan berlari ke arah Lio.
Otomatis Naya dan Rafa menoleh le arah kedatangan Lio.
Lio membungkukkan badannya untuk meraih Bulan dalam gendongannya.
Bulan mencium pipi ayah angkatnya saat sudah berada dalam gendongan Lio, "Anak ayah." Lio mengelus-elus puncak kepala Bulan.
"Ayah, ada om Rafa tuh, om Rafa datang bawain dedek bayi buah kedondong dan mangga muda, kata bunda, dedek bayinya ingin makan yang asam-asam melulu." dengan tingkah polosnya Bulan laporan, "Om Rafa juga membelikan mama banyak susu, kata om Rafa agar bunda dan dedek bayi yang ada dalam perut bunda sehat dan kuat." Bulan terus saja ngoceh tanpa mempedulikan raut wajah ayahnya yang berubah masam.
__ADS_1
Tanpa merespon ucapan Bulan, Lio membawa Bulan menghampiri Rafa dan Naya.
"Rafa, kamu sudah lama." tanya mama Renata hanya sekedar basa-basi.
"Lumayan lama tan."
"Mama kamu apa kabarnya, tante sudah lama tidak bertemu dengan mamamu."
"Mama baik tan, mama saat ini tengah sibuk saja mengurus tanaman bunganya."
"Sampaiin salam tante sama mama kamu ya."
"Baik tante."
"Ya sudah, kamu ngobrol saja sama Lio, tante tinggal dulu."
"Iya tante."
Mama Renata berlalu tanpa menyapa Naya.
"Hai Lio, dari mana saja lo." sapa Rafa.
Sementara itu Naya menggeser duduknya supaya tidak terlalu dekat dengan Lio karna aroma tubuh Lio itu bisa membuatnya mual-mual.
Lio duduk di singgle sofa sambil memangku Bulan sebelum menjawab pertanyaan Rafa, "Biasa, gue habis cari angin." jawabnya acuh tak acuh, "Lo sendiri, ngapain ke rumah gue."
"Gue hanya mau bertemu tuan sepuh, dan sekalian saja membawakan Naya buah-buahan yang ingin dia makan dan sekalian membawakannya susu kehamilan." jelasnya menunjuk plastik yang tergeletak dimeja, diatas meja tersebut juga terdapat piring dan pisau yang digunakan oleh Naya untuk mengupas mangga muda dan kedondong.
"Kenapa lo baik banget sama Naya, padahalkan dia bukan siapa-siapa lo." tanya Lio tidak bisa menyembunyikan keketusannya.
"Kalau dia gak suka sama aku tidak apa-apa, ini kenapa mas Lio tidak suka juga melihat mas Rafa baik sama aku." batinnya Naya melihat suaminya itu seperti tidak suka dengan perhatian yang diberikan Rafa kepadanya.
"Gue sudah menganggap Naya sebagai adik gue sendiri Lio, apalagi ayah dan ibu Naya meminta gue secara khusus untuk menjaga Naya saat dulu gue menjemput Naya didesa."
"Oooo, lo nganggep Naya adek."
Tapi kok Lio tidak suka ya mendengar kata-kata Rafa barusan.
****
Naya membawa plastik berisi sisa buah kedondong dan mangga muda yang dibawakan oleh Lio ke dapur dan menyusunnya di kulkas.
Naya sangat sangat berterimakasih karna Rafa dengan tanpa menyerah mencarikannya buah tersebut.
Saat dia tengah meletakkan buah-buah tersebut didalam kulkas, terdengar suara langkah mendekatinya, tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa pemilik langkah tersebut, perut Naya yang tiba-tiba mual memberitahunya secara alami siapa yang kini tengah berjalan mendekatinya.
"Mas, jangan dekat-dekat."
Lio mengerem langkahnya, kesal jelas tergambar dari wajahnya, pasalnya, Naya biasa saja tuh saat berada didekat Rafa, tdan kenapa Naya mual-mual saat berada didekatnya, "Kamu kenapa sieh Nay, kenapa saat berada didekat Rafa kamu biasa-biasa saja."
"Itu karna mas Rafa tidak bau seperti kamu mas."
Lio mendengus, "Aku juga tidak bau." desisnya.
"Nay, lain kali kalau kamu mau makan sesuatu minta di aku, jangan malah mintanya sama orang lain, ntar orang berfikir aku tidak bisa membelikan kamu lagi."
"Aku gak minta mas, mas Rafanya saja yang memang baik hati dan penuh perhatian, dia menanyakan aku ingin makan apa, dan meskipun Naya menolak, dia tetap membelikan Naya buah yang ingin Naya makan."
"Kenapa tidak pernah ngomong sama aku kalau kamu ingin makan buah kedondong dan mangga muda, akukan bisa membelikannya untukmu."
"Emang mas peduli, tidakkan." jawab Naya telak, "Bahkan mas Lio tidak mengharapkan bayi yang berada dalam kandungan Naya ini, padahal bayi ini adalah anakmu mas."
Diskak seperti itu tentu saja membuat Lio tidak bisa menjawab, dia hanya diam, bahkan saat Naya berlalu pergi, dia masih diam mematung, mungkin saat ini dia tengah meresapi setiap kalimat yang Naya ucapkan.
****
Rafa membanting tubuhnya dikasur, badannya terasa pegal-pegal setelah keliling mencari buah yang diidamkan oleh Naya.
Saat dia tengah menikmati nyamannya tempat tidur, ponsel yang dia geletakkan sembarangan ditempat tidur berbunyi, dengan malas Lio meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera dilayar, nama Aleta adiknya terpampang dilayar.
"Mau ngapain sieh Leta nelpon gue malam-malam begini, tidak tahu apa dia kalau gue mau istirahat." desahnya saat melihat nama adiknya.
Dengan malas Rafa menjawab panggilan, sebelum dia sempat membuka bibirnya, suara heboh Leta terdengar lebih dulu dari seberang, "Mati kamu mas."
Rafa sampai menjauhkan ponsel dari telingannya saat mendengar kalimat adiknya, "Heh, apa-apan bocah ini, nelpon-nelpon langsung bilang mati."
****
__ADS_1