Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
GALAU


__ADS_3

"Mau nonton apa." Boy bertanya sambil melihat-lihat poster film yang tengah ditayangkan di bioskop.


Leta menunjuk film korea bergenre romantis, "Bagaimana kalau nonton yang ini saja, katanya ceritanya seru dan romantis kata temen-temen gue yang pernah nonton."


Boy jelas keberatan dengan pilihan Leta karna dia tidak suka nonton film romantis, namun segan juga sieh kalau menolak secara langsung.


"Gimana Boy, nonton ini saja ya."


"Gue sih terserah Ta, tapi tanyain Nayanya juga tuh." Boy mengedikkan dagunya ke arah Naya.


"Gimana mbak Nay, kita nonton film ini saja ya."


"Mmmm, film ini ada sedih-sedihnyakan."


"Iya, menurut cerita teman gue sieh, nieh film ceritanya menyentuh dan bikin baper, tentang dua insan yang jatuh cinta gitu, tapi takdir harus memisahkan mereka karna sik cewek sakit parah dan meninggal." Leta mendeskripsikan jalan cerita film yang ingin ditontonnya.


Karna suasana hatinya bisa dibilang masih dalam kondisi tengah bersedih, Naya tidak menyetujui pilihan Leta.


"Jangan yang itu deh mbak, Naya suka kefikiran kalau tokoh utamanya tidak bisa bersatu, bagaimana kalau kita nonton film komedi saja." sarannya karna saat ini yang dia butuhkan adalah hiburan dan tertawa, bukan kisah cinta yang menguras air mata.


Boy langsung menyetujui saran Naya, "Akhh iya gue setuju dengan Naya, lebih baik kita nonton film komedi Ta, daripada film yang mengandung bawang begitu, kita kesinikan untuk seneng-seneng bukan untuk baper."


"Lagian lo juga butuh hiburan Ta, perasaan sejak tadi wajah lo kecut terus." komen Boy karna melihat wajah Leta yang kecut.


"Gimana gak kecut wajah gue, sejak Naya masuk mobil Naya saja yang lo ajakin ngobrol, gue lo kacangin." lirihnya dalam hati.


"Benar mbak Leta, kalau suasana hati mbak Leta tidak baik, mending nonton film komedi saja, Naya yakin suasana hatinya mbak Leta akan membaik." sambung Naya mendengar ucapan Boy.

__ADS_1


"Iya udah deh." desah Leta dengan tidak rela, ingin menolak tapi tidak bisa melihat Boy malah memilih film yang komedi yang direkomendasikan oleh Naya.


Begitu duduk dikursi penonton, Naya yang untuk pertama kalinya masuk bioskop berkomentar, "Begini rasanya nonton film dibioskop." gumamnya takjub memandang layar besar yang sebentar lagi akan menampilkan film, "Tempat duduknya empuk lagi."


Bukannya risih dengan tingkah Naya yang bisa dibilang norak, Boy malah senyum-senyum menganggap kepolosan Naya sebagai hiburan, "Gadis ini norak sieh, tapi kok gemesin, pengen gue masukin ke kotak dan gue bawa ke rumah dan gue jadiin pajangan." gemesnya dalam hati melihat tingkah laku Naya.


"Sttt, mbak, jangan berisik, sebentar lagi filmnya akan dimulai." peringat Leta meletakkan jari telunjuknya dibibir


"Akhh iya maaf mbak Leta, mas Boy." gumam Naya tidak enak, "Naya norak ya, maklum baru pertama kali nonton film dibioskop, biasanya juga nonton layar tancep dilapangan desa rame-rame sama orang sekampung."


"Pasti seru tuh." respon Boy, "Kapan-kapan ajak aku ke kampung kamu ya Nay, biar bisa nonton layar tancep."


"Iya mas, nanti mas Boy dan mbak Leta Naya ajak ke kampung Naya." Naya mengiyakan karna menganggap apa yang dikatakan oleh Boy hanya sekedar iseng belaka.


"Janji ya ngajakin aku dan Leta ke desa kamu."


"Boy kenapa sieh, pakai ingin berkunjung ke desanya Naya segala." dengus Leta merasa tidak suka dengan ide itu.


Berbarengan dengan film yang mulai diputar dan lampu dibioskoppun mulai dimatikan.


"Pantas saja banyak orang ciuman dibioskop, tempatnya kondusif begini, udah gelap nyaman lagi tempatnya."


Boy terkekeh, sedangkan Leta yang mulai jengah karna clotehan Naya kembali menempelkan jari telunjuknya dibibir sebagai kode meminta Naya untuk tutup mulut.


"Iya mbak maaf, Naya akan tutup mulut."


Sepanjang film diputar, Naya dan Boy tidak hentinya tertawa, Boy sebenarnya tidak suka film komedi, dia sukanya film action, tapi daripada menonton film romans pilihan Leta, dia tentu saja lebih memilih menonton film comedi yang dipilih Naya, dan disinilah dia, tertawa terpingkal-pingkal bersama penonton lainnya, kadang juga dia mengomentari adegan dalam film yang mereka tonton.

__ADS_1


"Astagaaa, Tuhannn tolong aku, aku tidak tahan." tawa Boy sambil memegang perutnya karna adegan lucu difilm.


Naya yang tadinya masih diselimuti kesedihan karna masalahnya dengan Lio untuk saat ini melupakan masalahnya, ternyata menonton film komedi merupakan pilihan yang tepat bagi suasana hatinya.


Sedangkan Leta yang tidak suka film bergenre komedi jelas bete, untungnya gelap, jadi Boy dan Naya tidak bisa melihat wajahnya yang masam, dia mungkin satu-satunya orang di dalam bioskop itu yang tidak tertawa.


****


Sangat berat memang pura-pura cuek dan tidak peduli dengan orang yang kita cintai, hati rasanya nyesek karna menahan rindu, dan setiap apapun yang dilakukan terasa tidak benar dan rasanya ingin marah-marah terus, itulah yang dialami oleh Lio karna mengikuti saran yang diberikan oleh Rafa, puluhan kali sejak dia mengatakan akan mencoba mengikuti saran Rafa dia ingin menghubungi Cleo, namun selalu niatnya itu di urungkan mengingat nasehat Rafa. Dan kasih ucapan selamat kepadanya karna sampai jam kantor berakhir dia berhasil menahan godaan untuk tidak menghubungi Cleo.


Ucapan Rafa terngiang-ngiang ditelinganya, itulah yang membuatnya kembali menaruh ponselnya didetik terakhir saat akan menelpon Cleo, Lio berharap kalau pemikiran Rafa tentang Cleo yang menyimpulkan kalau Cleo mencintainya karna harta tidaklah benar, Lio berharap Cleo mencintainya dengan tulus, dan Lio berharap kata putus yang dilayangkan oleh Cleo secara sepihak lewat chat hanyalah karna kekasihnya itu kesal karna Rafa tidak pernah menghubunginya selama dia didesa bersama Naya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan dibarengi pintu ruangan Lio yang didorong dari luar yang memampangkan wajah Rafa, "Lio, sudah waktunya pulang nieh." Rafa memperingatkan.


"Hmmm." gumam Lio tidak peduli.


Rafa mendekat, "Ayok pulang." ajaknya, "Atau lo mau ke club, kita bisa kena terlebih dahulu kalau lo mau."


Lio menggeleng, "Kayaknya gue langsung balik saja deh, istirahat dan tidur sepertinya itu lebih baik untuk saat ini."


"Oke, kalau begitu Adelyo Rasyad, ayok kita pulang."

__ADS_1


****


__ADS_2