Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
TIBA DIRUMAH


__ADS_3

Meskipun cuma duduk sambil nyetir, tapi kalau perjalanan yang ditempuh jauh begini tentu saja bikin capek, itulah yang dirasakan oleh Lio, dia jadi menyesal tidak membiarkan pak Ridwan untuk menyopirinya, kalau ada apa Pak Ridwankan dia bisa tidur sepanjang perjalanan. Lio melirik ke arah Naya yang duduk disampingnya dengan mata terpejam dengan bibir terbuka yang menandakan kalau saat ini dia tengah tidur nyenyak.


Lio mendengus, "Gue capek nyetir, dia malah asyik-asyikan tidur, awas saja ya kalau kita sampai dirumah lo, lo harus mijitin gue sampai tangan lo yang pegal-pegal." memandangnya Naya gemas.


"Nganga lagi tidurnya, gak berkelas banget." Lio terus berkicau, "Untung gak ileran, kalau ileran bisa ilfil gue."


Dengan satu tangan memegang stir dan satunya lagi diarahkan kebibir Naya, tujuannya adalah merapatkan bibir Naya yang terbuka, tertutup, tapi begitu dia menarik tangannya dari bibir Naya, kembali tuh bibir terbuka, Lio kembali mengulangi perbuatannya, namun bibir Naya kembali terbuka, sampai pada akhirnya setelah melakukan hal yang sama untuk yang ketiga kalinya sehingga membuatnya menyerah juga.


Tiba-tiba terjadi guncangan pada mobil, guncangan tersebut disebabkan karna kondisi jalan yang tidak rata, berbatu dan becek karna saat ini adalah musim penghujan, kondisi jalan yang tidak memungkinkan itu tentu saja membuat Lio tidak bisa menjalankan mobil dengan cepat.


"Cobaan apalagi ini Tuhan, mau silaturahmi ke rumah mertua begini cobaannya berat banget." desahnya.


Karna jalan yang tidak rata membuat mobil Lio beberapa kali tergoncang, hal tersebut membuat Naya terbangun, dengan setengah sadar dia bertanya "Apa yang terjadi mas."


"Bangun juga ternyata, udah puas tidurnya nyonya besar." ledek Lio.


"Apa sieh mas." Naya mengucek-ngucek matanya, "Sampai mana kita."


"Mana gue tahu, lo fikir gue tahu nama daerah yang ada disini." ngegas saking keselnya.


Dari kaca disampingnya yang terbuka mata Naya disambut oleh pemandangan hijau yang menyejukkan matanya, pemandangan yang tidak pernah dilihatnya setelah menjadi istri Lio, pemandangan hijau dikiri kanan yang dilewati oleh mobil Lio menandakan bahwa sebentar lagi mereka akan sampai dikampung halaman Naya, matanya langsung on, dengan antusias memberitahu, "Mas, sebentar lagi kita sampai, ya ampunnn, Naya kangen banget sama ayah, ibu, Eli, sawah, sungai." Naya mengabsen.


Lio merespon begini, "Sekalian saja sama kambing lo kangen." Lio meledek.


Jawab Naya polos, "Kami gak punya kambing mas, tapi rencanya ayah mau beli, biar nanti kalau kita punya anak kita gak perlu beli kambing buat akikahin anak kita." ceplos Naya, sadar dirinya keceplosan mengatakan yang tidak seharusnya, dia menutup bibirnya, dalam hati bergumam, "Gimana mau punya anak kalau ngelakuinnya cuma sekali."


"Ini apa maksudnya bahas-bahas masalah anak, kayak gue mau punya anak dari dia aja." ungkapan yang diucapkan dalam hati oleh Lio.


Hening untuk beberapa menit, ternyata masalah anak membuat mereka agak canggung juga, sampai dimenit ke 10 dari sejak keheningan itu, Lio tidak tahan untuk tidak protes, "Ini gak ada apa jalan lain menuju kampung lo yang jalannya lebih mulusan dikit, jalannya berbatu-batu dan becek kayak gini berpotensi membuat mobil gue rusak nanti."


"Gak ada mas, ini satu-satunya jalan menuju kampung Naya."


"Setahu gue pemerintah sudah mengalokasikan dana pembangunan jalan diseluruh wilayah Indonesia, ini kenapa jalan menuju kampung lo masih belum beraspal gini sieh, jangan-jangan kadesnya korupsi lagi."


"Soudzon aja mas Lio ini, dosa mas."

__ADS_1


"Habisnya jalannya gini amet, kayak muka yang penuh jerawat aja."


"Mas mending fokusnya nyetir aja, jangan ngomentarin hal-hal beginian."


"Gimana gak di komentarin, selain bikin lelet juga bikin badan mobil gue kotor."


"Yeelah cuma mobil aja yang kotor, yang penting bukan kita kan."


"Walaupun cuma mobil, tapi nieh mobil udah gue anggap seperti anak sendiri."


"Apa sieh mas ngaco, mobil kok dianggap anak sendiri."


****


30 menit kemudian, barulah mobil Lio memasuki area kampung Naya, sebenarnya sieh dari jalan raya ke kampung Naya dekat, tapi karna jalannya yang jelek makanya perjalanannya memakan waktu sampai 30 menit.


Mengetahui kalau mobil sudah memasuki area perkampungannya, Naya makin antusias dan heboh saking rindunya dengan kampung halamannya, "Kita sudah sampai mas, kita sudah sampai."


"Biasa aja kali, jangan norak begitu."


"Rumah lo dimana."


"Lurus aja mas, disana ada belokan mas belok dan lurus lagi, dan ada pohon belimbing dipinggir jalan, disitulah rumah Naya." Naya memberi intruksi.


Lio menghentikan mobilnya ditempat yang diberitahu oleh Naya, persis didekat pohon belimbing, Naya langsung keluar dan berlari memasuki pekarangan sebuah rumah sederhana, rumah itu dipagari oleh pagar hidup, rumah yang tidak lain adalah rumah orang tua Naya.


"Assalammualaikum, ibu bapak." Naya menggedor pintu dengan tidak sabaran.


Terdengar suara langkah kaki dari dalam, dan gak lama engsel pintu bergerak dan pintu terbuka yang memampangkan wajah ibunya yang semakin menua.


Menjadi istri dari pengusaha kaya, memakai skincare rutin tiap malam, tentu saja membuat wajah Naya glowing, ditambah saat ini wajahnya dipoles oleh make up, sehingga wajar ibunya tidak mengenalinya, apalagi mereka tidak bertemu setelah berbulan-bulan, "Cari siapa ya nak."


"Ibu." Naya langsung menubruk ibunya, "Ini Naya ibu, masak ibu gak kenal dengan anaknya sendiri."


Ibu Naya mendorong bahu Naya pelan, untuk meneliti apakah benar wanita cantik yang kini dihadapannya adalah anaknya, lima detik kemudian, barulah ibu Naya mengenali anaknya tersebut, "Ini Naya, Naya anakku." antara takjub dan tidak percaya dengan perubahan sang anak yang dulunya kusam kini kinclong kayak ubin yang rajin dipel.

__ADS_1


Naya mengangguk, "Iya ibu, ini Naya anak ibu."


"Astaga anakku." ibu Naya memeluk Naya erat, "Kamu cantik sekali nak, ibu sampai gak ngenalin kamu."


"Bapakkkk, bapakkk." ibu Naya memanggil suaminya.


Mereka memang sengaja tidak pergi ke sawah hari ini karna menunggu kedatangan Naya, karna Naya sudah mengabari kalau dia akan datang "Naya sudah tiba lho ini."


Terdengar suara orang berlari dari dalam, dan orang itu adalah ayah Naya, namun kening ayah Naya berkerut begitu tidak menemukan anak semata wayangnya didepan, yang ada hanya istrinya dan wanita cantik yang tidak dikenalnya kini tengah bersama istrinyan, ternyata dia juga tidak mengenali putrinya.


"Mana Nayanya bu."


"Ayah ini gimana sieh, ini yang ada disamping ibu ya Naya anak kita."


"Walaahhh, anak ayah tho ini, kok ayu tenan."


Naya beralih memberikan pelukan untuk sang ayah, "Ayahhh, Naya kangen, gimana dengan kesehatan ayah."


"Alhamdulillah semuanya membaik nak."


"Syukurlah, Naya senang dengarnya."


"Ekhemmm." Lio yang merasa dilupakan berdehem untuk menarik perhatian untuk memberitahu kalau dia ada disana, bukan mahluk astral yang tak kasat mata.


"Ohhh Astagaaaa, sampai lupa Naya." Naya mengetuk keningnya menyadari kalau dia melupakan Lio, di kemudian menarik tangan Lio, dan mulailah dia memperkenalkan suaminya pada kedua orang tuanya.


"Ayah, ibu, ini mas Lio suaminya Naya, cucunya kakek Handoko sahabat almarhum kakek."


"Ganteng ya pak mantu kita, lebih ganteng daripada difoto." komentar ibu Naya.


"Ibu benar."


Lio tersenyum canggung mendapat pujian dari mertuanya, dia hanya berkata, "Terimakasih bu, ayah."


Ayah dan ibu Naya tersenyum, dan ibu Naya mempersilahkan anak dan mantunya untuk masuk dan beristirahat karna mereka pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh.

__ADS_1


****


__ADS_2