Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BAPER


__ADS_3

"Ohhh, ayah dan bunda diskusi ya, bukan bertengkar." gumam Bulan mencoba untuk memahami.


"Lio, Naya, lain kali kalau kalian berbeda pendapat yang membuat kalian sampai berdebat, apalagi sampai membuat kalian bertengkar, jangan kalian lakukan didepan Bulan, tidak baik untuk perkembangan mental Bulan yang masih kecil." tegur kakek Handoko memperingatkan cucunya dan cucu menantunya.


"Iya kek." jawab Naya sedangkan Lio hanya mengangguk membenarkan ucapan kakeknya.


"Heran kakek, kalian berdebat hanya gara-gara memberikan nama pada kucing, apalagi nanti kalau kalian punya anak, bisa-bisa kalian bertengkar hebat hanya untuk memberikan nama saja."


"Maafkan kami kek." ucap Naya.


"Kakek buyut." intrupsi Bulan, "Menurut kakek, kucing Bulan lebih baik dinamakan siapa, Bintang atau Jupiter." gadis kecil itu meminta pendapat kakek Handoko.


"Itu kucing betina atau jantan sayang."


"Betina kakek buyut."


"Namai saja Bintang, itu lebih cocok untuk kucing betina."


"Nahh tuhkan mas." timpal Naya senang karna kakek Handoko berpihak padanya, "Kakek saja menyetujui kalau namanya Bintang, nama Bintang itu lebih cocok daripada Jupiter."


Lio hanya mendengus karna merasa tidak ada yang mendukungnya.


"Nahh Bulan, namakan saja kucingnya Bintang ya." kata Naya.


"Ayah tidak apa-apakan kalau kucingnya Bulan namakan Bintang." Bulan benar-benar anak yang baik, dia masih menanyakan apakah ayah angkatnya itu tidak apa-apa jika dia memilih nama Bintang untuk menamai kucingnya.


"Iya, namakan saja Bintang." jawabnya setengah hati, "Namakan saja sesuai nama pemberian bocah tengik itu." tambahnya dalam hati.


"Yeyyy, makasih ayah." Bulan memeluk Lio, sedikit tidaknya pelukan tersebut mampu sedikit menghilangkan kekesalan dihati Lio.


****


Naya duduk dimeja rias, dia tengah mengaplikasikan skincare malam diwajahnya saat Lio keluar dari kamar mandi.


Dia memandang Naya sesaat dan kembali berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaiannya dengan piyama.


"Nayy, aku gak suka ya kamu itu dikit--dikit minta bantuan sama Boy." Lio akhirnya mengeluarkan apa yang mengganjal dihatinya.


"Maksud mas apa." tanya Naya menghentikan ritual skincareannya untuk sesaat dan menoleh ke arah Lio.


"Ya tadi itu, hanya untuk mencari kucing untuk Bulan saja kamu sampai minta tolong sama Boy segala."

__ADS_1


"Naya tidak minta tolong sama mas Boy, Naya hanya bertanya, mas Boynya saja yang terlalu baik hati, tidak hanya memberitahu toko yang menjual kucing berkualitas, tapi juga mau nemenin." Naya membela diri.


"Kan ada aku Nay, kamu bisa bertanya bahkan meminta aku nemenin kamu dan Bulan untuk nyari kucing, bukan malah nerima ditemenin oleh laki-laki lain, ingat Nay, kamu itu sudah menikah, apa kata orang kalau melihat kamu pergi bersama laki-laki lain, itu bisa menjadi fitnah."


"Mas, apa sieh yang mas fikirkan." ujar Naya dengan suara agak meninggi, kesel dia mendengar kata-kata Lio yang seolah-olah memojokkannya, "Aku dan mas Boy temenan, gak lebih, lagian kami tidak berdua saja, ada Bulan dan pak Ridwan yang mengantarkan Naya dan Bulan."


"Kamu percaya pertemanan antara laki-laki dan perempuan itu murni hanya temanan saja, tidak Nay, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan, salah satunya pasti menaruh harapan."


"Apa sieh maksud mas Lio, Naya gak ngerti." tandas Naya mulai kesel karna Lio mempermasalahkan hal yang menurut Naya tidak penting sama sekali, "Lagipula kenapa mas Lio harus komentar segala dengan pertemananku dan mas Boy, mas Lio sudah lupa ya, kitakan sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain, mas Lio dipeluk dengan mesra oleh kekasih mas sendiri Naya tidak komentar tuh." Naya jadi mengungkit kejadian tadi siang dikantor Lio, mengingat kejadian tersebut membuat hatinya panas.


Sementara itu, Lio yang diskak langsung diem, tidak bisa menjawab kata-kata Naya.


"Sudahlah mas, mas Lio lebih baik tidak usah membahas hal-hal yang bukan urusan mas, Naya tidak akan mencampuri urusan pribadi mas Lio, dan Naya juga akan melakukan hal yang sama." Naya menambahkan dalam hati, "Urus saja itu kekasih tercinta mas yang bernama Cleo."


Lio sendiri yang meminta Naya untuk tidak mencampuri urusan pribadinya, dan hal itu juga berlaku padanya, tapi entah kenapa mendengar Naya mengatakan kembali apa yang pernah dia ucapkan membuatnya tidak suka.


Naya berjalan ke arah sofa dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah disana.


"Kenapa kamu tidur disana."


"Sepertinya Bulan tidak akan tidur disini malam ini, dia tidak takut tidur sendiri lagi karna sudah ditemani oleh Bintang, jadi Naya tidur disofa saja."


"Ah iya benar." desisnya, "Tapi kenapa kamu yang tidur di sofa, bukannya aku meminta kamu yang tidur diranjang seperti malam sebelum kedatangan Bulan."


Lio akan membantah, namun suara deringan dari ponselnya mengurungkannya, dia meraih benda tersebut, dilayar tertera nama Cleo.


Lio menggeser simbol telpon berwarna hijau untuk menjawab panggilan dari Cleo, "Ada apa Cle." tanyanya begitu sambungan terhubung.


Mendengar nama Cleo disebut-sebut oleh Lio membuat Naya menoleh dengan cepat ke arah suaminya yang kini terlihat berjalan ke arah balkon supaya pembicaraannya tidak didengar oleh Naya.


Naya mendengus, "Gak baik perempuan yang sudah menikah berteman dengan laki-laki." gumamnya menirukan kata-kata Lio barusan, "Dia sendiri sudah menikah tapi selingkuh dengan nyata, dasar egois."


"Ini dengan Adelio Rasyad kekasihnya Cleo."


Lio mengerutkan kening saat mendengar bukannya Cleo yang menjawab melainkan sebuah suara asing yang dilatar belakangi oleh suara dentuman musik yang berisik.


"Cleo, dimana Cleo." tanyanya mengabaikan pertanyaan sik gadis.


"Saya sahabatnya Cleo, nama saya Andin, Cleo sekarang ada dibar, dia gak mau pulang meskipun saya paksa, sedangkan saya harus segera pulang, jadi tolong ya Lio lo jemput dia, soalnya sejak tadi dia menyebut-nyebut nama anda terus."


"Oke, anda kirim alamatnya, saya akan segera kesana." putus Lio dan kembali ke dalam.

__ADS_1


Lio kembali mengganti piyamanya dengan pakaian kasual, dan tidak lupa mengenakan jaket untuk melapisi tubuh bagian luarnya karna udara malam tidak baik untuk kesehatan.


Naya sieh gak tahu dan gak mau tahu Lio mau kemana, dan dia juga tidak berniat bertanya, mengingat perjanjian yang telah mereka buat adalah tidak mencampuri urusan masing-masing, tapi malah Lio yang memberitahu, "Aku mau pergi sebentar Nay, gak lama."


"Hmmm." gumam Naya acuh tak acuh.


"Kamu sebaiknya tidur gak usah tungguin aku."


Jawab Naya dalam hati, "Siapa juga yang mau nungguin sieh."


"Hmmm."


"Kalau Bulan nanyain aku, bilang aku pergi sebentar."


"Hmmm."


Agak kesel juga sieh Lio karna Naya hanya membalas hmm hmm doank, harapnya Naya bilang apa kek gitu, seperti hati-hati dijalan kek atau gimana, bukannya hmm hmmm yang tidak memiliki arti.


"Ya udah aku pergi." pamitnya.


"Hmmm." dan lagi-lagi Naya hanya menjawab hmmm doank.


Mungkin karna sering disuruh mencium Naya oleh Bulan membuatnya terbiasa, makanya Lio mendekati Naya dan mencium kening Naya, "Tidur dikasur jangan disofa." pesannya dan berlalu pergi.


Naya sampai bengong dengan perlakuan Lio barusan, jantungnya berdetak cepat, dia mengangkat tangannya untuk menyentuh keningnya yang dicium. Memang sieh ini bukan pertamakalinya dirinya dicium, namun ciuman-ciuman sebelumnyakan terjadi atas paksaan Bulan, dan ini tanpa paksaan apapun tiba-tiba dirinya dicium oleh Lio yang membuatnya agak baper juga.


"Jangan baper, jangan baper." peringatnya pada diri sendiri, tapi tidak bisa, dikeluar kemauannya dirinya tersenyum dengan pipi bersemu merah, "Ihhh Naya, kamu kenapa sieh, sadar diri donk Naya, mas Lio itu tidak mencintaimu, dia hanya mencintai perempuan bernama Cleo itu, dan dia pergipun pasti untuk nemuin pujaan hatinya itu."


Naya kembali memegang keningnya yang tadi dicium oleh Lio, "Tapi mas Lio tadi...." Naya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Astagaa Naya, jangan berfikiran yang aneh-aneh, dia nyium kening kamu karna terbiasa karna disuruh Bulan bukan karna dia mau." ujarnya pada diri sendiri untuk menghempaskan harapannya yang berfikiran kalau Lio memiliki perasaan padanya.


****


Lio menemukan Cleo tengah meneguk minuman berwarna kuning keemasan, dilihat dari gesturenya, gadis itu terlihat mabuk berat, Lio mendekati Cleo yang tidak menyadari kehadirannya.


Saat gadis itu akan meneguk kembali minuman beralkohol tersebut, Lio langsung menahan Cleo, dia merebut gelas dari tangan Cleo dan meletakkannya dimeja, "Sudah cukup Cle, ayok kita pulang sekarang."


Cleo langsung menoleh ke arah Lio, "Lio." gumamnya dengan suara serak, tangannya diangkat untuk menepuk-nepuk pipi Lio, "Ini kamukan."


Lio menahan tangan kekasihnya yang tengah mabuk berat tersebut, "Iya ini, kita pulang sekarang ya."


Lio melingkarkan tangannya untuk merangkul Cleo, namun gadis itu langsung mendorong Lio, tentu saja dorongan gadis yang tengah mabuk itu berarti apa-apa, hanya membuat Lio agak mundur sedikit.

__ADS_1


"Tidak mau, aku tidak mau pulang, aku mau disini saja, aku happy disini." tolaknya kembali mendorong Lio.


__ADS_2