
"Lho, bapak dan ibu mana." Lio bertanya ketika dia tidak melihat kedua mertuanya dimeja makan saat dia kembali dari kamar mandi.
"Bapak dan ibu sudah pergi ke sawah mas." jawab Naya yang membawa keranjang cucian setelah menyelsaikan sarapannya.
"Mas sarapan ya, Naya mau pergi ke sungai."
"Mau ngapain."
"Nyuci mas."
"Lo ninggalin gue sendirian disini, tega banget sieh lo."
"Terus mas maunya apa, mau ikut Naya ke sungai."
"Ya gue ikut lolah, daripada sendirian dirumah."
"Ya udah kalau gitu, mas cepatan sarapan Naya tunggu diluar." Naya berjalan ke luar menunggu Lio disana.
10 menit kemudian, Lio keluar.
"Ayok berangkat." ajaknya.
"Mas, kita naik sepeda agar cepat sampainya." Naya menunjuk sepeda butut ayahnya yang terparkir disudut rumah.
"Pakai sepeda itu." tunjuk Lio tidak yakin melihat kondisi sepeda yang agak butut, "Emang masih bisa jalan."
"Masih bisa mas."
Lio memandang sepeda itu tidak yakin, namun akhirnya dia berjalan menghampiri sepeda tua tersebut dan mencoba untuk menaikinya, Naya kemudian menyusul duduk diboncengan belakang, sebelah tangannya dilingkarkannya dipinggang suaminya, satunya lagi menahan keranjang cucian dipangkuannya.
"Ayok mas jalan."
"Hmmm." Lio menjalankan sepedanya pelan keluar pekarangan rumah. Udara sejuk pedesaan dipagi hari langsung menerpa wajahnya, udara bersih yang susah didapatkan di ibukota Jakarta.
Namanya juga desa, orang-orang desa kebanyakan ramah dan baik hati, sehingga tidak heran, sepanjang jalan yang mereka lewati
mereka disapa oleh beberapa warga.
"Pengantin baru, mau kemana pagi-pagi begini." sapa salah satu ibu-ibu yang akan pergi ke pasar.
"Mau ke sungai bu Sundari." jawab Naya dari atas sepeda.
"Duhh Naya, sekarangkan sudah menjadi istri orang kaya, kenapa masih repot-repot nyuci segala." sahut ibu satunya."
"Yang kaya itu keluarga suami saya, bukan saya, saya tetap Naya bu, anak dari pak Anto dan bu Anto." sahut Naya sambil lalu.
Namun ada juga yang menggoda mereka.
"Ekheem, pengantin baru nieh, duhh masih hangat-hangatnya." goda anak-anak SMA yang merupakan mantan adik kelas Naya waktu di SMA.
Naya hanya tersenyum malu menanggapi godaan mantan adik kelasnya tersebut yang dalam perjalanan berangkat menuju sekolah.
"Kak Naya, suaminya kakak punya adik cowok gak, kalau ada salamin donk." teriak salah satu anak-anak berseragam tersebut yang tidak digubris oleh Naya.
"Dasar anak-anak kampung, norak" desis Lio dalam hati.
***
"Jauh gak sungainya." tanya Lio mulai agak lelah mengayuh, kalau jalannya mulus sieh dia sanggup mengayuh sampai 20 km, tapi dengan kondisi jalan berbatu dan tidak rata membuat Lio agak kesusahan.
"Lumayan mas."
Lio harus berusaha menjaga keseimbangan ditengah jalan yang tidak rata dan kadang menanjak, hal tersebut membuat sepeda yang dikendarai melengak-lenggok.
"Mas bisa gak sieh bawa sepedanya." komen Naya karna beberapa kali mereka hampir jatuh.
"Bisa, tapi jalannnya nieh yang jelek."
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, semuanya masih aman meskipun beberapa kali mereka hampir jatuh, sampai pada ketika Lio bener-bener tidak bisa menjaga keseimbangan.
"Ehh eh, kenapa nieh mas." panik Naya.
Lio berusaha untuk mengkondisikan tuh sepeda, namun yah pada akhirnya mereka nyungsep ke semak-semak.
"Akhhh." teriak keduanya jatuh-jatuh ke semak-semak.
"Aduhh, bokongku sakit." keluh Naya berusaha berdiri sambil memegang bokongnya yang sakit.
"Sialan." umpat Lio.
"Mas kalau gak bisa bawa sepeda bilang donk, jangan memaksakan diri, tahu gitukan Naya yang bawa."
"Gue bukannya gak bisa, jalannya saja yang jelek." Lio membela diri karna tidak terima dirinya disalahkan.
Sementara Naya mengumpulkan semua pakain yang tercecer, Lio meraih sepeda.
"Jadi gimana nieh."
"Sini mas, biar Naya yang bawa sepedanya."
"Lo yang bonceng gue gitu."
"Iya."
"Ehh mana bisa begitu, mau ditaruh dimana harga diri kalau lo boncengin gue."
"Habisnya gimana, kalau mas yang bawa ntar nyungsep lagi."
"Gak akan, gue janji, ayok naik."
"Gak ah, Naya gak mau, mending Naya jalan kaki sajalah, lagian sudah dekat."
"Ya sudah kalau gitu, sepertinya itu pilihan yang tepat." Lio ikut jalan kaki dan menuntun sepeda.
***
"Desa lo indah juga ya ternyata." kagumnya melihat pematang-pematang sawah yang menghijau.
"Memang indah, baru sadar mas."
Mereka sampai disungai berair jernih, begitu melihat sungai dihadapannya, Lio dengan antusias berlari ke sungai setelah memarkir sepeda ditepi sungai. Lio dengan antusiasnya turun ke sungai dan main air, kelakuannya persis kayak anak kecil yang masa kecilnya kurang bahagia. Naya hanya menggeleng melihat kelakuan suaminya.
"Akh mas Lio, kayak gak pernah lihat sungai saja."
Sementara Naya sibuk mencuci, Lio sibuk main air dan berenang.
Sesekali Naya melirik ke arah suaminya yang kini telah bertelanjang dada menikmati sejuknya air sungai, tubuh putih atletis suaminya mengkilat karna air sungai yang membasahi tubuhnya.
Naya menelan ludahnya memandang pemandangan indah yang terpampang nyata didepan matanya tersebut.
"Heii, apa yang lo lakukan, lo tergoda ya dengan tubuh gue." Lio memercik air pada wajah Naya karna ketahuan diam-diam curi-curi pandang pada tubuh telanjangnya.
"Apaan sieh mas." Naya yang malu memalingkan wajahnya.
Lio selalu gemes melihat Naya yang malu-malu begitu, oleh karna itu, Lio makin heboh memercikkan air pada Naya yang membuat Naya protes.
"Mas, hentikan, Naya basah ini."
"Itu balasan karna telah memandang tubuh gue."
"Mas Lio menyebalkan, siapa suruh gak pakai baju." Naya membalas memercikkan air pada Lio, "Rasakan itu."
Lio membalas tidak kalah heboh, terjadi perang air antara dua manusia yang sudah sama-sama dewasa tersebut, kelakuan mereka sudah persis seperti anak kecil saja.
****
__ADS_1
Saat ini Rafa tengah menghabiskan waktunya dengan keluarganya dirumah keluarganya, mamanya memaksanya untuk pulang, sebenarnya Rafa malas untuk pulang ke rumah, karna dia sudah tahu tujuan mamanya memintanya untuk pulang, apalagi kalau menanyakan tentang kapan dia nikah.
Saat ini keluarga Rafa tengah berkumpul dimeja makan menikmati makan malam.
"Usia kamu sudah matang lho Rafa, kapan kamu akan menyusul Lio sahabat kamu itu, mama dan papa sudah ingin punya cucu, benerkan pa." pertanyaan yang selalu mama ajukan saat bertemu dengan putranya satu-satunya itu.
"Hmmm." jawaban sang papa yang tidak ambil pusing kapan putranya itu kapan akan menikah.
Bukannya Rafa tidak ingin menikah, masalahnya memang dia tidak punya kekasih dan karna kesibukannya membuatnya tidak punya waktu untuk memikirkan masalah perempuan, apalagi saat ini tanggung jawabnya lumayan besar disaat sang bos tengah pergi ke rumah mertuanya didesa.
"Ma, anak mamakan bukannya hanya Rafa, tuh." menunjuk adiknya dengan dagunya, "Minta saja cucu sama Leta."
Leta jelas saja tidak terima namanya dibawa-bawa, "Letakan masih kuliah mas, lagian umur Leta masih 19 tahun, belum pantas untuk berumah tangga, ya mas lah yang seharusnya ngasih cucu untuk mama dan papa, sudah kepala tiga masih saja betah menjomblo, ntar jadi perjaka butut baru tahu rasa." ledek sang adik.
Ingin rasanya Lio mengacak-ngacak rambut adiknya saking keselnya.
"Atau mama yang carikan ya."
"Akhh itu tidak perlu ma, Rafa bisa cari sendiri." kilahnya buru-buru, kayak dia tidak bisa cari sendiri saja pakai dicarikan segala.
"Bisa cari sendiri bagaimana, nyatanya sampai sekarang kamu tidak pernah bawa perempuan ke rumah." tandas sang mama telak.
"Hmm iya mama, suatu saat pasti Rafa akan bawa ke rumah dan mengenalkannya sama mama, tapi untuk saat ini…"
"Belum adakan, ya sudahlah, mama carikan ya." paksa sang mama memotong kalimat Rafa.
"Iya ma, mama saja yang mencarikan mas Rafa, habisnya masalah beginian mas Rafa tidak bisa diandalkan." Arleta mendukung mamanya.
Rafa memberi tatapan peringatan pada adiknya sebagai sebuah kode meminta adiknya jangan ikut campur.
"Gimana Rafa, kamu setujukan kalau mama yang cariin kamu jodoh."
Kalau menolak sudah pasti mamanya akan menyerangnya habis-habisan, yah jadinya terpaksa deh Rafa mengiyakan keinginan sang mama, "Ya sudah deh terserah mama."
"Nahh, gitu donk."
****
Yang rencana awalnya mereka hanya tiga hari di desa, namun ternyata mereka didesa selama satu minggu karna ternyata Lio betah didesa Naya, berada ditengah-tengah keluarga Naya membuatnya nyaman, apalagi orang-orang desa yang ramah yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, kalau tidak ingat pekerjaan, Lio sepertinya malas kembali ke kota, dan yang Lio tidak sadari, selama didesa dia tidak pernah mengingat Cleo kekasihnya yang sangat dia cintai, bahkan dia jarang mengaktifkan ponselnya, bagaimana mau diaktifkan kalau sinyal saja tidak ada, walaupun ada, itupun kalau nelpon suara orang terdengar tidak jelas, atas alasan tersebut, beberapa hari ini Lio tidak pernah mengaktifkan ponselnya.
"Hati-hati dijalan ya nak." pesan sang ibu pada putrinya saat Naya dan Lio akan kembali ke Jakarta.
Orang tua Naya sedih melihat putrinya akan kembali ke kota suaminya.
"Iya bu, ibu dan bapak jaga kesehatan, jangan capek-capek." Naya juga berat kembali berpisah dengan kedua orang tuanya, entah kapan lagi dia bisa kembali datang mengunjungi orang tuanya didesa.
"Mantu, tolong jaga putri kami ya, kami titipkan dia padamu." pesan sang ayah haru.
"Iya ayah, ayah tidak perlu khawatir, Naya istri saya, saya akan selalu menjaganya." janji Lio.
"Kami percaya padamu mantu."
"Naya, kamu tidak lupakan membawa jamu dan obat kuat yang ibu berikan."
Wajah Naya dan Lio memerah, "Iya bu, Naya bawa." jawab Naya malu.
"Ibu yakin, kalau kalian bekerja keras tiap malam, dan tetap meminum jamu dan obat yang ibu berikan, saat kalian kembali menjenguk ibu dan ayah, kamu dan nak Lio akan datang bertiga bersama cucu ayah dan ibu."
Wajah Lio dan Naya makin memerah mendengar harapan sang ibu.
"Sudahlah bu." sela ayah, "Masalah anak, itu urusan Tuhan, jangan terlalu menekan mereka." ujar ayah bijaksana.
"Habisnya ibu sudah tidak sabar ingin gendong cucu ayah."
Sebelum dipaksa harus membawa cucu saat kunjungan berikutnya, Lio buru-buru pamit, "Kalau begitu bu, ayah, saya dan Naya pamit."
"Hati-hati ya nak, pelan-pelan saja, yang penting selamat." pesan ayah untuk terakhir kalinya sebelum melepas kepergian anak dan menantunya.
__ADS_1
***