Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
APA NAYA HAMIL


__ADS_3

Naya kembali membekap bibirnya, dia kembali merasa mual, dan sesuatu dari dalam mendesak untuk dikeluarkan, dan tanpa menunggu lebih lama lagi,


Naya kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Bi Darmi mengikuti nyonya mudanya tersebut ke kamar mandi, dia memijit tengkuk Naya.


Hoek


Hoek


Suara itu terdengar jelas sampai luar.


"Kakek, kita bawa bunda ke rumah sakit saja ya, sepertinya bunda sangat kesakitan." saran Bulan mendekat ke arah kakek Handoko, gadis kecil itu berkaca-kaca karna tidak tega melihat bunda yang sangat dia sayangi muntah-muntah sejak tadi.


"Iya sayang, nanti kita bawa bunda ke rumah sakit ya, kita tunggu ayahmu pulang dulu."


Bulan mengangguk.


Mbak Wati yang berpraduga sejak tadi menyampaikan apa yang difikirkannya, "Tuan besar, apa jangan-jangan nona Naya hamil ya."


Kakek Handoko dengan cepat memutar lehernya ke arah mbak Wati, "Apa maksud kamu Wati, jangan memberikan saya harapan palsu ya kamu." dalam hatinya tentu saja kakek Handoko berharap apa yang dikatakan oleh Wati menjadi kenyataan, tapi dia tidak mau berharap dulu, takutnya nanti dia kecewa.


"Maafkan saya tuan, ini hanya dugaan saya saja, tapi ciri-ciri yang ditunjukkan oleh nona Naya seperti orang yang tengah hamil, badan lemah dan muntah-muntah, saya juga dulu sering mengalami hal itu saat hamil." jelasnya panjang lebar.


Mendengar penjelasan Wati yang masuk akal dan mengingat pengalaman saat dulu almarhum istrinya juga mengalami hal yang sama dengan Naya saat hamil, kakek Handoko benar-benar berharap kalau cucu menantunya itu benaran hamil, "Semoga saja Naya beneran hamil, saya bener-bener mengharapkan hal itu."


"Siapa yang hamil." sahut Lio yang baru tiba dikamar Bulan, dia tidak sendiri, mama Renata datang bersamanya.


Semua langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Lio.


Bulan yang melihat kedatangan sang ayah berlari menyongsong kedatangan Lio, "Ayahhh."


Lio menunduk dan merentangkan tangan menyambut Bulan dan membawanya dalam gendongannya.


"Ayah kemana saja."


"Ayahh....ehmmm, ayah ada urusan sayang." jawabnya karna tidak mungkin jujur.


"Urusan apa yang kamu lakukan malam-malam buta, meninggalkan istri dan anak sendiri, dasar kamu itu ya Lio laki-laki tidak bertanggung jawab." omel kakek Handoko.


Lio hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar omelan dari sang kakek tanpa berniat untuk membela diri.


"Papa, siapa yang hamil." tanya mama Renata mengulangi pertanyaan Lio yang belum sempat mendapat jawaban.


Mbak Wati yang menjawab, "Nona Naya nyonya." jawabnya pasti.

__ADS_1


"Hahh." Lio


"Apa." mama Renata.


Kedua orang itu sama-sama kaget mendengar berita tersebut.


"Jangan mengada-ngada kamu Wati."


"Belum pasti sieh nyonya, tapi melihat ciri-ciri yang ditunjukkan oleh nona Naya, kemungkinannya nona Naya hamil."


Mama Renata menatap tajam putranya yang kelihatan bingung, "Semoga saja gadis kampungan itu tidak beneran hamil, aku tidak mau punya keturunan dari gadis kampung seperti dia." harap mama Renata dalam hati.


"Naya hamil." desis Lio tidak percaya,.


"Ayah ayah." Bulan menarik perhatian Lio, "Hamil artinya di dalam perut bunda ada dedek bayikan."


Lio yang terlihat tidak percaya dengan apa yang didengarnya hanya mengangguk dengan tatapan kosong, dia tidak percaya perbuatannya bisa menghasil janin diperut Naya yang nantinya akan berbuntut panjang, yah meskipun tadi mbak Wati bilang belum pasti sieh, tapi agak was-was juga dia.


Mbak Wati menyahut, "Iya nona kecil, kalau bundanya nona kecil beneran hamil, itu berarti ada dedek bayi didalam perutnya bunda nona kecil."


"Asyikkkk, Bulan akan punya teman bermain donk selain tedy dan Bintang." antusiasnya terlihat bahagia.


Naya keluar dari kamar mandi dipapah oleh bi Darmi.


"Gak perlu kek, Naya kuat kok berjalan sampai tempat tidur." tolak Naya.


Tanpa mempedulikan ucapan Naya, kakek Handoko kembali membentak, "Lio, kamu tidak dengar kata-kata kakek."


Karna kakeknya itu kalau tidak dituruti akan semakin menjadi-jadi, Lio menurunkan Bintang, dan berjalan menghampiri Naya untuk menggendong Naya seperti perintah kakeknya.


"Papa ini lebay sekali, masak gitu saja perlu digendong." komen mama Renata yang kesel karna papanya itu selalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu.


"Diam kamu Renata, bisa tidak kamu tidak usah nyahut kalau saya berbicara."


Mama Renata mendengus, karna papanya itu selalu saja marah-marah saat dibantah.


Tiba dihadapan Naya, Lio bisa melihat dengan jelas kalau raut wajah Naya begitu pucat, melihat wajah Naya yang seperti mayat hidup membuat Lio merasa kasihan, dia kemudian meletakkan satu tangannya dipunggung Naya dan satunya lagi di paha bagian belakang, dan dengan entengnya Lio mengangkat tubuh Naya yang kurus, "Ya Tuhan dia kurus sekali, biar bagaimanapun, saat ini dia berstatus sebagai istriku meskipun aku tidak mencintainya, seharusnya aku lebih memperhatikan asupan gizi makanannya."


"Turunkan aku mas, turunkan." Naya meronta-ronta saat berada dalam gendongan Lio, bukannya tidak mau digendong, hanya saja Naya tiba-tiba saja tidak suka dengan bau badan Lio, itu membuatnya semakin mual.


"Kamu kenapa sieh Nay, aku mau bantuin kamu ke tempat tidur."


"Turunkan aku mas, aku mau muntah."


Mendengar hal tersebut, Lio langsung membawa Naya ke kamar mandi, dan Naya kembali mengeluarkan isi perutnya entah sudah yang keberapa kalinya.

__ADS_1


"Mas sana jauh-jauh." usir Naya mengibas-ngibaskan tangannya saat Lio membatunya untuk memijit tengkuknya.


"Ya Tuhan, aku mau membantu, ini malah diusir, ya sudah kalau begitu." ujarnya kesal dan berlalu pergi karna merasa Naya tidak menghargai bantuaanya.


"Kenapa kamu malah keluar, sana lihat keadaan Naya, pijitin tengkuknya kek, kamu itu jadi suami tidak berguna sekali." kakek Handoko seperti wanita yang PMS saja karna sejak tadi bawaannya pengen marah-marah melulu pada cucu laki-lakinya itu.


"Gimana mau bantuin kek kalau Nayanya ngusir aku." kesel juga Lio karna sejak tadi dia dibentak-bentak oleh kakeknya itu.


Naya kembali keluar, dia bener-bener kepayahan karna tenaganya terkuras habis, dia sampai berpegangan pada kusen pintu kamar mandi.


Meskipun kesal karna sejak tadi Naya terus menolak bantuaannya, Lio iba melihat kondisi Naya, dia kembali berniat menggendong Naya, namun belum saja sampai didepan Naya, Naya sudah kembali mual-mual dan berlari ke kamar mandi.


"Apa sieh yang terjadi." Lio sampai mengernyitkan keningnya karna sejak tadi Naya selalu mual saat berada didekatnya.


Dan entah untuk kesekiankalinya Naya bolak-balik keluar kamar mandi, kali ini dia memberitahu sebelum Lio akan kembali mendekatinya, "Mas, jangan deket-deket, bau badan mas membuat Naya mual."


Reflek Lio mengendus-endus badannya dibalik jaketnya, dia memang belum mandi sieh, tapi dia tidak sebau itu sampai membuat Naya muntah-muntah, hal tersebut membuat Lio agak tersinggung juga.


"Biar saya yang membantu nona Naya tuan muda." Akhirnya mbak Watilah yang maju membantu Naya dengan memapahnya.


Lio mengekor dibelakang.


"Mas, jangan deket-deket." ketusnya saat Lio berjalan dibelakangnya.


"Iya iya." jengkel Lio, "Kenapa sieh kamu tiba-tiba berubah aneh begini."


"Naya, kita sebaiknya pergi ke rumah sakit ya." ujar kakek Handoko saat Naya kini berbaring ditempat tidur Bulan.


"Naya tidak apa-apa kek, tidak perlu ke rumah sakit, Naya hanya butuh istirahat saja."


"Tidak bisa Naya, kita harus ke rumah sakit untuk memastikan."


"Memastikan apa." bingung Naya.


"Memastikan apakah nona muda hamil apa tidak." sahut mbak Wati.


"Hahhh." nah tuh, jangankan Lio, Naya saja tercengang mendengar hal tersebut, "Hamil, tapi aku...aku...."


"Ada dedek bayi didalam perut bunda." cloteh Bulan terlihat begitu gembira.


Naya reflek memegang perutnya yang masih rata, "Hamil, aku hamil, tapi kok bisa." gumamnya tanpa suara.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, kakek sudah tidak sabar ingin mengetahui apakah kamu hamil atau gak." putus kakek Handoko tanpa bisa dibantah.


****

__ADS_1


__ADS_2