
Naya memeluk suaminya itu, mengelus punggung Lio hanya sekedar memberitahu dari bahasa tubuh kalau dia ada disamping Lio, "Maafkan aku mas, maafkan aku yang telah mengabaikanmu."
Mereka berdua menangis bersama sambil berpelukan, sama-sama saling menguatkan satu sama lain lewat sebuah pelukan.
"Jangan tinggalkan aku Nay, jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu." Lio terus saja mengucapkan kalimat tersebut berulangkali, ya jelas saja Lio takut akan ditinggalkan oleh Naya karna mengetahui kalau dirinya mengahamili wanita lain.
"Aku tidak akan meninggalkanmu mas." janjinya.
Yah meskipun sakit dan hancur mengetahui fakta kalau suaminya menghamili wanita lain, tapi Naya tidak berfikir untuk meninggalkan suaminya, biar bagaimanapun, dia tidak mau anaknya lahir tanpa kehadiran sosok seorang ayah.
Mereka berpelukan untuk beberapa saat seolah-olah pelukan tersebut sebagai energi untuk saling menguatkan satu sama lain.
Krukkk
Disaat suasana tengah mengharu biru begitu, suara perut Naya menjadi pengganggu adegan mengharukan tersebut.
Mendengar suara perut sang istri, Lio mengurai pelukannya, mereka saling bertatapan satu sama lain dan saling tertawa.
"Anakmu laper mas." rengek Naya manja.
"Anak ayah lapar ya, anak ayah mau makan apa." Lio mengelus perut Naya dengan sayang, saat mengelus perut Naya membuat Lio merasa tenang.
"Mau makan nasi goreng buatan ayah." menirukan suara anak kecil.
"Baiklah sayang, ayah akan membuatkan nasi goreng spesial untukmu."
"Terimakasih ayah, ayah adalah ayah terbaik di dunia."
Lio tersenyum melihat tingkah Naya, gadis yang kini memenuhi seluruh relung hatinya, tidak ada sedikitpun celah yang tersisa untuk wanita lain dihati Lio.
Lio menggandeng tangan Naya dan membawanya menuju dapur.
****
Setengah jam kemudian, sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas terhidang didepan Naya.
Naya tidak menyentuh nasi goreng tersebut, dia ingin disuapin oleh Lio, Naya sangat jarang bermanja-manja, dan entah kenapa saat ini dia ingin bermanja-manja dengan suaminya, padahal beberapa jam yang lalu dia marah sama Lio sampai tidak mau menatap wajah suaminya.
"Kenapa hanya dilihatin saja, apa mau aku suapin."
Naya mengangguk antusias, dia memang menunggu Lio untuk menawarkan diri menyuapinya.
Gemas sekaligus bahagia karna istrinya kini tidak lagi mengabaikannya.
Lio meniup nasi goreng yang masih panas tersebut sebelum menyuapi Naya, "Aaa." Lio mengarahkan sendok ke bibir Naya.
Naya membuka bibirnya menyambut nasi goreng yang disuapi oleh Lio.
"Gimana." meminta pendapat Naya, saat lapar tengah malam, Naya lebih sering meminta Lio membuatkannya nasi goreng karna katanya Naya, nasi goreng buatan suaminya paling enak sedunia.
Dengan senyum Naya mengacungkan dua jempolnya sebagai sebuah pujian kalau nasi goreng buatan suaminya enak.
Senyum Lio mengembang, karna jawaban Naya selalu sama.
"Habiskan ya sayang, agar kamu dan sik bayi sehat."
Setelah beberapa suapan, Naya mengambil alih sendok dari tangan Lio.
"Sini sendoknya mas."
Lio fikir Naya ingin makan sendiri, sehingga dia menyerahkan sendok tersebut pada Naya, namun Naya malah mengarahkan sendok tersebut ke depan bibir Lio, saat Lio tidak kunjung membuka bibirnya dan hanya menatap Naya dengan heran, Naya berkata, "Mas Lio juga harus makan, mas Liokan belum makan sejak kemarin, kalau mas jatuh sakit gimana."
Apa yang terjadi kemarin membuat Lio tidak punya nafsu makan, dia lupa bagaimana rasanya lapar, sehingga saat Naya menyodorkan nasi goreng ke depan bibirnya tiba-tiba saja membuatnya begitu sangat lapar, sehingga pelan tapi pasti, dia membuka bibirnya menerima suapan dari tangan Naya, dan entah karna nasi goreng itu enak benaran atau karna dia lagi lapar sehingga dia merasa itu adalah nasi goreng terenak yang pernah dia makan seumur hidupnya.
Dua pasutri saling menyuapi sampai nasi goreng itu tandas.
"Terimakasih Nay."
__ADS_1
"Untuk."
"Terimakasih karna tetap berada disampingku." menatap Naya dengan tatapan sendu.
Naya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Lio.
"Nayy, aku benar-benar mencintaimu, aku tidak mau kehilangan kamu."
Naya hanya mengangguk, dia bisa melihat sendiri dari pancaran mata sang suami kalau Lio benar-benar mencintainya, dan begitupun sebaliknya.
"Mas Lio, apa Naya boleh tanya sesuatu."
"Tentang Cleo." tebak Lio.
Naya mengangguk.
"Apa kamu mau bertanya kalau apa yang dia katakan itu benar." tebak Lio lagi.
Naya mengangguk.
Lio menunduk, dia tidak langsung menjawab, rasanya dia tidak sanggup menatap matanya Naya, Lio tidak mau lagi melihat dari mata polos itu mengalir kristal bening. Dia yang awalnya berspekulasi kalau apa yang dikatakan oleh Cleo adalah sebuah kebohongan belaka, tapi bagaimana itu sebuah kebohongan kalau Cleo tidak pernah berselingkuh saat bersamanya, dan kesimpulannya hanya satu, anak yang dikandung oleh Cleo adalah anaknya.
"Maafkan aku Nay." ucapnya pelan dengan masih menunduk.
Naya sudah menguatkan mentalnya untuk mendengar hal terburuk, "Jadi...."
"Apa yang Cleo katakan benar, dia memang tengah mengandung anakku Nay." Lio tidak ingin mengatakan kebenaran itu, dia ingin bilang kalau anak yang dikandung oleh Cleo bukanlah anaknya, tapi hati nuraninya menolak untuk berbohong, biar bagaimanapun, fikir Lio, Naya harus tau kebenarannya, dia tidak mau menutup-nutupi karna akan berdampak buruk kedepannya, Lio hanya berharap Naya mau memaafkan kekhilafannya dimasa lalu.
Naya menunduk, sekuat apapun dia menahan air matanya, tapi air matanya tidak bisa dibendung, sangat sakit saat mendengar pengakuan dari seorang wanita yang mengakui dihamili oleh suaminya sendiri, dan saat Lio membenarkan hal tersebut ternyata sakitnya menjadi 10 kali lipat, sesak dan perih menjadi satu.
Lio tahu Naya hancur, tapi dia bisa apa, dia tidak bisa mengulang waktukan, semuanya telah terjadi, yang bisa dia lakukan saat ini adalah menyesali perbuatannya dimasa lalu.
Lio meraih tangan Naya, Naya diam tidak menolak, "Aku....."
"Terusss, apa yang akan mas Lio akan lakukan dengan Cleo dan bayinya." tanya Naya, meskipun masih muda, Naya bisa menghadapi masalah sebesar ini dengan kepala dingin, dia tidak meledak-ledak atau histeris, apalagi sampai membanting sesuatu.
"Apa mas Lio akan menikahinya."
Lio menatap Naya, pancaran kekagetan jelas terlihat dibola matanya, "Aku tidak akan menikahinya Nay, bagaimana aku bisa menyakitimu dengan menikahinya." sangkal Lio, jelas menikahi Cleo tidak ada dalam daftar rencananya.
"Tapi dia hamil anakmu mas, bagaimana kamu bisa lepas tanggung jawab begini dengan mengabaikannya."
"Iya tapi...."
"Nikahi dia mas." cetus Naya tanpa sadar keluar begitu saja dari bibirnya.
"Jangan mengada-ngada kamu Nay."
"Aku tidak mengada-ngada mas, memang solusi apa yang mas punya selain menikahinya, aku perempuan mas, aku mengerti apa yang Cleo rasakan, Cleo akan jadi gunjingan orang-orang karna hamil diluar nikah, dan memangnya mas tega membiarkan anak mas yang dikandung oleh Cleo lahir tanpa seorang ayah." Naya mengatakan hal yang masuk akal, tapi jauh didasar hatinya, dia sakit, sakit seperti ditusuk puluhan paku berkarat saat menyuruh suaminya, laki-laki yang dia cintai harus menikahi wanita lain, wanita mana yang rela melihat suaminya menikahi wanita lain, tapi memangnya mereka ada pilihan lain, tidak adakan, semuanya sudah terjadi dan Lio harus menanggung resiko perbuatannya dimasa lalu.
Lio terlihat frustasi, kata-kata Naya memang sepenuhnya benar, ada sieh solusi lain, dengan meminta Cleo menggugurkan kandungannya, tapi Lio tidak mungkin melakukan hal itu, biar bagaimanapun anak yang dikandung Cleo adalah anaknya, dia sudah melakukan dosa dimasa lalu, rasanya dia tidak mungkin menambah dosa kalau dia sampai hati meminta Cleo menggugurkan kandungannya.
"Nay, aku benar-benar minta maaf, sedikitpun aku tidak pernah punya niatan untuk menyakitimu, percayalah padaku."
"Aku tahu mas, ini semuanya sudah terjadi, jadi jalan satu-satunya adalah mas harus menikahi Cleo."
"Aku tidak mau Nay, aku tidak mau menyakitimu untuk kedua kalinya, aku hanya ingin bersamamu, bersama anak-anak kita." tolak Lio cepat.
"Tapi bagaimana dengan anakmu yang dikandung Cleo mas, kasihan dia, dia seharusnya mendapatkan kasih sayang yang sama seperti bayi diperutku yang kamu cintai dengan penuh kasih sayang." Naya bukannya sok-sok'an menjadi wanita sok suci atau bagaimana, hanya saja memang hatinya peka, dia tidak tega melihat bayi yang dikandung oleh Cleo tidak anggap oleh ayahnya, dalam hal ini adalah Lio suaminya, biar bagaimanapun, bayi itu tidak berdosa.
"Ya Tuhan, berikanlah petunjukmu, aku tidak mau menyakiti Naya dengan menikahi Cleo, meskipun Naya memaksaku untuk menikahinya, tapi aku tahu jauh dilubuk hatinya dia hancur, tapi kalau aku tidak menikahi Cleo, bagaimana dengan anakku, apa aku tega membiarkannya lahir tanpa kehadiranku." Lio jadi dilema.
"Naya, sebaiknya kita tidur ya, masalah ini besok lagi kita bicarakan." putus Lio sebelum kepalanya meledek.
Naya mengangguk, dia juga butuh istirahat dan menenangkan diri dengan pergi ke alam mimpi.
"Tidur bersamaku ya Nay." pinta Lio, dia tidak ingin Naya tidur dikamar Bulan, dia ingin Naya selalu ada disampingnya, dia ingin memeluk Naya sepanjang malam.
__ADS_1
"Baiklah mas."
Diatas tempat tidur, Lio memeluk Naya dari belakang, tangannya mendarat diperut istrinya yang sudah mulai agak sedikit membuncit.
Lio mencium pipi Naya dan berbisik tepat ditelinga Naya, "Aku mencintaimu Nay."
"Aku juga mencintaimu mas." Naya hanya menjawab dalam hati, tanpa bisa ditahan, air matanya kembali merembas dari pelupuk matanya, membayangkan kalau dia harus berbagi suami dengan dengan wanita lain, "Apa aku bisa membagi mas Lio dengan wanita lain, rasanya aku tidak bisa, tapi harus bagaimana, tidak ada jalan lain selain mas Lio harus menikahi Cleo, ya Tuhan yang maha kuasa, hambamu ini berserah kepadamu, kuatkanlah hati hambamu ini menghadapi segala cobaan yang engkau timpakan kepada hamba, hamba yakin ada hikmah dibalik semua ini."
****
Semalam, Naya sudah sholat tahajud meminta petunjuk supaya ditunjukkan jalan yang terbaik dari permasalahan yang kini tengah dia dan Lio hadapi, tapi memang hatinya tidak sepenuhnya tenang, dia ingin pulang ke desa untuk menenangkan jiwa dan raganya, berada didekat orang tuanya Naya yakin bisa mendapatkan kedamaian, tapi Naya yakin Lio tidak akan mengizinkannya, jadi keinginannya itu hanya dipendam dalam hati.
Dan saat ini, yang dilakukan Naya adalah melamun ditaman belakang, suasana rumah besar agak berbeda setelah kepergian kakek Handoko, satu orang yang mengkhawatirkannya sudah pergi, tidak ada lagi yang mewanti-wantinya untuk istirahat dan jangan melakukan ini itu, tidak ada lagi yang memaksanya untuk minum vitamin, minum susu, tidak ada lagi laki-laki penuh perhatian yang selalu mencemaskan dirinya dan kandungannya, Naya benar-benar merasa kehilangan, sudah kehilangan kakek Handoko, ditambah lagi dengan harus menghadapi kenyataan menyakitkan kalau Lio menghamili Cleo, dan yahh, mau tidak mau suaminya itu harus menikahi Cleo sebagai bentuk tanggung jawabnya.
"Nona yang sabar ya."
Karna sibuk melamun, Naya tidak menyadari tahu-tahunya mbak Wati sudah ada dihadapannya membawakan cemilan dan teh untuknya.
Naya hanya menatap mbak Wati dengan tatapan sendu, rasanya dia tidak punya tenaga untuk membalas ucapan mbak Wati.
Mbak wati duduk dikursi rotan satunya yang persis menghadap Naya, untuk beberapa saat, mbak Wati hanya terdiam sambil menatap nona majikannya dengan iba, dia tidak pernah menyangka kalau kehidupan nona majikannya persis seperti sinetron-sinetron indosiar yang sering ditontonnya setiap malam bersama bi Darmi, "Ada saya dan bi Darmi disini, jadi, nona jangan merasa sendiri, kalau nona butuh teman bicara, jangan sungkan, nona tidak harus memendam permasalahan sendiri."
"Akhhh kasihan sekali nona Naya, saya tidak pernah menyangka tuan muda tega menyakiti nona, padahal nona gadis yang sangat baik." suara hati mbak Wati.
Naya tersenyum lemah menanggapi ucapan mbak Wati, dia tahu kedua ARTnya itu juga sangat perhatian kepadanya dan pasti dengan senang hati akan mendengar keluh kesahnya, tapi untuk saat ini fikir Naya, dia tidak mau bercerita kepada siapa-siapa, cukup hanya kepada Tuhanlah dia berkeluh kesah atas masalah yang kini telah menimpanya, karna Tuhan adalah sebaik-baiknya tempat berkeluh kesah.
"Iya mbak, terimakasih, mbak Wati dan bi Darmi sangat perhatian sama Naya, Naya sangat terharu."
"Iya nona sama-sama."
"Ohh ya nona, ayok cicipi kue yang saya bawa, baru matang lho, tadi saya mencoba resep baru, chanel youtube masak-masak paforit saya baru saja ngepost vidio dan cuss langsung saya eksukusi deh mumpung bahan-bahannya ada." cloteh mbak Wati.
"Iya mbak, nanti saya coba." Naya kembali melamun, sepertinya hal apapun tidak bisa membuatnya semangat.
"Ya sudah nona, mungkin saat ini nona tengah ingin sendiri, saya tinggal dulu ya nona." pamit mbak Wati, karna percuma saja dia disana, tidak ada tanda-tandanya nona mudanya itu terlihat terhibur akan kehadirannya.
Naya tidak menjawab, matanya menatap kosong pada hamparan rumput hijau ditaman belakang.
****
"Halo kak ada apaan, tumben kakak nelpon." Leta yang baru keluar kelas menjawab panggilan Rafa sang kakak.
"Ta, kamu sudah pulang kuliah."
"Iya, ini baru saja keluar."
"Ta, kakak boleh minta tolong sama kamu."
"Minta tolong apa kak."
"Kalau kamu tidak sibuk, tolong deh temuin Naya, hibur dia, saat ini dia tengah mengalami hal yang berat."
Tanpa dimintai tolong juga Leta memang berniat untuk mengunjungi Naya setelah pulang kuliah, "Iya kak, ini juga Leta niatnya memang mau nemuin mbak Naya."
"Ohhh baguslah, kamu hibur dia ya Ta, ajak jalan, perawatan atau gimana gitu."
"Iya kak, perintah kakak akan Leta laksanakan, tapi jangan lupa transfrannya ya kak, soalnya uang jajan Leta untuk bulan ini sudah limit, jadinya butuh tambahan dana untuk mengajak mbak Naya jalan-jalan hehe."
"Iya kamu tenang saja, akan kakak transferin, asal kamu buat Naya tersenyum, kata Lio, beberapa hari ini Naya tidak pernah tersenyum, dia hanya memaksakan senyum saat didepan Bulan."
"Gimana mbak Naya bisa tersenyum, orang sik brengsek itu ngehamilin wanita lain, untungnya mbak Naya orangnya sabar tidak ngamuk-ngamuk dan mencakar mukanya, coba kalau Leta yang disakitin, sudah Leta bejek-bejek dia sampai *****." Leta sampai meremes-remes tangannya saking geramnya.
"Sudahlah Ta, kamu jangan mengata-ngatai Lio, lebih baik kamu bergegas menemui Naya."
"Iya, ini juga Leta akan berangkat."
****
__ADS_1