
"Tidak bisa tidak bisa, Lio tidak bisa mengabaikan aku begitu saja. Apa yang terjadi denganku kalau sampai Lio beneran tidak mempedulikan aku lagi, siapa yang akan ngasih aku uang, kemewahan, membelikan aku tas, sepatu, perhiasan." membayangkankan dia hidup tanpa kemewahan membuat Cleo ngeri sendiri, karna selama ini Liolah yang loyal memberikan apapun yang dia inginkan.
Cleo meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi Lio, ketika tangannya siap untuk menekan simbol telpon, dia mengurungkan niatnya, "Akhh masa aku yang hubungin dia sieh, mau taruh dimana mukaku, kan aku yang bilang putus."
"Lagian Lio kenapa sieh, tidak seperti biasanya dia seperti ini, biasanyakan dia akan mencariku dan memohon supaya aku mau balikan sama dia." Cleo bermonolog sendiri sambil mondar-mandir diruangan hotel, bertanya-tanya penyebab kenapa Lio tidak berusaha mencarinya dan menghubunginya karna terakhir kali dia dihubungi adalah dua hari yang lalu, dan Cleo sengaja nginep dihotel dan tidak pulang ke apartmen yang dibelikan oleh Lio, itu karna supaya Lio berusaha mencarinya dan menemukannya.
"Akhhhh Lio brengsek." Cleo berteriak frustas sembari mengacak-ngacak rambutnya membuat rambut indahnya berantakan, "Kenapa kamu tidak mencariku dan memohon-mohon untuk balikan seperti sebelumnya hah."
"Apa jangan-jangan dia sudah bosan dengan aku kali ya, makanya sekarang dia mengabaikan aku." fikirannya itu membuat Cleo menggeleng kuat, "Tidak- tidak tidak, Lio tidak boleh bosan sama aku, dia adalah tambang emasku."
Cleo meraih gelas berisi air putih, meneguknya mencoba untuk menenangkan dirinya, "Oke Cleo, kamu harus tenang, tunggu beberapa hari, kalau Lio tidak menghubungimu, barulah kamu bereaksi, buat dia menyesal karna telah mengabaikan kamu."
Cleo kemudian kembali meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo sayang." sapanya.
Terdengar sahutan dari seberang, "Kenapa sayang."
"Aku boring nieh, kita jalan yuk."
"Maafkan aku sayang, tapi aku lagi sibuk saat ini, lain kali saja ya."
"Tapi...."
Belum saja Cleo menyelsaikan protesnya, sambungannya langsung dimatikan oleh pria yang dia telpon yang merupakan selingkuhannya.
"Rado brengsek, main matiin saja." umpatnya membanting ponselnya dikasur.
Laki-laki bernama Rado yang merupakan selingkuhan Cleo merupakan pria beristri dan memiliki anak, tidak sekaya dan seroyal Lio tentu saja. Bisa dibilang Cleo gadis bodoh yang tega-teganya bermain gila dengan laki-laki yang tidak ada bandingannya dengan Lio yang bisa dibilang paket komplit, sudah tampan, tajir melintir, dari keluarga baik-baik, royal, maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan Cleo dustakan, mendapatkan Lio jelas merupakan durian runtuh, tapi begitu sifat wanita, tidak pernah puas dengan satu laki-laki, dapat berlian, batu akik juga doyan.
****
Naya terbangun karna panas badannya yang membara, obat penurun panas yang diminumnya tadi pagi tidak ada efeknya sama sekali.
"Panasss." gumamnya.
Tenggorokannya juga terasa kering, dan bibirnya pecah-pecah, Naya menggeser tubuhnya ke tepi untuk meraih air putih yang diletakkan dinakas samping tempat tidur, Naya berusaha menjangkau, namun ternyata dia malah menjatuhkan gelas tersebut yang membuat gelas itu jatuh berkeping-keping dilantai.
Karna tengah sakit membuat Naya menjadi sensitif, dikit-dikit nangis, seperti saat ini, dia menangis sesenggukan, dia benci menjadi tidak berdaya seperti ini.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara derap langkah berjalan menuju kamarnya dan engsel pintunya terlihat bergerak dan kemudian pintu tersebut didorong dari luar.
"Astagfirullah Naya, apa yang terjadi." kaget kakek Handoko melihat serpihan gelas bertebaran dilantai dan melihat Naya menangis.
Laki-laki tua itu dengan susah payah menaiki tangga dibantu oleh mbak Wati hanya untuk melihat keadaan Naya.
__ADS_1
"Nona, astagaaa, nona tidak apa-apakan."
Kakek Handoko tidak sendiri, dia bersama mbak Wati dan bi Darmi yang sekalian untuk membawakan Naya makan siang dan juga obat.
Bi Darmi menyongsong masuk, khawatir melihat serpihan gelas yang bertebaran dilantai, "Nona, nona tidak apa-apakan."
Naya menggeleng, meskipun dia berusaha untuk menghentikan isakannya, malah isakannya justru semakin menjadi.
"Kenapa nona tidak memanggil saya atau Wati kalau perlu apa-apa."
Kakek Handoko yang di bantu oleh mbak Wati kemudian berjalan masuk mendekati Naya, mbak Wati membantu kakek Handoko duduk disamping Naya.
"Wati, Darmi lebih baik kalian bersihkan pecahan gelas itu, bahaya, kalau ke injek bagaimana." perintah kakek Handoko.
"Baik tuan." jawab dua ART itu serempak.
Kakek Handoko merangkul Naya, mencoba menenangkan cucu menantunya yang masih sesenggukan, "Sssttt, sudah cucuku, jangan menangis, ada kakek disini, kamu jangan merasa sendiri ya."
Naya mengangguk.
"Iya nona." sahut mbak Wati, "Nona tidak perlu sungkan, kalau butuh apa-apa bilang saja sama saya atau bi Darmi, iyakan bi."
"Iya nona, kami akan selalu ada untuk nona." sokong bi Darmi.
Naya hanya bisa mengangguk, tidak bisa berkata-kata karna merasa terharu karna semua orang dirumah besar sangat perhatian sama dia.
"Jangan meremehkan kekuatan kakekmu ini sayang, begini-begini kakek masih kuat, menggendong kamupun kakek sanggup." gurau laki-laki tua itu yang membuat Naya sedikit tersenyum.
Bi Darmi dan mbak Wati tersenyum melihat intraksi antara tuan besar dan nona muda mereka, sejak Naya ada dirumah ini, kakek Handoko lebih sering tersenyum daripada sebelumnya.
Karna tengah merangkul Naya, kakek Handoko merasakan panas yang ditransfer dari kulit Naya ke kulit keriputnya, "Panas sekali badan kamu Naya, pantas saja kamu sampai menangis."
"Dan Lio, anak nakal itu, dia bukannya menjaga kamu dia malah pergi bekerja, dasar laki-laki tidak bertanggung jawab, awas saja dia ya, akan kakek marahin nanti." geramnya emosi dengan cucu laki-lakinya tersebut.
Kakek Handoko mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lio untuk memarahi cucunya itu.
"Jangan salahin mas Lio kek, Naya tidak apa-apa kok, Naya cuma demam biasa, Naya saja yang berlebihan pakai nangis segala." harap Naya kakek Handoko tidak menelpon suaminya dan tidak memarahi Lio.
Namun kakek Handoko tidak peduli dengan pembelaan Naya, "Sudah Naya, kamu jangan membela anak itu, pokoknya dia harus kakek beritahu bagaimana cara memperlakukan istri dengan benar"
"Lio, apa yang kamu lakukan." suara kakek Handoko melengking saat panggilan terhubung.
****
Lio tengah melakukan pertemuan penting dengan rekan bisnisnya, saat ini Lio dan rekan bisnisnya tersebut tengah membicarakan kerjasama dua belah pihak untuk kamajuan perusahaan masing-masing dan tentunya untuk mendapatkan keuntungan yang besar pastinya.
__ADS_1
Disaat seperti itulah ponselnya berdering nyaring dari saku jasnya. Lio tersenyum meminta maaf dan merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya, melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Kakek." gumamnya, dan biasanya kalau berhubungan dengan sang kakek, Lio tidak mungkin mengabaikan.
Dia menunduk meminta maaf sekali lagi pada rekan bisnisnya, "Maafkan saya, saya harus mengangkat telpon dari kakek saya." pamitnya.
Namun sebelum itu, dia berjalan ke arah Rafa, dan berbisik, Rafa mengangguk. Dan setelah Lio tidak terlihat, Rafa kini mengambil alih menjelaskan tentang urusan bisnis yang tadi sempat dijabarkan oleh Lio, karna tadi Lio memintanya untuk menggantikannya.
Begitu tiba diluar ruang pertemuan, barulah Lio menjawab panggilan kakeknya. Belum juga Lio sempat buka suara, terdengar suara kakeknya yang terdengar marah dari sambungan telpon.
"Lio, apa yang kamu lakukan."
Lio yang merasa bingung karna tidak merasa melakukan hal-hal yang membuat kakeknya marah tentunya membuatnya bertanya balik, "Memangnya apa yang Lio lakukan kek."
"Malah balik nanya lagi, dasar anak nakal." suara kakeknya terdengar tambah marah.
"Apa sieh maksud kakek, aku tidak mengerti kek."
"Kamu dasar laki-laki tidak bertanggung jawab."
Lio mengerutkan kening semakin tidak mengerti kenapa tiba-tiba kakeknya menelponnya hanya untuk memarahinya dan dia tidak tahu sebabnya.
"Kek, aku lagi ada pertemuan penting dengan rekan bisnis perusahaan kita, jadi kalau kakek menelpon aku hanya untuk memarahi aku, lebih baik kakek tunda dulu deh marahnya, sekarang aku harus kembali ke ruang pertemuan kek."
"Hehh anak nakal, jangan berani-beraninya kamu mematikan telpon kakek, atau tidak kakek tidak akan memberikanmu warisan sepeserpun."
Lio mendesah berat, "Selalu saja mengancam dengan masalah warisan, membuat gue tidak bisa berkutik saja." gumamnya tanpa suara.
"Kamu pulang sekarang." perintah sang kakek.
"Tidak bisa kek, ini pertemuan penting, demi keuntungan perusahaan, dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, ."
Lio bisa mendengar suara serak Naya yang mengatakan, "Kakek, Naya beneran tidak apa-apa, biarkan mas Lio bekerja."
Oke dari sini Lio sudah tahu penyebab kenapa kakeknya memarahinya dan ngotot memintanya pulang.
"Ohh jadi ini karna Naya kakek meminta gue pulang." batinnya
"Naya lagi sakit keras begini dan kamu lebih mementingkan pertemuan itu, dasar kamu, diotakmu hanya ada uang uang dan uang saja, emang uang lebih penting dari istrimu hah."
"Sakit keras apaan, tadi gue denger Naya bilang tidak apa-apa, orang sakit keras jangankan ngomong, bergerak saja tidak bisa, kakek memang berlebihan." desahnya dalam hati melihat tingkah kakeknya yang berlebihan.
"Lio, kenapa kamu diam saja, cepetan pulang, kalau kamu tidak pulang sekarang, kakek yang akan menyeret kamu."
"Iya iya baiklah, aku akan pulang sekarang." pasrah Lio pada akhirnya karna tidak mau mendengar ocehan kakeknya lebih lama.
__ADS_1
Karna harus pulang karna paksaan sang mulia raja, urusan pekerjaan dia serahkan sama Rafa, Lio percaya sama sahabatnya itu, Rafa pintar dan bisa menghandle setiap pekerjaan yang dilimpahkan padanya.
****