Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MENJENGUK NAYA


__ADS_3

Lio tengah sibuk mengerjakan sesuatu dileptopnya, dia terlihat serius, jepit rambut pemberian Naya digunakan untuk menjepit poninya supaya tidak menghalangi pandangan, rambutnya memang sudah agak panjang dan dia berniat untuk memotongnya, hanya saja dia masih belum sempat karna kesibukannya.


Naya yang tengah duduk bersandar diranjang sejak tadi memperhatikan Lio yang sejak tadi fokus dengan leptopnya.


"Seandainya aku bisa menjalani kehidupan pernikahan yang normal, tidak pura-pura seperti ini, dan setelah satu tahun harus diceraikan." Naya menunduk sedih mengingat kata-kata Lio, "Bagaimana perasaan ayah dan ibu kalau aku dan mas Lio bercerai, mereka pasti akan sedih melihat putrinya menjadi janda ." Naya menghembuskan nafas berat, dadanya sesak membayangkan orang tuanya.


Tok


Tok


Tok


"Tuan muda." suara mbak Wati memanggil dari luar.


Baik Naya dan Lio mengarahkan mata mereka ke arah pintu begitu pintu kamar mereka diketuk dari luar.


Karna merasa sudah lumayan sehat, Naya berniat untuk membuka pintu, disudah bangun dan menyingkirkan selimut dari tubuhnya saat Lio menegurnya, "Mau ngapain Nay."


"Itu mbak Wati mas, Naya mau bukain pintu."


"Kamu duduk saja, biar aku saja yang membuka pintu." Lio berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Ada apa mbak."


"Ada mas Rafa dan mbak Leta dibawah mas."


"Rafa, Leta." gumam Lio.


"Katanya mas Rafa dan mbak Leta datang untuk menjenguk nona Naya tuan." jelas mbak Wati secara lengkap agar tuan mudanya tidak bertanya lagi.


"Hmm, baiklah, nanti kami akan turun menemui mereka."


"Baiklah tuan, saya permisi kalau begitu." dan mbak Wati berlalu setelah menyampaikan informasi tersebut.


"Mas Rafa dan mbak Leta datang mas."


"Iya, katanya mau jengukin kamu."


"Akhh mereka sangat baik dan begitu peduli, padahal Naya sudah tidak apa-apa, kenapa pakai dijenguk segala."


Naya turun dari tempat tidur berniat untuk menemui Rafa dan Leta dibawah.

__ADS_1


Belum saja dia sempat melangkah, sepasang tangan kekar mengangkatnya dan menggendongnya, tentu saja pemilik sepasang tangan itu adalah Lio.


Tentu saja Naya kaget dengan perlakuan Lio yang tiba-tiba saja menggendongnya, "Mas Lio, apa-apan sieh, turunkan Naya."


"Kamu masih belum sehat Nay, takutnya nanti kamu tidak kuat jalan dan pingsan lagi."


"Tapi Naya sanggup untuk jalan mas, mas Lio tidak perlu gendong aku kayak gini, malu." protes Naya.


"Sudah diem jangan protes." sergah Lio, "Lebih baik sekarang kita temui Rafa dan Leta." Lio mulai melangkah keluar.


"Mas Lio, turunkan Naya mas, malu nanti dilihat sama mas Rafa dan mbak Leta." kukuh Naya supaya Lio menurunkannya.


"Sudahlah santai aja, ngapain harus malu sama dua orang itu, merekakan bukan presiden."


Akhirnya Naya menyerah dan tidak meminta Lio menurunkannya lagi.


****


Kakek Handoko, Rafa dan Leta terlibat pembicaraan seru diruang tamu, dan tiga orang itu menghentikan pembicaraannya saat mendengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Ketiga orang itu sama-sama membelalakkan mata saat melihat pemandangan tersebut, tapi itu hanya sesaat karna ekpresi ketiga orang tersebut berubah sesuai dengan apa yang mereka fikirkan tentang Lio dan Naya.


Sedangkan Naya, jangan ditanya deh, dilihat dengan sedemikian rupa oleh tiga pasang mata membuatnya malu setengah hidup, wajahnya memerah, "Pasti mereka berfikir aku gadis manja, yang sakit sedikit saja harus digendong, padahalkan aku tidak minta gendong, mas Lionya yang maksa." batinnya kesal karna suaminya, tidak membiarkannya berjalan. (Maksudnya suami yang nantinya hanya berumur satu tahun.)


"Lio menggendong Naya, dilihat dari raut wajahnya sieh tuh anak kelihatan tulus banget melakukan hal itu, apa dia mulai menyukai Naya." Rafa berspekulasi sendiri, "Semoga saja dugaan gue bener, gue bener-bener berharap kalau Lio mencintai Naya dan menjaga keutuhan rumah tangga mereka." harap Rafa.


Lain Rafa, lain juga kakek Handoko dan Leta, dua orang itu tersenyum menggoda, karna berfikir perlakuan Lio terhadap Naya sangatlah romantis.


"Mas Lio sweet banget, aku jadi iri." seru Leta, "Aku jadi ingin cepat-cepat nikah." Leta menatap pasangan itu dengan senyum merekah karna membayangkan suatu saat dirinya juga akan diperlakukan romantis oleh pasangannya seperti Naya.


Rafa menjitak kepala adiknya, "Kuliah dulu yang benar kamu Leta, jangan mikirin cowok apalagi nikah, kamu fikir nikah itu gampang dan enak."


"Ihhh kakak." Leta mengelus kepalanya yang kena jitak, "Mentang-mentang belum nikah jadi sensi kalau denger orang ngomong masalah nikah, makanya kak, cepatan sana cari cewek biar kakak tidak nelangsa melihat kemesraan orang."


Mendengar ledekan Leta membuat kakek Handoko dan Lio terkekeh.


"Bener itu kata adikmu Rafa, kamu harus segera cari pacar, kamu tidak iri apa sama Lio, atau mau kakek bantuin cari." kakek Handoko menawarkan diri.


Lio buru-buru menolak, "Tidak perlu kek tidak perlu, Aku bisa cari sendiri."


"Kenapa sieh dengan semua orang, kenapa semuanya ingin mencarikan gue pacar, guekan bisa cari sendiri, gue masih jomblo beginikan bukan karna gak laku, hanya saja gue mau menikmati kesendirian gue aja." heran Rafa karna baik ibunya dan kakek Handoko menawarkan diri untuk mencarikannya pasangan.


"Sini sini Lio, dudukkan cucu kesayangan kakek didekat kakek." kakek Handoko menepuk-nepuk ruang kosong yang ada disampingnya.

__ADS_1


Lio melakukan perintah kakeknya, setelah mendudukkan Naya disamping sang kakek, Lio juga duduk disamping Naya, jadinya Naya berada ditengah-tengah.


"Mas Lio perhatian banget sama mbak Naya, beruntungnya mbak Naya punya suami seperti mas Lio, sudah tampan, baik, kaya, perhatian lagi."


"Apa yang terlihat tidak seperti yang mbak Leta fikirkan, bahkan mas Lio tidak mencintaiku sama sekali dan mencintai wanita lain, dia bahkan berniat menceraikanku setelah satu tahun." jawaban yang hanya Naya katakan dalam hati.


Lio memandang Naya, kurang lebih mungkin fikirannya sama dengan Naya, kalau apa yang difikirkan oleh Leta tidak seperti kenyataannya.


"Makanya Leta, nanti kalau cari suami, cari yang seperti cucu kakek ini."


"Iya kek, doain saja semoga Leta dapat yang seperti mas Lio yang paket komplit." Leta terkekeh.


"Kamu itu ya Leta, bisa saja kalau muji orang." sergah Lio.


Kakek Handoko mengelus kepala Naya dengan sayang, "Bagaimana kedaanmu sayang."


"Sudah mendingan kakek."


"Syukurlah."


"Mbak Naya kok bisa sakit, padahal pas kita nonton kemarin malam mbak baik-baik saja."


Tidak mungkin menjawab penyebab dirinya sakit sebenarnya, Naya memilih berbohong, "Iya mbak, setelah pulang tiba-tiba saja badanku jadi demam, tapi sekarang sudah baikkan kok karna dirawat oleh mas Lio, dia merawat Naya dengan telaten." padahalkan Lio yang menyebabkannya sakit begini, tapi tetap saja dia memuji suaminya.


Lio jadi malu sendiri mendengar Naya memujinya.


"Akhhh mas Lio bener-bener suami idaman." lagi-lagi Leta memuji Lio.


"Terimakasih ya mas Rafa dan mbak Leta karna telah menjenguk Naya."


"Tidak masalah mbak, kami bawakan buah buat mbak, jangan lupa dimakan ya." Leta menunjuk parsel berisi beberapa macam buah yang ada dimeja.


"Seharusnya kalian tidak perlu rpot-repot segala, tapi terimakasih, pasti aku makan."


"Kalian ini." Lio menyela, "Kenapa bawa buah, orang demam kalau makan buah itu akan tambah panas, niat gak sieh ngejenguknya."


"Kami mana tahu kalau Naya demam, kalau tahu begitu ya gue bawain saja frezer biar Naya bisa tidur disana agar badannya dingin."


Mendengar gurauan Rafa, semua orang yang ada disana pada tertawa.


****

__ADS_1


__ADS_2