Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PESTA PERNIKAHAN


__ADS_3

Lio memandang telapak tangannya yang kemerahan akibat aktifitas menimba, dia kemudian menyodorkannya kedepan mata Naya berharap Naya bersimpati dengan penderitaannya.


"Lihat tangan gue, lecet."


"Memang begitu mas kalau pertama kali nimba, kalau udah terbiasa kayak Naya sieh gak bakalan apa-apa."


"Untung gue terlahir kaya, kalau gak, gue gak bisa membayangkan hidup gue kalau tiap hari seperti ini."


Naya tidak menanggapi ocehan Lio, dia memilih menyodorkan pakaian yang akan dikenakan Lio ke acara pesta nikahannya Eli.


"Mas pakai batik saja ya."


Lio mengambil baju batik yang telah disetrika oleh Naya, dan mengenakannya,


"Kancingin donk, gak bisa nieh gue karna tangan gue sakit."


Tanpa membantah Naya melakukan apa yang disuruh Lio, jarak mereka begitu dekat, bahkan hembusan nafas Lio bisa dirasakan oleh Naya, Naya mendongak dan matanya langsung bersitatap dengah bola mata milik Lio.


"Mas Lio kok ganteng banget." pujinya dalam hati.


"Gue ganteng bangett ya sampai iler lo netes gitu."


Naya reflek mengelap bibirnya mendengar kalimat Lio, dia jadi salting .


Lio malah tertawa melihat Naya yang salting, "Anjirrr, ternyata lo gampang banget dibegoin."


"Iseng banget sieh mas jadi orang." kesal Naya manyun.


Lio yang gemes melihat bibir mungil Naya reflek mengecup bibir Naya, Naya terkejut tidak menyangka akan mendapat kecupan begitu, meskipun kecupan itu hanya sekejap, tapi agak nyetrum juga.


"Jangan manyun, ntar aku cium lagi baru tahu rasa."


Karna gak mau kena serangan jantung mendadak, Naya menormalkan kembali bibirnya.


****


Dengan mengeluarkan kemampuan make upnya, Naya merias wajahnya sehingga dia tampak begitu sangat cantik, dengan rambut digelung, keatas, ditambah balutan kebaya berwarna soft pink yang membalut tubuh mungilnya membuatnya bak putri keraton.


Lio sempat terpana melihat kecantikan istrinya, dan tanpa sadar bergumam, "Cantik."


Naya jadi tersipu dipuji begitu, apalagi yang memujinya adalah suaminya, "Makasih mas."


Lio yang gengsian buru-buru meralat, "Maksud gue, bajunya yang cantik, bukan elo, geer."


"Ihhh, dasar menyebalkan." umpat Naya.

__ADS_1


Ayah dan ibu Naya menunggu didepan, karna rencananya mereka juga akan ikut ke acara hajatan Toni dan Eli.


"Ya Allah gusti yang maha agung dan maha besar." ibu Naya memuji kebesaran Tuhan, sambil tidak lepas memandang putri semata wayangnya, "Sungguh indah karuniamu yang engkau anugrahkan untuk kami." memandang putrinya dengan penuh rasa syukur dan kagum, "Lihat ayah, putri kita cantik sekali."


"Kamu seperti putri raja nak."


"Ayah dan ibu bisa saja, bikin Naya malu saja."


"Kita berangkat sekarang." Lio mengintrupsi.


"Oh iya ayokk, nanti kita telat lagi."


Naya, lio dan kedua orang tua Naya dengan menggunakan mobil Lio pergi ke acara pesta pernikahan Eli dan Toni.


Namanya juga orang kampung, apalagi baru pertama kali naik mobil mewah, kedua orang tua Naya tidak henti-hentinya mengagumi interior mobil mantunya, untung mertua, kalau gak mungkin Lio akan dengan terang-terangan mengatakan mereka norak.


"Kamu beruntung sekali nak menikah dengan nak Lio, mau pergi kemana saja kamu gak akan kepanasan."


Naya hanya menjawab dalam hati, "Kalau boleh memilih, Naya lebih memilih menikah dengan mas Wahyu."


****


Pesta pernikahan Toni dan Eli terbilang mewah bagi ukuran orang kampung mengingat Toni adalah anak orang kaya.


"Mewah sekali pestanya." komentar Naya memandang sekelilingnya.


"Untuk ukuran orang desa ini acaranya mewah mas."


"Ya ya terserah, tapi saat ini bisakah kita cari makan dulu, gue laper."


"Kita samperin pengantinnya dulu mas."


"Bisa gak lo aja, gue lapar nieh."


"Ihhh mas ini, ayok samperin dulu pengantinnya." Naya memaksa.


Terpaksa Lio mengikuti keinginan Naya mendatangi pelaminan dimana pengantin berada.


Sementara itu Eli memandang dengan heran gadis cantik yang menghampirinya dengan senyum lebar, dalam hati dia bertanya-tanya, "Siapa gadis cantik ini, apa dia temannya Toni." ternyata Eli tidak mengenali sahabatnya sendiri.


"Mas, siapa itu, kenalan mas ya." Eli bertanya pada Toni.


"Gak." jawab Toni juga memperhatikan gadis yang menghampirinya mencoba untuk mengingat-ngingat siapakah gerangan gadis cantik tersebut.


Tiba dihadapan Eli, karna Eli memandangnya seperti memandang orang asing, Naya menegur Eli,

__ADS_1


"Liii, kenapa mandangnya gitu amet."


"Siapa ya."


"Astagfirullahhalajim, ini aku Li, Naya."


Eli memperhatikan dengan seksama wajah gadis cantik yang mengaku dirinya adalah Naya sahabatnya, "Naya." ulangnya, "Kanaya Azzahra sahabat SMAku." Eli menyebut nama panjang Naya untuk memastikan.


"Iya Li, masak udah lupa sieh wajah sahabat sendiri."


"Beneran ini kamu Naya."


"Iya Li, aku Naya sahabat kamu."


"Mas, ini Naya mas."


"Beneran kamu Naya." Tanya Toni.


Naya hanya mengangguk karna terus mendapatkan pertanyaan yang sama.


"Nayaaaaa." jerit Eli langsung memeluk Naya, "Kangen tahu gak."


Naya gak kalah antusias, dua sahabat itu berpelukan melepas rasa kangen, "Aku juga kangen banget Li."


"Kamu terlihat berbeda sekali." Eli melepaskan pelukannya dan memandang wajah Naya dengan kagum, "Cantik sekali sumpah, glowing banget lagi, anjirrr aku sebagai pengantinnya kalah cantik dengan kamu Nay."


"Akhhh, kamu bisa saja, cantikkan kamulah." Naya menanggapi pujian Eli malu-malu.


Lio yang berada dibelakang mendengus kesal, pasalnya dia dikacangin, dia bergumam, "Begini deh kalau cewek-cewek sudah bertemu setelah berabad-abad, dunia seperti milik berdua, yang lain ngekos."


Barulah Naya sadar kalau dia bersama dengan Lio, "Astaga lupa aku." Naya menggamit lengan Lio dan memperkenalkannya, "Li, Ton, kenalin ini mas Adelio, suami aku."


Mungkin karna hanya pernah melihat cowok tampan dalam sinetron, sehingga melihat wajah tampan Lio yang gak kalah dengan artis sinetron membuat bibir Eli reflek terbuka saking takjubnya, "Massyallah, tampan sekali."


"Biasa aja kali El." tegur Toni jelous, ya iyalah, siapa yang tidak jelous mendengar wanita yang sudah bersatus sebagai istrinya memuji cowok lain.


Namun Eli tidak mengindahkan kalimat Toni, bukannya minta maaf, dia malah berkata, "Tampan sekali suami kamu Nay, dibandingkan Wahyu sieh kalah jauh, seperti bumi dan langit, teman-teman lainnya pasti iri, aku saja iri."


Toni langsung mencubit lengan istrinya saking jengkelnya, "Apa-apaan sieh kamu El, muji-muji cowok lain didepan suami sendiri, pakai membanding-bandingkan Wahyu dengan dia lagi."


Sadar dirinya salah, Eli buru-buru melafalkan kata maaf, "Duhh, maaf ya."


Mendengar nama Wahyu disebut-sebut oleh Eli membuat wajah Naya yang tadinya ceria berubah murung, biar bagaimanapun, sampai saat ini dia belum sepenuhnya bisa melupakan Wahyu, hal tersebut membuat suasana yang tadinya ramai karna kehebohan Naya dan Eli berubah canggung.


Karna tidak mau berada dalam suasana canggung Lio mencoba mengajak Naya menjauh dari pelaminan, "Gue laper, mending kita cari makan sekarang." bisik Lio yang ditanggapi oleh Naya dengan mengangguk.

__ADS_1


****


__ADS_2