
Pagi itu, begitu bangun, Naya merasakan tubuhnya lemas, perutnya juga terasa tidak enak dan bergolak, dia merasa mual. Karna sudah tidak tahan lagi, Naya berlari ke kamar mandi yang terdapat dikamar Bulan, disana dia memuntahkan isi perutnya.
Hoek
Hoek
Mendengar suara berisik dari arah kamar mandinya membuat Bulan terbangun, dia membuka kelopak matanya dan mengarahkan matanya ke arah kamar mandinya yang terbuka.
"Siapa ya yang muntah-muntah dikamar mandi." tanyanya heran, karna semalam Naya datang ke kamarnya saat Bulan sudah tidur, jadinya dia tidak tahu kalau ibu angkatnya itu tidur dikamarnya.
Gak lama kemudian, Naya keluar dengan wajah agak pucat, keningnya berkeringat.
"Bunda." seru Bulan saat melihat ibu angkatnya.
"Kamu terbangun ya sayang gara-gara bunda muntah-muntah, maafkan bunda ya karna menganggu tidur kamu." badannya yang lemas membuat Naya berusaha menyeimbangkan tubuhnya, dia berjalan tertatih-tatih ke arah tempat tidur.
Melihat bundanya terlihat dalam keadaan kurang sehat, Bulan langsung turun dari tempat tidur dan berlari menyongsong Naya, gadis kecil baik hati itu mencoba membantu ibu angkatnya dengan memegang tangan sang bunda.
Naya tersenyum melihat perlakuan anak angkatnya yang penuh perhatian, Naya bener-bener tidak menyesal karna telah mengadopsi Bulan.
"Bunda sakit ya, tadi Bulan denger bunda muntah-muntah."
Meskipun merasa tubuhnya tidak enakan, namun Naya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Bulan supaya gadis kecil itu tidak khawatir, "Tidak sayang, bunda baik-baik saja, ini hanya masuk angin biasa, bunda istirahat sebentar juga pasti sehat." jawabnya menenangkan.
"Ayok bunda Bulan bantu."
"Terimakasih ya sayang, kamu bener-bener anak yang baik."
Mereka berjalan ke tempat tidur dengan Bulan memegang tangan Naya.
Naya mengistirahatkan tubuhnya diranjang, sedangkan Bulan atas inisiatifnya memijit kaki ibu angkatnya itu dengan tangan mungilnya.
"Enak bunda."
Yang namanya pijitan anak kecil tentu saja tidak berasa dan tidak berefek apa-apa sama sekali pada kaki Naya, namun bukan itu yang penting, lebih daripada itu, perhatian Bulan yang begitu tulus membuat Naya terharu sampai matanya berkaca-kaca, diapun berbohong untuk menjawab pertanyaan Bulan, "Enak sayang, pijitan Bulan benar-bener enak, pinter sekali anak bunda mijitnya."
"Bunda kok nangis, beneran bunda gak sakit." tanya Bulan saat melihat mata Naya berkaca-kaca.
Naya menyeka air matanya yang sudah membasahi pelupuk matanya, "Akhh ini, bunda tidak nangis sayang, hanya kelilipan doank." bohongnya dan Bulan percaya begitu saja.
"Bunda jangan sakit ya, Bulan sedih kalau bunda sampai sakit." wajah Bulan tampak sedih, gadis kecil itu bener-bener tidak ingin terjadi apa-apa sama bundanya.
Naya tersenyum supaya Bulan tidak khawatir, "Iya sayang, bunda janji tidak akan sakit."
"Sini sayang, peluk bunda." Naya merentangkan tangannya.
Bulan mendekat dan memeluk Naya, "Bulan sayang sama bunda dan ayah."
"Bunda juga sayang sama Bulan." ibu dan anak itu berpelukan.
"Bunda semalam tidur dikamar Bulan ya."
__ADS_1
"Iya."
"Kok bunda tidur disini sieh."
"Bulan gak suka ya bunda tidur bersama Bulan."
"Bukan begitu bunda, kalau bunda tidur dikamar Bulan, ayah tidurnya sama siapa, ayah pasti takut tidur sendirian dikamar, ayahkan tidak punya kucing dan tedy yang yang menemaninya seperti Bulan."
Naya terkekeh mendengar kepolosan Bulan, "Ayah semalam pergi sayang, dan belum balik sampai sekarang, bunda sendirian dikamar, makanya bunda tidur dikamar Bulan."
"Ayah kerja ya bunda."
"Hmmm, ya begitulah." jawabnya ambigu.
"Ayah hebat ya bunda, tidak ada capek-capeknya, kerja terus siang dan malam untuk kita."
"Iya, ayah hebat." ucapnya setengah hati karna dia tahu Lio pergi menemui kekasihnya bukannya kerja seperti yang difikirkan oleh Bulan.
Naya kembali merasakan perutnya bergejolak, dia menutup bibirnya dengan tangan dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Bundaaa." Bulan berlari menyusul ibu angkatnya ke kamar mandi, dia melihat Naya muntah-muntah hebat dan hal itu mulai membuatnya khawatir dengan kondisi ibu angkatnya.
"Bunda bunda, ayok kita ke rumah sakit, hiks hiks." Bulan mulai menangis, dia bener-bener khawatir sekarang dengan keadaan bundanya.
Naya menyeka bibirnya, nafasnya terengah, dia menggeleng, "Bunda tidak apa-apa sayang, jadi Bulan jangan khawatir ya." Naya mencoba menenangkan.
"Tidak apa-apa gimana, bunda terlihat kesakitan begitu."
Bulan berlari ke kamarnya dan meraih ponsel Naya yang tergeletak dinakas samping tempat tidurnya, dia memang belum bisa membaca, namun dengan instingnya sendiri dia menghubungi nomer pertama yang berada dikontak ponsel Naya.
"Ayahhh, bunda ayahhh, bunda sakit."
****
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu, kamu laki-laki terbaik." kalimat yang terus saja diulang-ulang oleh Cleo, memang ya yang namanya perempuan, kalau dikasih uang abang disayang dan dipuja-puja, gak ada uang minggat saja lo ke laut.
Lio memilih menghabiskan sarapannya daripada meladeni ocehan Cleo, kalau dulu kalimat-kalimat cinta yang dilontarkan oleh Cleo membuatnya melambung, kini kalimat tersebut terasa biasa saja, bahkan dia sampai jengah mendengar kalimat manis yang keluar dari bibir gadis itu.
Disaat seperti itu ponselnya yang diletakkan dimeja berbunyi nyaring, reflek Cleo melongokkan wajahnya untuk melihat siapa yang pagi-pagi begini menelpon, dia mendengus begitu melihat nama Naya tertera dilayar, "Istri kamu tuh nyariin." beritahunya.
"Naya, kenapa dia nelpon pagi-pagi begini." tanya Lio pada diri sendiri, daripada penasaran, dia meraih ponselnya dan menjawab panggilan tersebut tanpa mengindahkan raut kekesalan Cleo yang terlihat tidak suka saat mengetahui kalau istri sah yang menelpon.
Namun bukan suara Naya yang terdengar, malah suara Bulan yang dibarengi oleh tangis yang menyambut indra pendengarannya saat panggilan sudah terhubung.
"Ayahhh, bunda ayahhh, bunda sakit, hiks hiks."
"Ada apa sayang, bunda kenapa." Lio jadi ikutan panik saat mendengar isak tangis Bulan.
Meskipun tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh anak angkat Lio tersebut, namun Cleo tahu kalau terjadi sesuatu sama Naya, dan melihat reaksi Lio yang terlihat begitu khawatir tentu saja hal tersebut membuat Cleo bete.
"Bunda sejak tadi muntah-muntah ayah, Bulan takut bunda kenapa-napa." lapor gadis kecil itu dengan suara terisak.
__ADS_1
"Bulan." Lio berusaha membuat suaranya setenang mungkin untuk membuat anak angkatnya itu tidak terlalu panik meskipun sebenarnya dia khawatir juga sieh, "Kamu tenang ya sayang, tidak akan terjadi apa-apa sama bunda, ayah akan segera pulang, Bulan sebaiknya beritahu kakek buyut atau bibi dan mbak dirumah."
"Baik ayah."
"Anak pinter, jaga bunda ya sayang sebelum ayah pulang, ayah mengandalkanmu."
"Siap ayah, bunda akan menjaga bunda."
Lio tersenyum, dia kemudian memutus sambungan.
"Istri kamu kenapa, sampai heboh begitu." tanya Cleo ketus begitu Lio mengakhiri pembicaraan.
"Naya sepertinya sakit." balas Lio, "Aku pulang sekarang ya."
"Habiskan dulu sarapannya."
"Aku sudah kenyang Cle, ya sudah, aku pergi." dan tanpa mencium Cleo seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, Lio langsung pergi begitu saja.
"Akhhh ya sudahlah, pergi saja sana, yang penting aku sudah dapat uangnya, dengan ini aku akan bersenang-senang." Cleo mencium kartu yang diberikan oleh Lio sambil tertawa-tawa.
****
Kembali lagi ke rumah besar, Bulan langsung memberitahu kakek Handoko begitu dia mengakhiri panggilan telpon dari ayahnya.
Berbondong bondong, kakek Handoko, bi Darmi dan mbak Wati ke kamar Bulan dimana Naya beristirahat disana.
Naya terlihat memejamkan matanya sambil memegang perutnya, dia kembali membuka matanya saat mendengar suara pintu terbuka dan melihat wajah-wajah khawatir menyongsong masuk ke kamar Bulan.
Ngeong
Ngeong
Bintang yang sudah bangun mengeong-ngeong saat melihat orang-orang memasuki kamar Bulan.
"Naya, kamu kenapa sayang." tanya kakek Handoko berjalan dengan tongkatnya menghampiri cucu menantu kesayangannya itu, "Bulan bilang kamu muntah-muntah, kenapa sampai muntah-muntah, apa kamu salah makan sesuatu."
Naya tersenyum lemah, "Naya tidak apa-apa kakek, Naya sepertinya hanya masuk angin biasa." jelasnya supaya orang-orang tidak khawatir.
"Saya bawa minyak kayu putih nona, saya oleskan ya supaya nona cepat sembuh ya."
"Tidak usah mbak, taruh saja dinakas, nanti Naya yang mengoleskannya sendiri." tolaknya karna tidak mau merepotkan.
"Dimana Lio." tanya kakek Handoko saat sadar Naya berada dikamar Bulan.
"Itu..." agak ragu juga Naya memberitahu, "Mas Lio semalam pergi kek."
"Pergi, pergi kemana dia."
"Naya kurang tahu kakek, mungkin urusan pekerjaan." Naya berbohong, memang Naya adalah istri yang baik dan sholehah, dia selalu menyembunyikan aib suaminya.
"Urusan pekerjaan bagaimana, tidak mungkin tengah malam buta dia masih disibukkan urusan pekerjaan, anak itu, sudah punya istri dan anak masih saja keluyuran, awas saja dia ya nanti kalau pulang."
__ADS_1
****