Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BUBUR UNTUK NAYA


__ADS_3

"Ya Tuhan, kenapa panas sekali."


"Naya, bangun Naya." Lio mengguncang tubuh Naya.


Naya menepis tangan Lio, karna merasa terusik, dia menggumam pelan diluar kesadarannya, "Ibu, ayah, Naya sakit, Naya butu ayah dan ibu."


Lio semakin merasa bersalah apalagi Naya menyebut-nyebut nama ayah dan ibunya, "Apa yang telah gue lakuin, padahal gue sudah berjanji sama orang tuanya untuk menjaga Naya, dan gue malah menyakitinya."


"Maafkan gue Nay, maafkan gue." menggenggam tangan Naya, "Gue akan menebus kesalahan gue." janjinya.


Lio turun menuju dapur, tujuannya adalah membuatkan Naya bubur, dia bisa saja sieh minta tolong mbak Wati ataupun bi Darmi, tapi rasa bersalahnya menyebabkannya ingin membuatnya sendiri, mungkin itu bisa sedikit menebus rasa bersalahnya.


Suara berklantongan terdengar berisik dari arah dapur memancing orang untuk melihat apa yang tengah terjadi didapur.


"Lio." tegur mamanya, dia tidak menyangka kalau putranya itu yang membuat dapur bising pagi-pagi begini, "Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini didapur."


Namun Lio tidak menoleh sama sekali, dia fokus melakukan aktifitasnya.


"Lio." suara Renata lebih kenceng karna diacuhkan oleh putranya itu.


"Aduhh ma, jangan grecokin Lio deh, mama tidak lihat Lio tengah sibuk memasak bubur."


"Kamu buat bubur, untuk apa Lio, kita punya pembantu, kenapa tidak kamu suruh saja mereka."


Sesaat Lio menghentikan tangannya yang tengah mengaduk-ngaduk bubur dipanci, memandang ke arah mamanya, "Aku buat bubur buat Naya ma, dia sakit."


"Harus kamu gitu yang buat, kenapa tidak minta dibuatkan Wati atau bi Darmi."


"Aku sendiri yang mau ma, Naya itukan istriku bukan istri mbak Wati atau bi Darmi." alibinya karna tidak mungkin mengatakan penyebab Naya sakit adalah dirinya.


"Lio memasak sendiri untuk gadis kampung itu, apa putraku sudah mulai menyukai gadis kampung itu." batin Renata.


Mama Renata mendekati putra semata wayangnya tersebut, menatap Lio penuh selidik, berharap apa yang difikirkan dibenaknya tidaklah benar.


"Kenapa mama mandangin aku begitu, tidak ada yang anehkan dengan suami yang memasak untuk istrinya."


"Kamu mulai menyukai gadis kampung itu." tembak Renata menyuarakan apa yang difikirkannya dan mengabaikan ucapan Lio.


"Gak." jawab Lio singkat tanpa berfikir.


"Beneran kamu tidak suka, terus kenapa sikap kamu menunjukkan sebaliknya." tanya Renata tidak percaya.


"Ini aku lakukan karna aku yang membuat Naya jadi sakit begini ma, ini salah satu cara untuk menebus kesalahanku." jawabnya dalam hati, lisannya melafalkan, "Ma, buatin bubur bukan berarti aku sukakan, ini hanya bentuk kepedulian aku saja sama Naya yang tengah sakit, selama inikan dia yang selalu masak untuk kita."


"Hmm, baguslah kalau gitu." gumam Renata lega mendengar jawaban anaknya, yah dia memang berharap suatu saat Lio dan Naya berpisah, Renata malu punya menantu gadis kampung, dia tidak mau gadis seperti Naya yang akan melahirkan penerus keluarga Rasyad.


Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Renata berlalu dari dapur membiarkan putranya itu sibuk sendiri.

__ADS_1


Tidak lama, giliran bi Darmi dan mbak Wati yang masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga Rasyad, mereka sama kagetnya seperti Renata saat melihat tuan muda Rasyad tengah sibuk mengaduk-ngaduk sesuatu dipanci.


"Tuan, apa yang tuan lakukan." Wati berjalan mendekati tuannya.


"Buat bubur mbak untuk Naya, dia lagi sakit."


"Nona muda sakit tuan, ya Tuhan kenapa bisa nona muda sakit."


"Naya sakit gara-gara gue." jawabnya dalam hati, jawabnya dilisan, "Hmm ya bisalah, Nayakan manusia."


"Kasihan sekali nona Naya."


"Tuan, biar saya saja ya yang melanjutkan mengaduk buburnya." mbak Wati ingin mengambil alih karna memang itu adalah tugasnya.


"Gak usah mbak, ini juga sebentar lagi selesai." tolak Lio.


Setelah memindahkan bubur ke mangkuk dan mengambil obat penurun panas yang diletakkan dinampan disamping mangkuk, Lio bersiap kembali ke kamar, namun sebelum itu dia berpesan sama dua ARTnya yang kini mulai sibuk menyiapkan sarapan.


"Bi Darmi dan mbak Wati, tolong ya beresin dapur yang berantakan karna ulah saya."


"Baik tuan."


Selepas kepergian tuan muda mereka, bi Darmi mendekati mbak Wati, "Tuan manis sekali ya, tuan sepertinya bener-bener mencintai nona Naya." komen bi Darmi melihat tuan mudanya itu rela turun tangan sendiri membuat bubur untuk Naya yang tengah sakit.


"Iya bi, beruntungnya nona Naya punya suami yang mencintainya begitu, saya jadi iri." timpal mbak Wati.


Begitulah manusia, suka mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.


****


"Naya, ayok bangun." tidak ada Respon.


Wajah Naya pucat dengan bibir memutih.


"Naya." Lio menguncang sedikit lebih keras.


Naya menggeliat, kelopak matanya bergerak sebelum terbuka secara perlahan.


"Ayok bangun dulu, makan buburnya dan minum obat agar panas lo turun."


"Hmmm."


Naya memang gadis baik, buktinya meskipun Lio telah menyakiti hati dan fisiknya, dia tetap nurut, dia berusaha untuk bangun, namun kondisi tubuhnya yang lemah membuatnya agak kesusahan untuk mendudukkan tubuhnya, melihat Naya yang kepayahan, Lio dengan sigap membantu Naya dan membantu Naya bersandar disandaran ranjang, "Makan bubur dulu ya."


Lio kemudian mengambil mangkuk bubur, dan tanpa disangka-sangka dia mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Naya. Maklumlah, orang yang merasa bersalah melakukan apapun untuk menebus kesalahan yang dia lakukan.


"Aaaaa."

__ADS_1


Naya mengerutkan kening melihat tingkah Lio yang berubah sangat cepat, padahal semalam dia tarik paksa, dibentak-bentak, dikasari sampai terjadi hal yang tidak ingin diingatnya.


"Ayok buka mulutnya." perintah Lio melihat Naya hanya memandangnya dengan tatapan heran, Lio mengerti kenapa Naya menatapnya seperti itu, Lio yakin, Naya pasti kebingungan dengan perubahan sikapnya tersebut.


"Nayy, kenapa malah bengong begitu, ayok buka mulutnya."


"Mas Lio, aku bisa kok." Naya agak aneh juga sieh melihat suaminya bertingkah manis begitu.


Naya berusaha meraih sendok dan mangkuk bubur dari tangan Lio, namun Lio menjauhkannya dari jangkauan tangan Naya, "Lo lagi sakit Nay, biar gue saja yang suapin ya."


"Tapi aku masih bisa untuk makan sendiri mas meskipun aku sakit."


"Sudah jangan ngeyel, biar gue yang suapin." kukuh Lio.


Naya mendesah pasrah membiarkan Lio menyuapinya.


Naya berusaha untuk mengunyah meskipun rasanya sangat susah untuk menelan.


"Gimana, enakkan." tanya Lio penuh harap berharap Naya memuji masakannya.


"Hambar mas." jawab Naya apa adanya, selain memang tuh bubur beneran hambar, karna tengah sakit membuat apapun yang dikecap oleh lidahnya terasa pahit, dan itu makin memperparah rasa bubur buatan Lio.


Padahal tadi Lio sudah akan dengan pedenya mengatakan 'Itu aku yang masak lho.' tapi berhubung masakannya bukannya mendapat pujian malah dicela, dia jadi mengurungkan niatnya, sebagai gantinya dia berkata, "Ya wajarlah rasanya hambar, orang lo lagi sakit, jadi apapun yang lo makan akan terasa hambar."


Lio kembali mengarahkan sendok ke bibir Naya, namun ditolak oleh Naya, "Sudah mas."


"Ayok Naya habiskan buburnya, setelah itu minum obat dan istirahat agar lo cepat sembuh."


"Tapi gak enak mas, Naya susah nelennya." mungkin karna bawaan sakit, tanpa sadar Naya bersikap manja.


Lio dengan sabar membujuk, "Iya memang tidak enak, tapi ini demi kesembuhan lo."


"Hmmm, tapi..."


"Aaa, ayok buka mulutnya Naya, pesawat mau mendarat."


Mungkin karna dia perlakukan dengan penuh perhatian begitu membuat Naya luluh dan membuka bibirnya dan tanpa sadar kini sudah tinggal suapan terakhir.


"Gadis pintar." reflek Lio mengelus puncak kepala Naya.


Namanya juga perempuan yang memiliki hati lembut, lebih-lebih lagi Naya, perlakuan Lio barusan secara ajaib membuatnya melupakan perlakuan kasar Lio semalam, digantikan dengan rasa haru.


"Sekarang ayok minum obat."


Lio mengambil sebutir obat penurun panas menyerahkannya pada Naya yang ditelan oleh Naya, dan kemudian Lio memberikan air putih untuk memudahkan proses masuknya obat tersebut.


Naya memelet-meletkan lidahnya, "Pahit." dia meminum air putih sebanyak-banyaknya untuk menghilanhkan rasa pahit yang tersisa dilidahnya.

__ADS_1


"Namanya juga obat, kalau manis itu namanya permen."


*****


__ADS_2