Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BERITA BAHAGIA


__ADS_3

"Kami tunggu kabar baiknya ya nona dan tuan." ujar bi Darmi saat mengantar keluarga Rasyad sampai depan saat akan ke rumah sakit untuk memastikan apakah Naya hamil atau tidak.


"Semoga saja nona muda hamil, supaya rumah besar tambah rame oleh tangisan bayi." sambung mbak Wati penuh harap.


Naya hanya tersenyum tipis untuk menanggapi kalimat kedua ART tersebut, disaat semua orang menginginkan dirinya hamil, dia malah berharap semoga itu tidak terjadi, memang hamil merupakan sesuatu hal yang dinantikan oleh seorang istri, ya itu bagi istri yang dicintai sepenuh hati oleh suaminya, kasusnyakan berbeda dengan yang dialami oleh Naya yang tidak dicintai oleh suaminya dan berencana untuk menceraikannya setelah satu tahun pernikahan.


Sedangkan Lio, tidak berkomentar apa-apa, dia hanya berharap kalau Naya tidak sampai hamil.


"Doakan ya Darmi, Wati supaya kami membawa kabar bahagia." balas kakek Handoko.


"Pasti tuan, kami akan selalu berdua untuk nona Naya."


"Ayok kita berangkat sekarang." putus kakek Handoko memasuki mobil yang diikuti oleh Naya dan juga Bintang, gadis kecil itu memaksa ingin ikut menemani bundanya.


Ketiga orang itu duduk dibelakang, kalau Naya jelas saja dia tidak mau duduk didepan, karna sudah bisa dipastikan dia akan muntah-muntah hebat saat berdekatan dengan Lio.


Melihat hal tersebut tentu saja membuat Lio protes, "Lho, kenapa semuanya pada duduk dibelakang, masak aku sendirian didepan sieh, akukan bukan sopir." protesnya.


"Astaga kamu itu ya Lio." sergah kakek Handoko, "Seperti perempuan saja, hal-hal tidak penting begini pakai ribut segala."


"Bukan begitu kek, tapi yahh agak gimana gitu rasanya duduk sendirian didepan."


"Bulan sayang, duduk didepan yah temenin ayah." bujuknya.


"Bulan mau dibelakang saja, jagain bunda dan dedek bayi yang ada dalam perut." Bulan melingkarkan tangannya yang mungil dipinggang Naya seolah-olah memberi perlindungan sama sang bunda dan calon adeknya.


"Sudah Lio kamu jalan saja sekarang, kakek sudah tidak sabar untuk mengetahui apakah Naya hamil atau tidak." tandas kakek Handoko.


Akhirnya dengan terpaksa Lio menerima kenyataan kalau dia harus duduk sendirian didepan.


****

__ADS_1


Setelah dilakukan pemeriksaan ini itu, baik kakek Handoko, Naya dan Lio, dan Bulan yang duduk dipangkuan Lio, mereka kini tengah duduk berhadapan dengan dokter Rian, dokter spesialis kandungan, ketiga orang tersebut sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Rian, tentunya mereka menunggu dengan deg-degan dalam arti yang berbeda bagi ketiga orang tersebut.


Naya pasrah menerima apapun kenyataan yang akan disampaikan oleh dokter Rian, meskipun sebenarnya kalau boleh memilih, dia lebih memilih tidak beneran hamil mengingat kehadiran anak tersebut tidak akan diterima oleh Lio.


Lio juga gak kalah deg-degannya, dia bener-bener berharap kalau Naya jangan sampai hamil.


Kalau Naya dan Lio berharap kalau muntah-muntahnya Naya itu hanya sekedar hanya masuk angin biasa, bukan mual karna bawaan hamil, berbanding terbalik dengan kakek Handoko, laki-laki tua itu begitu bersemangat menunggu hasil pemeriksaan dokter, dia bener-bener berharap kalau cucu menantunya itu beneran hamil sesuai dengan dugaan mbak Wati.


"Bagaimana dok hasilnya." malah kakek Handoko yang bertanya, sedangkan dua pasutri itu hanya diam menunggu apa yang akan disampaikan oleh dokter Rian dengan was-was.


Untuk menjawab rasa penasaran dari keluarga itu, terlebih dahulu dokter Rian melengkungkan bibirnya, siapapun bisa mengetahui kalau senyuman itu berarti pertanda sik dokter akan menyampaikan berita baik, yah setidaknya berita baik untuk kakek Handoko, pasalnya pasutri yang duduk disampingnyakan tidak mengharapkan berita baik berupa kehamilan.


Melihat senyum lebar tercetak dibibir dokter Rian, perasaan Lio menjadi tidak enak, dan benar saja, setelah tersenyum sebagai pembuka berita baik yang akan disampaikan, dokter Rian mulai menyampaikan hasil pemeriksaannya, "Selamat nyonya dan tuan Rasyad, sebentar lagi akan menjadi orang tua."


"Itu artinya istri saya hamil dok." tanya Lio tidak mempercayai pendengarannya.


"Iya tuan Adelio." dokter Rian mengonfirmasi, "Nona Naya saat ini tengah hamil muda, usia kandungannya sudah mencapai minggu ke lima."


"Ya Tuhan." gumamnya frustasi, "Apa yang akan gue lakukan kalau begini."


"Sama-sama tuan."


"Bunda beneran hamil kakek buyut."


"Iya sayang, bundamu hamil." kakek Handoko mengelus rambut Bulan dengan sayang, "Akhhh anak ini, bener-bener membawa keberuntungan dalam keluarga."


"Yeyyy asyik, sebentar lagi Bulan akan punya dedek bayi." dia terlihat bersemangat.


Sedangkan Naya, begitu mendengar vonis dokter yang mengatakan kalau dia saat ini tengah hamil, reflek memegang perutnya, Naya mengelus-elus perutnya yang masih rata itu, meskipun awalnya dia tidak mengharapkan kehamilan ini, tapi begitu mendengar hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Rian, ada rasa senang yang menyeruak direlung hatinya yang tadi sempat gundah, nalurinya sebagai seorang ibu keluar, dia ingin bayi ini dan rasa sayang langsung tumbuh begitu saja.


Meskipun begitu, terselip sedikit rasa sedih dihatinya karna suaminya tidak mungkin menginginkan bayi yang kini tengah berada dalam kandungannya, bayi itu hadir bukan karna kemauan Lio, tapi karna kekhilafan Lio, menyadari hal itu, tiba-tiba saja tanpa bisa dibendung, sebulir kristal bening meluncur dari pelupuk mata Naya, "Pantas saja kamu tidak suka berada didekat ayahmu nak, ayahmu tidak pernah menginginkanmu." rintihnya dalam hati mengingat nanti anaknya akan tumbuh tanpa sosok seorang ayah.

__ADS_1


Melihat Naya menangis, kakek Handoko yang tidak mengetahui perjanjian yang dibuat oleh Naya dan Lio berfikir kalau Naya meneteskan air mata saking bahagianya, dia mengelus puncak kepala cucu menantu kesayangannya itu, "Terimakasih ya cucuku karna telah memberi kebahagian buat laki-laki tua ini."


Makin melelehlah air mata Naya mendengar ucapan kakek Handoko, jika dia mengetahui kalau dirinya dan calon cicitnya akan pergi, tentu laki-laki yang sangat mengharapkan cicit itu akan sedih.


Sedangkan Lio hanya diam seribu bahasa, dia mencoba mencerna apa yang terjadi, dia memikirkan bagaimana hubungannya dengan Naya kedepannya dan itu membuatnya frustasi.


"Tapi kamu tenang saja nak, ibu akan selalu ada untukmu, ibu akan selalu menjaga dan menyayangimu, ibu akan menjadi ibu sekaligus ayah untukmu." janji Naya dalam hati, dia tidak peduli apapun yang akan terjadi kedepannya, dia tidak peduli apakah Lio tidak menginginkan bayi yang kini berada dalam perutnya tersebut, yang Naya tahu, dia akan membesarkan anaknya meskipun tanpa kehadiran seorang ayah.


"Halo semuanya." sapa seseorang yang baru datang ke ruangan dokter Rian.


Semua yang berada dalam ruangan itu menoleh pada sumber suara.


"Bagaimana hasilnya, apakah cucu menantu kesayangan tuan Rasyad hamil." itu adalah dokter Vito, dokter pribadi keluarga Rasyad yang datang secara khusus untuk mengetahui kebenaran kehamilan Naya karna begitu sampai dirumah sakit tempatnya bekerja, kakek Handoko memberitahunya kalau mereka tengah berada dirumah sakit untuk memeriksakan apakah Naya beneran hamil atau tidak.


"Tentu saja, di dalam perut cucu menantuku kini terdapat calon penerus kerajaan bisnis keluarga Rasyad." dengan bangganya kakek Handoko mengumumkan.


Dokter Vito tersenyum lebar mendengar berita bahagia tersebut, "Selamat tuan, akhirnya keinginan anda terkabul." dokter Vito menyalami kakek Handoko.


"Terimakasih Vito, nanti malam datanglah ke rumah, saya akan membuat acara untuk merayakan kebahagian yang menyelimuti keluarga kami."


"Pastinya saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk datang, karna saya sudah menganggap keluarga Rasyad sebagai keluarga saya sendiri."


Dokter Vito kini beralih menyalami Lio, "Selamat ya Adelio Rasyad, sebentar lagi kamu akan jadi seorang bapak." dokter Vito menepuk lengan Lio.


Lio hanya tersenyum kaku sebagai jawaban.


"Selamat ya Naya, kamu telah memberi kebahagian buat tuan Handoko."


"Terimakasih dokter."


"Akhirnya tuan Handoko tidak akan mengeluh lagi sama saya karna apa yang diinginkannya sebentar lagi akan terwujud."

__ADS_1


Kakek Handoko tertawa mendengar kata-kata dokter Vito, karna kadang dia sering curhat sama dokter keluarganya itu yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


****


__ADS_2