
Lio dan Rafa yang berencana menjenguk istri Marko yang baru melahirkan anak pertamanya dirumah sakit bertemu dengan Rio dan Choki teman lama mereka saat masih SMA, empat sahabat itu bertemu di loby rumah sakit.
Mereka saling sapa satu sama lain.
"Adelio Rasyad, pewaris kerajaan bisnis Rasyad group." sapa Choki sembari merentangkan tangannya saat melihat sahabat masa SMAnya.
Dua orang itu saling berpelukan ala laki-laki, yang kemudian dilanjutkan oleh Rio.
Empat laki-laki yang merupakan sahabat sejak SMA itu langsung menilai satu sama lain setelah cukup lama tidak bertemu.
"Gak nyangka ya kita bertemu juga pada akhirnya, busett, ternyata sudah sangat lama kita gak bertemu kayak gini." seru Rafa.
"Lonya yang terlalu pada sibuk sampai tidak punya waktu untuk kumpul-kumpul, apalagi ini nieh." Rio menunjuk Lio, "Sang presdir, sibuk terus sepanjang waktu mengurus perusahaannya sampai lupa dia dengan kehidupan sosialnya."
"Lo jangan nunjuk gue secara khusus juga sapi, lo sendiri apa namanya, bolak balik keluar negeri mengurus usaha keluarga lo yang bejibun hampir disemua negara. "
Mereka berempat terkekeh, menyadari kalau mereka memang setelah memasuki dunia kerja pada sibuk dengan pekerjaan masing-masing sampai tidak punya waktu untuk berkumpul seperti saat mereka masih kuliah dulu.
"Hehh lo berdua." ujar Rafa menunjuk kedua sahabatnya Choki dan Rio, "Lo juga kudu ngasih selamat sama sahabat lo ini." Rafa menepuk bahu Lio, "Karna dia juga sebentar lagi akan jadi seorang ayah seperti Marko."
"Wahhh serius, istri lo tengah hamil saat ini, selamat bro, semoga istri lo dan bayi yang dikandungnya selalu diberi kesehatan."
"Aminnn." malah Rafa yang mengaminkan doa Rio.
"Akhirnya lo berhasil juga mencetak garis penerus keluarga Rasyad bro, pasti lo sudah gak sabar menanti kelahiran buah hati lo, sama seperti gue saat menanti kelahiran anak pertama gue dulu."
Lio hanya tersenyum hambar menanggapi ucapan selamat dari Choki dan Rio.
"Hei Raf, kapan giliran lo nieh, diantara kita berempat hanya elo yang belum punya pasangan."
Pertanyaan wajib yang akan ditanyakan pada Rafa jika ada acara kumpul-kumpul begini.
"Boro-boro nikah, pacar saja gue gak ada."
"Dihhh lo itu terlalu pemilih Raf, makanya sampai sekarang lo belum punya pacar, memang tipe wanita yang lo inginkan itu seperti apa."
"Gue sieh gak neko-neko, gue hanya ingin wanita yang seperti Naya." gak ada yang salah dengan kalimat Rafa, hanya saja jawabannya itu membuat Lio dengan cepat memutar lehernya ke arah Rafa, diluar kesadarannya dia menatap tajam pada Rafa.
"Apa sieh maksudnya anak ini, pakai bilang kriteria wanita yang diinginkan adalah seperti Naya."
Mendapatan tatapan tajam begitu, Rafa bukannya ciut, dia malah menambahkan, "Iya maksud gue, siapa sieh yang tidak ingin punya istri seperti Naya, baik, polos, rajin ibadah dan setia lagi, wanita yang seperti itukan langka dizaman sekarang, susah dicari, bodoh banget laki-laki yang menyia-nyiakan wanita seperti Naya." kata-kata itu seolah menyindir Lio.
__ADS_1
"Kenapa Rafa malah nyindir gue gini sieh." batin Lio tidak melepaskan pandangannya pada Rafa.
"Ehhh Lio, lo gak cemburu tuh mendengar Rafa mengagumi bini lo, kalau gue sieh udah gue tonjok dia." canda Choki.
"Biasa aja gue." tandas Rafa terdengar ketus.
"Heii, kenapa kita malah ngobrol disini, ayok lebih baik kita menemui Marko dan istrinya untuk melihat bayinya sekarang." Rio menyela mengingatkan mereka akan tujuan mereka ke rumah sakit.
Mereka mengangguk setuju dan berjalan mencari kamar tempat istri Marko dirawat.
*****
Marko menyambut kedatangan sahabat-sahabatnya dengan antusias saat keempat laki-laki itu memasuki ruangan tempat istrinya dirawat.
Mereka saling berpelukan sembari menepuk punggung masing-masing dan menanyakan kabar satu sama lain, sedangkan istrinya Marko, Rana masih terbaring lemah dibankar hanya bisa memberi senyum lemah kepada sahabat suaminya sebagai sebuah kesopanan.
"Terimakasih lo pada mau nyempatin jengukin istri gue, padahal gue tahu lo pada orang sibuk." ujar Marko mempersilahkan sahabat-sahabatnya untuk duduk disofa yang disediakan dikamar tersebut.
"Santai saja bro, selain kami ingin menjenguk istri lo dan melihat anak lo, kita juga sudah lama tidak kumpul-kumpul begini, anggap saja pertemuan ini sekalian sebagai ajang reunian." ucap Rafa.
"Ahhh iya lo benar juga."
"Anak gue laki-laki, gagah seperti ayahnya." Marko mengumumkan dengan bangga, "Lo pada mau lihat jagoan kebanggan gue gak."
Ketiga laki-laki itu kecuali Lio mengangguk antusias ingin melihat bayi Marko.
Marko berjalan ke arah box dimana bayinya saat ini tertidur lelap, sebelum mengambil bayi yang tengah terlelap itu, Marko terlebih dahulu meminta izin sama istrinya, "Sayang, sahabat-sahabatku ingin melihat anak kita, bolehkan kalau aku membawanya kepada mereka."
Rana tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Marko meraih pelan tubuh bayinya yang diselimuti selimut bayi, bayi itu yang tadinya tertidur lelap menggeliat saat merasakan tangan kekar ayahnya mengangkatnya dari tempat tidurnya nyamannya.
Marko dengan senyum mengembang membawa bayi laki-lakinya untuk diperlihatkan kepada sahabat-sahabatnya, "Ini jagoan kecil gue, Revalino Ardiansyah."
"Bayi lo tampan Mar, gak kayak lo, sepertinya ketampanannya didapatkan dari gen ibunya." canda Choki yang membuat semua orang disana terkekeh kecuali Marko yang terlihat cembrut.
"Sialan lo Choki."
"Mar, kasih Lio menggendong bayi lo, biar dia belajar cara menggendong bayi karna sebentar lagi dia juga akan jadi seorang ayah."
"Apa-apaan sieh Rafa, guekan gak bisa menggendong bayi." protes yang hanya dia ucapkan dalam hati oleh Lio.
__ADS_1
"Yang bener lo Raf, wah, selamat ya Lio, lo pasti akan merasakan apa yang gue rasakan saat melihat bayi lo untuk pertama kalinya, rasanya...hmmm pokoknya luar biasa deh, gak bisa dibayangkan."
"Makanya Mar, kasih Lio gendong anak lo, agar kalau anaknya sudah lahir nanti dia tidak kikuk saat menggendong anaknya."
"Oke." Marko mengangguk.
"Nahh Lio, sekarang nieh, gue kasih kesempatan untuk menggendong anak gue, agar nanti saat bayi lo lahir lo sudah terbiasa."
Lio ragu, tapi dia tidak bisa menolak, dengan enggan dia meraih bayi kecil yang disodorkan Marko kepadanya.
Hal pertama yang dirasakan saat bayi itu berada dalam buaiyannya adalah, rasa hangat langsung menjalari perasaannya, bayi kecil suci dan tidak berdosa itu secara ajaib membuatnya langsung teringat dengan Naya dan bayinya yang saat ini tengah dikandung oleh Naya, tiba-tiba saja dia ingin langsung pulang dan menemui Naya, tiba-tiba saja dia ingin mengelus dan mencium perut Naya, rasanya Lio ingin menangis karna mengingat sebelumnya dia tidak pernah menginginkan anak yang dikandung oleh istrinya.
Bayi yang ada dalam gendongannya menggeliat dan tiba-tiba saja tanpa peringatan sik bayi menangis, itu membuat Lio panik.
"Cup cup, kenapa nangis anak tampan." tangannya diayun-ayunkan pelan supaya sik bayi berhenti menangis, dan itu berhasil, tangis sik bayi mereda.
"Busettt, lo sudah cocok jadi seorang ayah Lio."
Untuk pertama kalinya dia begitu bahagia mendengar kalimat itu, dia rasanya ingin segera pulang dan menemui bayinya, Naya maksudnya, kan sik bayi masih berada dalam perut Naya.
*****
Sebenarnya begitu pulang dari rumah sakit, Lio ingin langsung pulang dan bertemu dengan bayinya, tapi dia tidak enak menolak ajakan Choki yang mengajak mereka nongkrong dicafe yang biasa mereka datangi saat mereka masih menyandang status sebagai mahasiswa dulu, katanya Choki ingin bernostalgia mengenang masa-masa saat mereka kuliah dulu.
Oleh karna itu, Lio agak malam sampai rumah, dia berpapasan dengan mbak Wati yang sepertinya berniat ke lantai atas.
"Ehh tuan muda, baru pulang tuan." sapa mbak Wati saat melihat tuan mudanya tersebut.
"Iya." mata Lio terarah pada nampan yang ada ditangan mbak Wati, diatas nampan itu terdapat segelas susu dan camilan.
Melihat arah pandang tuan mudanya, mbak Wati menjelaskan, "Ini susu hamil untuk nona Naya tuan, dan nona juga katanya sering lapar tengah malam makanya nona minta dibawakan cemilan."
"Sini mbak aku yang bawa." Lio mengambil alih nampan yang dipegang oleh mbak Wati.
"Ehhh." agak kaget juga mbak Wati saat Lio dengan tiba-tiba mengambil nampan tersebut dari tangannya, "Gak apa-apa kalau tuan yang bawa." mbak Wati merasa tidak enak.
"Gak apa-apa mbak, mbak Wati lebih baik istirahat saja."
"Baiklah kalau begitu tuan."
*****
__ADS_1