
Untuk meredam amarahnya gara-gara kelakuan Lio, Naya pergi kedapur membantu mbak Wati dan bi Dijah menyiapkan sarapan, wajah asemnya membuat mbak Wati bertanya begitu Naya tiba didapur.
"Nona, apa yang terjadi dengan nona."
"Tidak terjadi apa-apa." mulut bisa bohong, tapi ekspresi tidak bisa bohong.
"Tapi nona, wajah nona kenapa merengut begitu."
"Memang gak boleh."
Jawaban Naya membuat baik bi Dijah dan mbak Wati tidak bertanya-tanya lagi, meskipun bisa dibilang mereka tidak pernah melihat Naya marah, tapi kalau mereka banyak tanya disaat kondisi Naya badmood begitu bisa-bisa mereka kena bentak oleh Naya.
****
Sementara itu Lio merasa bersalah karna sikapnya yang agak keterlaluan barusan, dia memungut jepitan yang tadi dibuangnya dan menjepitkannya dirambutnya, dan setelah itu dia keluar menyusul Naya, karna tidak menemukan Naya dimeja makan padahal sarapan sudah terhidang dimeja, dia beralih mencari Naya kedapur, dan dia menemukan Naya tengah mencuci piring dengan menggosok peralatan dapur seolah ingin meremukkannya.
"Nona Naya kenapa sieh, dia berniat cuci piring atau meremukkannya." bisik bi Dijah pada mbak Wati.
"Nona Naya sepertinya lagi marah, jadi mending kita diam saja gak usah banyak tanya kalau gak mau kena semprot."
"Ekhemmm." Lio berdehem untuk memberitahukan keberadaannya.
Bi Dijah dan mbak Wati gelagapan melihat kedatangan Lio, pasalnya mereka takut kalau Lio memarahi mereka karna melihat istrinya cuci piring.
Sedangkan Naya hanya cuek, fokus dengan aktifitasnya seolah-olah Lio tidak berada disana.
"Tuan muda, kami telah melarang nona Naya cuci piring, tapi non Naya maksa mau cuci piring." bi Dijah menjelaskan, takut kena omel sama Lio.
"Tuan, tolong jangan marahin kami."
Lio tidak menggubris, dengan bahasa isyarat dia menyuruh mbak Wati dan bi Dijah keluar, dengan patuh mereka menuruti keinginan tuan mereka, kini hanya tinggal Lio dan Naya yang ada didapur.
Karna masih dicuekin, Lio kembali berdehem, "Ekhemmm."
"Kalau batuk minum obat sana." saran Naya dengan jutek.
"Lo marah."
"Menurut mas."
"Gue minta maaf deh."
Naya tidak menanggapi.
"Lihat ke arah gue doank."
__ADS_1
"Mas gak lihat Naya lagi apa."
"Kan bisa ditinggalin sebentar."
"Gak bisa, Naya lebih baik melihat pantat panci daripada wajah mas, soalnya wajah mas menyebalkan."
"Jahat banget sieh, dosa lho ngomong gitu sama suami"
"Lebih dosa mana dari membuang pemberian istri."
"Lebih dosa Nyuekin suami." balas Lio, "Nyuekin suami dilaknat lho sama malaikat." Lio menceramahi.
Naya yang kesel akhirnya memutar lehernya kearah Lio, "Mas maunya apa sieh, ganggu Naya aja, emang mas mau bantu..." Naya langsung berhenti merepet ketika matanya tertuju pada jepitan kecil yang ada dirambut hitam Lio.
"Itu..."
"Gak marah lagikan."
"Hmmmm." Naya langsung berbalik untuk menyembunyikan senyumnya yang tercetak dibibirnya.
"Katanya sudah tidak marah, kenapa balik badan lagi sieh, emang tuh wajan lebih ganteng daripada gue."
"Apa sieh mas, Nayakan belum selesai membersihkan perabotan-perabotan ini, kalau mas tidak mau berbicara dengan punggung Naya makanya bantuin Naya donk." ujar Naya asal, pasalnya dia sudah seribu persen yakin Lio tidak akan mau membantunya.
"Ngerepotin aja sieh, kenapa coba lo harus cuci perabotan dapur segini banyak pula, inikan tugasnya bi Dijah dan Wati."
"Kok gara-gara gue."
"Nayakan melakukan ini semua untuk meredam amarah Naya karna ulah mas, biasanya kalau Naya bekerja dan kelelahan bisa membuat amarah Naya mereda." Naya menjelaskan.
Dan entah setan apa yang merasukinya, sehingga Lio menggulung lengan kemejanya dan mendekati bak cuci piring.
"Apa yang bisa gue bantu."
"Ehh, maksud mas apa."
"Apa yang bisa gue bantu." ulang Lio, "Tadi katanya ingin dibantu agar cepat selesai."
"Ituu, gak perlu deh, Naya bisa sendiri."
"Gimana sieh, tadi minta dibantuin."
"Tadi itu Naya cuma bercanda, Naya fikir mas pasti gak akan mau membantu."
"Karna gue mau, sekarang apa yang bisa gue bantu, gue memaksa lho."
__ADS_1
"Mmm." Naya terlihat berfikir, "Mas taruh saja piring yang sudah bersih ini di rak."
"Oke."
Setelah aktifitas cuci mencuci itu selesai, Naya berkata, "Makasih ya mas, karna mas pekerjaan Naya cepat selesai."
"Sebagai ucapan terimakasih, lo harus masangin dasi gue." Lio meraih dasinya yang belum sempat dipakai.
"Seperti yang disinetron-sinetron itu ya mas." ujar Naya meraih dasi yang disodorkan oleh Lio.
Lio mengetuk kepala Naya pelan, "Dasar otak sinetron."
"Oke, ini mudah, tinggal diikat-ikatkan," batin Naya.
Naya mulai melingkarkan dasi tersebut dileher Lio, meskipun memasang dasi terlihat sangat mudah, ternyata Naya gak bisa, Naya masih mencoba, tapi hasilnya leher Lio tercekik.
"Uhukk uhukk." Lio terbatuk-batuk.
"Lo mau bunuh gue." Lio menepis tangan Naya dan melepaskan dasi yang mencekik lehernya.
"Maaf mas, Naya gak sengaja."
Lio mengelus lehernya begitu dia berhasil melepaskan belitan dasi itu dilehernya.
"Lo gak bisa masang dasi bilang donk."
"Salah sendiri gak nanya, lagian disinetron-sinetron kelihatan sangat mudah."
"Ternyata sinetron tidak bisa mengajarkan lo apa-apa." Lio memasang sendiri dasinya kalau gak mau tercekik lagi.
****
Karna mereka sudah akrab, Leta jadi sering berkunjung kerumah besar keluarga Rasyad, seperti hari ini sepulang kuliah, gadis cantik itu langsung ke rumah besar kediaman keluarga Rasyad untuk bertemu dengan Naya.
Setelah memencet bel dan dibukakan oleh mbak Wati, Leta duduk menunggu diruang tamu sedangkan mbak Wati memanggil Naya. Gak lama Naya datang dengan membawa tas peralatan make upnya, rencananya Leta bakalan ngajarin Naya mengaplikasikan make up supaya terlihat cantik.
Dua gadis itu langsung cupika cupiki begitu bertemu, Naya yang sudah terbiasa dengan kebiasaan gadis-gadis Jakarta kini sudah terbiasa dengan hal-hal begituan semenjak berteman dengan Leta.
"Maaf ya mbak Leta nunggunya lama."
"Gak lama kok, gue baru saja sampai."
"Mbak, kita lebih baik duduk diruang tengah saja, disana lebih nyaman."
"Oke."
__ADS_1
Leta bangun dan mengikuti Naya keruang tengah.
****