
Namun sebelum itu, ibu Naya menarik anak dan menantunya kemeja makan sederhana, dia sudah memasak semua masakan kesukaan putrinya.
"Kamu dan nak Lio pasti laparkan setelah melakukan perjalanan jauh."
Lio hanya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan ibu mertuanya, malu mengatakan secara langsung kalau dia lapar banget, dalam hati dia bergumam, "Syukur ibu mertua gue pengertian, langsung diajak makan, laper berat gue habis nyupirin anaknya."
"Iya bu, kami lapar." jawab Naya mengelus perutnya yang keroncongan, "Ibu masak apa."
"Ibu sudah memasak masakan kesukaan kamu."
"Asyiiik, Naya rindu sekali dengan masakan ibu." berjingkat-jingkat kegirangan.
Lio melirik Naya, dalam hati berkomentar, "Lapar sieh lapar, tapi bisa gak dia gak bersikap kayak anak TK begitu, umur sudah bangkotan begitu masih saja manja."
"Ada pete bakar, ikan asin dan sama sambal terasi gak bu." Naya mengabsen makanan kesukaannya.
"Pasti ada donk nak." ibu Naya membuka tudung saji yang memampangkan makanan-makanan rumahan khas orang desa.
"Apa, makanan begini doank, ihh lapar gue langsung ilang." nafsu makan Lio langsung hilang melihat makanan yang tersaji dimeja.
Sedangkan Naya menelan ludahnya melihat hidangan yang menggugah seleranya, dia langsung duduk dan tangannya diarahkan pada bakul nasi untuk mengambil sendok nasi, hari ini dia ingin makan sebanyak yang dia bisa karna entah kapan lagi dia akan kembali berkunjung kerumah orang tuanya.
"Nak, jangan beringas begitu, pelan-pelan." nasehat ibunya melihat kelakuan putrinya yang tidak pernah berubah sampai sekarang, selalu bar-bar kalau melihat makanan kesukaannya.
"Maaf bu, habisnya Naya kangen banget dengan masakan ibu."
Ayah juga menimpali, "Lagian sekarang kan kamu sudah jadi istri nak, dahulukan dan layani dulu suami kamu."
"Iya ayah." Naya berdiri dan mengajak Lio duduk, "Ayok mas duduk kita makan, enak lho ini, dijamin masakan ibu top markotop." mengacungkan dua jempolnya.
Lio menjawab dalam hati, "Iyalah menurut lo nieh makanan enak, lokan gadis kampung, jadi terbiasa makan-makanan kampung begini." Lio tidak percaya dengan apa yang dikatakan Naya, seleranya dengan seleranya Nayakan berbeda, tapi dia bisa apa, demi menghargai mertuanya dia harus makan meskipun sedikit.
"Ayok mantu duduk, kita makan sama-sama." ajak ayah Naya.
"Ayok mas kita makan dulu, kenapa malah bengong begitu, ntar kesambet lho." tukas Naya melihat Lio masih berdiri.
"Ayok nak duduk."
Lio dengan terpaksa duduk dikursi didekat Naya, tidak bereaksi hanya melihat hidangan dimeja, seolah berfikir apalah dia akan memakannya atau tidak.
Melihat menantunya hanya menatap makanan dimeja tanpa berniat menyentuhnya, ibu Naya berkata, "Maaf lho ini seadanya, saya harap nak Lio suka dengan masakan kampung."
__ADS_1
Lio menjawab begini dalam hati, "Jelas gak sukalah." tapi dilisan, "Gak apa-apa kok bu, saya dan Naya yang seharusnya berterimakasih karna ibu telah repot-repot mempersiapkan ini semua untuk kami."
"Gak repot kok nak." ujar ibu Naya.
"Sini mas piringnya, Naya ambilkan nasi." mengambil piring yang ada didepan Lio.
"Jangan banyak-banyak Nay nasinya."
"Nak Lio jangan sungkan, kami kan juga sekarang bisa dibilang orang tua nak Lio juga, jadi jangan malu-malu." ayah Naya menyalahartikan ucapan Lio barusan.
"Segini cukup mas." tanya Naya memperlihatkan piring berisi nasi kepada Lio.
Lio akan menjawab cukup, tapi dia kalah cepat dengan ayah mertuanya yang lebih dulu mengatakan, "Naya, tambahin nasinya buat nak Lio, masak nasinya sedikit begitu, mana kenyang itu."
"Gak usah ayah segitu aja, kenyang kok saya."
Ayah Naya memandang Lio tidak percaya,
dia gak percaya saja kalau porsi makan menantunya seperti burung begitu,
karna baik dia dan kaum laki-laki dikampungnya paling sedikit makannya satu piring penuh, ya iyalah orang kampungkan rata-rata bekerja disawah, jadi gak heran harus makan banyak karna bekerja dengan tenaga bukan dengan otak, sedangkan Lio lebih banyak bekerja dengan otak jadi gak perlu makan terlalu banyak.
Melihat ekspresi ayah mertuanya yang terlihat tidak percaya Lio menambahkan, "Saya gak bohong kok."
"Diet, apa itu diet." ayah Naya bertanya, maklumlah orang kampung, gak tahu yang namanya diet, denger aja baru pertama kali.
Lio akan membuka bibirnya untuk menjawab pertanya ayah mertuanya, tapi dia kalah cepat dengan Naya, "Itu lho ayah, mas Lio lagi menurunkan berat badan, agar proporsional gitu lho, gak buncit kayak ayah." Naya menjelaskan.
"Hahaha." Mendengar clotehan putrinya membuat sik ayah dan ibu langsung ngakak, sedangkan Lio hanya bengong karna dia merasa kalimat Naya tidak lucu sama sekali.
"Walah walah." ayah sampai memegang perutnya, "Ada-ada saja nak Lio ini, badan krempeng begini apanya coba yang mau diturunin, ayah saja yang bulat kayak bola makanannya tiap hari dua piring full."
"Kamprett, badan proporsional kayak gini dibilang krempeng, untung ayah mertua, kalau bukan, udah gue ajak berantem." ujarnya kesal.
"Sik ayah benar nak Lio." ibu Naya menimpali, "Nak Lio makan yang banyak supaya badannya berisi dan punya tenaga untuk bekerja keras, bukan hanya bekerja keras mencari nafkah, tapi kerja keras tiap malam untuk membuat cucu untuk kami, benar gak ayah."
Wajah Naya dan Lio merah padam mendangar kalimat tanpa sortir yang lontarkan oleh ibu Naya, itu sesuatu hal yang wajar sebenarnya mengingat setiap orang tua pasti ingin segera menimang cucu dari anaknya yang sudah menikah.
"Benar itu, seorang laki-laki harus kuat supaya bisa memberikan banyak keturunan sebagai penerus." ayah Naya membenarkan.
Mendengar nasehat kedua mertuanya tidak bisa membuat Lio berkata-kata, sampai Naya yang jengah mendengar kata-kata orangnya tuanya mengubah topik, "Ini kapan makannya ayah ibu kalau bicara terus, Naya udah laper banget ini ."
__ADS_1
"Iya benar juga, ayok ayok kita makan."
"Ayok mas dimakan." Naya menaruh sepiring penuh nasi dan lauk dihadapan Lio, tadi tanpa sepengetahuan Lio Naya menambah nasi setelah berfikir kalau kata ayahnya ada benarnya, kalau badannya Lio krempeng bukannya proporsional.
Lio melotot melihat piringnya, fikirnya dalam hati, "Seuprit saja gak bakalan habis, ini malah sik Naya mendengar kata ayah dan ibunya memberikan gue porsi kuli."
"Ayok mantu dimakan, tidak akan kenyang kalau hanya cuma dilihatin saja."
Demi untuk menghargai mertuanya, Lio dengan terpaksa harus memakan makanan yang baru pertama kali dilihatnya, "Ini mana sendoknya ya."
Ayah dan ibu Naya saling pandang sebelum ayah Naya berkata, "Mantu terbiasa makan pakai sendok ya, tapi saran saya mantu, makan pakai tangan itu lebih nikmat daripada makan pakai sendok, lebih sehat juga, yang paling penting itu adalah sunnah nabi."
"Ayok mas makan, benar kata ayah, pakai tangan lebih enak."
Dengan ragu Lio mencaplok nasi dengan tangannya, ini hal yang baru baginya karna sejak orok dia terbiasa makan menggunakan sendok, awalnya dia mencaplok sedikit, tapi setelah tuh makanan masuk dimulutnya dan mengunyah, dia berujar dalam hati, "Lumayan juga meskipun masakan kampung, rasanya tidak seburuk yang gue bayangkan."
Dia yang awalnya tidak berniat makan, hanya berniat mencicipi hanya untuk menghargai mertuanya Dan tanpa disadari kini nasi dipiringnya tandas tidak bersisa.
"Mas ternyata doyan juga makan makanan kampung, gak heran sieh mas, ibu memang jago masak." Naya memuji ibunya.
"Makasih ya bu atas makanannya, masakan ibu memang enak."
"Hanya masakan kampung kok nak Lio, saya yakin nak Lio pasti tiap hari makan yang enak-enak."
"Ibu benar, tapi masakan ibu lebih enak."
"Nak Lio bisa saja." ibu Naya tersipu mendapat pujian dari mantunya.
"Padahal Naya juga masakannya enak, tapi mas Lio gak pernah muji Naya." protes Naya.
"Itu karna masakan lo biasa aja."
"Masakan Naya enak kok, buktinya kakek doyan dan sering muji masakan Naya."
"Itu karna kakek lidahnya punya kelainan." sebenarnya Lio memgakui sieh masakan Naya enak, tapikan dia gengsi mujinya.
"Memang masakan ibu Naya lebih enak, daripada Naya, ini dikarnakan anak ini lebih senang main disungai daripada belajar resep-resep memasak dari ibunya ketika masih gadis, jadi nanti sebelum pulang ke Jakarta, kamu harus belajar dulu sama ibumu, biar bisa memanjakan lidah suami kamu."
"Baik ayah." Naya nurut.
"Sekarang sebaiknya kalian istirahat dulu karna pasti capekkan habis melakukan perjalanan jauh, kamar kamu juga sudah ibu bersihkan Naya jadi kalian bisa langsung istirahat."
__ADS_1
Naya mengangguk, mereka memang harus istirahat biar badan mereka fit untuk menghadiri acara pernikahan Eli besok, untuk itu dia mengajak Lio menuju bekas kamarnya, "Ayok mas."
****