
Dan seperti biasanya kalau perempuan bersama, tidak afdol jika tidak disertai dengan ghibah, begitu juga ketika Leta yang sibuk mendandani Naya, tangannya difungsikan untuk bekerja sedangkan bibirnya juga difungsikan untuk menggibah.
"Gimana mbak, mas Lio pasti tergodakan lihat mbak pakai lingere yang Leta kasih buat mbak."
"Eh itu." Naya ragu untuk memberitahu, takutnya Leta kecewa lagi karna pemberiannya belum sempat dia pakai.
"Kenapa mbak Naya."
"Naya belum sempat pakai mbak."
"Astagaaa, jadi tuh lingere belum difungsikan."
"Iya, maaf ya mbak Let."
"Jadi, selama satu minggu ini mbak Naya dan mas Lio belum begitu-begitu."
Naya sebenarnya gak mau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan masalah kehidupan ranjangnya, tapi pertanyaan Leta menuntut untuk mendapatkan jawaban.
"Iya." jawab Naya sungkan.
"Kok bisa sieh mas Lio betah gitu puasa." Leta heran, "Tapi mbak Naya dan mas Lio pernahkan melakukan itu, pernahkan mbak." rongrong Leta ingin tahu.
Leta tahu kalau Lio dan Naya menikah karna djodohkan, dan harapannya kalau kehidupan Naya dan Lio tidak seperti dinovel-novel yang dibacanya, yang tokoh utamanya menikah karna dijodohkan dan belum pernah melakukan hubungan suami istri, karna biar bagaimanapun, menurut Leta dalam dunia nyata, meskipun menikah tanpa cinta sekalipun, tapi gak mungkin seorang laki-laki betah melawan nafsunya, apalagi tidur satu kamar dengan perempuan.
"Duhhh, mbak Leta ini, kenapa nanya-nanya hal beginian sieh." meskipun begitu, Naya tetap menjawab, "Pernah kok mbak."
"Syukur deh, itu bisa jadi pondasi kuat untuk membuat mas Lio melakukannya lagi." ujar Leta, "Mbakk, Leta kasih tahu ya, laki-laki kalau tidak dikasih jatah, bisa-bisa jajan diluar."
Karna tidak mengerti dengan perumpamaan Leta, dengan polosnya Naya berkata, "Ya gak apa-apalah mbak, sekali-kali, kadang kan mereka bosan dengan masakan rumahan."
"Astagfirullahalajim, mbak Naya ini ya bener-bener polos hakiki." lirih Leta membatin, dengan kesabaran tingkat tinggi dia menjelaskan maksudnya, "Maksud Leta mbak, kalau mbak gak kasih mas Lio jatahnya, itu lho mbak, jatah diranjang." Leta menjelaskan dengan sangat jelas supaya Naya mengerti, "Bisa saja mas Lio mencari gadis lain diluar sana untuk melampiaskan hasratnya."
"Astagfirullahajim, itu dosa mbak."
"Ya juga sieh, Leta yakin mas Lio gak mungkin melakukan hal itu, tapi apapun bisa terjadi sieh mbak, makanya mbak, mbak harus membuat mas Lio bergairah, pancing dia mbak.".
Dengan kepolosannya Naya memandang Leta keheranan, "Nahh, mbak pakai lingere yang Leta beliin buat mbakk, Leta yakin mas Lio pasti bakalan nyerang mbak Naya.
"Ehh, tapi, Naya malu mbak."
"Elahhh sik mbak, sama suami sendiri malu, mbak Naya harus menghilangkan rasa malu."
"Mmm, ya udah deh, nanti Naya coba deh."
"Nah, gitu donk."
Dan gak terasa, Leta yang kini tengah mendandani Naya tinggal memoleskan lipstik dibibir Naya.
"Nahhh, selesai mbak." beritahu Leta, "Ihhh, mbak Naya sumpah cantikk pakai banget." komentar Leta merasa gemas sambil mengagumi maha karyanya sendiri.
"Masak sieh mbak."
__ADS_1
"Iya mbak, nieh mbak lihat aja sendiri." Leta memberikan cermin pada Naya.
Diluar kesadarannya Naya tersenyum melihat pantulan dirinya, "Naya kok jadi cantik begini ya mbak."
"Kalau tangan ajaib Arleta sudah bereaksi, monyet dirangunanpun bisa Leta sulap jadi monyet paling cantik sedunia." Leta membanggakan diri.
"Mbak Leta ada-ada saja." Naya terkikik.
Leta mengeluarkan ponselnya, "Mbak, mumpung mbak kece badai begini, gak afdol kalau kita gak selvi."
"Ayok ayok." ujar Naya antusias.
****
Dan bahkan sampai Leta pulang, Naya masih saja mengagumi kecantikannya, dia semakin bersemangat untuk belajar dandan supaya setiap hari bisa tetap terlihat cantik, apalagi dalam waktu dekat ini dia akan pulang ke kampung dan Naya yakin kalau orang-orang dikampungnya melihat dirinya cantik begini pasti akan pangling, membayangkan hal tersebut membuatnya jadi senyum-senyum sendiri.
"Naya." tegur kakek Handoko.
Naya yang saat ini masih belum puas memandang wajahnya dicermin terlonjak mendengar namanya dipanggil, dia langsung meletakkan cermin dimeja.
"Iya kek kenapa, kakek butuh sesuatu." ujarnya menyongsong kakek Handoko untuk membantunya berjalan.
"Lho, kamu siapa, mana cucuku Naya." tanya kakek Handoko tidak mengenali Naya.
"Ini Naya kekek, masak iya kakek tidak kenal."
"Kamu Naya." kakek Handoko terlihat tidak percaya, dengan seksama memperhatikan Naya yang terlihat agak berbeda, "Kenapa berubah cantik seperti bidadari begini."
Kakek Handoko mengangguk paham, "Kamu memang cantik, bahkan tanpa make up sekalipun, karna kamu memiliki kecantikan dari dalam."
"Kakek selalu memuji Naya, kepala Naya ntar jadi besar lho."
"Itu memang kenyataannya cucuku."
Jadi terharu Naya mendengar pujian kakek Handoko, "Oh ya, kakek nyari Naya kenapa, kakek mau makan atau kakek perlu sesuatu, biar Naya ambilkan."
"Tadinya kakek mencari kamu hanya butuh teman ngobrol, tapi sekarang kakek berubah fikiran."
"Maksud kakek."
"Mumpung kamu cantik begini, lebih baik kamu pergi ke kantor, antarkan suamimu makan siang sana, kakek yakin dia pasti pangling melihat istrinya cantik begini."
"Ke kantor kek, nganterin mas Lio makan siang." ulang Naya, bukannya dia gak mau, tapi terakhir Naya memberikan bekal makan siang pada Lio, Lio dengan tanpa hati membuang makanan yang susah payah dimasak oleh Naya.
Kakek Handoko mengangguk.
Naya berusaha menolak, "Tapi Nayakan gak tahu dimana letak kantor mas Lio kek." ujarnya berkelit.
"Kamu fikir kakek bakalan membiarkan kamu pergi sendirian naik angkutan umum begitu, buat apa mobil berjejer digarasi kalau tidak difungsikan, biar Hanafi yang nganterin kamu."
Naya tidak bisa mengelak lagi, dia hanya berharap Lio mau menerimanya dan lebih-lebih menghargainya dengan memakan masakan yang dibawanya.
__ADS_1
Dan dengan diantar oleh pak Hanafi sopir keluarga, Naya berangkat ke kantor suaminya dengan rantang ditangannya. Karna banyak hal yang dipelajarinya selama berteman dengan Leta, termasuk bagaimana cara berpakain supaya terlihat modis, kini dari segi pakain yang dia kenakan tidak senorak dulu, pakain yang dia kenakan bisa dibilang tidak malu-maluin kalau dibawa pergi kekantor Lio.
****
"Nahh beres." ujar Leta puas setelah memposting foto dirinya dan Naya di IG, "Gue yakin, dalam waktu satu detik pasti banyak yang komen."
Dan benar saja, hanya dalam waktu satu menit, banyak komentar yang masuk.
"Wahhh, makin cantik aja lo Let tiap hari, sayang lo nolak gue, tapi kalau gue lihat-lihat, cantikan cewek yang sama lo, salam donk." itu salah satu komentar dari temannya sewaktu SMA yang bernama Rian.
Komentar berikutnya, hampir semuanya memuji kecantikannya dan Naya.
Salah satu yang ikut ambil bagian memberi komentar adalah kakaknya Rafa, komentarnya begini, "Kamu punya teman cantik begini disembunyiin, kenalin donk sama kakak, sumpah manis banget, kayaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Apa-apaan sieh kak Rafa, kalau mas Lio tahu dia komentar begini pasti dia bakalan habis."
Leta membalas komentar kakaknya, "Kakak mau mati."
Tapi sayangnya, komentar tersebut tidak dilihat oleh Rafa karna sudah tidak aktif.
"Cantikkk." itu komentar dari Boy disertai dengan emotikon love.
"Makasih." balas Leta, ada kuncup-kuncup bunga bermekaran dihatinya membaca komentar tersebut.
****
"Kita sudah sampai nona." pak Hanafi memberitahu Naya.
Lewat kaca mobil yang terbuka Naya memandang gedung pencakar langit yang menjulang didepannya, "Ini kantor mas Lio pak."
Pak Hanafi membukakan pintu mobil untuk Naya, "Iya nona."
Naya keluar, memandang gedung tinggi tersebut dengan takjub, saking takjubnya, bibirnya sampai terbuka, gak menyangka dia kalau keluarga suaminya punya perusahaan sebesar ini, dia baru percaya sekarang kalau suaminya kaya raya.
"Nona." tegur pak Hanafi, "Nona kenapa tidak masuk."
"Eh iya, lupa saking takjubnya." dia melangkah memasuki kantor milik keluarga suaminya.
Namun sebelum dia masuk, sekuriti menghampirinya, "Maaf, apa ada yang bisa saya bantu mbak." sik sekuriti bertanya.
"Mmm, saya mau bertemu mas Lio pak."
"Pak Adelio Rasyad." ujar pak sekuriti memastikan kalau yang dicari Naya adalah pemilik perusahaan adalah bosnya.
"Iya."
"Maaf mbak, kalau boleh tahu, mbak siapanya pak Adelio."
"Saya istrinya pak."
"Maaf bu, silahkan masuk." ujarnya penuh hormat.
__ADS_1
****