Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
SELAMAT DATANG BULAN


__ADS_3

Bulan di duduk dibelakang sambil memeluk boneka tedy kesayangannya.


"Kak Naya, om Lio." panggil Bulan dari belakang.


"Kenapa sayang." tanya Naya menoleh ke belakang.


"Hmmm." gadis kecil itu terlihat ragu, "Boleh tidak Bulan manggil kak Naya Bunda dan om Lio ayah."


Naya tersenyum, "Boleh donk sayang, Bulankan sekarang putri kami, iyakan ayahh." seru Naya menoleh ke arah Lio.


"Hmmm."


Gadis kecil itu tersenyum ceria, kini impiannya memiliki orang tua menjadi kenyataan.


"Terimakasih bunda, ayah, karna mau menjadi orang tua Bulan."


"Kami yang seharusnya berterimakasih karna Bulan mau jadi anak kami." sergah Naya.


Lio melajukan mobil dengan kecepatan normal, dia lebih banyak diam, hanya menyahut jika ditanya, itupun jawabannya singkat, padat dan jelas, kalau tidak bilang, 'Iya.' maka dia akan bilang, 'Hmmm.'


"Apa bunda dan ayah punya kucing dirumah." tanya Gadis kecil itu, "Bulan suka sekali sama kucing, dulu waktu dipanti, kami memelihara kucing, namanya Push, tapi Push mati karna sakit."


"Ayah dan Bunda tidak punya kucing sayang, tapi kalau kamu mau kucing nanti kita beli ya." janji Naya.


"Bulan pernah minta dibeliin kucing sama ibu Wahidah saat Push mati, tapi ibu tidak beliin karna katanya harga kucing mahal."


"Tidak apa-apa sayang, kamu beli 1000 kucing sekalipun ayah Lio masih sanggup membelikannya, iyakan ayah."


"Seribu, itu mau melihara kucing atau beternak." dengus Lio yang hanya bisa di dengar oleh Naya.


Naya malah terkekeh mendengar gumaman Lio.


"Beneran ayah, ayah bisa beli seribu kucing."


Naya yang menjawab, "Iya sayang beneran, ayah kamu ini orang kuaaayaaaa soalnya, jangankan hanya kucing, sama orang yang jual bisa dia beli." Naya menjiplak kalimat Leta.


"Nay, jangan berlebihan." dengus Lio.


"Hehe, maaf mas."


"Bulan mau satu kucing saja bunda, tidak mau beli seribu kucing, ntar malah repot."


"Iya sayang, nanti ya kita beli kucingnya."


Mendengar janji dari ibu angkatnya, Bulan tersenyum ceria, dia sudah tidak sabar ingin memiliki kucing.


****


Saat pertama kali Naya tiba dirumah besar, dia begitu takjub dan kagum melihat ada rumah yang begitu besar dan megah seperti istana, ternyata Bulan juga sama takjubnya seperti ibu angkatnya begitu melihat rumah orang tua angkatnya dan yang kini otomatis akan menjadi rumahnya juga.

__ADS_1


"Wahhhh." gadis kecil sampai menganga saat melihat rumah besar milik keluarga Rasyad dari jendela mobil yang terbuka.


Lio membuka pintu mobil dan membantu Bulan untuk turun, Bulan yang selama hidupnya hanya berada di panti tidak berkedip memandang bangunan besar yang berdiri kokoh dihadapannya.


"Selamat datang dirumah Bulan." Seru Naya.


"Ini rumah ayah dan bunda, besar ya seperti istana dikartun yang Bulan tonton." cloteh Bulan menggambarkan ketakjubannya.


"Iya, dan sekarang jadi rumah Bulan juga."


"Nayy, ayok masuk ajak Bulan, jangan berdiri terus, pegal kakiku." sela Lio.


"Ayok Bulan kita masuk, ketemu kakek buyut dan nenek di dalam."


"Kakek buyut dan nenek tidak galak bunda."


"Tidak sayang, kakek buyut orangnya baik, sangat sayang sama anak-anak, dia pasti menyukai Bulan, kalau nenek, dia baik juga kok orangnya." ujarnya agak ragu dibagian saat mengatakan kalau mama mertuanya adalah orang baik, karna selama berada dirumah besar, mama Renata tidak pernah bersikap ramah padanya, dan harapan Naya adalah, walaupun mama Renata tidak menyukainya, tapi semoga dia menyukai Bulan.


"Nahhh, sekarang ayok kita masuk." ajak Bulan mengulurkan tangannya untuk di gandeng oleh Bulan.


Bulan menyambut uluran tangan Naya yang kini sudah resmi menjadi ibu angkatnya, sangat jelas kalau bocah kecil itu terlihat bahagia.


"Ayahh, ayok bergandengan tangan." Bulan menyodorkan tangannya yang satu untuk digandeng oleh Lio, dia mendongak dengan senyum manis menatap Lio yang menjulang tinggi.


"Mas, apa yang mas Lio tunggu, ayok pegang tangan Bulan." peringat Naya karna melihat Lio hanya melihat tangan mungil tersebut.


"Hmmm baiklah." Lio meraih tangan Bulan dan menggandengnnya.


"Assalamuikum." ucap Naya begitu memasuki rumah besar.


Bulan mengikuti, "Assalamuaikum."


Begitu mereka masuk, mbak Wati yanglah yang menyambut mereka, mbak Wati terlihat begitu senang melihat gadis kecil yang kini bersama tuan dan nona muda mereka.


"Walaikummusalam, selamat datang nona kecil." sapa mbak Wati ramah.


"Itu mbak Wati sayang, salah satu pekerja di rumah kita, ayok salim dulu sama mbak Wati." perintah Naya.


Bulan melepaskan tangannya dari Naya dan Lio, dia kemudian meraih tangan mbak Wati dan mendekatkannya di wajahnya.


"Sopan sekali, siapa namanya nona cantik."


"Bulan."


"Nama yang sangat cantik seperti orangnya, tuan dan nona muda sangat pintar memilih." mbak Wati memuji.


Gadis kecil itu tersenyum mendapat pujian dari mbak Wati.


"Saya panggil tuan besar dulu ya, dia pasti akan sangat senang melihat ini." mbak Wati kemudian dengan langkah cepat menuju kamar kakek Handoko untuk memberitahu kalau tuan dan nona mudanya sudah pulang membawa apa yang kakek Handoko inginkan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, dengan menggunakan bantuan tongkat kakek Handoko dengan wajah sumringah menghampiri Naya dan Lio yang kini berada di ruang tengah.


"Naya, Lio, kalian sudah pulang, apa kalian mendapatkan anak yang cocok." serunya terlihat semangat.


"Kakek." Naya langsung menyongsong ke arah kakek Handoko untuk membantunya.


"Mana anaknya Naya, kakek ingin lihat cicit kakek." antusiasnya.


"Ada kek ada." memapah kakek Handoko menuju sofa.


Bulan yang melihat kakek Handoko kemudian berdiri menyambut laki-laki tua yang kini menjadi kakeknya.


"Nahh kakek, ini dia anak yang kami adopsi, namanya Bulan." Naya memberitahu.


Bulan mendekat, dan memperkenalkan dirinya secara resmi, "Hai kakek, saya Bulan, saya harap kakek menerima kehadiran Bulan disini."


"Ini anak yang kamu adopsi Naya, cantik sekali, sama seperti kamu." kakek Handoko mengelus rambut hitam Bulan.


"Terimakasih kakek, kakek juga sangat tampan." selain cantik dan sopan, gadis kecil itu juga ternyata pandai mengambil hati orang.


"Tentu saja kakek sangat tampan, kamu lihat papa kamu." kakek Handoko mengedikkan dagunya ke arah cucu laki-lakinya, "Ketampanannya itu menurun dari kakek."


"Apanya yang tampan kek, kakekkan sudah tua dan juga keriput, Bulan bilang begitu hanya untuk membuat kakek bahagia." sahut Lio dan itu berhasil membuatnya mendapat sodokan dipinggangnya dari kakek Handoko.


"Dasar anak nakal, kamu itu selalu membuat kakek kesal." omel kakek Handoko.


"Awhhh, sakit kakek." rintih Lio kena sodokan tongkat kakeknya, "Kakek ini, sedikit-dikit main sodok saja."


"Rasakan itu anak nakal."


Naya terkekeh melihat tingkah Lio dan kakek mertuanya, mereka tidak pernah akur, tapi dibalik itu semua, Naya tahu, baik Lio dan kakek Handoko saling menyayangi satu sama lain.


"Kamu jangan seperti ayahmu itu ya Bulan sayang yang selalu membuat kakek kesal, contohlah bundamu yang selalu baik dan perhatian sama semua orang."


"Tapi ayah Lio baik kakek, ayah Lio mau jadi donatur tetap dipanti tempan Bulan di adopsi." lapor Bulan memberitahu kebaikan ayah angkatnya.


"Akhh iya, kebaikannya yang sedikit itu menurun dari kakek juga sayang."


"Kakek, Bulan sepertinya lelah, biar Naya tunjukin dia kamarnya ya agar dia bisa istirahat." Naya menyela.


"Baiklah, kamu ikut sama bunda kamu ya sayang."


"Baik kakek."


"Ayok sayang bunda tunjukin kamar kamu."


"Iya bunda."


Dua gadis berbeda generasi itu melangkah pergi menuju kamar yang akan ditempati oleh Bulan.

__ADS_1


****


__ADS_2