
Karna semua sarapan sudah di siap saat mbak Wati dan bi Darmi ke dapur, jadinya dua ART dirumah besar tersebut cuma membantu Naya membawa nasi goreng yang sudah siap ke meja makan.
Sementara Lio sudah duduk manis disana menunggu anggota keluarga lainnya.
"Terimakasih ya bi Darmi dan mbak Wati karna telah membantu Naya membawa sarapan ke meja." Naya selalu begitu, berterimakasih kepada siapun yang membantunya, padahalkan dia tidak perlu berterimakasih mengingat memang menyiapkan segala sesuatunya dirumah besar adalah tugas dari kedua ART tersebut.
"Akhh non Naya, kami yang seharusnya meminta maaf karna kelamaan, jadinya non Naya sendiri yang menyiapkan sarapan, padahal itu merupakan tugas saya dan Wati." sergah bi Darmi yang merasa tidak enak.
"Tidak apa bi, ini tugas Naya juga sebagai anggota keluarga disini."
"Nona Naya memang gadis baik, tuan muda sangat beruntung menikah non Naya." puji mbak Wati.
"Sayangnya mas Lio tidak merasa beruntung." menjawab dalam hati, "Akhh bi Darmi bisa saja." lisannya.
"Ya sudah nona kami permisi ke belakang, mau beres-beres, nanti kalau nona butuh sesuatu, panggil kami saja nona."
Naya mengangguk.
"Pagi ma." sapa Naya ramah saat mama Renata memasuki ruang makan, Naya tetap menyapa meskipun sering dicuekin.
Mama Renata melengos tanpa menjawab sapaan menantunya, dia berjalan melewati Naya begitu saja menuju meja makan.
"Pagi ma." sapa Lio begitu mamanya mengambil tempat duduk berhadapan dengannya.
"Pagi Lio."
"Selamat pagi semuanya." suara ceria tersebut merupakan sapaan dari kakek Handoko yang berjalan dengan tongkatnya.
"Kakek." Begitu melihat kakek Handoko, Naya langsung menyongsong kedatangan kakek Handoko untuk membantunya, "Sini kakek Naya bantu."
"Tidak perlu sayang, kakek masih sanggup berjalan."
"Meskipun begitu, Naya tetap mau bantu." kukuh Naya meletakkan kedua tangannya dilengan kakek Handoko.
"Kamu memang gadis yang baik sayang." puji kakek Handoko, "Kamu sendiri, bagaimana keadaanmu."
"Alhamdulillah kek, Naya sudah sehat, makanya Naya bisa bantu kakek begini."
"Kakek sangat bersyukur kamu sudah sembuh."
Mereka berjalan menuju meja makan.
"Pagi pa." sapa Renata.
"Pagi kek." sapa Lio.
Kakek Handoko menjawab, "Hmmm." doank.
Naya membantu kakek Handoko duduk dikursi yang biasa diduduki olehnya, dan barulah kemudian Naya membalikkan piring yang ada dihadapan kakek Handoko dan bertanya, "Kakek mau sarapan apa, nasi goreng atau roti." siapa coba yang tidak menyukai Naya kalau gadis itu penuh perhatian begitu.
__ADS_1
"Seperti biasa sayang, kakek hanya ingin makan nasi goreng buatan kamu."
"Naya ambilkan ya."
"Kakek rindu nasi goreng buatanmu setelah kemarin absen karna kamu yang biasanya memasak nasi goreng terbaring sakit."
Naya terkekeh mendengar pengaduan kakek mertuanya yang sudah dia anggap sebagai kakek kandungnya sendiri, "Sekarang Naya sudah sehat, Naya akan buatin nasi goreng setiap hari untuk kakek."
Kakek Handoko melirik anaknya dan cucunya sebelum kembali melanjutkan, "Tidak hanya itu saja, karna kamu sakit, tidak ada yang memperhatikan kakek, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, tidak ada yang mempedulikan kakek selain kamu." kakek Handoko mengadu, dia seperti anak berumur lima tahun saja.
"Papa ini kayak anak kecil saja, Renata dan Liokan sibuk pa, lagiankan juga ada bi Darmi sama Wati yang bisa papa mintain tolong disini." mama Renata membela diri karna tidak terima dengan ucapan papanya.
"Nah tuh, kamu denger sendirikan Naya, Renata yang anak kandung kakek saja lebih mementingkan pekerjaannya daripada mengurus ayahnya, memang hanya kamu yang memperhatikan kakek Naya."
"Akhh papa ini kalau ngomong seolah-olah Renata ini anak durhaka saja."
"Sudah kek, ma, jangan berdebat donk, kapan kita mulai makannya kalau gini." Lio mencoba melerai perdebatan antara kakek dan mamanya.
"Kakek kamu ini seih yang duluan." sungut mama Renata.
"Sudah ma sudah, jangan bicara terus, ayok kita makan saja sekarang."
Dan mereka mulai menyantap sarapan mereka, tidak ada yang memulai obrolan, semuanya menikmati makanan masing-masing, sampai kemudian, kakek Handoko kembali buka suara, "Naya sayang." kalau bicara dengan Naya kakek Handoko selalu berkata lembut.
"Iya kek."
Naya mengangguk, "Iya kek, Naya sudah sembuh total."
"Nahh kalau begitu, kalian berdua lebih baik pergi ke pantai asuhannya sekarang saja ya, mumpung ini hari minggu dan Lio tidak masuk kerja." ternyata kakek Handoko masih belum menyerah memaksa Lio dan Naya mengadopsi anak, hal ini dilakukan agar supaya Naya cepat hamil.
Lio sampai tersedak mendengar ucapan kakeknya, baru saja semalam mereka memutuskan untuk berpisah setelah satu tahun pernikahan dan kini sang kakek kembali menyuruhnya untuk mengadopsi anak, tentu saja mengadopsi anak akan menambah masalah untuknya dan Naya, bagaimana nasib anak yang mereka adopsi saat mereka bercerai nanti.
Setelah berhasil mengkondisikan keadaannya, Lio mencoba bernegosiasi dengan kakeknya supaya mau membatalkan masalah adopsi anak, "Apa hal itu perlu dilakukan kek, aku rasa Lio dan Naya tidak perlu mengadopsi anak."
"Lio benar pa, ngapain harus mengambil anak dari panti yang bukan darah daging Lio, bisa bikin repot nanti anak itu." mama Renata memberi dukungan untuk anaknya.
"Tutup mulutmu Renata, papa tidak meminta pendapat kamu." bentak kakek Handoko yang membuat mama Renata langsung kicep.
"Mengadopsi anak itu perlu Lio, supaya istri kamu cepat hamil, kakek rindu mendengar suara anak-anak dirumah ini, kalau ada anak kecilkan kakek tidak akan merasa kesepian." kakek Handoko murung menyebut kata anak-anak.
Tidak mau melihat kakek Handoko bersedih dan kecewa, Naya mengiyakan keinginan sang kakek, "Baiklah kek, Naya dan Lio setelah ini akan pergi ke panti, mencoba mencari anak yang cocok untuk kami adopsi."
Lio dan mama Renata langsung menatap Naya tajam, tentu saja ibu dan anak itu tidak setuju dengan Naya.
Lain halnya dengan kakek Handoko, mendengar janji tersebut, wajah kakek Handoko kembali ceria, "Tuhh kalian lihat, memang cuma nanya yang ngerti sama kakek."
"Terserah sama papalah." dengus Renata kesal, dia jauh lebih kesal karna menantunya menyetujui keinginan papanya.
****
__ADS_1
Dan satu jam kemudian, disinilah Naya dan Lio, duduk dimobil mewah milik Lio, tujuan mereka tentu saja ke pantai asuhan untuk mencari anak untuk diadopsi.
"Kamu itu Naya, kenapa sieh menuruti keinganan kakek." Lio protes saat mereka sudah duduk manis didalam mobil.
"Habisnya Naya tidak tega mas sama kakek, mas tidak lihat wajah sedih kakek, dia pasti akan bertambah sedih kalau kita tidak menuruti keinginannya, lagian kakek Handoko kakeknya mas sendiri, masa mas tega melihat kakek sedih."
"Bukan begitu Naya, masalahnya kalau kita ngadopsi anak, itu akan merepotkan."
"Kakekkan sudah tua mas, sering sakit-sakitan, gak ada salahnyakan kita membuat beliau senang, yah salah satu caranya yaitu menuruti keinginan kakek dengan mengadopsi anak."
"Hmmm ya sudahlah, apa boleh buat." pasrah Lio pada akhirnya.
Lio menstater mobilnya, namun dia kembali menghentikan mobilnya begitu didepan gerbang karna melihat pak Tono satpam rumahnya tengah berbicara dengan seseorang didepan gerbang.
"Nahh, ini dia nona Naya." pak Tono menunjuk Naya yang membuka jendela mobil disampingnya.
"Ada pak." tanya Lio.
"Ini mas, ada kurir yang katanya nganterin bunga untuk nona Naya."
Lio memandang Naya, "Kamu beli bunga Nay."
Naya menggeleng, "Gak mas."
Naya kemudian keluar mendekati sik kurir.
"Dengan mbak Naya." sik kurir memastikan.
"Iya mas saya sendiri."
Sik kurir menyerahkan buket bunga mawar kepada Naya, "Ini mbak bunganya."
"Maaf mas, ini bunga dari siapa ya." tanyanya sembari mengambil buket tersebut dari tangan kurir.
"Aduhhh, saya kurang tahu ya mbak."
Naya memandang buket bunga itu dengan dahi berkerut menerka-nerka siapa yang mengirimkan bunga tersebut padanya, "Apa mas Wahyu, tidak mungkin, mas Wahyu tidak tahu alamat rumah mas Lio, tidak mungkin juga mbak Leta dan mas Rafakan."
"Ya sudah mbak kalau begitu saya permisi." pamit sik kurir.
Naya mengangguk, dan setelah sik kurir pergi Naya kembali memasuki mobil.
"Itu bunga dari siapa." Lio menunjuk bunga yang dibawa Naya.
"Gak tahu mas."
"Siapa sieh yang ngirim, sok misterius."
*****
__ADS_1